shop-triptrus


Agu/08


Festival Lembah Baliem 2017

TripTrus.Com - Atraksi perang antara beberapa suku di Papua akan dikemas dalam sebuah festival menarik bertajuk Festival Lembah Baliem 2017. Tahun ini festival tersebut kembali digelar pada 8-10 Agustus 2017 di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Ini adalah kesempatan Anda untuk melihat semua ragam suku di Dataran Tinggi Wamena dan Lembah Baliem berkumpul untuk merayakan festival tahunan bersama. Suku-suku tersebut akan melakukan atraksi perang  dengan tujuan menjaga kelincahan dan kesiapan mereka untuk mempertahankan desa. Walaupun perang ini hanyalah skenario namun tetap menghasilkan suasana yang menegangkan karena benar-benar terlihat adegan saling lempar tombak dan berteriak antar suku. Pengunjung akan tetap aman karena sudah disediakan tempat duduk khusus untuk menonton acara ini. Festival ini diselenggarakan oleh Kabupaten Jayawijaya untuk memperkenalkan dan melestarikan nilai-nilai serta budaya suku tradisional Lembah Baliem. Selain pertunjukan perang, Anda juga dapat menyaksikan tari-tarian tradisional Papua, balapan babi, lontar rotan, panahan, sikoko dan masih banyak lagi lainnya. Lembah Baliem merupakan lembah indah di bentangan Pegunungan Jayawijaya. Suku Dani, Suku Yali dan Suku Lani adalah beberapa suku yang tercatat tinggal di sini. Untuk dapat sampai ke Lembah Baliem, pengunjung harus melewati bandara utama Provinsi Papua, yakni Bandara Sentani. Bandara Sentani dapat diakses menggunakan maspakai penerbangan dari Jakarta, Surabaya, maupun Manado. Setibanya di Bandara Sentani  diteruskan dengan pesawat jenis Hercules maupun Twin Otter menuju Wamena, Ibukota Kabupaten Jayawijaya. (Sumber: Artikel pesona.indonesia.travel Foto puteriputeri.com)
...more

Jul/09


Upacara Adat Tengger Yadnya Kasada 2017

TripTrus.Com - Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada bulan Agustus ini akan dipenuhi oleh wisatawan lokal dan mancanegara untuk menyaksikan upacara Yadnya Kasada 2017. Upacara ini adalah agenda tahunan di kawasan Bromo Tengger Semeru yang diadakan tiap tanggal 14 bulan Kasada, bulan ke-10 dari penanggalan kaum Tengger. Perayaan Yadnya Kasada sendiri berlangsung selama satu bulan penuh pada bulan Kasada. Perayaan ini dilakukan untuk memperingati pengorbanan dari Raden Kusuma, putra dari Raden Joko Seger dan Roro Anteng yang mengorbankan dirinya demi keselamatan kaum Tengger. Sebelum perayaan hari Yadnya Kasada, anggota suku Tengger beramai-ramai datang ke Pura Luhur Poten di Gunung Bromo untuk melakukan ritual pemberkatan bagi benda-benda yang akan dijadikan sesajen Kawah Bromo. Benda-benda yang dijadikan sesajen pun bermacam-macam bentuknya, mulai dari hasil panen, binatang ternak, berbagai jenis bunga, hingga uang. Ritual tahunan ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur dan permohonan agar ternak dan pertanian serta kehidupan suku Tengger tetap tentram dan subur. Ritual Yadnya Kasada bermula dari saat Putri Roro Anteng dan Pangeran Joko Seger, dua leluhur suku Tengger, berdoa kepada dewa untuk mendapatkan keturunan. Setelah mendapatkan 25 anak, dewa meminta anak terakhir mereka - Raden Kusuma - untuk menjadi persembahan dengan bagi Kawah Gunung Bromo. Raden Kusuma pun menyanggupi permintaan ini dan melemparkan dirinya ke dalam kawah itu. Pada tahun ini, upacara Yadnya Kasada akan diadakan pada tanggal 9-10 Juli 2017. Jadi segera cari tripnya di TripTrus untuk merasakan khidmatnya perayaan Yadnya Kasada di Bromo.
...more

