TRIPTRUS - Anda penggemar kopi dan suka jalan-jalan? Mungkin ini bisa dijadikan tantangan baru saat merencanakan perjalanan. Jika biasanya hanya mencicipi kuliner khas suatu tempat, mungkin kini Anda bisa berburu sesuatu yang lebih spesifik, kopi. Sebagai penghasil kopi nomor empat dunia, Indonesia pasti memiliki sentra-sentra produksi kopi di berbagai daerah.
Ada beberapa jenis kopi yang ditanam petani Indonesia, sejak masa penjajahan Belanda. Dua jenis yang paling terkenal adalah kopi Arabika, dan Robusta. Dua lainnya adalah kopi Liberika dan Ekselsa, yang memiliki cita rasa berbeda. Belakangan, terdapat penggolongan baru yakni kopi Luwak, yang merupakan kopi sisa pembuangan Luwak. Kopi yang banyak terdapat di Jawa dan Sumatera ini, terkenal sangat enak dan mahal harganya.
Tanaman kopi hanya bisa tumbuh di dataran tinggi, sehingga tentu saja banyak obyek wisata yang juga bisa dinikmati di daerah asal kopi berikut:
1. Kopi Gayo
Memiliki aroma dan kenikmatan yang khas. Hal ini terbentuk dari letak dataran tinggi Gayo, Aceh, dan beberapa unsur lingkungan sekitarnya. Kopi Arabica Gayo memiliki peringkat premium dan banyak diekspor ke negara-negara Eropa selain ke Amerika Serikat dan Asia. Sebagian besar komoditas kopi arabika Gayo tersebut dikembangkan di tiga Kabupaten yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Nah, Anda tentu saja bisa berwisata ke tempat lain di Aceh, serta menikmati kuliner khas lainnya seperti mie Aceh.
2. Kopi Sidikalang
Ini adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Udara yang sejuk dan dingin, dengan tanah pegunungan yang kaya mineral di kawasan Bukit Barisan menghasilkan biji kopi Sidikalang yang bermutu tinggi. Kopi Sidikalang sangat terkenal akan kenikmatan cita rasanya, bahkan telah diakui mampu bersaing dengan kopi Brazil. Kopi Sidikalang kerap disebut sebagai ikonnya Kopi Sumatra. Komoditas ini istimewa karena tumbuh di dataran tinggi vulkanis. Wisata lainnya yang bisa Anda kunjungi saat ke Sumatera Utara, tentu saja ada Danau Toba, dan kuliner di Medan yang enak-enak.
3. Kopi Arang
Kopi ini diolah secara unik di Jember. Salah satu kopi terbaik di Jawa, berasal dari daerah Jawa Timur yang terkenal dengan nama Java Jampit. Kopi ini diproses dengan cara digosongkan. Uniknya, setelah diseduh air panas, akan tercium sedikit aroma cabe. Wisata lainnya yang bisa dinikmati di Jawa Timur, melimpah ruah dari gunung hingga ke pantai.
4. Kopi Toraja
Komoditi yang juga mendunia adalah Kopi Toraja, Sulawesi Selatan. Kopi Toraja juga mempunyai rasa yang khas yaitu ada perpaduan rasa tanah. Kopi Toraja terdiri dari 2 macam yakni Arabika dan Robusta. Kandungan asamnya rendah serta memiliki body yang berat. Beberapa jenis kopi meninggalkan rasa pahit cukup lama di mulut, namun tidak dengan Kopi Toraja, rasa pahitnya langsung hilang. Sebelum ke Toraja, Anda bisa mampir di Makassar dan menikmati keindahan alam serta kuliner. Sedangkan di Tana Toraja, Anda bisa menikmati wisata alam dan budaya yang unik.
5. Kopi Kintamani
Selain Kopi Gayo, gerai kopi tersohor ‘Starbucks’ ternyata menggunakan Kopi Kintamani sebagai bahan bakunya. Kintamani yang terletak di Bangli, Bali, merupakan sebuah kawasan yang terkenal akan hawa pegunungannya yang sejuk dan juga jenis anjingnya. Memiliki aroma yang lembut dan manis, kopi ini diperoleh dari perkebunan yang menggunakan sistem pengairan subak. Wisata lainnya yang bisa dinikmati di sana rasanya tak perlu dijelaskan lagi. Hampir tak ada pelancong yang tak mengenal Bali dan keindahan alam serta busayanya.
