shop-triptrus



Melihat Sisi Sejarah Dari Jembatan Kota Intan

TripTrus.Com - Masih berada di kawasan wisata Kota Tua, tidak jauh dari gedung Fatahillah ada sebuah jembatan yang berwarna merah marun. Sangat kontras dilihat dengan kondisi di sekelilingnya. Jembatan ini kini dikenal dengan nama Jembatan Kota Intan. Dahulu jembatan ini berfungsi sebagai penghubung antara benteng Belanda dengan benteng Inggris, tapi kini menjadi salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Termasuk Anda! Jalan-jalan ke Kota Tua memang menyenangkan, ada banyak bangunan bersejarah di sini seperti Jembatan Kota Intan. Diberikan nama demikian karena letaknya dekat dengan salah satu Bastion Kastil Batavia bernama Bastion Diamont (intan). Mungkin tidak banyak yang mengetahui jika sebenarnya nama jembatan ini sempat berganti-ganti. [Baca juga : 6 Tujuan Wisata Kota Tua Jakarta] Jembatan Kota Intan ini awalnya adalah jembatan biasa yang dibangun pada tahun 1628 yang bernama Jembatan Engelse Brug atau Jembatan Inggris. Jembatan kayu ini memiliki panjang 30 meter dan lebar 4,43 meter. Jembatan tersebut berfungsi sebagai penghubung antara benteng Belanda (VOC) dan Inggris (IEC) yang saat itu berseberangan dan dibatasi oleh Kali Besar. Setahun kemudian tepatnya tahun 1629, jembatan ini sempat mengalami rusak parah akibat serangan Kerajaan Banten dan Mataram yang menyerang Benteng Batavia. Kondisi yang memprihatinkan itu segera dipulihkan oleh Belanda, mengingat fungsi jembatan yang sangat vital dan berganti nama menjadi jembatan De Hoenderpasar Brig atau Jembatan Pasar Ayam. Disebut demikian karena lokasinya yang berdekatan dengan pasar ayam. Dua puluh lima tahun kemudian atau tepatnya tahun 1655, jembatan ini lagi-lagi mengalami kerusakan dan perbaikan. Tapi kerusakan kali ini bukan karena peperangan melainkan karena bencana banjir dan korosi air asin yang berasal dari laut. Setelah pasca perbaikan, namanya pun kembali berganti menjadi Jembatan Het Middelpunt Brug yang berarti Jembatan Pusat. Pada 1938 fungsi jembatan diubah menjadi jembatan gantung. Tujuannya agar dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan mencegah kerusakan akibat banjir, namun bentuk dan gayanya tidak pernah diubah. Nama jembatan inipun kembali berubah menjadi Jembatan Phalsbrug Juliana atau Juliana Bernhard, karena waktu itu Ratu Juliana yang menjadi ratu di Belanda. Sebelumnya, jembatan juga diberi nama Jembatan Wilhemina (Wilhemina brug), ibu dari Juliana.   Jembatan Kayu Ini Memiliki Panjang 30 Meter dan Lebar 4,43 Meter. Jembatan Kota Intan adalah sebuah jembatan ‘jungkit’ yang berwarna merah marun warisan Belanda dengan konstruksi besi dan kayu yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta [Berbagai Sumber] . . . 📸 June 16, 2018 . . . #oldtown #bridge #jembatankotaintan #kotatuajakarta #jakartaoldtown #historical #heritage #underconstruction #visitjakarta #wheninjakarta #enjoyjakarta #holiday #cityexplore #walkingtour #citysightseeing #architecture #publicarea #trip #travel #traveling #adventure #tourism #jakarta #wisatakotatua A post shared by Fransiska Tan (@fransiskatan) onJun 16, 2018 at 3:43am PDT Kemudian pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, nama jembatan inipun lagi-lagi diubah menjadi seperti yang kita kenal hingga kini yakni Jembatan Kota Intan. Nama ini disesuaikan dengan nama lokasinya yang berdekatan dengan bastion Kastil Batavia yang diberi nama Bastin Diamont (Intan). Selama perjalanan Jembatan Kota Intan ini Belanda sempat membangun beberapa jembatan serupa di Batavia atau yang sekarang menjadi Jakarta. Namun jembatan-jembatan itu sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanyalah Jembatan Kota Intan. Untuk melestarikan keberadaannya, maka pada tahun 1972 Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, menetapkan Jembatan Kota Intan sebagai benda cagar budaya. Saat ini Jembatan Kota Intan menjadi salah satu objek wisata sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan. Tak sedikit pula yang menjadikan Jembatan Kota Intan ini sebagai objek foto untuk prewedding atau pra-menikah. Selain karena nilai historisnya, jembatan ini memiliki keunikan pada bangunannya. Untuk mengunjungi Jembatan Kota Intan ini, Anda tidak dipungut biaya tiket, hanya saja dimintai biaya untuk kebersihan dan parkir. Jembatan Kota Intan terletak di Ancol, Pademangan, Jakarta Barat. Untuk menjangkaunya dapat menggunakan bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M – Kota. (Sumber: Artikel jakarta.panduanwisata.id, Foto flickr.com)
...more