Jun/19


Festival Danau Sentani 2017

TripTrus.Com -Danau Sentani merupakan salah satu danau terbesar sekaligus terindah yang terletak di ujung timur Indonesia, tepatnya di Papua. Papua memiliki banyak sekali keunikan mulai dari adanya Pegunungan Jayawijaya dengan puncaknya yang bersalju, adanya Taman Laut Nasional Raja Ampat yang selalu masuk ke dalam kategori destinasi paling favorit, dan termasuk Danau Sentani sebagai salah satu danau terbesar di Indonesia yang memiliki keindahan dan daya tariknya sendiri. Festival Danau Sentani merupakan pesta pariwisata yang melibatkan 16 suku yang ada di Papua. Festival ini telah menjadi sebuah tradisi di Papua sejak tahun 2007 yang lalu. Festival Danau Sentani diadakan selama lima hari berturut-turut yang biasanya dimulai dari tanggal 19 sampai dengan 23 Juni di kawasan wisata Khalkhote, Sentani Timur. Tujuan diadakannya festival ini antara lain adalah sebagai upaya untuk mempromosikan pariwisata berbasis kekayaan alam dan budaya masyarakat setempat. Datang dan berkunjunglah ke Papua untuk menyaksikan Festival Danau Sentani di tahun depan, niscaya kamu akan disuguhkan dengan beragam macam pertunjukan adat, seni, dan kebudayaan dari puluhan suku asli Papua yang turut mengikuti dan meramaikan festival ini. Ke-16 suku yang ada di Papua yang mengikuti festival ini masing-masing menyumbang penampilan budaya tradisional seperti tari-tarian khas yang diiringi oleh lagu daerah setempat. Selain warga Papua asli, warga dari luar Papua pun juga bisa turut meramaikan festival ini. Di dalam festival ini, tak mau ketinggalan, warga setempat juga turut meramaikan dengan menjajakan berbagai produk kerajinan kulit kayu, batik khas Papua, produk olahan seperti cokelat, kopi, sagu, dan buah merah. Aktivitas ini juga bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat Bumi Cendrawasih dalam menjalin kerja sama dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat setempat. Selain itu, hal tersebut sekaligus juga menjadi salah satu pembuktian bahwa Festival Danau Sentani merupakan festival yang mampu memelihara persatuan serta perdamaian antar berbagai suku, ras, dan agama. Danau Sentani yang akan dijadikan sebagai tempat berlangsungnya festival ini disulap dan didekorasi sedemikian rupa menjadi indah dan ramah terhadap para wisatawan. Di danau inilah kemudian berbagai pagelaran atau pertunjukan adat dan budaya akan berlangsung. Khusus untuk pertunjukan tari-tarian, dibangun ‘panggung’ khusus berupa perahu yang diberi nama Isosolo. Semua pertunjukan berbasis tari berlangsung di atas perahu Isosolo. Uniknya, ada kepercayaan masyarakat setempat bahwa di Papua terdapat sebuah peninggalan berupa tulang tertua yang terletak di Pulau Asei. Dengan ditemukannya tulang tertua ini kemudian menjadikan Pulai Asei dipercayai sebagai pusat pertemuan antara nenek moyang suku-suku asli Sentani dengan para imigran dari Kepulauan Melanesia. Nah, bahkan, kabarnya, mulai tahun depan, Festival Danau Sentani akan diselenggarakan dalam konsep berskala internasional, lho! Bagaimana? tertarik untuk berkunjung ke Papua untuk turut menghadiri festival unik yang digelar setahun sekali ini? (Sumber: Artikel reservasi.com Foto festivaldanausentani.com)
...more