6. Kopi Flores
Kopi yang satu ini dinikmati pasar di Amerika. Kopi Flores berbiji besar, warna berkilau, aroma coklat yang kuat serta menyajikan rasa berat di lidah dengan tingkat keasamaan yang tinggi. Kopi arabika ini berasal dari kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Wisata lainnya yang bisa dinikmati di Flores dan sekitarnya adalah pesona pantai yang masih tak terjamah.
7. Kopi Wamena
Wamena adalah sebuah kota kecil yang terletak di lembah pegunungan Jaya Wijaya, Papua. Iklimnya sangat dingin berkisar 15 derajat celcius. Kopi Arabika Wamena tumbuh di lembah Baliem, tanpa menggunakan pupuk kimia. Meski pengolahannya organik dan tradisional, namun para petani sangat memperhatikan kualitas dari kopi tersebut. Wisata lainnya di Papua tentu saja meliputi pemandangan alam dan wisata budayanya. (Sumber: Artikel indonesiana.tempo.co Foto wisataindonesia.biz)
...moreTripTrus.Com - Bara api mulai membakar tungku kayu ketika Anas Salim sibuk meracik ragam rempah sebagai bumbu utama bubur India. Rambutnya yang mulai memutih tak menyurutkan semangat pria berusia 76 tahun ini menyiapkan bubur India sebagai sajian utama berbuka puasa di Masjid Jami Pekojan, Kampung Petolongan, Semarang.
"Ini resep masakan turun-temurun sejak dari kakek saya yang asalnya dari Negara Bagian Gujarat, India," kata Anas. Anas merupakan pewaris bubur India ketiga setelah mendapat resep dari sang kakek, bernama Harus Rofii dan Salim Harun yang tak lain ayahandanya.
Keluarga besar Anas secara teguh menggunakan bumbu kaya rempah sebagai penguat rasa bubur India. "Kakek saya seorang mubalig yang kerap mensyiarkan agama Islam dari perbatasan India-Pakistan. Kemudian lambat laun memilih berdagang dengan komunitas orang Koja dan masuk Indonesia sejak 1800 silam atau sekitar 120 tahun lalu," tuturnya.
Perjalanan komunitas Koja pun berlanjut sampai ke tepi Pantai Semaran dan tiba di salah satu sudut kawasan Mataram yang kini dikenal dengan Kampung Petolongan.
Setiap hari, Masjid Pekojan Semarang memasak tak kurang dari 200 hingga 300 mangkok Bubur India bagi para jemaah yang berbuka puasa. Bubur itu dibagikan secara gratis pada pukul 17.00 WIB atau menjelang berbuka puasa. Selain dibagikan gratis, pengurus Masjid Pekojan juga mempersilakan warga membawa pulang bubur ke rumah masing-masing. Bubur tersebut biasanya dijadikan makanan untuk berbuka puasa dan kerap dirindukan oleh orang yang sudah tak tinggal lagi di Semarang. Tradisi kuliner tersebut diketahui sudah menjadi peninggalan lintas generasi selama 80 tahun. Seperti namanya, bubur India merupakan kuliner asli India, tepatnya makanan di wilayah Koja yang merupakan perbatasan Pakistan dan India. Namun, dengan adanya perdagangan pada zaman dahulu, warga India yang datang ke Semarang akhirnya memutuskan tinggal dan menetap. Hal itu menginspirasikan lahirnya kampung Pekojan yakni kampung Muslim di tengah kota Semarang. Sejak awal ada di Semarang, bubur India sudah menjadi makanan khusus berbuka puasa. Meski menunya sederhana, akan tetapi bubur India ini memiliki rasa yang asli dan terjaga dengan perpaduan bubur berisi daging cincang, labu, telur serta kuah santan yang khas. @prast.wd @jatengpos #buburindia #kuliner #kulinersemarang #kulinerramadan #bukapuasa #masjidpekojan #pekojan #ngabuburit #exploresemarang #ramadan2016
A post shared by JATENG NEWS (@jatengnews) onJun 12, 2016 at 4:18am PDT
"Di sinilah, awal mula orang-orang Koja berdagang sarung, tasbih sampai beragam rempah yang dibawa langsung dari tanah kelahirannya. Lalu karena punya resep bubur India yang sangat khas itu, maka dikenalkan kepada penduduk pribumi lokal," tambahnya.
Dari semula hanya ada 10-15 orang, kini jumlah orang Koja yang mendiami kampung tersebut mencapai ratusan jiwa. Rumah-rumahnya bercorak khas campuran Pakistan-Melayu dengan dinding berwarna hijau muda.