Rumah Ulu, Rumah Bernilai Estetis Pembentuk Keluarga Harmonis

Rumah tradisional bukan semata warisan budaya dalam bentuk material yang tersusun berupa elemen-elemen bangunan saja. Lebih dari wujud fisiknya, rumah tradisional mempunyai peran penting dalam membentuk ruang-ruang sosial dan simbolik, sekaligus sebagai representasi budaya bagi penghuninya. Indonesia sebagai negara kesatuan yang kaya akan kebudayaan mempunyai begitu banyak warisan rumah tradisional, salah satunya adalah rumah ulu di Sumatera Selatan. Rumah Ulu merupakan rumah tradisional masyarakat yang bermukim di kawasan hulu Sungai Musi, Sumatera Selatan. Nama rumah ulu berasal dari kata uluan yang bermakna pedesaan, uluan juga sebutan bagi masyarakat yang tinggal di bagian hulu Sungai Musi. Semua bagian rumah ulu terbuat dari kayu, dengan bagian bawah ditopang oleh batang pohon unglen. Pemilihan batang pohon unglen bukan tanpa sebab, batang pohon ini diyakini bisa bertahan hingga ratusan tahun.Pembangunan rumah ulu harus mengikuti beberapa peraturan yang sudah disepakati, peraturan tersebut antara lain seperti, pembangunannya harus menghadap ke depan garis aliran air. Hal ini dimaksudkan supaya rumah yang dibangun bisa terbebas dari banjir bandang yang sewaktu-waktu bisa datang. Selain itu, pembangunan rumah ulu juga harus mengikuti sistem ulu-ulak (ilir), yaitu jika lahan yang akan dibangun rumah masih luas dan berencana ingin membangun rumah ulu berikutnya, maka pembangunan rumah harus dilakukan dari bagian yang paling hulu. Sistem ulu-ulak (ilir) bukan sekadar pengaturan pembangunan rumah, tetapi juga menjadi pengaturan ruang secara sosial. Rumah di bagian ulu diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai usia lebih tua dalam garis keluarga, begitu seterusnya hingga ke rumah paling hilir yang ditempati oleh keturunan yang paling muda. Sistem ini juga berlaku di dalam pembagian ruang di dalam rumah.Secara umum, rumah ulu dibagi menjadi tiga bagian yaitu, ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Ketiga bagian tersebut terbagi menjadi beberapa bagian, seperti garang atau lintut, haluan dan kakudan, ruang gedongan atau ambin, dan ruangan dapur. Garang atau lintut merupakan ruangan yang difungsikan sebagai tempat untuk bercengkrama para pemilik rumah, yang biasa dilakukan setiap sore hari setelah melakukan rutinitas kerja.Sementara haluan dan kakudan merupakan ruangan khusus yang digunakan sebagai tempat istirahat. Haluan diperuntukkan bagi laki-laki, sedangkan kakudan diperuntukkan bagi para perempuan. Di bagian lain terdapat gedongan atau ambin, ruangan ini terdapat di bagian tengah rumah ulu yang lantainya lebih tinggi di antara bagian yang lain. Tempat ini difungsikan oleh orang yang dianggap paling tua di dalam rumah untuk memberikan wejangan kepada para anak dan cucu, nasihat tersebut juga bisa dalam bentuk dongengan sebelum tidur.Seiring perkembangan zaman, rumah ulu makin jarang ditemukan. Meski demikian, salah satu bentuk rumah tradisional ini masih bisa ditemukan di halaman belakang Museum Balaputera Dewa, dan menjadi salah satu koleksi terbesar museum. Menurut catatan museum, rumah ulu tersebut berusia 200 tahun dan diambil dari Desa Asemkelat, Kecamatan Pangandonan, Kabupaten Ogan Komering Ilir.Menjaga dan melestarikan rumah ulu bukan berarti setiap masyarakat saat ini harus membangun rumah ulu sebagai tempat tinggal, melainkan lebih kepada melestarikan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam rumah tradisional tersebut. Mengingat dalam rumah ulu terdapat nilai-nilai adiluhung seperti menghormati orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda, dan membangun keluarga yang harmonis. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