Mei/07


Semarang Night Carnival 2017

TripTrus.Com - Dalam rangka menyambut hari ulang tahun ke-470 Kota Semarang, tahun 2017, tepatnya 7 Mei 2017 akan digelar dan dirayakan kembali Semarang Night Carnival. Festival yang pertama kali diadakan pada tahun 2011 yang lalu ini memiliki banyak sekali rangkaian acara yang akan diikuti oleh ratusan peserta, mulai dari pelajar, komunitas, pekerja seni dan masih banyak lagi. Hal yang paling menarik dari Semarang Night Carnival adalah seluruh kostum yang dikenakan peserta dalam karnaval ini menggunakan berbagai macam hiasan yang unik seperti lampu dan lampion. Lampu dan lampion ini juga telah menjadi ciri khas dari Semarang Night Carnaval. Para peserta yang turut memeriahkan acara ini hampir semua berdandan maksimal dengan kostum yang mereka kenakan. Mereka juga untuk memoles wajah mereka dengan make up yang meriah dan dipenuhi dengan glitter serta beragam hiasan yang dapat menarik perhatian para pengunjung yang melihatnya. Semarang Night Carnival biasanya dimulai pukul 19.00 waktu setempat dan akan berkeliling ke sepanjang jalan Kota Semarang sekaligus menyusuri bangunan-bangunan yang bersejarah yang ada di Kota Semarang. Jika kamu sudah pernah datang ke festival ini sebelumnya, pasti kamu tidak akan kaget jika melihat hampir seluruh jalan ramai dipadati oleh para pengunjung yang sangat antusias untuk menyaksikan karnaval yang diselenggarakan hanya setahun sekali di Semarang ini. Uniknya, dalam Semarang Night Carnival ini terdapat Warak Ngendog yang seringkali diangkat menjadi tema pada salah satu pagelaran sekaligus menjadi ikon atau perwakilan dari akulturasi budaya di Semarang. Warak Ngendog itu sendiri adalah binatang imajiner yang cukup melegenda di Semarang. Pada Mei 2016 lalu, Semarang Night Carnival memiliki konsep ramah lingkungan yang kemudian membuat para peserta yang mengikuti acara ini harus membuat kostum dengan bahan dasar atau material yang juga ramah lingkungan dan berasal dari alam seperti biji-bijian, bambu, bunga, hingga daun kering. Ada kurang lebih sekitar 500 peserta yang ikut meramaikan Semarang Night Carnival pada Mei 2016 lalu. Peserta yang mengikuti Semarang Night Carnival tidak hanya sebatas berdandan atau berkostum heboh saja, melainkan mereka juga diajari berbagai tarian dan koreografi untuk mengisi pagelaran yang ada di Semarang Night Carnival. (Sumber: Artikel reservasi.com Foto johansurya.com)
...more

Apr/01


Festival Tidore 2017

TripTrus.Com - Festival Tidore merupakan sebuah acara tahunan yang digelar oleh Pemerintah Tidore. Acara tahunan ini dirangkai dalam bentuk festival budaya yang menyatukan beberapa acara adat. Festival Tidore selalu diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi Kota Tidore yang kini sudah berumur kurang lebih 900 tahun. Festival yang diselenggarakan selama 3 hari ini, tepatnya mulai dari tanggal 1 sampai 3 April, semakin menambah daya tarik pariwisata di Kota Tidore untuk dikunjungi dan dilirik oleh wisatawan mancanegara. Selain itu, ada banyak sekali rangkaian acara yang terdapat dalam Festival Tidore di Maluku Utara ini yaitu salah satunya adalah Dowari. Dowari merupakan sebuah ritual yang dilaksanakan untuk mengawali setiap kegiatan acara adat yang bernama Soa Romtoha di Maluku Utara. Soa Romtoha adalah acara ritual pertemuan lima warga untuk mengantar air yang diambil dari puncak Gunung Kie Matabu dengan menggunakan Rau untuk dituang atau dijadikan satu di dalam wadah bambu yang telah disediakan. Kalau kamu berniat untuk menyaksikan langsung Festival Tidore tahun depan, kamu bisa melihat banyak sekali atraksi budaya seperti lomba Kabate, Maluku Tai atau yang biasa dikenal sebagai lomba memancing, Raib Taji Besi yang merupakan atraksi debus, Batu dan Jumbai, hingga acara yang terakhir yaitu Ritual Lufu Kesultanan Tidore. Festival yang digelar bulan April ini selalu diadakan secara rutin setiap tahunnya di Maluku Utara. Selain itu, kamu juga bisa menyaksikan karnaval budaya, pameran ekonomi kreatif, pameran arsip dan koleksi foto dari Kesultanan Tidore. Hal yang sangat menarik dan paling ditunggu oleh para wisatawan yang berdatangan kesini adalah menyaksikan Ritual Lufu Kie yang diadakan untuk mengenang kembali Lufu Kie. Mungkin, kamu akan sedikit bingung dan asing jika mendengar nama Lufu Kie. Lufu Kie merupakan sebutan atau gelar khusus bagi armada perang yang telah berhasil mengusir VOC dari Tidore. Gelar ini dicetuskan oleh Sultan Tidore sekitar tahun 1657-1689 yang lalu. Formasi Lufu Kie ini terdiri atas Kagunga Sultan (perahu kebesaran sultan) dengan kawalan Juanga Hongi Taumoy se Malofo yang berarti 12 perahu kora-kora tempur dan Kesultanan Tidore yang berisikan 12 pasukan utama Angkatan Laut Kesultanan Tidore yang turut serta dalam acara ini. Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk memperkenalkan kebudayaan Maluku Utara dan sekaligus mempromosikan Festival Tidore yang berlangsung dari tanggal 1 sampai 3 April 2017 kepada masyarakat luas. (Sumber: Artikel reservasi.com Foto ganlob.com)
...more

