TripTrus.Com - Pulau Moyo, sebelah utara Pulau Sumba, Nusa Tenggara Barat jarang dikunjungi wisatawan lokal. Namun, Keindahan Pulau Moyo sangat dikenal di luar negeri, bahkan sejumlah pesohor dan olahragawan terkenal di dunia pernah berlibur ke tempat ini.
Beberapa pesohor dunia yang pernah berlibur di Pulau Moyo adalah pewaris tahta Kerajaan Inggris Pangeran Charles dan mendiang Putri Diana. Ketenaran Pulau Moyo mulai disebut-sebut oleh traveler dunia setelah Princess of Wales mengunjungi tempat ini pada Agustus 1993 dengan yacht-nya. Keindahan dan ketenangan Pulau Moyo menjadikan tempat ini sebagai hidden paradise pesohor dunia.
Kemudian dari kalangan penyanyi ada David Bowie dan pentolan Rolling Stone, Mick Jagger. Sementara dari kalangan olahragawan, mantan penjaga gawang Manchester United Edwin van Der Sar, David Beckham, dan si cantik Maria Sharapova juga pernah menghabiskan waktu di sini.
Ketenangan Pulau Moyo memang menjadi alasan selebriti dunia untuk menghabiskan liburan di tempat yang indah ini. Berbeda dengan Bali yang ramai. Menjadi destinasi liburan kaum selebriti dunia membuat liburan ke Pulau Moyo terkesan mahal. Padahal anggapan itu tidak semuanya benar.
Selama ini, traveler hanya mengenal Amanwana untuk akomodasi di Pulau Moyo yang memasang tarif US$1.000 per malam. Padahal, traveler dengan budget pas-pasan pun bisa liburan ke Pulau Moyo. Penduduk Desa Labuan Aji menyediakan penginapan murah (homestay) dengan tarif Rp150 ribu per kamar sudah termasuk makan tiga kali sehari. Cukup murah bukan? (Sumber: Artikel indonesiana.merahputih.com Foto jokerkeriting.wordpress.com)
...moreSillanan adalah nama sebuah perkampungan tradisional masyarakat Toraja. Secara administratif, perkampungan ini masuk ke wilayah Desa Sillanan, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Perkampungan yang struktur tanahnya berbatu-batu ini dihuni oleh penduduk yang bekerja sebagai petani kopi, dan terletak sekitar 35 kilometer ke arah selatan Rantepao. Di tempat ini terdapat bangunan-bangunan megalit berupa menhir maupun kubur batuyang berkaitan dengan tradisi dan upacara-upacara adat masyarakat Toraja yang hingga kini masih diselenggarakan. Dari upacara-upacara adat itu, wisatawan akan mendapatkan gambaran mengenai fungsi dan peranan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut terhadap kehidupan masyarakat setempat. Beberapa rumah tongkonan dan lumbung padi yang berusia sangat tua pun masih bisa ditemukan di sini, sementara beberapa diantaranya sudah direnovasi akibat termakan usia. Tongkonan merupakan rumah adat masyarakat Toraja. Kata “tongkonan” berasal dari bahasa Toraja yaitu “tongkon” yang berarti duduk. Disebut tongkon karena memang bangunan ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan adat. Tongkonan bukanlah rumah pribadi perseorangan tetapi diwariskan secara turun temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja. Di rumah adat inilah, keluarga Toraja biasanya berkumpul untuk berdiskusi ataupun bertukar pendapat. Tidak semua Tongkonan dapat dikunjungi, kecuali Tongkonan yang memang secara khusus dijadikan obyek wisata. Sementara Tongkonan milik keluarga Tana Toraja hanya boleh dikunjungi oleh anggota keluarga saja. Wisatawan bisa menanyakan tetua adat atau penduduk mengenai Tongkonan mana yang boleh dikunjungi. Tongkonan terbuat dari kayu dan memiliki atap yang terbuat dari daun nipa atau kelapa. Bangunan adat ini selalu dibangun menghadap ke utara, arah yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Jika dilihat dari bagian samping, bentuk atap Tongkonan akan mirip seperti tanduk kerbau. Di kehidupan masyarakat Toraja, kerbau memang dijadikan simbol status sosial. Ketika keluarga Toraja menyelenggarakan upacara adat pemakaman, mereka akan menyembelih kerbau yang jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga penyelenggara adat. Setelah disembelih, tanduk-tanduk kerbau dipasang pada Tongkonan milik mereka. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau pada Tongkonan, berarti semakin tinggi pula status sosial pemiliknya di kalangan masyarakat Toraja. Rumah adat Toraja ini berbentuk rumah panggung, dan kolong rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Di depannya terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung terbuat dari batang pohon palem (‘bangah‘) yang licin, sehingga tikus tidak dapat memanjat masuk ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara. Orang Toraja menganggap tongkonan sebagai simbol ‘ibu‘, sedangkan alang sebagai ‘bapak‘. Tongkonan tidak hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, tetapi juga sebagai tempat mengadakan kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah dan selatan. Bagian utara atau ‘tengalok’ berfungsi sebagai ruang tamu, ruang tidur anak-anak, dan juga tempat meletakkan sesaji. Bagian tengah yang disebut ‘sali‘ berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, tempat menyemayamkan orang mati, dan juga sebagai dapur. Dan bagian selatan disebut ‘sumbung‘, merupakan ruangan untuk kepala keluarga. Rumah adat Toraja memiliki beberapa ornamen ukiran khas Toraja yang terbuat dari tanah liat, biasanya menggunakan empat warna dasar yakni hitam, merah, kuning, serta putih. Bagi suku Toraja, keempat warna itu memiliki makna tersendiri. Warna hitam melambangkan kematian, kuning menjadi simbol anugerah dan kekuasaan Illahi, putih lambang warna daging dan tulang yang berarti suci, sementara merah menjadi simbol warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Sama halnya dengan jumlah tanduk kerbau, jumlah ornamen di dalam Tongkonan juga melambangkan tingkat kemewahan. Desa Sillanan juga menawarkan pemandangan alam yang indah dan agrowisata kopi dan sayur mayur. Sillanan dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum Makale – Mebali. Lalu perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan Mebali -Sillanan, naik ojek atau berjalan kaki. Di sekitar perkampungan ini, terdapat juga pemondokan untuk wisatawan. Sementara enam kilometer dari Sillanan,ada hotel bintang tiga.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...moreAkhir pekan adalah waktu yang tepat untuk melepas lelah dan menghilangkan segala beban pikiran yang telah menumpuk selama beberapa hari. Salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah dengan jalan-jalan, apalagi kalau ke Lembah Harau, yang karena keindahannya bahkan dijuluki sebagai The Yosemite of Indonesia. Bukan tanpa alasan julukan itu diberikan, karena memang keindahannya sebanding dengan Lembah Yosemite yang ada di Sierra Nevada, California, Amerika Serikat.
Lembah Harau sendiri berada dalam wilayah administratif Kabupaten Limapuluh Kota atau berada ± 138 km dari Padang ± dan 47 km dari Bukittinggi atau sekitar ± 18 km dari Kota Payakumbuh dan ±2 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota.
Lembah Harau merupakan sebuah lembah atau ngarai yang terbentuk dari patahan turun akibat peristiwa tektonik sehingga membentuk wilayah lembah yang datar dan diabit oleh dua dinding perbukitan dengan tebing yang curam. Dinding perbukitan di Lembah Harau inilah yang membuatnya dijuluki Yosemite of Indonesia karena bentuk dan warnanya mirip dengan dinding bukit di Lembah Yosemite.
Bukit yang mengapit Lembah Harau memiliki ketinggian 100-500 meter dan sangat cocok dikembangkan untuk olahraga ekstrim panjat tebing. Setidaknya ada 300 lokasi panjat tebing di Lembah Harau yang menjadikannya salah satu surga bagi pecinta olahraga panjat tebing. Selain untuk olahraga panjat tebing, keindahan Lembah Harau dengan tebingnya yang kemerah-merahan menjadi surga tersindiri bagi para fotografer atau bagi Anda yang sekedar ingin menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan. Bila anda ingin membaca lebih detail tentang artikel ini silahkan klik website dibawah ini.
