shop-triptrus



Baluran Tutup Sementara Sampai 15 Feb 2024 Untuk Perbaikan Gara-Gara Lonjakan Pengunjung Natal

TripTrus.Com - Baluran, bro, yang jadi destinasi alam di ujung timur, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, bakal tutup sebentar nih, mulai 15 Januari sampe 15 Februari 2024. Kata Joko Mulyono, si juru bicara Taman Nasional Baluran, mereka harus benahin area wisata ini, abis kena serbuan pengunjung yang dateng pas libur Natal dan Tahun Baru 2024. Gila aja, bro, pengunjungnya sampe 23.600 orang!       View this post on Instagram A post shared by Ayu Utami Saraswati (@ayuutamis) Kabar penutupan ini keluar lewat surat edaran dari Kepala Balai Taman Nasional Baluran, Johan Setiawan. Mereka tutup sekaligus buat ngecek dan evaluasiin kunjungan wisata. Selama bulan penutupan, tim pengelola bakal ngasih perbaikan dan pemeliharaan buat tempat-tempat di Taman Nasional Baluran, terutama yang ada di sepanjang jalur dari Batangan ke Padang Sabana (Bekol) dan dari Bekol ke Pantai Bama. [Baca juga : "Bro, NTB Nyemplungin 36 Event Keren Buat Tahun 2024 Nih!"] Cek juga nih, mereka bakal bangun dan rawat tempat buat usaha kecil menengah di dunia pariwisata, kayak yang di jalur Batangan-Pantai Bama. Katanya sih, dari pintu utama sampe Pantai Bama ditutup, tapi dari Watunumpuk ke Pantai Merak tetep buka. Mudah-mudahan, setelah diperbaikin, Baluran bisa makin keren dan ramah buat pengunjung, gitu kata Joko Mulyono. (Sumber Foto @adiantooooo) 
...more