Komunitas Heritage On Jeep Menawarkan Cara Berwisata yang Beda

TripTrus.Com - Jeep digunakan untuk offroad ataupun wisata alam lainnya adalah hal yang sudah biasa, namun apabila jeep digunakan untuk berwisata di tengah kota dengan mengunjungi objek wisata di tengah kota adalah sesuatu yang baru khususnya di Kota Palembang. Adalah komunitas Heritage On Jeep, sebuah komunitas jeep yang terdiri dari para pemandu wisata yang menawarkan pengalaman mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Kota Palembang dengan mengendarai mobil jeep. Mobil jeepnya pun terhitung lawas dibuat mulai dari tahun 1940 an hingga tahun 1980 an. “Selain mengunjungi heritage, jeep kami juga masuk heritage karena jeep lawas, kurang lebih ada di zaman perang dunia ke dua, rata- rata,” ujar Zaim, Kordinator Komunitas Heritage On Jeep dalam acara Bincang Komunitas.       Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh HERITAGE ON JEEP (@heritageonjeep) Ia mengatakan salah satu visi komunitas ini dibentuk adalah ingin memberikan alternative wisata kepada orang yang berberwisata di Palembang, namun tidak menutup kemungkinan orang Palembang sendiri ikut menggunakannnya karena banyak orang Palembang sendiri yang tidak mengetahui destinasi wisata heritage di Kota Palembang. “Peserta tour kami justru banyak dari orang Palembang. Kami membuka tour setiap hari, kapanpun mau jalan bisa kontak kami,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sebetulnya banyak objek-objek wisata di Palembang namun tidak semua terekspose dan juga tidak ada fasilitas untuk mendatangi. “Misalnya orang sering lewat di tugu tentara pelajar di talang semut dan di seberangnya ada museum tekstil, tapi orang lewat saja. Orang banyak penasaran dengan spot tersebut, nah kami akan fasilitasi. Memakai jeep untuk mengakomodir ke spot-spot daripada jalan sendiri. Menggunakan jeep bisa kelihatan kanan dan kiri karena mobil kami terbuka bagian sampingnya sehingga dapat mendapatkan pengalaman empiric,” tukasnya. Ia menjelaskan destinasi wisata yang dikunjungi komunitas Heritage On Jeep terutama adalah destinasi yang memungkinkan mobil bisa parkir. “Kita mulai dari jembatan ampera, masuk ke jalan merdeka dan berhenti di kantor walikota. Kemudian ke lorong Borotan, gedung Jacobson Van den berg, geraja Ayam, SMP negeri 1, jalan HangTuah, kolam renang Garuda yang dibuat tahun 1920-an, kisaran talang semut, tidak jauh-jauh, banyak heritage pemukiman eropa disana. Ke kawasan skanak, jalan merdeka. Jalan merdeka, sangat menarik terutama perang 5 hari 5 malam, di sana banyak laskar yang bermarkas di situ. Ke pasar pempek 26 ilir, rumah A.K. Gani, markas pejuang, tugu tentara pelajar. Jeep dulu digunakan untuk berperang. A.K . Gani punya jeep dan sekarang ada di museum A.K. Gani. Jeep digunakan untuk melawan lupa. Jeep sebagai mesin waktu bukan hanya kendaraan,” ujarnya. [Baca juga : "4 Lokasi Wisata Di Sumbar Ini Ternyata Bekas Tambang Yang Ditinggalkan"] Jeep juga memiliki kesan menarik terutama bagi kaum milenial sebagai objek foto yang instagramable. “Banyak yang Tanya boleh foto di jeepnya tidak?, skalian saja kami ajak jalan-jalan,” tukasnya. Ia menambahkan anak muda banyak yang lupa sejarah, menurutnya sejarah penting sebagai indentitas diri bangsa. "Harapannya semakin banyak tour guide, menyadarkan bahwa sejarah itu penting, minimal sejarah kita sendiri tahu, tidak harus ke kota-kota lain,” ujarnya. (Sumber: Artikel sonora.id Foto @heritageonjeep ) 
...more