Sumber: http://pasaharau.com/menyibak-keindahan-lembah-harau-the-yosemite-of-indonesia/ Foto:http://pasaharau.com
Kindly inform all of you we will have spectacular event on July, 13th to 15th 2018, these traditions of the Minangkabau will be presented at the Pasa Harau Art & Cultural Festival, the will be centered at the beautiful Harau Valley in Limo puluah koto Regency. Located about an hour’s drive from Bukittinggi city. The Harau Valley dubbed the Yosemite of Indonesia, has green rice fields hemmed in by huge granite rocks. Where refreshing waterfalls tumble down to irrigate the fields!!! ❤❤❤❤ Check it out and DON'T MISS IT!!!!! https://pasaharau.com/ Are you ready to find another heaven in Indonesia? Come on! #indonesia #pasaharau #pasaharauartandculturefestival #minangkabau #westsumatera #limopuluahkota #limapuluhkota #art #culture #wonderfulindonesia #pesonaindonesia #ayokeindonesia #welcometoindonesia #travelling #event #duniamenujuharau #roadtopasaharau2018 #beautifuldestinations
A post shared by siska oktaviani (@chu8y) onApr 10, 2018 at 2:17am PDT
...moreTripTrus.Com - Nusa Tenggara Timur (NTT) nggak cuma terkenal sama Labuan Bajo dan Pulau Komodo, Bro! Gak jauh dari Labuan Bajo, kita bisa merasakan eksotisme alam Indonesia Timur di Desa Budaya Compang To'e Melo, guys!
Yosef Ugis, sang ketua adat di Desa Budaya Compang To'e Melo, cerita, desa mereka resmi jadi desa wisata tahun 1993 oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai, NTT. Desa Compang To'e Melo sendiri diambil dari kata "Melo," yang berarti pergi duluan, dan "To'e" adalah nama suku di Kampung Melo.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh 🍣HARUKA🍣 (@haruka_jalanjalan)
Desa Budaya Compang To'e Melo tuh sekitar 70 kilometer dari pusat Labuan Bajo, loh. Jalanannya bagus, jadi bisa nyampe dalam sekitar 1 jam naik mobil atau motor. Lokasinya juga deket dari jalan utama Trans Flores, Bro!
Banyak seru banget yang bisa kita rasain di Desa Budaya Compang To'e Melo, guys!
1. Nonton Tarian Khas Manggarai dan Nyobain Tuak Lokal
Desa ini siapin acara spesial buat kita yang datang. Begitu nyampe, kita bakal disambut sama Tari Caci, tarian khas Manggarai yang ditarikan sama cowok-cowok asli Desa Budaya Compang To'e Melo pake kostum tradisional. Seru banget, Bro!
Abis nonton tari, kita juga bisa nyicip tuak lokal dari pohon enau dan pinang sirih. Menurut Yosef, ini bentuk penghormatan mereka buat kita yang liburan ke desa mereka. Ini tradisi turun-temurun, lho! "Sofi" ini sebagai tanda bahwa mereka anggep kita sebagai saudara, kata Yosef.
2. Nikmatin Wisata Alam Eksotis dari Atas Ketinggian
Di Desa Liang-Ndara, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Desa Budaya Compang To'e Melo punya pemandangan keren banget. Dari ketinggian 624 meter di atas laut, kita bisa lihat keindahan Pulau Flores, guys!
Liat Manggarai Barat dari atas itu pengalaman yang nggak bisa dilupain. Apalagi di NTT yang penuh dengan alam indah, dari sawah hijau, langit biru, sampe pantai dan pulau-pulau yang cakep banget.
[Baca juga : "Labuan Bajo, Tempat Keren Di Ujung Indonesia"]
3. Rasain Udara Pegunungan yang Adem Banget
Wisata di NTT biasanya pantai, laut, dan pulau-pulau, kan? Tapi, di Desa Budaya Compang To'e Melo ini beda, guys!
Di sini kita bisa merasakan udara sejuk pegunungan tanpa harus panjat gunung berkilometer-kilometer. Suasana dinginnya bikin tempat ini pas banget buat ngehabisin liburan setelah jalan-jalan di Labuan Bajo.