Keindahan Wonosobo Temanggung

TripTrus.Com - Wisata kekinian identik dengan lokasi yang mampu menyajikan pemandangan spektakuler bila direkam oleh kamera foto dan keren di media sosial. Apalagi kalau bukan merekam pemandangan dari suatu ketinggian yang ekstrem. Karena itu, tidak menghe­rankan jika di Yogyakarta, wisatawan milenial selalu antre untuk bisa naik dan berfoto di sebuah gardu pandang. Tempat serupa mulai bermunculan, yang lama ikut berbenah dan lang­sung diserbu kalangan penyuka foto wisata. [Baca juga : "Bingung Tamasya Long Weekend? Coba Wisata Tembakau Di 2 Tempat Ini"] Salah satu area yang sekarang makin merebak di Instagram adalah kaki Gunung Sindoro dan Sumbing atau antara Wonosobo dan Temang­gung. Gunung Sumbing dengan ketinggian 3.371 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan Sindoro 3.150 Mdpl yang terletak di Kabu­paten Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah ini, di balik kegagahan­nya tersembunyi keindahan yang menakjubkan. Di kaki kedua gunung itu tumbuh subur ribuan hektare ladang tembakau. Keberadaan Gunung Sindoro dan Sumbing memang mendatang­kan banyak fenomena alam yang luar biasa. Bila menjelang malam, maka daerah di kaki kedua gunung tersebut akan tertutup kabut. Dari jalan aspal utama sampai jalan batu ke perdesaan seperti diselimuti tabir putih yang dingin. Inilah saatnya untuk memainkan kamera merekam atau berfoto dengan situasi yang begitu misteri. Persis di dekat gerbang perbatas­an Kota Wonosobo–Temanggung, berdirilah Hotel Dieng Kledung Pass. Berada di jalur utama antarka­bupaten sehingga sering dijadikan tempat singgah atau sering disebut sebagai Rest Area Kledung Pass Te­manggung. Hotel ini memiliki 32 kamar standar. Hebatnya, setiap kamar memiliki teras yang bisa dijadikan gardu pandang. Untuk kamar bagian belakang hotel, setiap tamu bisa me­lihat dengan jelas Gunung Sindoro serta hamparan ladang tembakau. Sementara deretan kamar ba­gian depan menjadi pos pandang bagi Gunung Sumbing di kejauhan. Karena dibatasi oleh jalan raya, untuk mendapatkan pemandangan Gunung Sumbing yang jelas, maka lebih asyik lagi kalau menyeberang lalu bersantai di Rest Area Kledung Pass. Di sini tempatnya terbuka dan langsung berada di kaki gunung. Dari tempat ini, desa terjauh dekat puncak gunung bisa terlihat dengan jelas. Di area ini, bila sudah puas ber­foto maka bisa dilanjutkan dengan menikmati minuman kopi serta makanan kecil yang dijual di kedai kopi seputar rest area. Menunggu Fajar       View this post on Instagram 😆😆😆mung hiburane cah ndeso kok😆😆😆 #sunrise #sunriseposong #temanggung #temanggunghits A post shared by fian_ (@fian_guwex) onJun 25, 2018 at 4:35am PDT Jika kebetulan wisatawan tengah bermalam di Hotel Dieng Kledung Pass Wonosobo, jangan lewatkan juga untuk mengejar terbitnya mata­hari. Tempat yang dituju adalah Po­song, Desa Tlahab, Temanggung. Ini adalah area perkebunan tembakau milik rakyat yang jaraknya hanya 10 menit dari hotel. Posong merupakan sebuah lokasi persis di kaki Gunung Sindoro. Di tempat itu terdapat beberapa gardu pandang untuk menunggu matahari terbit dari balik Gunung Sumbing. Untuk mencegat sang fajar, pengun­jung harus sudah berada di sana sejak jam 4 pagi. Dari gerbang tiket menuju area gardu pandang memerlukan waktu sekitar setengah jam. Melewati jalan berbatu yang menanjak, membelah perkebunan tembakau dan kopi. Bila tiba saat panen tembakau, pe­ngunjung dilarang menggunakan kendaraan roda empat karena akan mengganggu pergerakan kendaraan para petani. Dari pinggir jalan raya, pengun­jung bisa menggunakan ojek dengan tarif 15 ribu rupiah. Sampai di pos pengamatan, angin gunung yang kencang langsung menyambut, semakin membekukan udara di mu­sim kering yang berkepanjangan ini. Ada empat area pandang, beberapa di antaranya dikenakan tiket masuk lagi karena gardu pandangnya dibuat kekinian, seperti altar kayu yang keren bila difoto. Sekitar pukul 05.30 WIB semua mata memandang ke arah Gunung Sumbing, perlahan-lahan matahari pagi muncul dari balik Gunung Sumbing. Segera saja bayangan siluet gigir gunung yang memanjang, membe­lah perkebunan dan memantulkan sinar emas dari matahari. Inilah saatnya mengoperasikan penuh alat fotografi. Saling memotret atau selfie terus berjalan. Memanfaatkan ber­bagai sudut gardu pandang dengan latar belakang sinar matahari yang lembut. Adalah Zunianto, pemuda dari Desa Tlahab yang pada 2007 be­kerja di hotel dan menjadi guide bagi tamu hotel yang berkunjung ke Borobudur sampai Dieng. Menurut­nya, yang banyak dicari wisatawan adalah sunrise, seperti di Bukit Situ­mbu dekat Borobudur dan beberapa lokasi di kawasan Dieng. Setiap pulang ke rumah setelah subuh, Zunianto selalu berhenti di sekitar pom bensin Kecamatan Kledung, Temanggung. Di dataran tinggi Kledung ini, dirinya melihat sunrise yang indah dan selalu meng­abadikan sunrise tersebut dengan kameranya. Dirinya mulai tergoda untuk mencari lokasi sunrise yang ideal dan berhasil menemukan area Posong. Lewat pendekatan de­ngan pihak pemda, akhirnya area Posong dibangun menjadi area titik pandang sunrise yang berkembang menjadi badan usaha milik desa (BUMDes), Desa Tlahab. Kini, di area tersebut banyak dibuka warung kopi dan makanan yang membuat para pengunjung se­makin betah. Tiket masuk ke area ini 10.000 rupiah per orang. Waduk Mini Embung Kledung       View this post on Instagram Niliki ingon-ingon 😆😆 . . 