shop-triptrus



Taman Nasional Bunaken

Taman Nasional Bunaken ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai taman nasional pada tahun 1991. Obyek wisata ini luas sekitar 89.065 hektare, berada di wilayah Kabupaten Minahasa, Kotamadya Manado, Sulawesi Utara. Di sebelah utara taman nasional, ada pulau Bunaken, Manado Tua, Montehage, Siladen, Nain, Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sementara di bagian selatan, meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.Lokasi ini merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan atau pesisir. Pulau-pulau di dalamnya kaya akan flora dan fauna. Perairan Taman Nasional Bunaken memiliki 13 genera (genus) karang hidup yang didominasi oleh jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang. Tercatat sekitar 91 jenis ikan yang hidup di perairan ini, diantaranya ikan kuda gusumi (Hippocampus kuda), oci putih (Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), goropa (Ephinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), ila gasi (Scolopsis bilineatus). Di tempat wisata ini banyak kegiatan wisata bahari yang ditawarkan, seperti: diving, snorkeling, berjemur, dan berenang di laut. Di pantai Kalase, yang berada di pinggir Kota Manado, terdapat sebuah diving center bernama Dragonet yang pernah menjadi sekretariat acara Sail Bunaken yang memecahkan rekor MURI dengan lebih dari 2.000 penyelam mengikuti upacara bendera di dasar laut. Bapak James, pemilik Dragonet Diving Center, mempekerjakan instruktur selam bersertifikasi SDI (Scuba Diving International) yaitu Bapak Ferry. Dragonet menawarkan pelajaran menyelam bagi pemula, yang meliputi dasar-dasar menyelam (breathing, buoyance control, mask clearing, ear equalization) selama 15 menit, dan setelah paham akan langsung diajak menyelam selama 45 menit di kedalaman hingga 6 meter. Dengan bantuan instruktur selam yang sudah berpengalaman seperti Bapak Ferry, para pemula dijamin bisa menyelam.Selain melalui Pantai Kalase, Taman Nasional Bunaken juga dapat dicapai melalui Pelabuhan Manado, Marina Nusantara Diving Centre (NDC) di Kecamatan Molas yang memakan waktu sekitar 20 menit, dan dari Marina Blue Banter dengan waktu tempuh sekitar 10 – 15 menit menggunakan kapal pesiar. Jika berangkat dari pelabuhan Manado, bisa menggunakan perahu motor menuju pulau Siladen yang dapat ditempuh sekitar 20 menit, ke pulau Bunaken sekitar 30 menit, ke pulau Montehage sekitar 50 menit, dan ke pulau Nain sekitar 60 menit. Biaya masuk ke lokasi ini sebesar Rp 2.500 per hari untuk wisatawan domestik, dan Rp 150.000 per tahun untuk wisatawan asing. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

Pacu Kuda Bogi, Tradisi Sejak Zaman Belanda

Pacu kuda bogi atau pacu kuda menggunakan kereta joki sampai saat ini masih sering di pertandingkan di Solok, Sumatra Barat. Meski pesertanya sudah jauh berkurang, beberapa daerah yang masih memiliki kuda bogi seperti Sawahlunto, Padang, Solok, Agam, Bukittinggi, serta Payakumbuh tidak pernah absen dalam setiap pertandingan. Ini guna mempertahankan keberadaan pacu kuda bogi agar tidak punah.Pacu kuda bogi berbeda dengan pacu kuda biasa. Bila biasanya joki menggunakan pelana di punggung kuda, namun kuda bogi memakai kereta roda dua. Pacu kuda bogi sudah dikenal di Minangkabau sejak zaman Belanda. Dulunya, kereta bogi biasa dipakai bangsawan Belanda atau pejabat-pejabat pemerintahan di zaman itu. Sumber:http://news.liputan6.com/read/ Foto:http://www.tabloidbijak.com/2015/09/pacuan-kuda-di-paguh-duku-kecamatan-vii.html
...more

Kalender Event Bali 2024, Ada Nusa Penida Festival, UWRF, dan Denpasar Film Festival