Mar/11


Festival Timba Laor 2017

TripTrus.Com - Festival Timba Laor di Ambon merupakan festival yang memiliki konsep hampir sama dengan Festival Bau Nyale di Lombok dan Festival Pasola di Sumba. Perbedaannya hanya terletak pada selisih waktu perayaan festivalnya. Festival Timba Laor berlangsung sekitar bulan Maret dan April. Festival Timba Laor merupakan salah satu pesta yang kini identik dengan wisata Ambon. Sama halnya dengan Festival Bau Nyale, di dalam Festival Timba Laor juga terdapat aktivitas mencari cacing laut di antara karang yang terdapat di sepanjang pesisir pantai setiap satu tahun sekali. Kawasan pesisir pantai yang menjadi tempat perayaan Festival Timba Laor biasanya berada di kawasan Nusaniwe dan Leitimur Selatan. Festival Timba Laor biasanya diakhiri dengan memasak hasil tangkapan cacing laut ‘Laor’ (Lycde Oele) yang kemudian disajikan untuk disantap secara bersama-sama. Kawasan pesisir Nusaniwe memiliki pantai-pantai yang indah salah satunya adalah Pantai Santai. Pantai ini memiliki jarak sekitar 17 kilometer dari Kota Ambon dan dapat ditempuh melalui jalur darat dengan waktu tempuh sekitar 30 menit saja. Pantainya memiliki pasir yang putih dan bersih dengan air laut yang berwarna kehijauan hingga bisa terlihat dasarnya dari atas kapal. Pesisir Pantai Santai kerap dijadikan sebagai salah satu spot atau titik snorkeling karena memiliki koleksi terumbu karang yang masih terjaga yang menjadi habitat dari biota laut dan ikan-ikan kecil yang beragam dan indah. Tidak perlu khawatir masalah penginapan karena di dekat Pantai Santai, tersedia berbagai hotel dan penginapan dengan kisaran harga yang variatif. Salah satu pantai yang tak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Kota Ambon adalah Pantai Pintu Kota. Belum lengkap rasanya ke Kota Ambon tanpa mengunjungi Pantai Pintu Kota. Latar belakang di balik nama “Pintu Kota” adalah karena terdapat sebuah tebing karang di pantai ini yang membentuk sebuah lubang di tengahnya bak sebuah pintu masuk dari lautan. Kota Ambon memiliki infrastruktur pariwisata yang cukup lengkap terutama akomodasinya mulai dari penginapan hingga alat transportasi. Tarif hotel atau penginapan yang ada di Kota Ambon berkisar mulai dari Rp450.000 hingga Rp850.000. Sementara itu, tiket pesawat dari Jakarta ke Ambon memiliki tarif yang berkisar antara 1,2 juta hingga 3,5 juta rupiah. Kamu bisa mengecek secara rutin harga tiket pesawat termurah ke Kota Ambon atau memanfaatkan promo dari Reservasi.com agar bisa menyaksikan dan mengikuti Festival Timba Laor di Ambon, Maluku. Ada banyak kuliner Ambon yang wajib kalian coba salah satunya adalah kue kering Kenari, rujak Nestapa, Bagea, Kohu-Kohu, hingga Papeda yang merupakan salah satu kuliner yang populer juga di Papua. Kalau kamu merasa bosan ke wilayah bagian barat Indonesia, saatnya bulan Maret nanti untuk kamu singgah di Kota Ambon untuk mengikuti Festival Timba Laor sambil berburu kuliner lezat nan menggiurkan di Kota Ambon. (Sumber: Artikel reservasi.com Foto malukupost.com)
...more