🌏 Embung Kledung, Temanggung 📷 @ardhimo_ongsukoco . #embungkledung #embungkledungtemanggung #temanggunghits #beautifulview #beautifuldestination #viewgunungsumbing A post shared by Maya Kartika (@tikaa_may) onOct 15, 2018 at 7:28am PDT Puas menikmati sang fajar di Posong, jangan langsung kem­bali ke hotel, tapi habiskan waktu untuk kembali memandang keindahan Gunung Sindoro dan Sumbing dari lokasi yang berbeda. Kali ini ke Embung Kledung yang berada di lereng Gunung Sindoro. Embung Kledung merupakan waduk mini yang dibangun di lereng Gunung Sindoro bagian selatan. Tepatnya di Desa Kledung, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, dengan ukuran seluas 83 meter x 83 meter. Ini adalah embung buatan yang dibuat pada 2010. Embung yang berada di atas lahan bekas perkebunan tembakau seluas empat hektare ini dibangun dengan menggunakan dana hasil cukai tembakau pada 2010. Embung ini dibangun dengan tujuan mengatasi kesulitan air pada musim kemarau dan pengembangan kawasan wisata baru. Daya tarik yang ditawarkan oleh objek wisata ini adalah pemandangan waduk mini dengan latar Gunung Sindoro dan melihat keindahan Gunung Sumbing dari kawasan perbukitan. Kembali, setiap sisi embung menjadi gardu pandang untuk memandang ke arah gunung yang disukai. Di kawasan ini juga terdapat kebun teh yang cukup luas serta tanaman sayuran dan holtikultura serta tanaman tembakau. Untuk ke Embung Kledung bukan soal yang sulit. Kalau dari Jogja (Yogyakarta) ambil rute menuju Wonosobo melewati Temanggung dan Parakan. Dari Parakan langsung menuju Desa Kledung. Di sana cukup bertanya dengan penduduk setempat, atau membaca papan petunjuk yang ada di pinggir jalan. Setiap pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar 3.000 rupiah per orang. Kopi Tembakau       View this post on Instagram Arabika Cigarillo Gelanggu Pohon kopi di Lereng Gunung ini tak hidup sendiri, mereka hidup sama sama dengan tanaman yang lain, utamanya tanaman hortikultur dataran tinggi. Bisa sayur bisa tembakau. Tembakau, seperti yang ditahu, tak bisa ditanam sepanjang tahun. Harus nunggu musim kemarau, yang hanya terjadi setahun sekali itu. Biasanya pada caturwulan di tengah-tengah. Saat musim kemarau yang kemlentheng itu, dan saat dingin di dataran tinggi bisa sampai mengkristalkan embun-embun pagi di dedaunan, kalau masa nya bebarengan dengan masa matang ceri ceri kopi merah, maka bisa migrasi itu karakter tembakau ke kopi. Hal ini yang mendasari nama 'Cigarillo', karena tanaman sela yang ditandur itu memanglah tembakau, Sang Nicotiana Tabacum. Sedangkan 'Gelanggu' adalah singkatan dari 'Gelangan Gunung', tempat kopinya diproses. Semoga kehadiran Arabika Cigarillo Gelanggu ini bisa semakin nambah warna warna majemuk kopi Nuswantara yang eksotis. Nuswantara, begitu nulisnya dalam Bahasa Krama Inggil di Pustaka Babad Kedu. Seru ya ? Tak hanya kopi, namu juga merasuk sampai sejarah. Nilai nilai kopi memang tak berhenti dalam tegukan saja. Juga sosial dan budayanya. Kita sedia stok Red Honey, Natural, dan Fullwash Arabika satu ini. Silahkan kontak nomor bersangkutan di atas kalau mau pinarak, juga, kalau penasaran sama si Cigarillo Gelanggu. #kopi #coffee #arabika #arabica #kopijawa #javacoffee #sindoro #sumbing #sindorosumbing #kopitemanggung #temanggungcoffee #roasteryhouse #roastery #rumahkopi #kedaikopi #warungkopi #kopiindonesia #indonesiancoffee #kopinusantara #nusantaracoffee #kopitembakau A post shared by java.tobacco (@java.tobacco) onDec 14, 2016 at 3:52am PST Ketika matahari pagi mulai utuh bersinar, itulah saat yang pas untuk ngopi. Apalagi berada di tengah perkebunan tembakau dan kopi. Di Posong, Temanggung, ada kafe yang menjadi gardu pandang sekaligus menjual kopi dari hasil perkebunan sekitar. Adalah Tuhar (51) warga Dusun Tlahab, temanggung yang menekuni kopi khas daerah tersebut. Yang menarik, di daerah Temanggung bisa dikatakan tembakaulah yang masih menjadi komoditas utamanya. Di sisi lain, kota ini sebenarnya penyuplai kopi di Jawa Tengah. Hampir 60 persen kopi di Jawa Tengah berasal dari kota ini. Kualitas kopi Temanggung sendiri sekarang sudah mulai dikenal dunia. Di sekitaran Dusun Tlahap, Kabupaten Temanggung, pohon kopi ini ditanam. Secara geografis, ini dataran yang sangat tinggi, lebih kurang sekitar 1.600 Mdpl. Curah hujan di Posong juga cukup tinggi. Makanya, kesuburan tanah tidak perlu diragukan lagi. Tanaman di sekitaran Posong tumbuh produktif, subur, hijau, dan sejuk. Kopi posong ini bitter-nya cukup menonjol, tajam, dan keras. Kopi ini merupakan varietas Catimor, hasil persilangan antara jenis Robusta dan Arabika. Untuk masalah aroma, banyak yang menyebutkan kopi Posong memiliki karakteristik “Tobacco acidity”. Menurut Tuhar, Temanggung dan Wonosobo adalah daerah di mana pohon-pohon tembakau tumbuh subur dan mendominasi tanah perkebunan. “Jika pohon kopi ditanam dekat pohon tembakau, atau tanah bekas pohon tembakau, maka hasil akhir­nya akan muncul aroma tembakau. Karakteristik tembakaunya cukup kuat,” kata Tuhar. Di antara kesejukan udara pe­gunungan, Tuhar meracik kopi posong untuk jenis original, segera saja uap kopi menyebarkan aroma yang berbaur dengan harumnya tembakau.  (Sumber: Artikel koran-jakarta.com Foto bppkad.temanggungkab.go.id)  
...more