TripTrus.Com - Bro, Dinas Pariwisata Bali baru aja ngeluarin Kalender Event 2024. Tahun depan, Bali bakal punya 58 event keren yang bisa bikin liburan kamu makin seru! Tjok Bagus Pemayun, Kepala Dinas Pariwisata, bilang ada 48 festival seni dan budaya, 4 event olahraga, dan 6 MICE. Semua ini bakal tersebar di 9 kabupaten/kota se-Bali sepanjang tahun. “Ini bakal jadi pilihan asyik buat wisatawan yang mau liburan ke Bali,” kata Tjok Bagus saat peluncuran Selasa, 22 Januari 2024. Dia nambahin, tujuan kalender ini biar semua orang bisa tau event-event kece di Bali tahun depan. “Harapan kita, banyaknya event ini bikin wisatawan makin banyak yang datang ke Bali sesuai dengan slogan kita #marikeBaliaja. Makasih banyak buat semua yang udah bantu nyusun kalender event 2024,” lanjutnya. Tjok Bagus juga bilang, pariwisata Bali udah bangkit lagi setelah pandemi. Kunjungan wisatawan ke Bali tahun 2023 udah hampir balik kayak sebelum pandemi, dengan 10 juta wisatawan domestik dan 5,3 juta wisatawan asing. “Kami ajak semua masyarakat buat bareng-bareng jaga dan perkuat pariwisata Bali supaya makin maju,” ajaknya. Ini dia event-event seru di Bali bulan September dan Oktober 2024:       View this post on Instagram A post shared by Scared of Bums (Official) (@scaredofbums_official) Sanur Motor Show III Bakal ada event keren nih di Sanur tanggal 7-8 September 2024, jadi catet deh di kalender! Komunitas motor siap-siap ramein acara ini sebagai bagian dari Road to Sanur Festival. Buat lo yang doyan motor, pasti acara ini nggak bisa dilewatin gitu aja. Banyak banget jenis motor bakal dipamerin, mulai dari yang klasik sampe motor keluaran terbaru yang bikin ngiler. Nggak cuma liat-liat motor aja, ada juga kontes modif yang bikin motor lo makin keren, plus atraksi stunt yang bakalan bikin jantung deg-degan. Fest Gokil Petitenget Tanggal 14 - 16 September 2024, bakal ada festival seru abis buat ngerayain seni, budaya, kuliner, sama spot-spot eksotis di Petitenget, Badung. Selama tiga hari penuh, lo bisa puas nikmatin pertunjukan seni yang keren, kuliner Bali yang khas, plus eksplor tempat-tempat kece yang mungkin belum banyak orang tau. Selain seru-seruan, acara ini juga bantu banget buat naikin Pendapatan Asli Daerah (PAD) Badung, biar makin banyak wisatawan yang datang. Bali Hockey Festival Tanggal 16-17 September 2024, bakal ada event gede banget buat komunitas hockey, nggak cuma dari Indo aja, tapi juga internasional. Diadainnya di Lapangan Banteng, Badung, event ini jadi ajang ngumpul buat para pemain hockey buat tanding dan pamer skill. Nggak cuma pertandingan, ada juga berbagai kegiatan seru yang bikin suasana makin rame. Barong Festival Superstar Tanggal 21-22 September 2024, bakalan ada festival yang ngerayain dan ngejaga budaya Bali, khususnya Tari Barong sama Pura Taman Ayun yang udah diakui UNESCO. Selama dua hari itu, lo bisa nikmatin pertunjukan Tari Barong yang keren abis dan juga acara-acara budaya lainnya yang nunjukin indahnya tradisi Bali. Buat lo yang pengen lebih paham budaya Bali, ini kesempatan yang oke banget! Royal Creative Market Event ini adalah platform kreatif yang mengumpulkan berbagai visioner dan pelaku industri untuk berkolaborasi dan bertukar ide. Di sini, kamu bisa menemukan produk-produk keren dari berbagai industri, mulai dari makanan dan minuman, kerajinan tangan, sampai fashion. Ini adalah tempat yang tepat buat kamu yang suka dengan inovasi dan kreativitas. [Baca juga : "Banda Neira, Pulau Pala Dan Jejak 4 Rumah Pengasingan Dalam Sejarah Indonesia"] Nusa Penida Festival Dari tanggal 5 sampai 7 Oktober 2024, festival ini bakal ngerayain kekayaan sama keindahan budayanya Nusa Penida, bro! Fokusnya tuh ke cara bijak dan berkelanjutan buat ngelola wilayah pesisir. Selama tiga hari, lo bakal disuguhin pertunjukan seni, budaya, plus ada juga kegiatan seru yang ngasih edukasi tentang pelestarian lingkungan dan kearifan lokal di Nusa Penida. Seraya Culture Festival Tanggal 6-8 Oktober 2024 bakal ada festival buat ngerayain tradisi dari Seraya yang udah turun-temurun, buat minta hujan biar tanah jadi subur. Di event ini, ada banyak upacara adat dan ritual yang jadi bagian penting dari budaya lokal. Buat lo yang pengen lihat tradisi unik yang masih dilestarikan sama orang Bali, ini kesempatan yang nggak boleh dilewatin. Denpasar Film Festival Sejak 2010, festival ini sudah jadi ajang bagi para sineas muda di Denpasar untuk menunjukkan karya mereka. Dengan melibatkan siswa-siswi SMP dan SMA se-Kota Denpasar, festival ini bertujuan untuk merangsang kreativitas anak muda di bidang perfilman. Acara ini bakal menampilkan berbagai film pendek dan dokumenter yang bikin kamu terinspirasi. Makepung Jembrana Cup Tanggal 15 Oktober 2024, Event ini seru banget buat ngerayain tradisi Makepung di Jembrana. Selain ada lomba yang gokil abis, juga ada pertunjukan budaya lokal yang asik parah. Ini jadi cara keren buat ngerawat warisan budaya Jembrana sambil ngajak masyarakat buat terus ngejaga tradisi ini. D’Youth Festival 20 - 21 Oktober 2024 Event tahunan ini emang keren banget buat anak-anak muda Kota Denpasar. Selama dua hari, bakal ada banyak aktivitas kreatif yang seru, mulai dari lomba-lomba, UMKM, sampai hiburan yang gokil. Ini kesempatan yang pas banget buat generasi muda unjuk gigi dan ikutan kompetisi yang mantap! Kuta Beach Festival Dari tanggal 22 - 24 Oktober 2024, Pantai Kuta bakal jadi rame banget. Rangkaian acara seru bakal ada, mulai dari seni budaya, olahraga, sampe UMKM. Tujuannya biar Pantai Kuta makin hits dan makin banyak yang dateng. Bakal ada banyak kegiatan keren, dari pertunjukan seni yang bikin terpesona sampai lomba olahraga yang pastinya seru abis. Ubud Writers and Reader Festival Festival Internasional 23 - 27 Oktober 2024 bakal jadi momen seru banget, gengs! Ini adalah kesempatan langka buat lo semua yang pengen kenal sastrawan dan seniman keren dari seluruh dunia. Dalam lima hari itu, lo bisa ikut diskusi, dengerin pembacaan puisi, sama nonton pertunjukan seni yang bikin lo mikir. Jangan lupa, ini juga ajang buat nyambungin relasi sama kreator internasional, dan dapetin insight dalam tentang dunia sastra dan seni yang mengangkat isu-isu global. Dengan deretan event seru yang bakal digelar, tahun 2024 bakal jadi tahun yang penuh warna untuk Bali. Dari festival seni yang memukau hingga acara olahraga yang menghibur, semua ini pastinya bakal bikin pengalaman liburanmu semakin berkesan. Jangan sampai kelewatan dan siap-siap aja untuk ngerasain serunya setiap event di Pulau Dewata! (Sumber Foto @wincibola)   
...more