[Baca juga : Wisata Seru Yang Bisa Kamu Kunjungi Saat Ramadhan]
Bubur India juga semakin melekat di hati masyarakat setempat. "Sekarang tiap Ramadan disediakan 200 sampai 300 porsi bubur India. Sebagai variasinya juga ada campuran kuah gulai, sambal goreng, ungkep dan teri," tuturnya. Bubur India dibuat selama tiga jam. Sejak bakda Zuhur sampai selepas salat Ashar, Anas mengaku dibantu tiga warga keturunan Koja lainnya untuk mengolah bubur India.
Kemudian tepat pukul 15.30 WIB sajian khas warga Koja ini pun siap dihidangkan dalam mangkuk-mangkuk kecil bersama segelas susu atau teh ditambah beberapa bungkus kurma. "Dulunya ada tambahan zam-zam. Tapi karena pasokannya disetop sama Pemerintah Arab Saudi maka diganti susu," ujarnya.
Dia menyebutkan hidangan bubur India kala buka puasa punya arti mendalam bagi warga sekitar. Sesuai hadist Rasulullah SAW, katanya, barang siapa yang memberikan makanan buka puasa maka ganjarannya di akhirat bertambah banyak. "Dan barang siapa yang senang dengan datangnya Ramadan maka diharamkan jasadnya di neraka. Makanya, di sini selalu dibagikan bubur gratis selama 30 hari Ramadan," ujar Anas. (Sumber: Artikel bisnis.com, Foto tribun.jateng.com)
...moreTripTrus.Com - Wazzup, traveler squad! Nih, gue bakal ngeshare info kece tentang destinasi solo traveling yang juga bisa jadi obat buat healing alias nyantai, tapi yang anti-mainstream lho, tahun 2024!
Berdasarkan data Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2023/2024, tren liburan sambil healing lagi hits banget, nih. Gak cuman buat seru-seruan, tapi juga buat nge-boost well-being. Jadi, kalo lo lagi stres abis bekerja, mending nyobain solo traveling sambil healing deh!
View this post on Instagram
A post shared by Sinta Situmorang (@pojokjendela)
Gak perlu takut, brosis, karena banyak banget destinasi keren yang bisa jadi tempat lo buat cabut sejenak.
[Baca juga : "Kemenpar Dan Ekraf Ambisius Di 2024! Serta Disparbud Jabar Siap Geber Destinasi Baru"]
Yuk, kita liat 5 destinasi solo traveling sambil healing yang gak biasa abis:
1. Kintamani, Bali
Selain ke Ubud yang udah pada tau, lo bisa solo traveling sambil healing di Kintamani. Pemandangan alam dan suasana Bali banget di sini bikin liburan jadi lebih chill.
Mulai hari lo dengan nontonin sunrise di puncak Gunung Batur, trus jalan-jalan ke Danau Batur. Bisa juga naik perahu, atau mampir ke Pura Ulun Danu yang katanya bisa bantu nyari ketenangan.
2. Desa Wisata Rejowinangun, Yogyakarta
Kalo bosen liburan ke Malioboro, coba deh solo traveling ke Desa Wisata Rejowinangun. Di sini, lo bisa meresapi budaya dan tradisi bikin jamu yang turun-temurun dari masyarakat setempat.
Ada Klaster Herbal yang bau rempah-rempahnya khas banget. Setelah coba jamu, lo bisa eksplor seni, kerajinan, dan kuliner keren di desa ini.
3. Tawangmangu, Jawa Tengah
Ternyata, Tawangmangu punya vibe healing buat solo traveler. Gak cuman duduk manis nikmatin sawah dan udara sejuk di Gunung Lawu, tapi lo juga bisa kunjungi Rumah Atsiri.
Di sana, lo bakal nemuin bermacam bunga cantik, plus bisa mampir ke museum essential oil buat tau sejarah minyak atsiri. Bahkan, lo bisa bikin produk perawatan tubuh alami sendiri!
4. Labuan Bajo, NTT
Sebagai Destinasi Super Prioritas, Labuan Bajo punya daya tarik buat solo traveling sambil healing. Salah satunya, mampir ke Desa Adat Wae Rebo. Meski trekkingnya 3-4 jam dari Desa Denge, tapi indahnya alam dan budayanya dijamin bikin kagum.
Lo bisa nyobain hidup dan tidur di rumah tradisional Mbaru Niang. Selain nikmatin pemandangan, lo bisa belajar menenun dan nonton pertunjukan budaya adat yang asyik banget.