Hutan Mati Gunung Papandayan

Semua pasti setuju bahwa Gunung Papandayan itu cocok buat pendaki yang baru mau memulai pendakian. Selain karena treknya yang relatif tidak terlalu sulit, dengan sumber air melimpah, spot-spot pemandangannya pun bakal bikin siapapun ketagihan. Nah, salah satu spot paling ikonik di Gunung Papandayan, selain Taman Edelweiss Tegal Alun, adalah Hutan Mati. Namanya memang agak seram, tapi alih-alih seram, Hutan Mati Gunung Papandayan akan memberi kesan eksotisme yang tidak ada duanya. Terletak tepat di atas kawah utama Gunung Papandayan, kayu-kayu cantigi ini mati diterpa letusan vulkanik bertahun-tahun silam. Kini, asap belerang dari kawah pun seringkali diterpa angin ke arah Hutan Mati. Letaknya yang cukup dekat dengan camping ground Pondok Saladah membuat Hutan Mati menjadi spot yang harus dikunjungi baik di kala senja, maupun ketika menunggu sunrise. Hanya sekitar 10 hingga 15 menit dari tenda di Pondok Saladah Travelmate sudah bisa menikmati Hutan Mati. Travelmate juga akan melewati jalur Hutan Mati ini untuk meneruskan pendakian ke taman edelweiss Tegal Alun. Untuk pendaki pemula, tentu pemandangan ini adalah trigger untuk melakukan pendakian lebih jauh. Sehingga tentu saja orang bisa berkata : “hutan ini memang mati, tapi disinilah petualangan itu mulai hidup… yup, the forest is dead, but the adventure has just lived.”
...more

Duit Rp465 Miliar Dari Bank Dunia Untuk Kampanye Sadar Wisata 2024!

TripTrus.Com - Nih, bro, ada info seru nih! Kampanye Sadar Wisata 5.0 baru aja umumin Desa Wisata yang juara. Gila, tahun 2024 ini, duitnya mencapai Rp465 miliar dari Bank Dunia! Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, bakal ngasih apresiasi buat desa-desa yang menang. Tujuannya? Supaya para pebisnis di desa wisata semangat bangun potensi daerahnya, bro! Katanya sih, malam penghargaan itu buat kasih semangat biar terus menggila dan promosiin produk desa mereka dengan presisi. Seru kan? Pemenangnya ada lima kategori. Ada desa-desa kece dari Yogyakarta sampe Sumatera Utara. Nama-namanya keren abis, kayak Kampung Wisata Sosromenduran dan Desa Wisata Lumban Suhi-suhi!       View this post on Instagram A post shared by Binuangsaiyo23 (@binuangsaiyo23) Nah, kategori kedua, Local Champion Terbaik. Mereka yang memimpin di sini adalah orang-orang hebat dari desa-desa kayak Candirejo, Kadipaten, Poncokusumo, Jerowaru, dan Papagarang. Keren banget, kan? Terus, ada juga yang dapet Diseminasi Sadar Wisata. Ini buat tiga desa juara, dari Wakatobi sampe Lombok Tengah. Bikin bangga deh! Yang keempat, Inovasi Produk dan Pemasaran. Juara pertamanya tuh dari Yogyakarta, Kampung Wisata Patehan. Ada juga juara dari Lumajang, Pasrujambe, dan Magelang, Kampung Wisata Mendut. Terakhir, kategori Kelembagaan. Kampung Wisata Purbayan di Yogyakarta bawa pulang juara pertama. Ada juga desa dari Malang dan Pulau Sibandang, Sumatera Utara, yang ikut jadi pemenang. Keren abis! Menurut Sandiaga Uno, desa-desa ini jadi pemain utama bangun Indonesia. Tahun depan, programnya bakal lebih gila lagi dengan stok sumber daya manusia yang oke! Dia bilang, program ini langkah nyata dari pemerintah buat sentuh langsung 45 juta orang di pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Mantap, kan? Tapi, ini nggak berhenti di sini. Ada langkah kolaboratif yang perlu dilakuin, katanya. Melibatkan institusi pendidikan, dunia usaha, pemerintah daerah, media, dan komunitas. Makanya, komunitas jadi tulang punggungnya! [Baca juga : "Woles, Bro! Pariwisata 2024 Makin Naik, Ahli Bilang: Jangan Abaiin Waktu Endemi!"] Sandi juga ngomongin soal desa wisata yang akan diakui dunia suatu hari nanti. Udah masuk UNTWO, Organisasi PBB buat Pariwisata Dunia, loh! Keren banget! Nggak cuma itu, Bank Dunia juga ikutan meramaikan. Mereka setuju kucurin tambahan duit sekitar Rp465 miliar buat Kampanye Sadar Wisata 2024. Nggak main-main, kan? Selain dari Bank Dunia, Kemenparekraf juga siapkan duit tambahan. Mereka lagi ngebahas anggarannya, siapin semuanya dengan baik. Sandiaga pastiin nih, duitnya bakal bantu desa-desa wisata buat naikin SDM dan memperkuat kelembagaan. Biar hasilnya maksimal, pastinya harus diatur dengan baik, tepat sasaran, dan gak boleh telat. Pokoknya, acara ini seru banget, bro! Ada penghargaan, ada janji Bank Dunia, dan semangat buat bangun Indonesia lebih hebat lagi. Keren, kan? 🔥 (Sumber Foto @jumpareni) 
...more