10 Tempat Wisata di Kebumen Yang Wajib Dikunjungi!!!

TRIPTRUS - Tempat wisata di kebumen.Kebumen, sebuah kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Di Kebumen ini ternyata memiliki berbagai macam lokasi wisata yang wajib di telusuri. Jadi apa aja lokasi wisatanya? pensaran? 1. Pantai Ayah  Pantai ini memiliki area yang cukup luas, dengan warung-warung di sekitar pantai yang sudah di pindah dan di tata rapi agar tidak menggangu keindahan pantai. Sehingga para penelusur bisa lebih asik dan puas menikmati pemandangan pantai. Di pantai ini para penelusur bisa menikmati sejuknya udara yang masih segar. Dan tidak hanya itu, di pantai ini para penelusur bisa bermain sepakbola, voli pantai, maupun hanya sekedar duduk-duduk santai menikmati keindahan alamnya. Setelah puas atau bosen dengan pantai, kita juga bisa juga bermain ke hutan yang berdekatan dengan pantai ayah ini. Sumber: Foto kebumenberiman24.blogspot.com 2. Goa Jatijajar Berada di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten kebumen yang terletak sekitar 42km di arah barat daya pusat kota kebumen ini mencakup luas kawasan seluas 5.5 hektare. Goa Jatijajar ini merupakan sebuah goa yang terbentuk dari batu kapur. Goa Jatijajar ini memiliki panjang dari pintu masuk utama ke pintu keluar adalah sepanjang 250 meter dengan lebar goa rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata di dalam goa ini adalah 12 meter. Sedangkan untuk ketebalan pada langit-langitnya rata-rata memiliki ketenalan 10 meter, dan ketinggian dari permukaan laut adalah 50 meter. Di goa ini kita bakal di suguhi macam-macam diorama yang menceritakan sejarah awal mula nama goa ini. Sumber: Foto id.wikipedia.org 3. Pantai Menganti Pantai Menganti ini berlokasi di Desa Karangduwur, kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Berlokasi kurang lebih 40km dari kecamatan Gombong. Di pantai ini para penelusur bisa menikmati syahdunya udara pantai yang masih segar. Dan bisa juga bercengkrama dengan para nelayan di atas pasir putih yang membentang sepanjang Pantai Menganti ini. Di sini juga terdapat juga mercusuar setinggi 20 meter yang bisa di pakai untuk memandangi keindaham seluruh pantai. Sumber: Foto travel.detik.com 4. Benteng Van Der Wijck Benteng Van Der Wijck adalah sebuah benteng yang di bangun oelh pemerintah Hindia-Belanda pada abad ke 18 sebagau sebuah benteng pertahanan. Lokasi benteng ini berada di sebelah barat pusat Kota Kebumen dengan jarak sekitar 35km. Nama benteng ini menurut kabar yang beredar merupakan sebuah nama yang di ambil dari nama komandan pada saat itu. Sekarang benteng ini di jadikan oleh Pemerintah Kebumen sebagai objek wisata sejarah. Sumber: Foto spadepicnic.wordpress.com 5. Gunung Pranji Gunung Pranji berada di perbatasan antara Desa Pengaringan dan Desa Watulawang. Pemandangan di Gunung Pranji ini malah lebih indah jika di liat pada waktu malam hari. Karena pada saat malam di atas puncak gunung seakan-akan bintang-bintang mengelilingi kita dan di tambah dengan lampu-lampu rumah penduduk sekitar yang membuat  suasana menjadi romantis.   Sumber: Foto blogspot.com 6. Pantai Lembupurwo Pantai Lembupurwo berada di Desa Lembupurwo yang lokasinya di bagian timur dari pusat kota Kebumen. Jalan untuk menuju lokasi ini sudah sangat bagus dan mudah unuk dilalui menggunakan kendaraan pribadi. Walaupun pantai ini berpasir hitam namun dengan air laut yang bersih akan membuat kita betah untuk bersantai-santai di pantai ini. Sambil menikmati hembusan angin yang sepoy-sepoy, kita bisa sambil makan tempe mendoan dengan rasa khas dari daerah sini. Serta ada juga Rempeyek undur-undur yang rasanya hampir mirip seperti udang. Sumber: Foto lintaskebumen.wordpress.com 7. Pantai Petanahan Pantai Petanahan berada di selatan dari pusat kota kebumen. Tepatnya berada pada kecamatan petanahan. Pasirnya putih dan dipadukan dengan ombak yang tidak terlalu besar bakal membuat para penelusur betah disini deh. Apalagi lokasi wisata ini masih belum ramai. Jadi sangat enak buat nyantai-nyantai menikmati semilirnya angin pantai yang segar. Sumber: Foto blogspot.com 8. Pantai Karangbolong Pantai Karangbolong berada di Kecamatan Cinangka Kebumen. Dengan pasirnya yang berwarna kelabu yang berukuran kasar dan halus. Di kawasan pantai karangbolong terdapat juga Gua Karangbolong yang terletak disisi timur. Gua ini sendiri berukuran panjang 30meter dan lebar 10meter serta memiliki tinggi 5 meter. Sumber: Foto blogspot.com 9. Gua Petruk  Berada di kawasan wisata eko-karst Gombong selatan yang tepatnya di Dukuh Mandayana Desa Candirenggo Kecamatan Ayah atau ke selatan sekitar 4.5 dari jati jajar. Gua Petruk ini memiliki 3 lantai gua, yang pertama adalah gua dasar ,gua hindu dan gua petruk. Gua dasar untuk wisata umum panjangnya hanya 100 meter,stalaktit dan stalakmitnya. Kalau ingin menelusuri hingga ujung harus dengan pemandu. Setelah sampai pada ujung gua para penelusur bisa mengunjungi pantai ataupun air terjun yang berada dekat di ujung gua Sumber: Foto cholidpoetra.wordpress.com 10. Arum Jeram Padegolan Wisata arum jeram ini bisa di mulai dari Desa Sendang Dalem, Kecamatan Prembun, kawasan Waduk Lintang Kebumen dan dengan lokasi finish berada du Bendungan Pejengkolan. Karateristik sungainya sendiri berkelok-kelok dengan dihiasi batu-batu besar dan arus yang lumayan deras bakal membuat adrenalin para penelusur naik! Sumber: Foto greensty.org Bagaimana? tertarik untuk liburan dan telusuri wisata di kebumen dengan berbagai macam keindahan dan keunikannya? Ayo ajak keluarga, teman, pacar, atau siapalah untuk kesini!! Ayo Kunjungi Indonesiamu!     Sumber: Artikel telusurindonesia.com Foto kebumeninda.blogspot.com
...more