5. Pulau Kolorai, Maluku Utara
Pulau Kolorai di Maluku Utara punya alam yang super indah, jadi wajar aja kalo banyak solo traveler yang ke sini. Selain liat gunung, lo bisa healing sambil snorkeling buat explore keindahan bawah laut Kepulauan Maluku.
Selain terumbu karang dan ikan-ikan warna-warni, lo juga bisa nemuin peninggalan sejarah Perang Dunia 2. Kalo berani, mampir ke Mitita Shark Point buat berenang bareng hiu sirip hitam!
Jadi, udah siap mampir ke mana, bro? Solo traveling sambil healing itu yang lagi ngehits, nih! (Sumber Foto @fajarrudin16)
...moreTripTrus.Com - Heritage on Wheels adalah wisata sehari (one day trip) dengan destinasi kawasan bersejarah di Purworejo-Kutoarjo menggunakan bus klasik Dodge D Series.
Sensasi menumpang bus klasik mungkin bisa jadi pengalaman berbeda bagi para penggemar bus. Hal ini yang coba ditawarkan PO Sumber Alam dengan menggelar paket wisata open trip bertajuk Heritage on Wheels pada 21 Maret ini.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Sita Ratih Pratiwi (@sita_ratih)
Heritage on Wheels adalah wisata sehari (one day trip) dengan destinasi kawasan bersejarah di Purworejo-Kutoarjo menggunakan bus klasik Dodge D Series.
Meeting pointnya di Pool Bus Sumber Alam, Kutoarjo dengan durasi tur sekitar 7 jam, yakni pukul 08.00 – 15.00. Ada empat Situs Heritage dan Kawasan Kota Lama yang dikunjungi. Di antaranya Hogere Kweek School, Alun2 Purworejo, Gereja Santa Maria, Pendapa eks Kabupaten Kutoarjo dan Hotel Kencana.
[Baca juga : "Nikmati Sensasi Off Road Di Hutan Wisata Punti Kayu Hanya Rp80 Ribu"]
Dalam pengumuman via akun Instagramnya, Sumber Alam menyediakan paket tur ini dengan biaya Rp 275 ribu per orang. Jika Anda dari Jakarta, bisa ikut paket perjalanan seharga Rp 600 ribu yang sudah termasuk tiket PP Jakarta - Kutoarjo bersama bus Sumber Alam.
Fasilitas dalam tur ini antara lain bus vintage Dodge D Series dengan kapasitas seat maksimal 18 orang. Snack dan makan siang menu lokal. Serta merchandise kerajinan lokal dan pemandu sejarah. (Sumber: Artikel bus-truck.id Foto @sigit_asmodiwongso )
...morePilih trip ke Teluk Kiluan di: http://triptr.us/Bi
TRIPTRUS - Provinsi Lampung tidak hanya menyimpan tujuan wisata seperti habitat gajah Sumatera di Taman Nasional Way Kambas atau Anak Gunung Krakatau. Di Kabupaten Tenggamus, tepatnya di Kecamatan Kelumbayan, ada Teluk Kiluan yang terkenal dengan wisata baharinya. Sudah sejak lama teluk ini terkenal sebagai tempat "berburu" lumba-lumba. Tunggu dulu, TripTroops. Yang dimaksud dengan berburu di sini adalah menonton kawanan lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba hidung panjang yang bisa dilihat di Teluk Kiluan.
Untuk mencapai Teluk Kiluan, TripTroops bisa menyewa mobil dari Bandar Lampung dan menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam. Meski perjalanan mencapai Teluk Kiluan bisa cukup melelahkan, tapi worth it begitu TripTroops sampai di Teluk Kiluan. Sebelum melihat lumba-lumba, di Teluk Kiluan terdapat kolam alami di Pantai Laguna -- tidak jauh dari dermaga Teluk Kiluan. Perjalanan menuju kolam alami ini memakan waktu kurang lebih satu jam yang melibatkan sedikit trekking, mendaki dan melintasi batu-batu karang. Kolam alami ini terdapat tepat di pinggir tebing karang. Airnya yang jernih berasal dari ombak tinggi Samudera Hindia yang terbentang di lepas Pantai Laguna.
Untuk melihat lumba-lumba di Kiluan, ada baiknya memulai perjalanan di pagi hari. Dengan menyewa perahu jukung (speedboat kecil) yang dikenal dengan nama Katir oleh penduduk setempat. Di atas perahu yang bisa memuat tiga orang ini, TripTroops akan diajak ke tengah laut melihat kawanan lumba-lumba yang berhabitat di sekitar Teluk Kiluan. Konon, kawanan lumba-lumba di Teluk Kiluan ini adalah yang terbesar di Asia, bahkan mungkin di dunia! Selain lumba-lumba, Teluk Kiluan juga merupakan habitat dari penyu hijau -- meski yang satu ini tidak terlalu sering terlihat dibanding lumba-lumba.