Melintasi Hadangan Pulau Sangiang

Ayo ikuti trip ke Pulang Sangiang di: http://triptr.us/Br TRIPTRUS - Provinsi Banten memiliki satu destinasi wisata yang kini mulai dilirik. Destinasi itu bernama Pulau Sangiang yang berada dalam wilayah Kabupaten Serang. Terletak di antara Pulau sumatera dan Pulau Jawa, Pulau Sangiang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit dari Anyer dengan menggunakan kapal atau perahu bermotor. Pulau yang dijadikan Taman Wisata Alam oleh Pemerintah Indonesia ini awalnya ditetapkan sebagai cagar alam yang memiliki luas 700, 35 hektar (Ha). Kemudian pada tahun 1991, wilayah perairan di sekitarnya ditetapkan jadi Taman Wisata Alam Laut seluas 720 Ha, sehingga total Taman Wisata Alam Pulau Sangiang menjadi 1420,35 Ha. Lalu pada tahun 1993, Taman wisata Alam Pulau Sangiang ditetapkan menjadi seluas 528, 15 Ha. Pada waktu masa penjajahan Belanda, Pulau Sangiang memiliki nama Dwars-in-den-weg, atau kurang lebih berarti menghalangi jalan. Nama ini diambil karena lokasi Pulau Sangiang tepat berada di tengah penyempitan Selat Sunda yang membatasi Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Lalu menurut cerita penduduk setempat, pada masa penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, Pulau Sangiang merupakan tempat pertemuan para wali untuk mengadakan rapat dan mengambil keputusan menjalankan penyebaran agama. Di masa penjajahan Jepang, Pulau Sangiang merupakan titik penyimpanan berbagai kekayaan bumi yang diambil Jepang di Indonesia sebelum dibawa ke negaranya. Sebagian besar Pulau Sangiang tidak dihuni oleh manusia untuk menjaga kelestarian alamnya. Tetapi di Pulau Sangiang terdapat sebuah pemukiman yang hanya berjumlah sekitar 50 kepala keluarga yang bernama Legon Waru. Para penduduk perkampungan ini berkomunikasi menggunakan 3 bahasa, yaitu Bahasa Sunda, Jawa, dan Lampung. Daya tarik Pulau Sangiang terdapat pada kelestarian alamnya baik kawasan daratan pulau yang masih dijaga keindahannya, maupun kawasan wisata laut penuh dengan biota laut seperti karang dan ratusan spesies ikan yang dapat dilihat di air yang jernih. Untuk penggemar wisata laut, Pulau Sangiang menyediakan fasilitas snorkeling maupun diving di beberapa kawasan seperti perairan Batu Raden, Pantai Perawan dan Legon Waru. Sementara, untuk penggemar trekking dan wisata budaya, Pulau Sangiang memiliki banyak gua dan benteng-benteng peninggalan masa penjajahan Jepang serta gua kelelawar yang di bawahnya merupakan tempat berkeliarannya ikan hiu yang siap memakan kelelawar yang jatuh dari atas gua. Keindahan alam Pulau Sangiang membuat banyak pengunjung yang pernah datang menobatkannya sebagai salah satu dari Seven Wonders of Banten (Tujuh Keajaiban Banten).   Photos courtesy of: commons.wikimedia.org, gunungtukung.blogspot.com, savingfunvacation.blogspot.com, panoramio.com
...more

Candi Cangkuang

Salah satu candi peninggalan bersejarah agama Hindu dari abad ke-17 terdapat di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Namanya Candi Cangkuang, yang di dalamnya terdapat patung Siwa Hindu. Candi ini berdiri di sebuah pulau kecil yang berada di tengah-tengah Situ Cangkuang. Wisatawan yang akan mengunjungi candi harus menyewa rakit yang tersedia di pinggir situ. Harga sewanya Rp. 4.000,- untuk orang dewasa, dan Rp. 2.000,- untuk anak-anak. Nama Cangkuang berasal dari nama pohon Cangkuang (Pandanus Furcatus) yang memang banyak tumbuh di sekitar makam Embah Dalem Arif Muhammad, tokoh penyebaran agama Islam di daerah ini. Arif Muhammad adalah seorang tentara Kerajaan Mataram yang pada abad ke-17 datang bersama rombongannya ke daerah ini untuk menyerang Belanda.  Penyerangan itu gagal, namun Arif Muhammad tetap berada di tempat ini untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar, tepatnya di Kampung Pulo yang kini menjadi tempat tinggal keturunannya. Jadi, Situ dan Candi Cangkuang menjadi salah satu bagian dari sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia. Konon, menurut cerita masyarakat setempat, Arif Muhammad dan teman-temannya jugalah yang membendung daerah ini hingga menjadi sebuah situ atau danau. Candi Cangkuang dibangun pada abad ke-8, yang kemudian ditemukan lagi pada tanggal 12 Desember 1966. Setelah ditemukan, candi ini kemudian digali dan diteliti pada tahun 1967 – 1968, dan dipugar pada tahun 1974 – 1976. Obyek wisata ini berada sekitar 16 kilometer ke arah utara Jota Garut atau 48 kilometer dari Bandung. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