Letusan Krakatau, Kramat Karam, dan Klenteng Tjoe Soe Kong

TripTrus.Com - "emak, bapak si nona mati, sayang disayang tiap malam saya tangisin, Kramat Karem ada lagunya", tiga kalimat tersebut adalah lirik Keramat Karam, lagu yang dinyanyikan almarhum Masnah Pang Tjin Nio dengan iringan Gambang Kromong (GK) Naga Mustika. Lagu itu mengabadikan saat-saat ketika sekujur kawasan pantai Tangerang dilanda tsunami akibat letusan Gunung Krakatau. Tidak diketahui siapa pencipta lagu ini. Cerita tutur masyarakat Tionghoa Tangerang, atau Cina Benteng, menyebutkan lagu itu muncul tidak lama setelah tsunami melanda sekujur kawasan pantai dan menewaskan banyak orang.       View this post on Instagram Nothing can dim the light, which shines from within.. A post shared by Emma ( I am a nature lover ) (@tinjj88) onJul 30, 2017 at 9:25pm PDT Versi lain lagu ini digubah Sanusi dan dinyanyikan dengan irama ragtime Orkes Kerontjong Sinar Djakarta. Yang membedakan, versi gambang keromong mendayu-dayu, versi keroncong agak sedikit menghentak. Liriknya juga relatif berbeda. Cerita tentang letusan Gunung Krakatau 1883 dan dampaknya terhadap kawasan pantai Tangerang dan Batavia terekam dalam cerita tutur di Klenteng Tjoe Soe Kong dan ditulis Tio Tek Hong dalam buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe. Tjoe Soe Kong adalah klenteng tertua di Tangerang. Letaknya di Kampung Tanjung Kait, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Warga sekitar, terutama keturunan Tionghoa Benteng, lebih suka menyebutnya Klenteng Tanjung Kait. Sedangkan nama lain klenteng ini adalah Rong Jia Yi Da Bo Gong Miao dan Qing Shui Zhu Sui. Buku saku yang dikeluarkan pengelola menyebutkan Klenteng Tjoe Soe Kong dibangun akhir abad ke-17. Andries Teisseire, pedagang gula Belanda yang mencari komoditas sampai ke Tangerang, menulis adanya klenteng ini saat berkunjung ke Tanjung Kait tahun 1792. Informasi resmi menyebutkan klenteng dibangun imigran dari Propinsi Anxi, Hokkian, Tiongkok Selatan. Semula, klenteng dibangun dengan sangat sederhana, dan menjadi daya tarik setelah mendapat banyak sumbangan benda-benda khas klenteng dari pedagang-pedagang Cina di Batavia. Berbeda dari kebanyakan klenteng di pesisir Pulau Jawa, Klenteng Tjoe Soe Kong tidak dibangun untuk menghormati dewa, tapi seorang shinshe yang hidup di era Dinasti Song. Tjoe Soe Kong, nama tabib itu, berasal dari Propinsi Cuanciu, Propinsi Hokkian. Selama hidup, Soe Kong mengabdikan diri untuk mengobati penduduk yang sakit. Ia mendatangi rumah-rumah penduduk yang sakit, mengobati, dan memberi obat, tapi tak pernah mau diberi imbalan. Versi lain menyebutkan Tjoe So Kong lahir saat Cina diperintah Kaisra Ren Cong dari Dinasti Song. Tahun 1083, wilayah Anxi dilanda kekeringan parah. Tjoe Soe Kong memimpin upacara meminta hujan, dan berhasil. Ia diminta menetap di Anxi, tepat di kaki Gunung Peng Lai. Setelah meningal, masyarakat Anxi yang petani tebu mendirikan klenteng untuk menghormati Tjoe Soe Kong. Di Mauk, masyarakat Tionghoa -- yang juga menanam tebu dan membuat gula -- mendirikan klenteng yang sama. Semula, Klenteng Tjoe Soe Kong di Mauk berupa gubuk tapi menjadi bukti masyarakat yang mapan. Klenteng menjadi pusat pertemuan komunitas Tionghoa di Mauk dan kampung-kampung lain sepanjang pantai Tangerang. [Baca juga : "Menjelajahi Pesona White Sand Island Bintan Yang Memukau"] Tahun 1883, saat Gunung Krakatau meletus, Klenteng Tjoe Soe Kong adalah satu-satunya bangunan selamat dari tsunami. Rumah-rumah penduduk di sekitar klenteng tersapu air bah. Banyak keluarga kehilangan orang tercinta. Seorang seniman orkes gambang, saat itu gambang belum dikenal, mengabadikannya dalam lagu berjudul Kramat Karam atau Gambang Kramat. Wirya Dharma, sesepuh warga Tionghoa Mauk dan generasi kelima imigran asal Anxi, mengatakan klenteng direnovasi tahun 1959 oleh Lim Tiang Pah -- anak Lim Tju Ban, anak Lim Tjeng Houw yang selamat dari tsunami karena berlindung di klenteng. Kini, klenteng diperbesar, indah, dan menjadi salah satu tempat wisata di Tangerang. Penduduk juga membangun altar untuk Hok Tek Ceng Sin, dewa bumi yang banyak dipuja penduduk Tionghoa di pesisir Pulau Jawa. Ada pula altar untuk Embah Rachman, Empe Dato, dan Dewi Neng. Bagian belakang klenteng adalah vihara Buddha. Pada hari-hari tertentu, klenteng menggelar acara yang dihadiri warga dari luar Tangerang. Klenteng Tjoe Soe Kong juga saksi bisu Pembantaian Cina 1740 di Batavia. Saat itu, ratusan warga Tionghoa Batavia yang selamat melarikan diri ke Mauk. Sebagian menetap, dan lainnya melanjutkan pelarian sampai ke seberang Sungai Cisadane dan menetap di desa-desa di Kecamatan Panongan saat ini. (Sumber: Artikel sportourism.id Foto onthehardway.blogspot.com)
...more

Candra Naya, Cagar Budaya yang Terhimpit Gedung Pencakar Langit

TripTrus.Com - Ada sekelumit cerita bangsa Tiongkok di rumah ini. Candra Naya namanya. Bangunan yang terletak di Jakarta Barat ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang dimiliki Indonesia. Ada yang menarik dari bangunan ini. Siapa saja akan terdiam sesaat ketika pertama kali melihatnya. Penasaran, mari kita cari tahu apa yang membuat pengunjung itu tak mampu berkata-kata.   ini yg namanya harmonis. kekunoan bersatu dgn kekinian, perbedaan yg tajam ini bersanding keren di #chandranaya jalan gajah mada, #jakarta barat. . met #imlek2018 buat sahabat yang merayakan.. semoga berbahagia dan doa serta harapannya bisa terwujud.. Aamiin A post shared by si yepe (@kuncir.dua.tanpa.pita) onFeb 15, 2018 at 6:31pm PST Candra Naya begitu ia dikenal, merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An. Ia adalah Mayor Tionghoa yang terakhir di Batavia, pada pemerintahan tahun 1910-1918 dan diangkat kembali pada tahun 1927-1942. Tidak ada catatan pasti yang menandakan tahun pendiriannya, tapi diperkirakan Candra Naya didirikan sekitar tahun Dingmao (kelinci api), yaitu tahun 1807 oleh Khouw Tian Sek dalam rangka menyambut kelahiran anaknya yang bernama Khouw Tjeng Tjoan setahun kemudian. Namun adapula versi lainnya yang menceritakan bahwa yang membangun Candra Naya ini adalah Khouw Tjeng Tjoan pada tahun 1867 dan masih masuk kedalam tahun Dingmao. [Baca juga : Menelusuri Kawasan Glodok Sebagai Kota Pecinan] Khouw Tian Sek adalah seorang tuan tanah yang memiliki tiga orang putra dan masing-masing diberikan satu buah gedung. Salah satunya adalah Khouw Tjeng Tjoan yang mendapatkan gedung Candra Naya di Jalan Gajah Mada 188 Jakarta Barat. Ia menggunakan Candra Naya sebagai kantor sekaligus tempat tinggalnya. Rumah itu kemudian diwariskan kepada salah satu anaknya yang bernama Khouw Kim An yang lahir di Batavia pada 5 Juni 1876. Sejak diangkatnya Khouw Kim An sebagai Mayor Tionghoa, maka rumah itu dikenal juga dengan sebutan Rumah Mayor. Khouw Kim An mulai menempati gedung Candra Naya pada tahun 1934, setelah sebelumnya tinggal di Bogor. Desain arsitektur rumah Candra Naya sangat kental dengan budaya Tiongkok. Pada bagian atapnya melengkung yang kedua ujungnya terbelah dua. Bentuk seperti ini disebut “Yanwei” atau ekor walet. Struktur atap yang melengkung ini juga terdapat pada bangunan kelenteng yang menandakan status sosial penghuninya. Kemudian, pada pemisah antara halaman depan dan halaman samping terdapat jendela penghubung yang disebut jendela bulan atau moon gate. Secara keseluruhan bangunan Candra Naya ini terdiri dari ruang tamu, ruang semi pribadi, ruang pribadi, ruang pelayan dan halaman. Sedangkan untuk ornamennya yang menempel ada Ba Gua (Delapan Diagram) yang berupa pengetuk pintu berbentuk segi delapan untuk penolak bala, hiasan berupa jamur lingzhipada pintu masuk utama yang melambangkan umur panjang dan ragam hias bergambar buku, papan catur, kecapi serta gulungan lukisan di bagian atas teras depan yang melambangkan sang pemilik rumah adalah seorang cendekiawan (scholar) juga seorang hartawan. Candra Naya terletak di Jl Gajah Mada No 188, Jakarta Barat. Rumah Mayor ini kini diapit oleh gedung-gedung pencakar langit di komplek bangunan Green Central City. Ada Hotel Novotel yang menjulang tinggi disebelah kiri dan waralaba 711 di sebelah kanan. Dilihat dari bagian depan, Candra Naya tampak begitu kecil di antara bangunan-bangunan raksasa yang berada di sekelilingnya. Meskipun ukurannya tidak begitu besar, tapi Candra Naya seperti magnet bagi siapa saja yang melihatnya. Dengan gaya arsitektur tiongkok kuno, rumah ini begitu terlihat mencolok diantara yang lain. Terlebih lagi dengan gaya arsitekturnya yang manawan. Kondisi inilah yang membuat siapa saja yang melihatnya seakan terdiam sesaat. Siapa sangka di antara kompleks hotel bintang lima, terselip bangunan bersejarah. Jika Anda ingin berkunjung ke Candra Naya dapat menggunakan bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M – Kota.  (Sumber: Artikel jakarta.panduanwisata.id, Foto flickr.com)
...more

Jangan Khawatir, Traveling dengan Keluarga Sebenarnya Tidak Ribet Kok!