Bagi TripTroops yang tidak puas hanya melihat lumba-lumba saja, Teluk Kiluan juga merupakan salah satu tempat yang oke banget buat snorkeling atau diving. Meski keragaman spesies bawah laut di Kiluan tidak sebanyak yang bisa dilihat di Bunaken atau Raja Ampat, tapi kejernihan airnya membuat terjun ke air jadi sangat menyenangkan karena dapat melihat jelas satwa laut di Teluk Kiluan. Sore harinya, Teluk Kiluan adalah tempat yang tepat untuk mengabadikan pemandangan matahari terbenam yang memesona.Pantai-pantai yang ada di beberapa pulau sekitar Teluk Kiluan juga terkenal akan pemandangannya yang mengagumkan. Pasir putih dan pantai yang bersih serta tenang, seperti di Pulau Kiluan, akan membuat TripTroops betah berlama-lama di sini.
Photos taken from: Shutterstock
...moreTripTrus.Com - Banda Neira itu, salah satu pulau di Kepulauan Banda, Maluku, bro. Walaupun nggak gede-gede banget, tapi pesonanya tuh udah go internasional. Keindahannya nggak cuma bisa lo denger di cerita-cerita aja, coy!
6 Fakta tentang Banda Neira. Zaman dulu, Banda Neira tuh udah terkenal banget sebagai pulau penghasil pala yang harganya mahal banget. Saking berharganya, Belanda dulu mau nuker Banda Neira sama Manhattan (Niuew Amsterdam) dari Inggris, loh. Pulau ini juga pernah dijajah gara-gara kekayaan alamnya yang gila-gilaan, terutama pala sama rempah-rempah lainnya. Nggak cuma itu, Banda Neira juga punya benteng-benteng yang dibangun pas zaman penjajahan. Dan lo tau nggak, keindahan Banda Neira sampai diabadikan di uang rupiah! Dulu, Belanda pernah ngirim empat pahlawan kita buat diasingin di Banda Neira. Nih, gue kasih tau rumah-rumah pengasingan mereka:
1. Rumah Pengasingan dr. Cipto Mangunkusumo
Rumah pengasingan dr. Cipto Mangunkusumo itu lokasinya di Jalan Pendidikan, Kelurahan Dwiwarna, Kecamatan Banda, Maluku Tengah. Deket banget sama Istana Mini Banda Neira yang dulunya markasnya pemerintah Belanda, bro. Rumah pengasingan ini juga deket sama rumah pejabat dan kantor pemerintahan Belanda. Cipto diasingin di sini selama 13 tahun, sebelum akhirnya dipindahin ke Ujungpandang. Rumahnya bergaya Indis, atapnya perisai tumpuk, dan dibagi jadi rumah utama, gudang, dapur, sama kamar mandi.
2. Rumah Pengasingan Iwa Kusumasumantri
Sebelum akhirnya dipindahin ke Ujungpandang sampai Jepang masuk ke Indonesia, Iwa Kusumantri diasingin di Banda Neira sampai tahun 1941. Gara-gara tulisan pedasnya di koran Matahari Indonesia pada 17 Juli 1930, bro. Selama di Banda Neira, dia tinggal di sebuah bangunan satu lantai yang luasnya 358 meter persegi, lokasinya di Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Dwiwarna, Kecamatan Banda, Maluku Tengah. Letaknya deket banget sama Gedung Klasis Gereja Banda.
[Baca juga : "6 Taman Makam Pahlawan Yang Bisa Jadi Tempat Wisata Alternatif Buat Ngerayain Kemerdekaan RI"]
3. Rumah Pengasingan Bung Hatta
View this post on Instagram
A post shared by Els (@laelinuraj)
Bareng sama Sutan Sjahrir, Bung Hatta juga diasingin ke Banda Neira. Bung Hatta nyewa rumahnya De Vries, tuan tanah lokal. Lokasinya nggak jauh dari Rumah Pengasingan Bung Sjahrir, tepatnya di Jalan Dr. Rehatta, Nusantara, Kecamatan Banda, Maluku Tengah. Di rumah ini, banyak barang-barang bersejarah, kayak mesin ketik yang dipake buat nulis ide-ide brilian Hatta. Dulunya, di belakang rumah ini juga ada sekolah buat anak-anak Banda. Rumah ini sempat dibom sekutu pada 1944 dan hancur lebur, tapi dibangun lagi, dan sekarang jadi tempat wisata sejarah yang wajib lo kunjungi kalo ke Banda Neira.