5 Festival Kece 2025 yang Bikin Liburan Lo Nggak Cuma Healing Tapi Juga Berfaedah!

TripTrus.Com - Bro-sis traveler! Tahun 2025 ini tuh vibes-nya gak main-main, bro-sis! Dari ujung barat sampe timur, banyak festival kece yang siap lo sambangin buat healing, cari konten estetik, nambah insight budaya, sampe explore hal baru yang pastinya gak zonk! Lo bisa nikmatin parade, musik, kuliner, seni, sampe bazar handmade—all in one package! Jadi, dari sekarang mending lo tandain kalender, siapin outfit kece, dan gas bareng bestie buat eksplor festival hits ini. Cek deh, list paling kece tahun ini yang udah gue acak-acak tapi tetep gokil buat lo! 1. Tong Tong Night Market – Malang, 24–27 Juli 2025 Lo suka vibes pasar malam yang nostalgic tapi pengen versi glow up? Tong Tong Night Market di Malang ini jawabannya, bro-sis! Empat malam penuh lampion lucu, live music indie, booth jajanan lokal kekinian, sampe street food yang packaging-nya Instagramable banget. Bayangin aja lo nyicipin dessert viral sambil chill bareng DJ set low-key—suasana taman jadi magical dan cozy parah! Mulai dari penganan tradisional yang dibikin aesthetic, sampe spot foto temaram buat konten story lo yang dreamy abis. Terus, tiap malam ada live performance, musisi muda nongol satu-satu bawa vibe yang slow tapi nagih. Dan nih ya, sesi akhir acara ada workshop DIY & mini talk soal upcycle barang bekas—lo bakal pulang gak cuma kenyang, tapi juga makin sustainable mindset-nya. Gas gak tuh? 2. Solo Keroncong Festival – Solo, 25–26 Juli 2025 Nah buat lo yang mau ngerasain kombinasi musik tradisional tapi tetap nempel di lidah Gen Z, Solo Keroncong Festival ini destinasi lo, sis bro! Diadain dua hari di area Gladag sampe Puro Mangkunegaran yang epic abis, event ini bukan sekadar konser, tapi juga cultural healing spot. Paduan antara keroncong klasik + hip hop fusion bikin telinga lo happy dan hati lo adem. Ada juga workshop bareng musisi muda, diskusi musik santai, sampe spot bazar makanan tradisional yang dikemas dengan vibe cafe kekinian. Jangan skip juga experience “Becik Ketitik” yang dalam tapi catchy banget—kayak quote kehidupan yang lo bawa pulang. Lo bakal makin cinta budaya tapi tetap relevan sama zaman. 3. Asia Africa Festival – Bandung, 25–27 Juli 2025       View this post on Instagram A post shared by bdg.humas (@humas_bandung) Siap-siap, Bandung bakal geger sama event satu ini, bro-sis traveler! Asia Africa Festival balik lagi dan kali ini vibes-nya makin rame, makin niat! Bayangin lo nyusurin jalan Braga sampe Cikapundung Barat, sambil jajan kuliner lokal, hunting barang UMKM kekinian, dan cari angle buat feed IG lo yang on point. Acara full tiga hari ini ada parade budaya, fashion show, sampe penampilan komunitas lokal dan internasional yang bikin lo merasa kayak lagi di festival luar negeri—padahal lokal pride, bro! Jangan lupa mampir ke Asia Africa Corner, tempat nongki sambil cicip makanan khas, fashion bazar, sampe barang limited edition yang punya story. Tips gue: dateng hari kedua atau ketiga biar dapet vibes paling maksimal dan food stall yang lebih chill! [Baca juga : "Juli Full Gaya! 5 Festival Paling Kece Buat Lo Yang Doyan Healing Plus Budaya"] 4. Alunan Budaya Pringgasela Raya – Lombok Timur, 20–26 Juli 2025 Mau dapet experience budaya yang autentik tapi tetap kekinian? Cuss ke Desa Pringgasela Raya, Lombok Timur. Selama tujuh hari penuh, lo bakal disuguhin tenun Sasak asli, upacara adat, musik tradisional, dan talkshow seru seputar pelestarian budaya. Highlight-nya? Demo langsung dari para penenun, workshop bikin motif tenun lo sendiri (yes, bikin bukan cuma beli!), plus pertunjukan tari dan musik adat yang dikurasi biar tetap cocok sama selera Gen Z. Jangan heran kalo malem terakhir lo bakal baper gara-gara staging-nya yang megah dan nuansa budaya Lombok yang deep banget. Siap-siap bawa pulang bukan cuma oleh-oleh, tapi juga pengalaman yang soulful abis! 5. Kenduri Seni Melayu – Batam, 16–18 Mei 2025 Bro-sis, ini nih festival yang cocok buat lo yang cinta budaya Melayu tapi pengen tampil modern. Kenduri Seni Melayu di Batam bawa suasana Melayu serumpun—dari Indonesia, Brunei, Malaysia, sampe Singapura—semua tumplek blek dalam satu panggung kece di Harbourbay! Mulai dari fashion show etnik, bazar kuliner khas Melayu modern, live music lintas negara, sampe workshop batik dan kriya, semua bisa lo temuin di sini. Jangan lupa juga ada kompetisi seni tradisional ala Gen Z yang fresh. Dan penutupnya? Panggung kolosal plus kembang api yang bakal bikin malem terakhir lo pecah banget. Cocok buat lo yang suka vibes internasional tapi rooted ke budaya lokal. Tahun 2025 tuh bukan sekadar nyari liburan doang, tapi soal bikin momen yang memorable, meaningful, dan pastinya penuh warna! Dari festival keroncong sampe night market, dari vibes Melayu sampai parade budaya internasional—semuanya bisa jadi story kece buat lo share di medsos. Jadi jangan cuma wacana, yuk atur waktu, ajak bestie lo, dan eksplor festival-festival ini bareng. Karena hidup tuh terlalu singkat buat liburan yang biasa aja. Let’s make 2025 your most colorful journey ever! (Sumber Foto @nanang_malik)
...more

