TripTrus.Com - Ditengah hingar-bingar DKI Jakarta, masih banyak berdiri bangunan-bangunan bersejarah, salah satunya adalah Masjid. Berikut ini beberapa Masjid tua dan bersejarah yang masih kokoh berdiri di tengah angkuhnya ibu kota :
1. Masjid Jami' Al-Anwar, Angke
View this post on Instagram
Masjid yg didirikan oleh seorang muslimah tionghoa yg bergaya hindu Bali, Eropa dan tionghoa pada tahun 1700-an. . Sudah menjadi cagar alam nasional sejak thn 1993 . #wisataedukasi #wisatakemasjid #wisatasekolah #masjid #masjidjamiangke @wisatasekolah
A post shared by shinta aryani dewi (@_shintaad) onJun 1, 2018 at 11:00pm PDT
Sejarah pendirian masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa di zaman Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741), beberapa kali terjadi ketegangan antara VOC dengan rakyat dan orang Tionghoa. Ketegangan memuncak pada tahun 1740 ketika orang-orang Tionghoa bersenjata menyusup dan menyerang Batavia. Karena kejadian ini, sang jenderal sangat marah dan memerintahkan pembunuhan massal terhadap orang-orang Tionghoa. Peristiwa ini diketahui Pemerintah Belanda, sang jenderal dimintai pertanggungjawaban dan dianggap sebagai gubernur jenderal tercela. Akibatnya, ia kemudian dipenjarakan Pemerintah Belanda pada tahun 1741. Dan tak lama kemudian sang jenderal pun akhirnya mati di penjara.
Sewaktu terjadi pembunuhan massal itu, sebagian orang Tionghoa yang sempat bersembunyi dilindungi oleh orang-orang Islam dari Banten, dan hidup bersama hingga tahun 1751. Mereka inilah yang kemudian mendirikan Masjid Angke pada tahun 1761 sebagai tempat beribadah dan markas para pejuang menentang penjajah Belanda. Masjid konon juga sering dipakai sebagai tempat perundingan para pejuang dari Banten dan Cirebon.
Berdasarkan sumber Oud Batavia karya Dr F Dehan, masjid didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya’ban 1174 H yang bertepatan dengan tanggal 2 April 1761 M oleh seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim dari Tartar bernama Ny. Tan Nio yang bersuamikan orang Banten, dan masih ada hubungannya dengan Ong Tin Nio, istri Syarif Hidayatullah. Arsitek pembangunan masjid ini adalah Syaikh Liong Tan, dengan dukungan dana dari Ny. Tan Nio. Makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Jami Angke, yang berada di bagian belakang Masjid Jami Angke.
Menurut sejarawan Heuken dalam bukunya Historical Sights of Jakarta, kampung di sekitar Masjid Angke dulu disebut Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu. Kampung tersebut didirikan tahun 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia, sebagian dijual oleh raja mereka sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan kelompok lain lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi. Selama puluhan tahun orang-orang Bali menjadi kelompok terbesar kedua dari antara penduduk Batavia (A Heuken SJ, 1997:166).
Selain orang-orang Bali, kampung sekitar masjid dulunya juga banyak dihuni masyarakat Banten dan etnis Tionghoa. Mereka pernah tinggal bersama di sini sejak peristiwa pembunuhan massal masyarakat keturunan Tionghoa oleh Belanda. Bahkan jika kita berkunjung ke tempat tersebut saat ini, akan kita lihat masih banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di perkampungan tersebut.
2. Masjid Jami Tambora, Tambora
View this post on Instagram
With mosques, it's often difficult to guess if they're old or new. Some people get overzealous with upgrading or renovating them. Little expansion here, adding ceramic panels there, and the mosques look totally unrecognisable from the original. I'd thought that Masjid Jami Tambora (pictured above) and Tangerang's Masjid Jami Kalipasir were built pretty recently, perhaps in the last 30 or 40 years. It wasn't until I saw signs in front of the mosques that I came to understand that both were actually built in the 18th century.
A post shared by Heru Santoso (@sirhumphreyappleby) onFeb 3, 2019 at 6:23am PST
Masjid Jami Tambora dibangun pada tahun 1181 H (1761 M) oleh Kiai Haji Moestoyib, Ki Daeng, dan kawan-kawan. Mereka berasal dari Makasar dan lama tinggal di Sumbawa tepatnya di kaki Gunung Tambora. Pada tahun 1176 H (1756 M) KH. Moestodijb dan Ki Daeng dikirim ke Batavia oleh Kompeni karena menentang dan dihukum kerja paksa selama lima tahun.
Setelah hukuman selesai mereka tidak kembali ke Sumbawa, tetapi menetap di Kampung Angke Duri (sekarang Tambora) dan berkenalan dengan ulama setempat. Kemudian mereka menemukan ide untuk membangun sebuah masjid sebagai tanda syukur. Lokasinya sengaja dibuat di tepi Kali Krukut karena saat itu air kali masih jernih sehingga bisa dipakai untuk berwudlu.
Sumber lain menyebutkan, konon Masjid Tambora ini dibangun oleh H. Moestoyib, bersama seorang kontraktor Tionghoa Muslim yang berasal dari Makasar pada tahun 1761, kedua Muballigh itu ditahan oleh penguasa Belanda selama kurang lebih 5 Tahun dengan tuduhan makar, tetapi tuduhan itu tidak terbukti dan mereka pun dibebaskan, lalu penguasa Belanda memberikan sebidang tanah di luar tembok Batavia yang kemudian dibangun Masjid Tambora.