4. Saksikan Kegiatan Warga dan Pelajari Budaya Lokal
Liburan ke kampung budaya itu nggak lengkap kalo nggak ikut nonton kegiatan warga dan belajar budaya setempat, Bro! Kita bisa mampir ke rumah warga buat lihat aktivitas sehari-hari mereka. Di situ, kita bisa belajar budaya NTT, dan gak usah khawatir, warga Desa Budaya Compang To'e Melo ramah banget sama wisatawan.
5. Belanja Produk Ekraf
Warga Desa Budaya Compang To'e Melo sebagian besar petani. Selain itu, mereka juga bikin berbagai kerajinan tangan, seperti tenun songket, keranjang, topi, compang (peci khas Manggarai), dan kesetan. Ada juga produk makanan seperti kopi khas NTT dan gula aren. Kita bisa belanja ini semua sebagai oleh-oleh, dan gak perlu khawatir kalo nggak bawa uang tunai, di sini bisa bayar pakai QRIS, guys!
Ingat, sebelum berangkat, pastikan udah vaksin dan daftar di PeduliLindungi, ya! Tetap patuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 6M, guys! Selamat jalan-jalan! (Sumber Foto @widiyanti1982)
...moreKawasan Kota Tua di utara Jakarta masih cukup sepi ketika TripTrus menjumpai Maryssa Tunjung Sari, fotografer handal dan traveler profesional, di sebuah warung, pada pagi hari, Rabu 7 Oktober 2014. Fotografer yang akrab disapa Sasha ini rupanya sangat bersemangat membagi pengalaman dan pemahamannya soal fotografi kepada teman-teman Trip Operator (TO). Ya, inilah waktunya pelatihan fotografi singkat buat para Trip Operator.
“Untuk berpromosi tentang perjalanan dalam usaha travel tentunya akan lebih baik dan menarik kalau fotonya mendukung, jadi belajar dasar fotografi pastinya akan berguna untuk teman-teman TO,” ujar Chief Editor majalah Linkers milik maskapai penerbangan Citilink ini.
Sasha pun dengan sigap menjelajahi sudut-sudut Kota Tua dan dalam waktu singkat merekam banyak momen indah dalam kamera ponselnya. Foto-foto itulah yang akan dijadikan Sasha sebagai contoh dan modal berbagi ilmunya.
Kami berkumpul di Historia Food & Bar. Ada Pipit dan Kelik dari Long Foot Trip, Adly dari Raja Wisata, Vindhya dari Ibu Penyu, Mumun dari Indohoy.com, Andre dari Trip Gabungan, Oki dan saya, Indi dari TripTrus. Tidak banyak, memang, tetapi justru menggembirakan buat Mumun dan Vindhya. “Asyiik bisa privat, jadi cepet pinter, nih,” kata Mumun, antusias.
Sasha membuka obrolan tentang fotografi dengan pertanyaan, “Kita motret niatnya untuk apa? Untuk bikin brosur, tas, poster, syal, buku notes atau pajang di sosmed?” Niat ini, menurut Sasha, akan mempengaruhi pendekatan kita terhadap obyek foto dan hasilnya juga akan berbeda sesuai niat.
Sebagai traveler, Sasha merasakan kebanyakan wisawatan suka memotret lanskap, mengabadikan pemandangan dengan sudut pandang luas. Padahal, kata Sasha, dalam foto yang kita buat mestinya ada pendekatan personal terhadap obyek yang justru bisa melahirkan cerita melalui gambar dan menarasikan foto. “Cara ini akan memicu rasa penasaran orang yang melihat foto kita dan hingga akan menarik orang untuk berkunjung ke lokasi di mana kita memotret obyek tersebut,” papar Sasha.
Karena itu, lanjut Sasha, kita harus memiliki pemahaman dasar tentang komposisi, sudut pengambilan, bukaan cahaya, ISO dan kecepatan. Ini diperlukan agar foto yang dihasilkan mempunyai aspek dinamis, bercerita dan penataan teknik yang tepat. Memotret pakai kamera apapun bisa menghasilkan foto yang luar biasa asalkan pemotret paham dengan cara bercerita melalui sudut pengambilan dan penguasaan teknik.