TripTrus.Com - Pergi traveling dengan keluarga bisa menjadi momen yang sangat menyenangkan. Tapi, bisa jadi super ribet juga. Berbeda dengan traveling bersama teman, traveling dengan keluarga lebih kompleks karena adanya perbedaan generasi, perbedaan selera, dan perbedaan kemampuan fisik.   Kedua kalinya, dan ibu d paringi sehat... sehat trs nggih bu. #borobudurtemple #liburankeluargabesar A post shared by Mom Eva05 (@evavanezie6273) onDec 28, 2017 at 8:37am PST "Agar momen traveling dengan keluarga bisa tetap nyaman dan menyenangkan, Anda harus bisa menempatkan diri sebagai orang yang bisa diandalkan selama traveling." Anggota keluarga yang masih dianggap muda biasanya memang diharapkan untuk membuat kegiatan traveling keluarga jadi seru. Oleh sebab itu, cek tips-tips di bawah ini, ya! 1. Buat Rencana Perjalanan Rencana perjalanan sudah pasti dibutuhkan setiap kali Anda pergi traveling. Namun, jika pergi traveling dengan keluarga, pastikan rencana yang Anda buat sudah benar-benar rinci! Rencanakan sejak sebelum berangkat, tempat apa saja yang akan dikunjungi dan kegiatan per harinya. Tak ada salahnya mencari terlebih dahulu di mesin pencari Google soal tempat-tempat yang akan dikunjungi tersebut, mulai dari lokasinya, transportasi apa yang akan digunakan, hingga harga tiket masuknya. Hal ini perlu dilakukan agar tak membuang waktu saat sampai di tujuan dan tidak membuat anggota keluarga yang lain ikut bingung. Spontanitas bukan hal yang cocok untuk dilakukan saat traveling bersama keluarga. 2. Sesuaikan Tempat Tujuan Orang tua, orang dewasa, dan anak kecil memiliki selera yang berbeda ketika pergi traveling. Nah, pastikan tidak ada yang boleh egois dalam menentukan tempat tujuan, ya! Pilihlah tempat-tempat wisata yang family-friendly. Misalnya, berkeliling di taman wisata lebih cocok untuk keluarga dibandingkan mencoba olahraga ekstrem. Hindari juga tempat-tempat yang terlalu luas, banyak tanjakan, atau banyak anak tangga agar orang tua dan anak kecil tidak kelelahan, kecuali jika ada fasilitas khusus yang bisa mereka gunakan. Agenda traveling juga jangan terlalu padat, ya! Beri waktu rehat bagi orang tua dan anak kecil. Nikmatilah setiap momennya dengan santai dan penuh kenyamanan. 3. Menentukan Tempat Makan Ketika berkunjung ke suatu tempat, biasanya kita sudah semangat ingin mencoba kuliner lokal khas tempat tersebut atau restoran hits yang ada di sana. Namun, lagi-lagi selera makan keluarga belum tentu cocok mencoba makanan-makanan yang baru. Usahakan untuk mencari tempat makan yang memiliki beragam menu sehingga setiap anggota keluarga mempunyai pilihan makanan yang disuka. Sesekali makan di restoran dengan menu yang familiar dengan makanan di rumah juga tak apa jika Anda tidak ingin repot. Dan jangan lupa, jadwal makan tak boleh terlambat ya! 4. Sediakan Waktu Terpisah Pergi berlibur bersama keluarga bukan berarti harus terus bersama setiap waktu. Berilah agenda untuk pergi sendiri agar tiap individu bisa menikmati suasana di tempat berlibur. Tak perlu yang jauh-jauh, kok! Misalnya, beri sedikit waktu di pagi hari agar orang tua bisa jalan pagi di sekeliling hotel. Waktu ini juga bisa dimanfaatkan untuk melihat toko-toko lokal di sekitarnya dan membeli cenderamata. Anda juga bisa hang outsendiri di malam hari setelah anggota keluarga yang lain sudah duluan beristirahat. 5. Jaga Emosi Meskipun terdengar klise, tapi yang satu ini perlu untuk selalu diingat. Anda bersama keluarga Anda ingin menciptakan banyak kenangan yang indah saat berlibur bersama. Jadi, jangan sampai ada momen yang rusak karena rasa kesal atau marah. Ingatlah bahwa semua hambatan yang dihadapi saat traveling pasti ada solusinya. Jernihkan pikiran Anda dan ajak keluarga untuk bekerja sama ketika mengalami hambatan. (Sumber: Artikel journal.sociolla.com, Foto freepik.com)
...more

Hobi Snorkeling? Pahami Dulu 5 Pantangan Berikut Biar Tidak Merusak Keindahan Alam Bawah Laut!