Seleksi Gila-Gilaan! Enam Event Keren NTB Berjuang Untuk Masuk KEN 2024

TripTrus.Com - Bro, Kemenparekraf lagi seleksi event pariwisata keren di NTB, loh! Ada enam acara yang bakal dijuri, mau masuk atau dicoret dari KEN 2024. Macem-macem deh, kayak Pesona Bau Nyale, Perang Topat, Alunan Budaya Desa, Balonna Kertasari, Lebaran Topat, sama Rimpu Mantika. Reza Pahlevi, Direktur Event Daerah Kemenparekraf, bilang Perang Topat udah lolos seleksi. Ini gara-gara tradisi dan budayanya keren banget di Lombok Barat, dan katanya, ngaruh banget buat ekonomi masyarakat sekitar.       View this post on Instagram A post shared by Malik Ibrahim (@garagaramalik) Dia juga ngejelasin, kriteria seleksinya tuh pengunjungnya harus bisa diatur dengan baik, dan tradisi lokalnya kudu nendang. Yang paling penting, harus ramah lingkungan, guys! Tim yang ngejuri event pariwisata NTB tuh profesional abis. Harapannya sih, keenam event itu bisa masuk KEN 2024. [Baca juga : "Woles, Bro! Pariwisata 2024 Makin Naik, Ahli Bilang: Jangan Abaiin Waktu Endemi!"] Sementara itu, NTB targetin 5 juta kunjungan wisatawan tahun 2024, loh! Bukan main, dua kali lipat dari target 2023. Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata NTB, Mulki, ngomong target ini gak terlalu berat, apalagi dengan support gede dari Kemenparekraf. Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air juga udah mulai rame lagi setelah pandemi, katanya. Dari target 5 juta itu, 3 juta orang dari wisatawan mancanegara, dan 2 juta dari wisatawan lokal. Mulki bilang ini gampang karena udah ada 2 ribu turis asing setiap hari di tiga Gili. Optimis banget dia, nih! Jadi, yang jelas, kita doain aja supaya NTB bisa bikin event keren dan jadi destinasi hits tahun 2024. Mantap, kan? (Sumber Foto @perangtopat_lingsar) 
...more

Wisata Alam Curug Sikujang

TRIPTRUS.COM - Wisata Alam Sikujang berada di dukuh Combong, Kecamatan Pekalongan.Berjarak sekitar  12 km dari Kajen, dengan lokasi yang berada di daerah pegunungan dan hutan pinus membuat wisata alam Sikujang menjadi sejuk dan sangat nyaman untuk bersantai dan melepas penat. Sungai yang mengalir di kawasan wisata menambah kesegaran suasana. Berawal dari ide Dukuh Combong yang melihat adanya potensi alam yang sangat luar biasa dan mempunyai daya tarik untuk bisa dikembangangkan menjadi destinasi wisata alam . Wisata Alam Sikujang ini dikelilingi oleh sawah,pohon,sungai  yang indah. Disarankan bila berkunjung ke Curug Sikajang di pagi hari agar udaranya lebih segar dan tidak terlalu panas. Dimulai dari awal masuk trekking ke air terjun Bekakak ini dilengkapi dengan gazebo dan juga rumah pohon  untuk pengunjung yang ingin bersantai dan menikmati pemandangan yang indah. Di sana bisa banyak melakukan kegiatan seperti pemandian alam di sungainya, area camping untuk acara gathering dan trekking ke air terjun Bekakak. Dari pintu masuk kita tracking menuju ke air terjun Bekakak kira-kira 15 menit untuk sampai ke lokasi, jalananya dipenuhi batu-batu dan pepohonan di tengah jalan menuju ke air terjun Bekakak kita akan menemukan Kayu Akar Lawang,dinamakan Kayu Akar Lawang karena bentuknya yang menyerupai pintu gerbang(dalam bahasa jawa lawang itu berarti gerbang). Setelah trekking kurang lebih 15 menit sampai lah kita di air terjun Bakakak yang merupakan obyek utama yang terletak di kali Bekakak. Di lokasi tersebut ada 2 air terjun tetapi untuk mencapai air terjun yang kedua akses jalan masih belum di buka karena medan yang sangat terjal. Di air terjun Bekakak ini airnya bersih sekali jadi kita bisa bermain air di sana setelah kita berkeringat karena trekking.
...more