Sasha tak banyak berteori. Satu jam berikutnya, peserta pelatihan fotografi diminta memotret sesuai “pendekatan”nya masing-masing tentang apa yang bisa membuat orang tertarik datang ke kawasan Kota Tua Jakarta. Sesudah itu, secara singkat Sasha memberikan penilaiannya tentang hasil jepretan para TO. Tidak lama ia memberi ulasan, karena Sasha harus mengejar pesawat ke Makassar untuk bertugas.
“Ternyata, belajar fotografi itu asyik lho,” kata Kelik. Maka kita bersiap untuk pelatihan berikutnya. Semoga lebih banyak yang tertarik.
...moreTripTrus.Com - Elo tau nggak sih? Di seluruh Indonesia, ada 3000 destinasi wisata yang barengan bikin gerakan Wajib Halal! Di Kabupaten Mamasa, Satgas dan stakeholder semangat banget nih, pasang spanduk di tempat umum, sambil bagi-bagi brosur buat pengunjung dan pelaku UMKM lokal. Gokil banget, ini cara buat kasih edukasi dan informasi penting soal wisata halal.
Usama Majid, Ketua Satgas, bilang dengan antusias kalau program self-declare di 3000 desa wisata ini udah bawa perubahan besar. Mereka full komitmen buat bikin semua destinasi wisata wajib halal mulai Oktober 2024. “Elo mesti liat deh, program ini keren banget! Kita nggak cuma ngejar pertumbuhan ekonomi lokal, tapi juga bikin pariwisata jadi makin ramah buat umat Muslim,” jelas Usama.
Nggak heran kalo inisiatif ini jadi tren positif di mana-mana. Wisata sekarang bukan cuma soal liburan, tapi juga tempat yang asik dan aman buat traveler Muslim. Dampaknya nggak cuma bikin ekonomi lokal tumbuh, tapi juga ningkatin kesadaran lingkungan dan pemberdayaan sosial di banyak daerah. Ini beneran langkah keren buat pariwisata Indonesia ke depannya.
Program ini juga bikin potensi pariwisata Indonesia makin naik kelas. Apalagi, dampaknya signifikan buat kesejahteraan masyarakat lokal. Wisata halal ini bikin Indonesia makin kuat posisinya sebagai destinasi wisata dunia. Dan ini nggak cuma buat pasar lokal, tapi internasional juga. Makanya, UMKM kita punya kesempatan gede banget buat ngegas produk mereka ke pasar global.
[Baca juga : "10 Spot Kece Di Blitar Yang Wajib Kamu Kunjungi!"]
Di Kabupaten Magelang, program ini dilaksanain di Desa Wisata 'Pasar Tani Morosuko' di Kecamatan. Gerakan Wajib Halal Oktober 2024 bakal ngerambah 3000 desa wisata. Di Magelang misalnya, program ini dilaksanain di Desa Wisata 'Pasar Tani Morosuko', Borobudur. Semua pihak, dari pemerintah sampe pelaku UMKM, pada antusias banget. Yang lebih keren lagi, ada kesempatan buat dapet sertifikasi halal gratis buat produk mereka!
Khoironi Hadi, Ketua Satgas Halal Magelang, bilang, “Kita bakal pastiin wisatawan dapet produk halal, khususnya makanan. Jadi, gue minta perangkat desa buat dorong UMKM di wilayahnya buat daftar sertifikasi halal sebelum 18 Oktober 2024!” Ini kesempatan emas, jangan sampe kalah sama produk asing yang udah duluan dapet sertifikasi halal.
Kolaborasi dari berbagai pihak bikin program ini jadi momen penting dalam transformasi pariwisata Indonesia. Dengan kerja bareng dan semangat juang, Wajib Halal Oktober 2024 bakal ningkatin kualitas produk lokal sekaligus ngebawa pariwisata Indonesia ke level yang lebih tinggi! (Sumber Foto portallnews.id)
...moreTripTrus.Com - Sejak abad pertama sebelum masehi, Cina dan kepulauan Indonesia telah memiliki hubungan yang sangat dekat, baik antara Kaisar Cina dengan raja-raja di Indonesia, dalam aspek agama maupun perdagangan. Sejumlah putri kerajaan Cina bahkan menikah dengan sejumlah raja di Yogyakarta, Solo, Cirebon, Bangka dan Belitung , maupun Kalimantan Barat
Kedatangan bangsa Cina ke Indonesia dimulai pada abad ke 17, ketika kongsi perdagangan Hindia-Timur (VOC) berhasil mengajak bangsa Cina dari daratan untuk berimigrasi ke berbagai pulau di Indonesia baik untuk bekerja maupun berdagang.