Rumah Kaki Seribu Khas Suku Arfak

Ternyata tidak hanya hewan yang berkaki seribu, rumah pun ada yang berkaki seribu. Inilah rumah adat khas suku Arfak, Papua Barat yang bernama Mod Aki Aksa atau Igkojei serta lebih dikenal dengan sebutan Rumah Kaki Seribu. Biasanya, rumah panggung mempunyai tiang pondasi yang hanya terdapat di bagian sisi pinggir rumah. Namun, berbeda dengan jenis rumah panggung lainnya, rumah ini memiliki tiang pondasi rumah yang tersebar di seluruh bagian bawah rumah dan menjadi tumpuan utama bangunan. Karena keunikannya inilah, maka rumah adat ini mendapat sebutan Rumah Kaki Seribu. Rumah Kaki Seribu mempunyai bentuk yang tidak jauh berbeda dengan rumah panggung pada umumnya. Atap rumah ini terbuat dari rumput ilalang dan lantainya dari anyaman rotan. Dindingnya cukup kuat karena terbuat dari kayu yang disusun horizontal-vertikal dan saling mengikat. Dengan tinggi rata-rata sekitar 4-5 meter dan luas kurang lebih 8x6 meter, rumah ini cukup besar dan nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Tiang-tiang yang sangat banyak itu, mempunyai diameter 10 centimenter per tiangnya dan disusun dengan jarak kurang lebih 30 centimeter antar tiang. Kerapatan inilah yang menjadikan rumah ini unik dan terlihat berkaki banyak. Keunikan yang tidak kalah menariknya adalah, desain rumah yang hanya mempunyai 2 pintu tanpa ada pintu lain, bahkan jendela pun tidak ada. Seperti halnya desain tiang penyangga rumah yang banyak, keunikan ini pun dibuat bukannya tanpa maksud. Tingginya rumah, banyaknya tiang pondasi, dan desain yang relatif tertutup ternyata dimaksudkan untuk menghindarkan keluarga yang tinggal dari hewan buas dan udara dingin serta bencana alam seperti badai. Terlebih dari itu, kondisi masyarakat yang sering bertikai pun menjadi alasan bentuk Rumah Kaki Seribu yang tampak tidak lazim ini. Maksudnya adalah agar mereka yang tinggal di rumah ini tetap aman dari ancaman musuh dengan pengawasan yang mudah karena rumah berada di tempat tinggi dan hanya memiliki 2 pintu sebagai akses masuk dan keluar. Seiring berkembangnya modernisasi dan para transmigran dari propinsi lain yang banyak berdatangan ke Papua Barat, Rumah Kaki Seribu sudah sangat jarang ditemui di kota besar. Masyarakat yang masih menggunakan rumah unik ini adalah penduduk asli Arfak dan biasanya berada jauh di pedalaman, terutama di bagian tengah sekitar Pegunungan Arfak. Memang sulit menghindar dari modernisasi, namun tradisi Rumah Kaki Seribu layak dan harus dilestarikan. Hal ini penting karena tardisi ini memiliki nilai-nilai positif kehidupan yang baik untuk dipelajari oleh generasi masa depan kelak. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