TRIPTRUS - Jangan ngaku pecinta laut jika masih merusaknya. Laut bukan hanya dinikmati tanpa memikirkan kelestarian biota yang hidup di dalamnya. Laut juga bukan tebu yang dinikmati manisnya setelah sepah kemudian dibuang. Beberapa pantangan berikut wajib kamu ketahui sebelum memutuskan masuk ke dalam laut. Snorkeling merupakan kegiatan air yang sangat menyenangkan. Dengan ini traveler bisa melihat keindahan terumbu karang serta ikan warna-warni yang cantik. Snorkeling biasanya dilakukan di perairan yang dangkal dengan karakteristik ombak yang tenang. Namun tak banyak dari traveler yang memahami aturan mainnya. Berikut Travelingyuk lansir dari Detik Travel 5 pantangan saat snorkeling di laut. 1. Menginjak Terumbu Karang resiko paling besar yang dihadapi para terumbu karang ini adalah kaki-kaki para snorkeler. Bagaimana tidak hampir semua traveler yang berenang di laut baik sengaja maupun tidak sengaja pasti pernah menginjak terumbu karang. Terlebih mereka para pemula yang hanya snorkelingan karena ikut-ikutan tren, mereka tidak peduli atau tidak mau peduli dengan kelestarian alam bawah laut. Menginjak atau menabrak karang sama halnya dengan membunuh mereka. Tabrakan ini bisa terjadi baik saat melakukan kayuhan dengan sepatu katak atau saat berdiri mengambil nafas. Menginjak atau menabrak karang sebetulnya adalah dua hal yang sangat haram dilakukan saat snorkelingan. So, lebih berhati-hati lagi ya saat berenang di atas terumbu karang. 2. Menyentuh atau Menabrak Terumbu Karang Deretan terumbu karang yang tumbuh di perairan dangkal akan terlihat menarik terlebih jika terkena sorotan cahaya matahari. Warna-warni terumbu karang sangat menggoda untuk disentuh. Kebanyakan snorkeler penasaran bagaimana rasanya menyentuh karang di dasar laut tersebut hingga akhirnya baik disengaja atau pun tidak mereka menyentuh terumbu karang tersebut. Padahal sentuhan manusia terhadap terumbu karang dapat meningkatkan potensi kematian pada spesies itu. Kalau sudah mati karang ini akan berubah menjadi cokelat dan tidak indah lagi. So, sebaiknya jika snorkeling cukuplah menikmati keindahan terumbu karang dengan melihat atau memfotonya saja tanpa menyentuhnya langsung. 3. Memberi Makan Ikan Mungkin Anda pernah memperhatikan bagaimana para wisatawan yang melakukan snorkeling, memancing ikan agar mau mendekatinya. Tepat sekali, mereka membawa makanan berupa roti atau mie instan dan menebarkan di wilayah penyelamannya. Kegiatan memberi makan ikan ini memang menyenangkan, ikan-ikan akan datang mengerubungi kita dan saat itu adalah waktu terbaik untuk berfoto-foto. Tapi perlu diketahui bahwa memberi makan ikan akan memberikan efek negatif pada hewan air itu. Mereka akan terbiasa dengan makanan pemberian dan buruknya lagi mereka akan ketergantungan yang berujung pada hilangnya nafsu makan mereka pada makanan alami. Hasilnya mereka akan mati kelaparan karena hal tersebut. 4. Memegang Biota Laut Kadang untuk menujukkan ekspresi snorkeling yang paling kece seseorang rela melakukan hal-hal yang di larang. Melihat teman bisa foto bareng ikan-ikan imut membuat kita termotivasi untuk menyaingi dan melakukan lebih salah satunya dengan tidak hanya berfoto bareng ikan tapi memegangnya pula. Hal ini sebenarnya sangat berbahaya bagi si ikan itu sendiri. Banyak kasus ikan mati di spot snorkeling yang disebabkan oleh manusia yang menangkap dan memainkannya. Seharusnya tidak perlu menyentuh ikan apalagi menangkap dan bermain-main dengan hewan ini. Cukup dekati dari jarak yang aman dan ambil gambar yang bagus dengan kamera kedap air. 5. Buang Sampah ke Laut Biasanya wisatawan yang berenang sambil memberi makan ikan akan membuang sampahnya begitu saja di laut. Sampah ini berasal dari botol plastik yang digunakan sebagai wadah roti atau jajanan lain untuk memberi makan ikan. Mereka malas untuk membawanya lagi hingga ke tepi pantai hasilnya tinggal saja di tengah laut. Tak heran jika beberapa perairan di Indonesia yang menjadi spot snorkeling makin dipenuhi dengan sampah plastik. Sampah yang menumpuk ini akan membuat alam bawah laut rusak parah dan tidak ada yang tersisa untuk generasi yang hidup setelah kita. So, nikmati pantainya tapi jangan merusaknya guys! (Sumber: Artikel travelingyuk.com Foto JKTjalanjalan)
...more