4. Rumah Pengasingan Sutan Sjahrir
Sutan Sjahrir diasingin ke Banda Neira selama 6 tahun, dari 11 Februari 1936, setelah dipindahin dari Boven Digoel. Rumah Pengasingan Sutan Syahrir ada di Jalan Said Tjong Baadillah, Kelurahan Nusantara, Kecamatan Banda, Maluku Tengah. Dulunya rumah ini milik keluarga Baadillah, terus disewa oleh Sutan Syahrir selama masa pengasingannya di Banda Neira. Di sana, lo bisa liat koleksi barang-barang Syahrir, kayak gramofon dengan piringan hitamnya, mesin ketik, dan foto-foto jadul. Lo cuma perlu bayar Rp20 ribu buat sekali kunjungan, dan rumah ini buka dari jam 07.00 sampai 18.00 WIT setiap hari.
Banda Neira, pulau yang cakep ini punya pemandangan alam yang keren banget, hasil bumi yang melimpah, plus sejarahnya yang bener-bener bikin penasaran. (Sumber Foto @ukhtipetualang)
...moreTripTrus.Com - Selain dikenal dengan destinasi wisata alamnya, Kabupaten Karawang ternyata memiliki banyak tempat wisata sejarah yang penting untuk dikunjungi.
Ketika hari kerja maupun menjelang libur akhir pekan bersama keluarga, tidak ada salahnya berkunjung ke beberapa tempat wisata bersejarah yang sudah dirangkum Redaksi portaljabar.net dari berbagai sumber berikut ini:
1. Monumen Rawagede
View this post on Instagram
Monumen Rawagede . Sudah beberapa kali mendengar cerita tentang Monumen Rawagede, and finally I visited it, one of historical tourism destination in Karawang. Pak Sukarman yang merupakan sejarawan Karawang sekaligus guide disini, senantiasa menceritakan secara detail kisah dibalik Monumen Rawagede ini. Selalu senang belajar sejarah dengan beliau. . Kalau kamu berkunjung kesini dan belum puas dengan penjelasan guidenya, kamu bisa membeli CD dan buku terkait Peristiwa Rawagede karangan pak Sukarman.😊 - Diabadikan oleh @novrianh #MokaKarawang #VisitKarawang #HayuKaKarawang #Karawang #ExtraordinaryKarawang
A post shared by Nunung Nurhayati Suwanda (@nunungns) onOct 25, 2018 at 7:01pm PDT
Tempat wisata sejarah ini berada di Jl. Monumen Rawagede, Desa Mekarjaya, Kecamatan Rawamerta. Monumen Rawa Gede ini ditujukan untuk mengenang korban sipil yang dibunuh tentara Belanda.
Pada dasarnya monumen ini adalah sebuah taman makam pahlawan dan korban kejahatan perang melawan kekejaman penjajah Belanda. Kita dapat mengunjungi objek wisata ini dengan mudah karena letaknya yang berada di tepi jalan.
2. Monumen Kebulatan Tekad
View this post on Instagram
🇮🇩🇲🇨
A post shared by BUNENG♡ (@shanty_nuravianti) onMar 19, 2019 at 8:57am PDT
Monumen Kebulatan Tekad berada di Jl. Raya Rengasdengklok, Desa Rengasdengklok Selatan, Kecamatan Rengasdengklok.
Monumen ini hanya menempati area seluas 1500 meter persegi. Namun begitu, suasana asli klasik tempo dulu masih dipertahankan. Monumen perjuangan ini didirikan untuk mengenang sejarah awal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Untuk mengunjungi monumen ini kita dapat menggunakan bantuan GPS pada kendaraan pribadi atau ponsel. Antau kita bisa dengan memanfaatkan kendaraan umum yang tersedia.
3. Situs Candi Jiwa
View this post on Instagram
Mencari ketenangan jiwa di candi jiwa wkwk
A post shared by fakhri akmalluddin (@fakhriakmaludin) onJun 29, 2016 at 5:39am PDT
Lokasi tempat wisata sejarah ini berada di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Karawang. Selain dapat melihat situs Candi Jiwa di Karawang ini, kita juga akan disuguhi pemandangan sawah yang terhampar. Ini karena situs Candi Jiwa ini terletak di tengah sawah.