Jelajah Budaya Bintan, Dari Panglong Sampai Vihara 500 Lohan

TripTrus.Com - Bro dan Sis traveler, siap-siap deh buat pengalaman yang nggak cuma selfie doang! Pulau Bintan itu nggak cuma keren karena pantainya, resornya, atau sunsetnya, tapi dia nyimpen warisan budaya yang gue yakin bakal bikin lo chill sekaligus mikir. Dari desa tradisional yang rumah panggungnya unyu sampai kuil kuno yang penuh aura spiritual—semua bisa lo temuin di Bintan. Jadi jangan cuma bawa baju pantai, bawa juga rasa penasaran lo buat ngebongkar kisah di baliknya. Yuk, mulai jejak budaya kita! 1. Kampung Panglong – Rumah Panggung & Dapur Arang yang Khas Di Desa Berakit, Kecamatan Teluk Sebong, ada Kampung Panglong yang vibe-nya tuh beda, bro. Rumah-rumah panggung kayu berdiri di atas, jalurnya setapak, suasananya tuh kaya lo lagi time travel ke masa lalu Melayu. Nah, dapur arang kubah di situ itu, mirip rumah es-kimo, dulu Panglong ini jadi produsen arang terbesar di Bintan tahun 1920-an. Meskipun sekarang produksi arangnya udah nggak jalan, bangunan uniknya tetep ada, jadi saksi bisu sejarah. Lo bisa ngerasain banget atmosfer budaya tradisional yang udah berdiri kokoh meski zaman udah ganti. 2. Masjid Raya Sultan Riau – Majestic & Penuh Arsitektur Multikultur       View this post on Instagram A post shared by Rizky Budiarto (@buruhurban) Abis dari Panglong, lo bisa nyebrang ke Pulau Penyengat buat mampir ke Masjid Raya Sultan Riau. Warnanya kuning-hijau yang mencolok, bikin kesan kerajaan Melayu yang elegan. Arsitekturnya tuh ga biasa: campuran gaya Melayu, Arab, India, bahkan Turki. Uniknya lagi, bangunan ini pake putih telur sebagai bahan perekat, loh—ya, putih telur! Cocok sama pasir dan kapurnya, jadi selain indah juga awet strong. Di dalemnya ada Al-Quran tulisan tangan tua yang umurnya lebih dari 150 tahun, bikin suasana mistis plus ngebawa lo ke zaman dimana religi dan arsitektur jadi satu kesatuan sakral. 3. Desa Senggarang – Jejak Tionghoa & Kehidupan Nelayan yang Damai Sis, kalo lo suka suasana adem, damai, dan tradisional, Desa Senggarang wajib masuk list. Ini tempat imigran Tionghoa periode abad ke-18 menetap. Ada kuil Lau Ya Keng dan Kuil Banyan Tree yang udah lebih dari 200 tahun umurnya, plus rumah panggung, gang-gang kecil, cermin di atas pintu (katanya tolak roh jahat) yang bikin nuansanya magis. Loe bisa nongkrong sambil ngerasain kayak di kampung halamannya orang-orang tua, sambil nyicipin jajanan lokal yang sederhana tapi rasanya ngena. [Baca juga : "Liburan Santuy Dekat Pelabuhan Merak, Nih Spot Hitsnya!"] 4. Grotto Santa Maria – Ziarah & Kedamaian Tropis Buat lo yang pengen merenung sambil adem udara laut, Grotto Santa Maria di dekat Pantai Trikora jadi spot yang pas. Ada jalan salib, ada patung Bunda Maria beratnya sekitar 250 kg yang menyambut lo di area ini. Tempat ini dibangun sejak tahun 1960-an oleh komunitas Katolik kecil, tapi spiritualitas dan ketenangannya tuh berasa banget. Alam tropis + suara ombak + doa + patung-patung di sepanjang jalan → kombinasi yang bikin hati relax tapi juga mikir betapa kayanya keragaman budaya dan iman di Bintan. 5. Vihara Ksitigarbha Bodhisattva alias Kuil 500 Lohan – Patung Banyak & Meditasi Visual Terakhir bro & sis, jangan lupakan Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, yang terkenal juga sebagai Kuil 500 Lohan. Begitu masuk halaman, lo bakal disuguhi ratusan patung Arhat / Lohan, masing-masing dengan ekspresi dan detail yang beda-beda, lo bisa liat wajah damai, serius, kontemplatif, semuanya tertata rapi. Atmosfernya sunyi tapi kuat, cocok banget buat yang pengen break sejenak dari hiruk pikuk. Di sinilah lo merasakan kekayaan spiritual dan visual yang bukan cuma Instagrammable, tapi juga punya kedalaman makna. Bro & Sis traveler, Pulau Bintan itu bukan cuma destinasi liburan biasa—ini panggung hidup budaya, sejarah, religi, dan spiritualitas yang saling bersinergi. Setiap sudut punya cerita: dari Panglong yang kayak museum terbuka sampai kuil dan masjid yang berbicara lewat arsitektur dan ritual. Jadi waktu loe ke Bintan, jangan cuma selfie di pantai atau resort doang, tapi explore juga warisan budaya yang bikin lo makin ngerti tentang manusia, lingkungan, sejarah. Loe bakal pulang nggak cuma dengan kulit yang gosong, tapi dengan hati yang kaya oleh makna. Selamat jelajah, bro & sis, semoga petualangan budaya lo paling memorable! (Sumber Foto @genpiindonesia)
...more