Feb/20


Festival Pasola 2017

TripTrus.Com - Festival Pasola  merupakan festival tahunan yang dirayakan masyarakat Sumba Barat  saat memulai masa tanam. Festival ini juga menjadi wisata budaya di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur . Dalam perayaan ini, masing-masing kampung akan beradu ketangkasan dengan menunggang kuda sambil melempar lembing ke lawan sampai lawan berdarah. Festival Pasola  ditentukan berdasarkan bulan serta melalui rapat para Rato (pendeta adat). Selain itu, penentuan juga bisa dilakukan dengan cara melihat tumbuhan-tumbuhan tertentu yang berbunga pada saat menjelang Festival Pasola. Perayaan ini sebenarnya untuk menyambut masa panen dan memprediksi hasil panen. Semakin banyak darah keluar saat Pasola, masyarakat setempat percaya hal itu berarti hasil panen berlimpah. Festival Pasola  biasanya dirayakan di tiga kecamatan Sumba Barat, yaitu Kecamatan Wanokaka, Lamboya, dan Gaura. Ada dua tradisi atau ritual yang juga merupakan pelengkap Pasola yaitu, tradisi Bau nyale  dan ritual Pajura. Bau Nyale diadakan pagi hari sebelum Pasola. Bau nyale merupaka tradisi menangkap cacing laut. Tradisi tersebut menjadi istimewa dan sakral, lantaran cacing nyale yang ditangkap dipercaya sebagai jelmaan seorang putri bernama Putri Mandalika. Sementara tengah malam, diadakan ritual Pajura. Pajura merupakan adu tinju antar kampung. Para peninju adalah anak-anak muda dengan menggunakan sarung tinju terbuat dari alang-alang.  (Sumber: Artikel dan Foto kidnesia.com)
...more

Feb/12


Festival Jenang Solo Ragam Jenang Nusantara 2017

TripTrus.Com - Festival Jenang digelar dalam rangka hari jadi Kota Surakarta ke 272. Dalam acara tersebut akan dibagikan lebih dari tujuhbelas ribu berbagai macam jenang secara gratis kepada wisatawan dan masyarakat. (Sumber: Artikel soloevent.com dan Foto soloevent.id)
...more

Jan/28


Grebek Sudiro 2017

TripTrus.Com - Masyarakat Tionghoa-Jawa di Kota Solo merayakan Tahun Baru Imlek setiap tahunnya dan biasa disebut Grebeg Sudiro. Saksikan kemeriahan acaranya pada 28 Januari 2017 bertempat di Kawasan Pasar Gedhe, Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah. Anda dapat menikmati kesenian barongsai, tarian, pakaian tradisional, adat keraton juga kesenian kontemporer yang digelar di sepanjang Jalan Sudiroprajan. Arak-arakan tersebut akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie, di depan Pasar Gede. Atraksi paling menarik dari Grebeg Sudiro adalah arak-arakan gunungan yang disusun dari ribuan kue ranjang, yaitu kue khas orang Tionghoa saat menyambut Imlek. Gunungan akan diarak di sekitar Kawasan Sudiroprajan, diikuti pawai dan kesenian Tionghoa serta Jawa. Akhir dari perayaan ini ditandai dengan nyalanya lentera atau lampion berbentuk teko yang digantung di atas gerbang Pasar Gede. Penyalaan lampion juga dilakukan di tempat lainnya di kota tersebut. Kata grebeg dalam bahasa jawa kerap digunakan untuk menyambut hari-hari khusus, seperti Kelahiran Nabi Muhammad, Syawal, Idul Adha dan Suro. Seperti perayaan lain di Kota Solo saat memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad, Syawal, Idul Adha dan Suro, puncak Grebeg Sudiro pun ditandai dengan perebutan makanan dari gunungan. Tradisi rebutan didasari oleh falsafah jawa berbunyi “ora babah ora mamah”, artinya “jika tidak berusaha maka tidak makan”. Sedangkan bentuk gunung memiliki filosofi bahwa masyarakat Jawa senantiasa bersyukur pada Sang Pencipta. Grebeg Sudiro membuktikan bahwa baik etnis Jawa dan Tionghoa hidup berdampingan dalam satu lingkungan yang diwarnai tradisi saling menghargai. Menjelang prosesi Grebeg Sudiro, kedua etnis tersebut saling bantu-membantu mempersiapkan ritual syukur bumi dan alam semesta ini. Kawasan Sudiroprajan sendiri merupakan sebuah kelurahan di Kecataman Jebres, Kota Solo. Di kawasan ini, warga Peranakan (Tionghoa) sudah puluhan tahun menetap dan tinggal berdampingan dengan masyarakat Jawa. Seiring berjalannya waktu, terjadilah perkawinan antara kedua etnis tersebut yang kemudian menciptakan generasi baru. Untuk menunjukkan akulturasi ini maka diciptakanlah perayaan Grebeg Sudiro. (Sumber: Artikel indonesia.travel dan Foto surakarta.go.id)
...more

ButikTrip.com

Upcoming Trips

Trip Sabang Dan Banda Aceh
02 - 05 Mar 2017
Sailing Komodo Liveaboard
03 - 05 Mar 2017
Gunung Bromo + Batu
03 - 05 Mar 2017
×

...