4. Rumah Rengasdengklok
View this post on Instagram
CNY di rumah Popo-Kungkung 💕 * * #family #familypic #familyphoto #chinesenewyear #imlek #gongxifacai #EugenioJaden #EmerickJenssen #doubleJ #Jbrother #JadenJenssen #EJF #rengasdengklok #rumahsejarah #rumahsejarahrengasdengklok #babadjiauw #djiauwkiesiong
A post shared by Grace Julian Sari (@grajuls) onFeb 18, 2018 at 5:03am PST
Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong adalah rumah yang persinggahan Soekarno dan Hatta. Ketika itu keduanya dibawa ke Rengasdengklok oleh pemuda dari Perkumpulan Menteng 31 seperti Wikana, Aidit, dan Soekarni.
Peristiwa tersebut terjadi pada 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB agar Soekarno dan Hatta dapat mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
[Baca juga : "10 Candi Termegah Di Indonesia, Yuk Dikunjungi!"]
5. Bendungan Walahar
View this post on Instagram
Lah walahar.
A post shared by MUHAMMAD RIFQI MUNAWWAR | MRM (@sakiwjr) onApr 16, 2017 at 1:53am PDT
Bendungan Walahar terletak di Desa Walahar Kecamatan Ciampel. Tempat ini digunakan sejak tanggal 30 November 1925. Dibangun pada masa penjajahan Belanda, dimana dalam pembangunannya mengandalkan tenaga pribumi.
Maka tidak heran jika arsitekturnya mengingatkan kita pada bentuk bangunan sisa penjajahan Belanda lainnya yang masih bisa kita temui di berbagai pelosok tanah air.
Bendungan yang membagi air Sungai Citarum ini difungsikan untuk mengatur debit dan sirkulasi air dalam mengairi areal pesawahan di Karawang seluas ±87.507 ha. (Sumber: Artikel portaljabar.net Foto id.wikipedia.org)
...moreTripTrus.Com - Setiap orang pasti memiliki caranya masing-masing untuk mengisi waktu di bulan Ramadan, terutama menjelang waktu berbuka puasa atau yang kerap disebut dengan ngabuburit. Ada yang mengisinya dengan berdoa serta melakukan kegiatan rohani, ada yang menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa, ada yang memilih untuk refreshing sembari menunggu azan Magrib berkumandang, lalu ada pula yang menunggu waktu buka puasa dengan cara yang lain dari biasanya.
Berkat suku dan budaya masyarakatnya yang beragam, umat Muslim dari berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi unik dan menyenangkan tersendiri saat ngabuburit, lho, Wegonesia. Penasaran apa saja kegiatannya? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!
1. Asmara Subuh, Palembang
Jangan buru-buru mengira bahwa tradisi ini berhubungan dengan cari jodoh. Sesungguhnya, Asmara Subuh adalah tradisi yang dilakukan warga Palembang dengan membakar sejumlah petasan di sepanjang Jembatan Ampera. Tak ada sumber pasti yang menyebutkan asal-usul nama tradisi yang dilakukan pada hari pertama Ramadan ini, begitu pula kapan pertama kali tradisi ini ada. Selain di Jembatan Ampera, Asmara Subuh juga dilakukan di sejumlah tempat di Palembang, salah satunya di pelataran Benteng Kuto.
2. Panjat Tebing, Madiun
Selama bulan Ramadan, anak-anak di kota Madiun kerap berkumpul di kawasan Stadion Wilis menjelang waktu berbuka puasa. Bukan untuk bermain sepak bola seperti yang biasa dilakukan anak-anak pada umumnya, mereka berkumpul untuk melakukan panjat tebing dengan memanfaatkan fasilitas panjat tebing yang tersedia di stadion!
Jangan bayangkan bidang panjat dengan kemiringan ekstrem dan jarak pijakan yang jauh, yang menjadi sasaran panjat mereka tebing dengan pijakan yang tidak terlalu sulit, dengan jarak satu pijakan ke pijakan lainnya yang cukup dekat dan tidak terjal. Dibandingkan dengan bermain sepak bola atau permainan lain yang menguras tenaga, aktivitas ini tampaknya cukup digemari karena tergolong lebih ringan namun tetap menyenangkan untuk dilakukan sambil menunggu waktu berbuka puasa.
3. Kumbohan, Lamongan
Kumbohan merupakan tradisi mencari ikan di Sungai Bengawan Solo yang kerap dilakukan oleh warga Lamongan sembari menunggu waktu buka puasa. Tradisi ini sudah dilakukan oleh warga sejak lama tiap kali air sungai surut, sehingga ikan-ikan menjadi mabuk atau munggut dan menjadi mudah ditangkap. Jenis ikan yang ditangkap bermacam-macam, dari mulai bandeng hingga udang.