5 Fakta Sejarah Tentang Pulau Penyengat

TripTrus.Com - Pulau Penyengat adalah sebuah pulau di wilayah Kepulauan Riau. Belanda menyebutnya sebagai PUlau Mars. Pulau ini terletak di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Pulau ini berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam.  Pulau ini dapat ditempuh dari pusat Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit. Pulau Penyengat merupakan salah satu objek wisata di Kepulauan Riau. Berdasarkan informasi yang dihimpun batamnews dari wikipedia dan berbagai sumber, berikut adalah keistimewaan Pulau Penyengat.       View this post on Instagram Goes to Pulau Penyengat.. . Pulau Penyengat di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, sedang bersiap untuk mengadakan Festival Pulau Penyengat 2019 yang diadakan pada 14-18 Februari. Acara ini dipusatkan di Balai Adat Melayu Pulau Penyengat. Banyak kegembiraan dapat ditemukan di Festival kali ini. Wisatawan yang datang dapat menikmati lebih dari 20 kegiatan seni budaya di sana, seperti lomba dayung, lomba dayung bantal di laut, lomba tangkap bebek di laut, lomba gurindam 12, dan kompetisi becak bermotor dekoratif. Tiga acara teratas adalah Malay Fashion Penyengat Serantau, Short Film Netizen Stinger Halal Competition, dan the Halal Competition Stinger Pattern Tour. #FestivalPulauPenyengat2019 #PulauPenyengatFest2019 #FestivalPulauPenyengatKepri #PesonaPulauPenyengatFest2019 #EnjoyPulauPenyengatFest2019 #WonderfulFestPulauPenyengat #YukKePenyangatFestival2019 #PesonaFestPulauPenyengat2019 #SemarakFestivalPenyengat2019 #PesonaWisataPulauPenyengat #PesonaIndonesia A post shared by Edy Singomoto (@singomoto) onFeb 13, 2019 at 5:35pm PST 1. Pusat pemerintahan Kerajaan Riau Pulau Penyengat pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau. Ketika itu namanya menjadi Pulau Penyengat Inderasakti.  Pada 1803, Pulau Penyengat awalnya dibangun sebagai pusat pertahanan. Pulau ini kemudian dibangun menjadi negeri dan  berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga. Ketika itu, Sultan berkediaman resmi di Daik-Lingga. Pada tahun 1900, Sultan Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat.  Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan kebudayaan Melayu. 2. Pulau bersejarah Pulau Penyengat merupakan pulau yang bersejarah. Pulau ini memiliki kedudukan penting dalam peristiwa jatuh bangunnya Imperium Melayu.  Peran penting tersebut berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya Kerajaan Riau di tahun 1722, sampai akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh Belanda pada 1911. 3. Jadi kubu pertahanan perang saudara di Johor Awalnya pulau ini hanya sebuah tempat persinggahan armada-armada pelayaran yang melayari perairan Pulau Bintan, Selat Malaka dan sekitarnya.  Namun pada tahun 1719 ketika meletus perang saudara memperebutkan tahta Kesultanan Johor. Perang tersebut antara Raja Kecil, keturunan Sultan Mahmud Syah melawan Tengku Sulaiman, keturunan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah. Pulau Penyengat mulai dijadikan kubu pertahanan oleh Raja Kecil. Ia memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (Johor) ke Riau di Hulu Sungai Carang (Pulau Bintan).  Perang saudara itu dimenangkan oleh Tengku Sulaiman dan saudaranya. Mereka dibantu lima orang bangsawan Bugis Luwu, yaitu Daeng Perani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, Daeng Kemasi dan Daeng Menambun.  Selanjutnya, Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan Johor-Riau-Lingga, pada 4 Oktober 1722. Sedangkan Raja Kecil menyingkir ke Siak dan mendirikan Kesultanan Siak. 4. Ada banyak bangunan bersejarah Bangunan bersejarah di Pulau Penyengat di antaranya yaitu Masjid Raya Sultan Riau, Mushaf Al-Quran, Istana Kantor dan Balai adat Melayu. Monumen Bahasa Melayu juga didirikan di pulau ini. Pada tanggal 19 Agustus 2013, diletakkan batu pertama pembangunan Monumen Bahasa Melayu di areal dalam bekas Benteng Kursi, Pulau Penyengat, oleh Gubernur Kepulauan Riau, HM Sani.  Pembangunan monumen ini merupakan wujud penghormatan dan penghargaan Pemerintah Provinsi Kepri terhadap jasa-jasa Raja Ali Haji sebagai pahlawan nasional di bidang bahasa. Selain itu juga untuk lebih mengenalkan tentang asal dan arti bahasa Melayu yang dipakai di Kepulauan Riau dan Lingga, serta bahasa Indonesia yang digunakan saat ini. [Baca juga : "4 Tempat Bersejarah Di Kota Cilegon"] 5. Pulau Mas Kawin Pulau penyengat menjadi mas kawin Sultan Kasultanan Riau III Sultan Mahmud Syah untuk Raja Hamidah yang kemudian dikenal sebagai Engku Puteri Raja Hamidah. Mereka menikah pada tahun 1803. Engku Puteri Raja Hamidah merupakan putri dari Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau IV, Raja Haji Fisabilillah. Setelah menikah dengan Sultan Mahmud Syah dan diberikan Pulau Penyengat, ia kemudian bermukim di pulau tersebut hingga akhir hayat pada 1844. Hingga saat ini, banyak keturunan Engku Puteri Raja Hamidah yang dimakamkan di tempat tersebut. Engku Puteri Raja Hamidah sendiri dimakamkan di kompleks pemakaman Dalam Besar.  Pada kompleks tersebut, juga dimakamkan Raja Ali Haji yang dikenal sebagai pengarang Gurindam Dua Belas dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Di kompleks itu pula dimakamkan Raja Ahmad dan Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau IX, Raja Abdullah. (Sumber: Artikel batamnews.co.id Fotokebudayaan.kemdikbud.go.id)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography

Upcoming Trips

Trekking Gunung Papandayan
16 - 17 Oct 2026
Dataran Tinggi Dieng
16 - 18 Oct 2026
Hiking Sibayak Vulcano
17 - 18 Oct 2026
×

...