Di Batavia , pusat Kongsi Perdagangan Hindia-Timur (VOC), meskipun komunitas bangsa Cina diperlukan oleh Belanda, tetap saja mereka dan penduduk asli hanya diperbolehkan tinggal di luar batas kota dan tembok kota.
Pada umumnya mereka bermukim dan berdagang di sepanjang daerah Pintu Besar, di sekitar sungai Ciliwung, yang sekarang dikenal sebagai Glodok, atau daerah Pecinan Jakarta. Daerah Glodok dimulai dari sepanjang Pancoran sampai dengan Jalan Gunung Sahari. Sejumlah komunitas Cina juga bermukim ke arah Barat yang sekarang dikenal sebagai daerah Tangerang, kini disebut provinsi Banten. Ppenduduk yang bermukim di daerah Tangerang dikenal sebagai Cina Benteng.
Dengan adanya larangan bagi perempuan Cina untuk beremigrasi di masa itu, banyak pria Cina yang berimigrasi ke Batavia menikah dengan perempuan lokal sehingga menghasilkan gabungan budaya Cina, lokal Melayu, Jawa dan tradisi asli lainnya. Budaya hasil gabungan ini dikenal dengan budaya Peranakan.
Budaya Peranakan adalah budaya yang sangat berpengaruh di upacara perkawinan, musik, tari dan khususnya pada makanan maupun masakan. Tampak jelas Cina menyerap budaya lokal dan sebaliknya, dimana penduduk lokal juga menyerap berbagai elemen budaya Cina untuk diterapkan diberbagai hal.
Sejumlah bangunan Cina yang dijaga keasliannya dan masih ada sampai saat ini salah satunya adalah Toko Merah. Berlokasi di Jalan Kali Besar, Toko Merah tampak memiliki pengaruh budaya Cina yang sangat kuat. Selain itu terdapat juga bangunan Candranaya yang baru selesai direstorasi yang berlokasi di Jalan Gajah Mada. Baik Toko Merah dan Candranaya sekarang digunakan untuk Seminar, Pesta Perkawinan dan sejumlah acara lainnya.
Petak Sembilan
Di sekitar Petak Sembilan, Anda dapat menemukan toko Cina yang menjual berbagai manisan dan pernak pernik Cina , toko obat Cina serta berbagai restoran Cina terbaik yang menyediakan makanan asli Cina seperti bebek panggang, pangsit goreng dan bakso. Di sini juga terdapat warung kopi yang disebut ‘Kopi Tiam’ dan Es Kopi yang disebut ‘Tak Kie’, yang kesemuanya disediakan masih dengan cara lama.
Bagian dari daerah Pecinan Jakarta ini menjadi sangat meriah dengan lentera dan tari Barongsai, terutama pada saat perayaan Tahun Baru Cina. (Sumber: Artikel jakarta-tourism.go.id Foto jakarta.panduanwisata.id)
...moreGerakan tari yang lincah dan sedikit riang terlihat dari tarian yang satu ini. Mimik-mimik wajah penuh senyum tawa terlihat dari ekspresi wajah para penari yang menampilkan tari ini di atas panggung. Inilah tari rondang bulan, tarian khas dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.Tari rondang bulan merupakan tarian yang menggambarkan keceriaan gadis-gadis Mandailing. Ini terlihat dari ekspresi penari yang mencerminkan keceriaan sepanjang tarian.