Para warga, dari yang muda hingga paruh baya, laki-laki maupun perempuan, terlihat cukup antusias dalam menangkap ikan. Hasil tangkapan warga biasanya akan dibawa pulang untuk dimasak sebagai hidangan berbuka puasa atau dibagikan kepada saudara dan juga tetangga.
4. Perahu Layar Mini, Surabaya
Sementara itu, warga pesisir memanfaatkan lokasi sekitar tempat tinggal mereka untuk menciptakan permainan yang menghibur, yakni adu balap perahu layar mini di Rawa Tambak, pesisir utara Pantai Kenjeran Surabaya. Miniatur perahu layar dibuat menggunakan kayu, lidi, dan sehelai kain ataupun kertas yang cukup tebal sebagai layar.
Para peserta balap menghias layar perahu masing-masing agar tampak lebih menarik. Ada yang menuliskan kata-kata lucu dan memancing tawa, ada pula yang menggambar aneka bentuk wajah. Tinggal tunggu saja kepada siapa angin laut berpihak, karena pemenangnya, tentu tak bisa mengatur ke mana angin laut bertiup.
[Baca juga : "Desa Poopoh Bersolek Menuju Anugerah Desa Wisata Indonesia"]
5. Menonton Kereta Api, Madiun
Deretan sepeda motor terlihat memadati kawasan sekitar jalur kereta api Madiun. Mereka yang datang umumnya adalah seorang bapak dengan anak-anaknya, serta segerombol anak muda yang ingin menghabiskan waktu menjelang buka puasa. Mereka memarkir motor di tepi luar pembatas rel kereta, lalu duduk santai di atas motor masing-masing sambil asyik menonton kereta yang melintas.
Bagi warga Madiun, ngabuburit sambil menonton kereta api adalah sebuah hal yang lumrah. Dibandingkan yang lain, aktivitas yang satu ini adalah yang paling tidak biasa dan cenderung berbahaya, mengingat jarak antara kereta api dan warga yang menonton cukup dekat. (Sumber: Artikel wego.com Foto @tv90an)
...moreTari Jaipong lahir dari kreatifitas seorang seniman Bandung bernama Gugum Gumbira yang menaruh perhatian besar pada kesenian rakyat seperti tari pergaulan Ketuk Tilu. Gugum Gumbira memang sangat mengenal pola-pola gerak tari tradisional Ketuk Tilu, seperti gerak bukaan, pencugan, nibakeun, dan gerakan-gerakan lainnya. Pada awal kemunculannya, Tari Jaipong disebut dengan Ketuk Tilu Perkembangan karena tarian ini memang dikembangkan dari tari Ketuk Tilu.Karya Gugum Gumbira yang pertama kali dikenal masyarakat adalah Tari Jaipong "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong". Dari kedua jenis tarian itu, muncullah sejumlah nama penari Jaipong yang terkenal seperti Tati Saleh, Eli Somali, Yeti Mamat, dan Pepen Dedi Kurniadi. Kemudian pada tahun 1980-1990-an, Gugum Gumbira kembali menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, dan lain-lain. Kembali lagi muncul penari-penari Jaipong yang handal seperti Ine Dinar, Aa Suryabrata, Yumiati Mandiri, Asep Safaat, Iceu Effendi, dan beberapa penari lainnya.Bisa dikatakan, Tari Jaipong sudah menjadi salah satu ikon keseniaan Jawa Barat, dan sering dipertontonkan pada acara-acara penting untuk menghibur tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat. Juga, saat melakukan misi kesenian ke mancanegara. Padahal di awal kemunculannya, tarian ini sempat menjadi perbincangan hangat, terlebih karena gerakan-gerakannya yang dianggap erotis dan vulgar. Tapi hal itu justru membuat Tari Jaipong mendapatkan perhatian dari media, termasuk ditayangkannya Tari Jaipong pada tahun 1980 di TVRI Stasiun Pusat Jakarta. Semenjak itu, Tari Jaipong semakin populer dan frekuensi pementasannya pun semakin bertambah.Kelahiran Tari Jaipong pun menginspirasi para penggerak seni tari tradisional untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Kemunculan jenis tarian ini juga membuka lahan usaha bagi para penggiat seni yang membuka kursus untuk belajar Tari Jaipong. Sementara pengusaha hiburan malam memanfaatkan Tari Jaipong untuk memikat pengunjung tempat usahanya.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more