13 Bangunan Bersejarah di Pandeglang

TripTrus.Com - Pandeglang berada di bawah keresidenan Banten, sebagai ibukota dari wilayah Banten Tengah. Meskipun begitu, Pandeglang bukan merupakan sebuah kabupaten, tapi memiliki posisi sebagai daerah administratif yang menentukan dalam perpolitikan pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada saat itu (Dahlan dan Lasmiyati, 2007). Penetapan Pandeglang sebagai sebuah kabupaten terdapat dalam Staatblad Nomor 73 Tahun 1874, tentang pembagian daerah, dalam Ordonansi tanggal 1 April 1874. Dengan demikian, berdasarkan surat keputusan tersebut, Pandeglang merupakan kota yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Hal tersebut diperkuat dengan bukti tinggalan bangunan kolonial yang ada di Kota Pandeglang, yang mengindikasikan bahwa kota ini memiliki tata kota kolonial bentukan pemerintah Hindia Belanda pada masa lalu. 1. Gedung Lembaga Pemasyarakatan Pandeglang Bangunan LP atau Penjara terletak di Jalan Letnan Bolang, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang, dengan jarak tempuh dari Ibu Kota Provinsi Banten berkisar 23 km. Bangunan penjara Pandeglang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 2.000 m2, luas bangunan 40 x 40 m2, dibangun sekitar tahun 1918, seiring berlakunya sistem kepenjaraan di Indonesia. Sebelum tahun 1917 di Indonesia belum mengenal adanya pidana kurungan. Sistem ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dari negara induknya, yakni Belanda. Hal ini sebenarnya merupakan cara pandang kaum liberalis sebagai perwujudan Revolusi Perancis yang sebelumnya memberlakukan hukuman pidana mati, potong tangan, dipukul, ditusuk dengan besi panas dan pidana buangan. Keaslian bangunan masih tampak pada bangunan di dalam komplek. Hanya saja pada pintu gerbang yang terdapat di bagian depan telah terjadi perubahaan, mungkin penggantian ini dikarenakan pertimbangan keamanan karena komponen pintu tersebut sudah mulai lapuk. 2. Eks Gedung Sipir Belanda Di antara bangunan bangunan kuno di sekitar Alun-Alun Menes, bekas gedung Sipir Belanda ini tampak unik dibandingkan bangunan yang sezaman. Bangunan ini termasuk bagian dari bangunan-bangunan kolonial yang masih tersisa yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848. Sisa-sisa dari keseluruhan bangunan masih dapat dilihat di bagian belakang yang masih luas ke belakang. Kepurbakalaan ini berbentuk bujur sangkar dengan luas 20 m x 12 m. Pada bagian muka terdapat dua jendela dan satu buah pintu masuk. Kedua jendela mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yakni berbentuk persegi panjang dengan bentuk lubang angin seperti setengah lingkaran, yang terletak tepat di atas jendela dan di atas pintu masuk. Jendela diberi jeruji vertikal dan lubang angin berbentuk huruf “V” dan berbentuk setengah lingkaran. Terdapat dua tiang semu (pilaster) pada sudut bangunan dan dua pilaster yang mengapit bagian pintu. Pilaster ini memiliki hiasan berupa pelipit-pelipit. Pilaster bentuknya mirip pilar sebenarnya, hanya keletakannya yang menyatu dan menjadi bagian dari dinding. Atap bangunan ditutup genting. Terdapat semacam canopy yang menaungi pintu. Bangunan ini berada di Jalan Alun-Alun Barat Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan Menes dengan jarak tempuh sekitar 51 km dari Ibu Kota Provinsi, atau kurang lebih 28 km apabila ditempuh dari Kota Pandeglang. 3. Eks Gedung Kewedanaan Labuan Bangunan Gedung Kewedanaan Labuan terletak di Jalan Pegadean, Kelurahan Labuan, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Fungsinya sekarang adalah sebagai gedung serbaguna. Jarak tempuh untuk mencapai ke lokasi sekitar 64 km dari pusat Ibu Kota Provinsi Banten dan hanya ditempuh 41 km dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang. Bangunan ini berdiri di atas lahan ± 1000 m2. Luas bangunan 20 m x 22 m.  Berbentuk bujur sangkar, yang merupakan salah satu ciri arsitektur masa kolonial, sehingga bila terlihat tampak muka, simetris yang kokoh. Denah simetris ini memberikan kemudahan untuk melakukan penambahan pada samping bangunan. Bentuk bangunan ini berbentuk sederhana bergaya joglo dan memiliki sudut lancip di tengahnya. Penutup atap terbuat dari genteng. Pada bagian badan terdapat jendela dan pintu berukuran besar. Pada setiap dua jendela kaca terdapat daun jendela yang terbuat dari susunan kayu horisontal (jalosie window) sebanyak 4 buah pada masing-masing sisi bangunan. Tiga perempat daun pintu berbentuk jalosie window, sementara seperempat bagian bawah dihias motif panel persegi empat. 4. Gedung Pendopo Kecamatan Menes Bangunan yang terletak di Jalan Alun-alun Timur Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan menes, Kabupaten Pandeglang ini sekarang berfungsi sebagai gedung serba guna. Peruntukkan awal bangunan ini adalah untuk persiapan gedung dinas Bupati Caringin. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tua yang masih tersisa dari beberapa bangunan kolonial yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848. Untuk menuju ke lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, dengan jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 51 km atau hanya sekitar 28 km dari Ibu Kota Kabupaten pandeglang. Arsitektur bangunan bekas Kewedanaan Menes ini merupakan gabungan antara arsitektur lokal berupa bangunan pendopo dan arsitektur kolonial yang diwakili oleh tembok-tembok berukuran tebal dan tinggi. Bangunan ini memiliki ukuran luas 20 m x 22 m. Arsitektur lokal terlihat pada bentuk atapnya yang memanjang, yang biasa disebut dengan istilah limasan. Bentuk atap seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan berarsitektur jawa. Terdapat dua bangunan tambahan pada bagian depan, yakni bangunan serambi, dan yang kedua menyerupai bantuk seperti koridor dan menyatu dengan bangunan utama. bangunan ini didirikan pada pondasi yang kokoh dan masif, terdapat tiga terap tangga untuk naik ke bangunan ini. Sisi-sisi atap diberi lisplang yang berfungsi sebagai penutup tiris berbentuk mata tombak. Beberapa tiang ukuran kecil menopang atap bangunan. Bangunan ini berfungsi sebagai gedung dinas Camat kecamatan Menes. Mempunyai kesamaan bentuk dan arsitektur yang terdapat pada gedung Pendopo Kecamatan Pandeglang, gedung pendopo Kawedanaan Menes dan gedung Pendopo Kecamatan Saketi. Luas kawasan Kecamatan Menes ini ± 500 m2. Di depan bangunan utama terdapat sebuah bangunan berbentuk joglo bertiang dua belas buah tiang kecil. Bangunan ini tidak berdinding penuh, dinding terdapat pada tiap sudut bangunan yang masing-masing menempel pada tiga tiang. Sementara bangunan utama mempunyai empat persegi dan pada puncaknya terdapat limas. Bangunan ini mempunyai dinding pada setiap sisinya. Sebagian dinding bagian bawahnya diberi lapisan batu andesit. Sampai  saat ini tanggal pendirian bangunan belum diketahui, karena belum ada sumber-sumber yang memadai. Tetapi diperkirakan sekitar tahun 1848, se zaman dengan bangunan pemerintahan kolonial yang ada di wilayah Menes. 5. Eks Gedung Pendopo Kewedanaan Menes Bangunan yang terletak di Jalan Alun-alun Timur Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan menes, Kabupaten Pandeglang ini sekarang berfungsi sebagai gedung serba guna. Peruntukkan awal bangunan ini adalah untuk persiapan gedung dinas Bupati Caringin. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tua yang masih tersisa dari beberapa bangunan kolonial yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848. Untuk menuju ke lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, dengan jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 51 km atau hanya sekitar 28 km dari Ibu Kota Kabupaten pandeglang. Arsitektur bangunan bekas Kewedanaan Menes ini merupakan gabungan antara arsitektur lokal berupa bangunan pendopo dan arsitektur kolonial yang diwakili oleh tembok-tembok berukuran tebal dan tinggi. Bangunan ini memiliki ukuran luas 20 m x 22 m. Arsitektur lokal terlihat pada bentuk atapnya yang memanjang, yang biasa disebut dengan istilah limasan. Bentuk atap seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan berarsitektur jawa. Terdapat dua bangunan tambahan pada bagian depan, yakni bangunan serambi, dan yang kedua menyerupai bantuk seperti koridor dan menyatu dengan bangunan utama. bangunan ini didirikan pada pondasi yang kokoh dan masif, terdapat tiga terap tangga untuk naik ke bangunan ini. Sisi-sisi atap diberi lisplang yang berfungsi sebagai penutup tiris berbentuk mata tombak. Beberapa tiang ukuran kecil menopang atap bangunan. 