Benteng Tolukko

Pada awalnya Benteng dikenal dengan nama Tolukko, lalu kemudian lebih dikenal dengan nama Benteng Hollandia ini, yang didirikan pada tahun 1540 oleh Francisco Serao, seorang panglima Portugis. Menurut kabar nama Tolukko merupakan nama dari pengusa kesepuluh yang duduk di singgasana Ternate yaitu Kaicil Tolukko, tetapi pada tahun 1692 sultan ini baru memerintah jadi nama benteng ini tidak mungkin diberikan untuk mengikuti nama Sultan tersebut. Benteng tersebut diperbaiki oleh Pieter Both, seorang Belanda pada tahun 1610. Dan digunakan untuk pertahanan terhadap bangsa Spanyol yang sedang menggempur pulau Ternate.Benteng ini dipakai sebagai tempat untuk melarikan diri dari serangan Spanyol supaya mau kembali tinggal di tempat ini. Sebagian besar rakyat melarikan diri ke Benteng Malayo. Menurut laporan ada 15 hingga 20 tentara di dalam benteng ini, lengkap dengan sejumlah persenjataan dan amunisi. Pada tahun 1627 di bawah pemerintahan Gubernur Jacques le Febre, mengatakan bahwa benteng letak tidak jauh di atas bukit di sebelah Utara Benteng Malayo ini, dan dilengkapi dengan dua menara kecil.Pada waktu itu dipimpin oleh seorang Korporal yang didatangkan dari Benteng Malayo dan menjadi sumber pemasokan bahan pangan untuk 22 orang tentara yang bertugas di dalam Benteng Tolukko. Dewan Pemerintahan Belanda mengijinkan Sultan Mandarsyah dari Ternate Pada tahun 1661, bersama pasukannya untuk tinggal di dalam benteng ini. Dengan hadirnya Sultan, maka garnizun Belanda yang ada di dalam Benteng Tolukko dikurangi sampai 160 orang. Pasukan Kaicil Nuku (Sultan Tidore yang ke-19) menyerang benteng Tolukko pada tanggal 16 April 1799, namun mereka berhasil untuk mundur oleh pasukan gabungan Ternate-VOC. Penduduk kota Ternate pada bulan Juni 1797 kini berjumlah 3.307 jiwa, akibat pertempuran dan khususnya pengepungan yang berkepanjangan oleh pasukan Nuku. Kemudian tinggal 2.157 jiwa.Yang lain meninggal karena peperangan dan kelaparan atau melarikan diri ke Halmahera. Pada tahun 1864 di bawah pimpinan Residen P. Van der Crab, karena hampir seluruh bangunan sudah rusak maka benteng ini dikosongkan. Pada tahun 1996, dibangun kembali, namun upaya yang dilakukan malah menghilangkan keaslian bangunan seperti dihilangkannya terowongan bawah tanah yang berhubungan langsung dengan laut. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

Rekomendasi Kuliner Legendaris 2024, Kisah 53 Tahun Persahabatan Dan Kelezatan Kuliner Di Bogor