Di atas panggung para penari ini melakukan aksi gerakan-gerakan lenggak lenggok sambil sesekali membentuk lingkaran. Sambil mengitari lingkaran para penari ini menjentikan jari jemari dengan sesekali bertepuk tangan. Tari rondang bulan di Tapanuli Selatan biasanya ditarikan dengan riang gembira di bawah pancaran sinar bulan purnama. Rondang Bulan sendiri dalam bahasa Tapanuli Selatan berarti terang bulan.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...moreTripTrus.Com - Talk show tentang wisata di kawasan Pecinan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, ternyata menarik perhatian pengunjung Astindo Fair 2017. Tentu saja, itu di luar potongan harga yang menjadi daya tarik utama travel fair tersebut.
Apa yang istimewa dari wisata Lasem ini? Reporter dan fotografer Kompas.com, Wahyu Adityo Prodjo dan Garry, menceritakannya dengan gamblang caemnya (keindahan) Lasem pada talk show ini. "Kalau di Jakarta ada kawasan Pecinan Glodok, kalau di Rembang ada kawasan Pecinan Lasem. Lasem ini lebih luas dari segi wilayah dan budaya Tionghoa-nya daripada Pecinan Glodok," kata Wahyu memberi kata pembuka pada talk show yang diadakan di main stage JCC, Jumat (24/3/17).
Sumber: Foto latitudes.nu
Menurut Wahyu, banyak atraksi dan destinasi yang bisa dikunjungi di sana. Misalnya, wisata sejarah, wisata kuliner, hingga wisata religi misalnya klenteng Konfusianisme atau Konghucu dan Masjid Jami Lasem. "Arsitektur bangunan di sana masih banyak yang bergaya Tiongkok Selatan dan Tiongkok - Hindia. Kelenteng di Lasem juga berbeda dengan arsitektur bangunan klenteng di Glodok dan Cirebon, di Lasem tembok-temboknya lebih ramai dengan mural yang mengandung cerita masa lalu," ujar Wahyu.
Bangunan klasik bergaya Tiongkok Selatan ini sangat unik dan bahkan instagramable untuk dijadikan latar foto. "Kalau yang suka fotografi, Lasem memberikan ruang bagi Anda untuk berkreasi dengan berbagai latar bangunan sejarah ataupun warga lokal di sana. Di Lasem, bangunan pos kamling pun terlihat 'wah' dengan arsitektur khas Tionghoa-nya," ujar Garry, seraya menujukkan hasil jepretannya di layar.
"Patut diingat, kalau mau mengambil gambar biasakan izin terlebih dahulu kepada penjaga atau pemilik bangunan/kuil, karena ada salah satu bagian yang tidak boleh diambil gambarnya," saran dia.
Lalu bagaimana mengenai transportasi, akomodasi dan kuliner di sana?
"Lasem bisa dijangkau dari Semarang menggunakan bus. Jadi yang ingin ke Lasem, bisa melalui Semarang. Semarang bisa dilalui oleh pesawat terbang, bus dan kereta api dari kota-kota lainnya di Indonesia," ujar Wahyu. Lasem juga kaya dengan wisata kulinernya. Ada lontong tuyuhan sebagai makanan yang wajib dicoba. Dipadu dengan ayam kampung yang diolah rempah yang kaya, lontong tuyuhan bisa dinikmati dengan harga hanya Rp 10.000.
"Coba juga durian khas Lasem yang rasanya manis-pahit. Harganya juga murah," kata dia Wahyu.
Untuk akomodasi di Lasem, ungkap Wahyu, harga per harinya relatif terjangkau. Ada penginapan dengan biaya Rp 390.000, ada juga penginapan ala backpacker dengan biaya hanya Rp 50.000 per malamnya. Menurut dia, waktu terbaik untuk mengunjungi Lasem sebenarnya ketika perayaan Cap Go Meh. Namun, karena perayaan Cap Go Meh diadakan pada awal tahun, biasanya wisatawan yang berkunjung akan sedikit direpoti oleh hujan.
"Dengan bujet Rp 500.000 sebenarnya sudah bisa kita berpetualang di Lasem selama 3 hari 2 malam. Harga tersebut sudah termasuk akomodasi, transportasi, wisata kuliner, bahkan untuk beli oleh-oleh," kata Wahyu lagi. "Untuk oleh-oleh, Anda bisa membeli batik tulis khas Lasem yang mempunyai corak dan pola yang unik," ujarnya. (Sumber: Artikel-Foto travel.kompas.com)
...more