6. Gedung Kodim 0601 Pandeglang Gedung Kodim 0601 Pandeglang terletak di jl. alun-alun No. 2 Pandeglang. Adapun ciri-ciri arsitektural kolonial yang dapat ditemui pada bangunan ini yang sudah menjadi ciri umum bangunan masa kolonial antara lain: model atap yang rendah, dengan satu buah pintu masuk depan dan komposisi vertikal, dibangun pada tahun 1918. Bangunan ini mempunyai denah bujur sangkar dengan 4 terap anak tangga dan pondasi yang masif. Atap bangunan ini berbentuk atap limasan, namun iirisan gambar atapnya memiliki sudut lancip pada bagian atas dan luas atap hanya sedikit luas jika dibandingkan dengan luas dinding. Terdapat semacam atap tambahan yang menaungi bagian teras dan beberapa jendela, diduga bagian ini berfungsi sebagai pelindung dari tempias hujan. Pada bagian depan bangunan terdapat 4 buah pilar yan bergaya tuscan. di keempat sudut bangunan luar terdapat 4 pilar penopang. Secara umum dapat dikatakan bahwa bangunan ini bergaya arsitektur neo-klasik. 7. Eks Gedung Pendopo Kecamatan Saketi Gedung ini beralamat di Jalan Raya Labuan, Kelurahan Purwasari, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. Jarak tempuh dari Ibu Kota Provinsi sekitar 42 km, sementara jarak tempuh dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang ± 19 km. Keadaan bangunan ini sudah tidak terawat dan sebagian sudah mulai mengalami kerusakan. Luas bangunan sekitar 12 m x 18 m persegi. Bentuk atap bangunan ini menyerupai bentuk atap gedung bekas pendopo Kecamatan Pandeglang, yaitu atap limasan. Bangunan ini dulu berfungsi sebagai kantor Kecamatan yang kini menghuni gedung baru. Sebagai bangunan yang memiliki gaya yang khas pada masanya, bangunan ini menjadi penting artinya bagi ilmu pengetahuan. Tampaknya bentuk atap limasan pernah menjadi model arsitektur atap rumah pada sekitar tahun 1847-an, hal ini mungkin disesuaikan dengan keadaan iklim di Indonesia. 8. Eks Rumah Dinas Komisaris Polisi Rumah ini terletak di jalan Alun-alun Barat Menes, Kelurahan Purwareja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Jarak tempuh dari pusat Ibu Kota Provinsi sekitar 51 km atau 28 km dari Ibu Kota kabupaten Pandeglang. Semula berfungsi sebagai rumah Dinas Komisaris Polisi pada masa pemerintahan kolonial. Diperkirakan bangunan ini didirikan pada tahun 1848-an. Bangunan ini merupakan living monument dengan kondisi pemeliharaan cukup baik, sejak dibangun hingga sekarang belum mengalami perubahan maupun pemugaran yang sifatnya mendasar. Luas tanah yang ditempati oleh bangunan ini seluas ± 400 m2. Sementara luas bangunan 14 m x 12 m. Sekarang bangunan ini masih dipergunakan untuk rumah tinggal Kepala POLSEK Kecamatan Menes.  Bentuk denah bangunan ini bujur sangkar, dengan bentuk atap limasan. Pada bagian belakang terdapat beberapa bangunan tambahan yang tampaknya merupakan bangunan pelengkap. Jarak tempuh dari pusat Ibu Kota Provinsi sekitar 51 km atau 28 km dari Ibu Kota kabupaten Pandeglang. 9. Eks Gedung Pendopo Kecamatan Pandeglang Bangunan yang langka dan unik ini merupakan bangunan pendopo Kecamatan Pandeglang. Terletak di Jalan Letnan Bolang, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang. Dari pusat Ibu Kota Provinsi Banten untuk ke lokasi ini harus menempuh jarak sekitar 23 km, sedangkan jarak tempuh dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang 0,5 km. Bangunan ini tampak menonjol dibandingkan dengan bangunan lain yang ada disekitarnya. Keunikan yang menonjol tampak dari bentuk atap bangunan yang berbentuk limasan dan mempunyai ukuran cukup besar. Bentuk atap seperti ini dipengaruhi oleh arsitektur venakular Jawa. Di bagian depan terdapat bangunan tambahan yang disangga oleh dua tiang polos. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 500 meter persegi dengan luas bangunan ± 12 m x 18 m ini dibangun sekitar tahun 1848 dengan peruntukkan awal sebagai gedung dinas camat, sekarang dimanfaatkan sebagai kantor Dinas PU Pandeglang Bidang Kebersihan. Keadaan bangunan relatif cukup baik dan terpelihara karena masih terus dipergunakan. [Baca juga : "3 Bangunan Bersejarah Di Tangerang Yang Harus Dikunjungi"] 10. Eks Gedung Pendopo Kewedanaan Pandeglang Letak gedung ini di jalan KH. Abdul Halim, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang tepat di pusat Kota Pandeglang, yang berjarak sekitar 23 km dari Pusat Ibu Kota Provinsi Banten. Semula gedung ini digunakan sebagai gedung dinas wedana. Berdiri di atas lahan seluas ± 1500 m2 dengan luas bangunan ± 20 m x 10 m.  Ditopang oleh pondasimasif setinggi 40 cm yang terbuat dari batu bata. Atap bangunan berbentuk limasan, terdapat bagian mirip entablatur di bagian atas. Pada bagian muka terdapat selasar yang diberi atap tambahan. Daun jendela dandaun pintu gedung ini berukuran besar dengan engsel dorong. Bangunan ini diperkirakan berdiri sekitar tahun 1848. Kini gedung yang telah direhabilitasi pada tahun 2004 berada dalam lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pandeglang beralih pusat sebagai Bale Budaya. 11. Masjid Jami Al Khusaeni Carita       View this post on Instagram Bulit in 1889M #masjidalkhusaericarita A post shared by Budi Hartono (@bharton88) onMay 11, 2018 at 5:24pm PDT Ruang utama masjid ini dibatasi dinding pada keempat sisinya. Pintu terdapat pada sisi timur, utara dan selatan yang menghubungkan ruang utama dengan ruang serambi di sisi timur. Pada dinding sisi barat terdapat mihrab yang di sisi kanannya terdapat mimbar. Masjid Carita memiliki bentuk atap bertingkat atau tumpang yang berjumlah empat tingkatan. Atap tingkat keekmpat memiliki pagar langkan pada keempat sisinya. Puncak atap Masjid Carita ditutupi oleh sebuah mustoko. Seluruh kerangka atap ditutup oleh genting dan pada bagian lisplangnya terdapat deretan hiasan motif tumpal. Masjid Carita memiliki serambi pada keempat sisinya, yaitu serambi timur, utara dan selatan (serambi terbuka), sisi barat dan utara (serambi terbuka). 12. Masjid Salafiah Caringin       View this post on Instagram Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Photo : Masjid Agung Syekh Asnawi Sejarah : https://disbudpar.bantenprov.go.id/read/historic-mosque/626/MASJID-AGUNG-CARINGIN #pandeglang #explorepandeglang #explorebanten #banten A post shared by Labuan & Sekitar (@infolabuan) onJun 6, 2016 at 11:41pm PDT Didirikan sekitar tahun 1884 oleh penduduk Caringin secara bergotong royong yang dipimpin oleh Ulama Syekh Asnawi. Tidak jauh dari Masjid Caringin terdapat makam KH. Muhammad Asnawi (Syekh Asnawi bin Abdul Rohman) yang wafat pada tahun 1356 H (1937 M) yang terletak di tepi pantai, Desa Caringin , Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Dari Ibukota Privinsi Banten berjarak sekitar 66 km atau 43 km dari kota Pandeglang. 13. Menara Air Kota Pandeglang Menara Air ini terletak di Jl. Ciwasiat, Kelurahan Pandeglang Kecamatan Pandeglang tidak jahu dari bangunan Mesjid Agung Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, jarak tempuh untuk mencapai ke lokasi ini sekitar 25 km dari pusat Ibu Kota Provinsi Banten, Serang. Bangunan ini berbentuk slindrik yang berfungsi sebagai menara air (water tower) tinggi bangunan ini sekitar 25 meter dengan diameter 4 meter. Bangunan ini dibagi dua bagian, bagian bawah terbuat dari batu kali yang disusun sedemikian rupa terdapat pintu masuk yang terbuat dari besi dengan dua daun pintu yang dibingkai dengan lengkung sempurna. Bagian atas berbentuk slindrik terbuat dari bahan semen. Bagaian atas digunakan untuk penampung air. Bangunan ini dibangun pada tahun 1884. (Sumber: Artikel humaspdg.wordpress.com Foto kabar-banten.com)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography
×

...