TripTrus.Com - Woi, 53 tahun udah berlalu, tapi cerita tentang Nasi Goreng Pete Guan Tjo di Bogor tetep kenceng banget! Ada Lo Kan Tjiong, Lo Kan Wat, dan Pak Oo, ketiga sahabat jadul yang berjuang keras dalam dunia kuliner. Lu bayangin aja, di balik kelezatan nasi goreng pete legendaris ini, ada kisah seru yang sayang buat dilewatkan.       View this post on Instagram A post shared by JenzCorner | Food Blog (@jenzcorner) Yuk, kita bahas sosok-sosok utamanya: Lo Kan Tjiong: Nah, yang punya ide genial nasi goreng pete ini adalah Lo Kan Tjiong, koki berbakat yang jadi otak di balik menu legendaris itu. Lo Kan Wat: Lo Kan Wat, pakar bikin bubur kacang ijo yang bikin ketagihan, juga punya peran besar di dalam kisah kuliner mereka. Pak Oo: Jangan lupakan Pak Oo, penjual sate daging dan sumsum sapi yang punya nama besar. Dia juga jadi bagian kisah keren ini. Awalnya, mereka berjualan dari gerobak makanan kecil di sudut kota. Meski tempatnya pindah-pindah, semangat mereka gak pernah padam. Dan hasilnya? Kini Bogor punya warisan kuliner yang bikin ketagihan! Guan Tjo bukan cuma soal makanan enak, tapi juga tentang persahabatan dan semangat berwirausaha. Nama Guan Tjo buat warga Bogor bukan cuma sekadar tempat makan, tapi simbol rasa kenyang dan persahabatan yang tahan banting. [Baca juga : "Woles, Bro! Pariwisata 2024 Makin Naik, Ahli Bilang: Jangan Abaiin Waktu Endemi!"] Dan loe tau gak, selama beralih dari satu generasi ke generasi berikutnya, rasa unik nasi goreng pete Guan Tjo ini berhasil bikin hati orang-orang dari segala penjuru terpikat. Gak heran sih, kelezatan dan aromanya itu loh, beneran bikin nagih! Dan tentunya, Guan Tjo punya menu beragam buat semua selera. Mulai dari sate yang gurih sampe bubur ayam yang menghangatkan, semuanya ada di sini. Jadi, mampir ke sini bukan cuma buat nasi goreng pete, tapi buat ngelarutin semua selera kuliner loe. Kalo loe emang mau merasakan kelezatan kuliner khas Bogor, wajib banget mampir ke Nasi Goreng Guan Tjo di Jl. Suryakencana No.193, Babakan Ps., Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16123. Gimana, penasaran kan sama cerita unik dan makanan lezat dari Nasi Goreng Pete Guan Tjo di Kota Bogor? Langsung aja, dateng dan nikmati sendiri! 53 tahun gak bohong, ini emang legendaris! (Sumber Foto @vonnyeyd) 
...more

Mengunjungi Situs Arca Domas Cibalay

TripTrus.Com - Ada rasa tenteram dan kepuasan tersendiri saat berkunjung ke kawasan Situs Arca Domas Cibalay, sebuah Situs Megalitikum besar yang sangat mengesankan. Situs ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, tepatnya di Desa Cibalay, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Melewati tanjakan tajam setelah Curug Luhur, terlihat di kiri jalan plang nama tertulis Situs Arca Domas, kebon kopi ,Pasir Manggis, Situs Batu Bergores, Punden Endong Kasang, Punden Jami Piciing, Situs Pangentehan dan berjarak sekitar 2 km. Untuk ke lokasi komplek Situs Cibalay, melewati jalan aspal dengan kualitas sederhana sepanjang sekitar 2 km, semakin ke dalam semakin menyempit jalannya, bertanya arah ke penduduk, dan berdasar informasi itu berjalan lurus lalu belok ke kiri menyusuri jalan setapak. Di sebelah kiri terlihat lembah persawahan. di sebelah kanan dan jauh di depan adalah pegunungan. setelah beberapa puluh menit berjalan berpapasan dengan penduduk setempat kemudian berjalan melewati jalan setapak turun dan mendaki sekitar kurang lebih 50 menit (2-3 km). Terlihat undakan semen, di ujung atas undakan itu terdapat tanah lapang dengan hamparan rumput hijau dimana terdapat Situs Balekambang yang memperlihatkan menhir dan batu megalitikum lainnya. Ada sekitar tujuh menhir, dua diantaranya berukuran besar, serta ada beberapa buah dolmen berukuran kecil sedang, menurut cerita konon sebelum melakukan peribadatan di Situs Arca Domas diharuskan berhenti sejenak disini (situs balekambang)untuk mempersiapkan segala sesuatu nya,dan juga karena Situs Balekambang adalah merupakan semacam pintu gerbang. Melanjutkan perjalanan melewati dataran ini, lalu menuruni undakan dan sesaat kemudian terlihat gerbang sederhana /Gapura kecil dengan undakan lagi di belakangnya,dan terlihat jelas tulisan di gapura itu “ Selamat Datang di Situs Kawasan Cibalay Kabupaten Bogor Balai Pustaka Pelestarian Cagar Budaya Serang”       View this post on Instagram In different place #nature #landscape #another #canon #photography #nationalgeographic #folkgreen #stone #eventide #sunset #jalankampung #instanusantara #latepost A post shared by Moch Resa Maulana (@resdasein) onMar 24, 2016 at 11:46pm PDT Di kelilingi gerumbul pepohonan, serta pegunungan tinggi di depan sana, menciptakan suasana alami menyegarkan, sesaat berikutnya sampailah ke Situs Cibalay, dan apa yang terpampang di depan mata membuat takjub. Sebuah bukit hijau dengan serakan batu peninggalan zaman purba dalam kondisi sangat baik dan terpelihara. Bagaimana tidak takjub melihat begitu banyak batu tua serta punden berundak yang tertata yang berasal dari jaman Megalitikum, jaman manusia purba yang hidup pada 2500 – 1500 SM. Agak jauh di sebelah kiri terdapat plang bertuliskan “Situs Cibalay”, lalu tengara atasnya berbunyi “Situs Arca Domas”, sedangkan tengara satu lagi bertuliskan bahwa situs ini di lindungi oleh undang–undang. Pemandangan yang tak kalah elok di puncak perbukitan Situs Cibalay Selain lintasan memanjang tatanan batu datar pipih dengan menhir di kiri kanannya, ada pula tatanan batu melingkari area yang terlihat di ujung kanan. Agak ke ujung terdapat tumpukan batu paling besar di puncak Situs Cibalay, dengan menhir berukuran cukup besar di atasnya. sebuah dolmen, meja batu, berukuran paling besar berada di ujung area puncak bukit. Wikipedia menyebut bahwa Menhir adalah Monolith (batu tunggal) yang berdiri tegak di atas tanah, berasal dari periode Neolitikum (6000/4000 SM – 2000 SM). istilah menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men = batu dan hir = panjang. Bahasa Keltik adalah bahasa yang digunakan kaum kuno yang bermukim di Wales, Irlandia, Skotlandia, Cornwall, Pulau Man, Bretagne dan beberapa bagian Eropa lainnya, konon Bangsa Keltik adalah Cimmerians yang berasal dari Pulau Defrobani, negeri musim panas dan tanah orang-orang Cimmeria. Di sebelah kiri adalah dolmen yang terlihat tadi, sementara di lereng bukit di sebelah kanan tampak beberapa orang tengah menyapu daun kering yang jatuh, lelaki yang sedang menyapu itu adalah Bapak Wahyu dan Bapak Deni mereka adalah Jupel (juru pelihara) di kawasan Situs Megalitik Arca Domas. Tiang pagar besi dan kawat yang mengelilingi puncak perbukitan ini terlihat rapi dan baru. Di sebelah kiri luar pagar. masih dalam lingkungan di dekat situs, ada tiga saung berbale-bale, Walaupun hanya terbuat dari bilik bambu, saung-saung itu bersih dan rapi. di belakang saung-saung ada lembah yang di bawahnya terdapat pancuran air. Wahyu dan Deni bertutur bahwa pada tahun 2006 dan 2012 sekitar 8 orang melakukan penggalian dan penelitian di kawasan situs ini, mereka dari Balai Arkeologi Bandung, Serang, dan Pusat Arkeologi, selama sekitar 10 hari di 3 lokasi. dan selama ekskavasi menginap di saung ini. penggalian sebelumnya dilakukan oleh mahasiswa Universitas Indonesia pada 1992. Sebenarnya, penamaan “Situs Megalitik Arca Domas” untuk Situs Cibalay ini menurut sebagian kalangan adalah salah kaprah karena di Situs Megalitik Arca Domas ini belum pernah dilaporkan keberadaan arca, yang ada hanyalah kompleks punden berundak. Situs Megalitik Arca Domas Cibalay menempati area yang cukup luas, sekitar 1500 m, dan merupakan salah satu punden berundak dengan komponen yang cukup lengkap. teras utamanya ada di undakan paling tinggi dengan beberapa batu menhir di atasnya. Situs ini pertama kali dilaporkan oleh De Wilde (1830), kemudian Junghuhn (1844), lalu Muller (1856), dan terakhir oleh N. J. Krom dalam Rapporten Oudheid kundige Diensten – nederlan indie tahun1914. [Baca juga : "5 Tempat Wisata Sejarah Di Karawang Yang Wajib Dikunjungi"] Batuan Megalitik Cibalay adalah berupa punden berundak ,menhir dan batu tegak / batu kubur yang dalam penempatan dan susunannya tidak terarah pada suatu sudut,situs cibalay juga di jadikan pemakaman karena di Situs Bale Kambang dan Situs Jami Paciing terdapat nama – nama Mangun Tapak, Patah Aki Soleh,Eyang Nuralam yang di makamkan dekat atau berdampingan dengan Situs Megalit tersebut. Deni menjelaskan dan juga menyarankan untuk mengunjungi situs lain nya yang berada di kawasan Situs Cibalay ini yang semuanya ada delapan Situs, selain Situs Balekambang dan Situs Arca Domas, ada juga Situs Endong Kasan, Situs Kebon Kopi, Situs Jami Piciing, Situs Batu Bergores, Situs Pasir Manggis, dan Situs Pangantehan jelasnya dan menutup obrolan singkatnya. (Sumber: Artikel hallo.id Foto fatahilaharis.wordpress.com)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography

Upcoming Trips

Open Trip Pulau Pari
01 - 02 Aug 2026
Treaking Gunung Papandayan
07 - 08 Aug 2026
Open Trip Dieng Plateau
07 - 09 Aug 2026
×

...