Sejak masjid selesai dibangun, peribadatan dimasjid ini dipimpin oleh K.H. Moestoyib sampai wafat. Haji Mustoyib dikuburkan di halaman depan masjid ini demikian pula dengan Ki Daeng. Guna kelanjutan kegiatan masjid setelah mereka wafat maka pada tahun 1256 H (1836 M) pimpinan masjid dialihkan kepada Imam Saiddin sampai wafat. Setelah itu masjid telah mengalami beberapa kali pergantian pimpinan. Terakhir pada tahun 1370 H (1950 M) pimpinan dipegang oleh Mad Supi dan kawan-kawannya dari gang Tambora. Masjid ini diperluas dan dipugar menyeluruh pada tahun 1980.
3. Masjid Jami Almubarak, Krukut
View this post on Instagram
Diantara kebaikan Di bulan Ramadhan adalah menuntut Ilmu
A post shared by arfan latif (@arfan_latif) onJun 2, 2017 at 7:04pm PDT
Masjid Jami Almubarak atau Masjid Krukut adalah salah satu masjid tua di Jakarta, dibangun sesudah tahun 1785 di atas sebidang tanah luasnya 1.000 m2 yang disebut Cobong Baru. Dibangun oleh kaum peranakan Tionghoa di Batavia, setelah memperoleh izin dari Gubemur Jenderal Alting. Izin tersebut diberikan kepada kapitan Cina peranakan (Muslim) yang bernama Tamien Dosol Seeng. Pada abad ke-19 dan abad ke20 masjid ini mengalami perubahan besar. Sebuah mimbar kayu pantas dianggap karya besar seni ukir Tionghoa. Sayang sekali, bentuk ukiran mimbar itu tak tajam lagi akibat dilapisi cat perak tebal pada tahun 1975 dan kini mimbar tersebut raib tak jelas keberada’annya.
Perombakan dan pembangunan total masjid ini dilakukan tahun 1994 14 Januari 1994, diperluas oleh tanah wakaf yang diberikan Syech Abdul Khaliq A Bakhsh dan dilaksanakan oleh Abdul Malik Muhammad Aliun sebagai wakaf untuk umat Islam. Di kawasan Krukut kini sudah hampir tak ada lagi muslim Tionghoa yang bermukim disana dan justru lebih banyak di dominasi muslim keturunan arab.
[Baca juga : "5 Fakta Sejarah Tentang Pulau Penyengat"]
4. Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Kebon Jeruk
View this post on Instagram
Masjid Jami Kebon Jeruk Jakarta Kota Markaz Dakwah dan Tabligh Indonesia Malam Markaz setiap malam jum'at di seluruh dunia #masjidkebonjeruk #malammarkaz #markazdakwahtablighindonesia #dsas #khurujindonesia
A post shared by Jefry Berahim (@jefryberahim) onDec 21, 2018 at 2:07am PST
Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Muslim Tionghoa bernama, Chau Tsien Hwu atau Tschoa atau Kapten Tamien Dosol Seeng di tahun 1786. Beliau adalah salah seorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karena ditindas oleh pemerintah setempat.
Sesampai di Batavia, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak serta tidak terpelihara lagi. Kemudian di tempat tersebut, ia dan teman-temannya, sesama pendatang dari Tiongkok mendirikan mesjid dan diberi nama Masjid Kebon Jeruk. Alasan diberinya nama Masjid Kebon Jeruk, menurut petugas Istiqbal (humas-red) Masjid Kebon Jeruk, Abdul Salam, karena memang pada waktu itu di daerah ini ditumbuhi banyak pohon jeruk.
Jauh sebelumnya, tahun 1448 Masehi, di lokasi ini telah berdiri sebuah mesjid surau atau langgar. Bangunannya bundar, beratap daun nipah, bertiang empat, masing-masing penuh dengan ukiran. Siapa saja pendirinya tidak diketahui. Chan tsin Hwa beserta istrinya Fatima hwu tiba di Batavia pada tahun 1718, dan menetap di daerah Kebon Jeruk sekarang ini. Mereka ini adalah rombongan muhajirin (pengungsi) yang memeluk agama Islam, yang terpaksa meninggalkan negrinya karena terdesak oleh penguasa Dinasti Chien yang menganut agama leluhur mereka, Budha.
Selain nilai historisnya, masjid ini menjadi terkenal karena Masjid Kebon Jeruk sebagai pusat kegiatan tabligh dan dakwah Islam di Indonesia. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini menjadi markas kegiatan Jemaah Tabligh untuk wilayah Indonesia dengan kegiatan jamaahnya adalah melakukan penyebaran Islam dengan mengunjungi berbagai tempat di seluruh nusantara dan berbagai negara.
5. Masjid Az-Zawiyah, Pekojan
View this post on Instagram
Masjid Az Zawiyah adalah salah satu masjid tua yang berada di kawasan Pekojan, Jakarta Barat. Masjid yang terletak di jalan Pekojan Kecil dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas dari Tarim, Yaman Selatan. Biasanya di 10 malam terakhir Ramadhan ada tradisi buka bersama di beberapa masjid tua di Jakarta salah satunya adalah masjid Azzawiyah di setiap tanggal ganjil. Dengan adanya buka bersama ini, terlihat semakin eratnya umat muslim di Indonesia, terbukti tidak dari Jakarta saja yang menghadiri acara buka bersama ini, ada yang dari Jonggol, Bogor, Depok dan sekitarnya. Semoga dengan adanya tradisi seperti ini umat muslim di Indonesia semakin mesra hubungannya dengan sang Maha Pencipta. __ Foto : @sugoroaprian __ #iwashere #bukber #masjidazzawiyah #pekojan #jakarta #detikdetikterakhirramadhan #indonesia
A post shared by Irfan Ramdhani (@ramdhani_irfann) onJun 22, 2017 at 3:28am PDT
Masjid Az-Zawiyah merupakan salah satu masjid tua Jakarta yang berada di kawasan Pekojan. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas pada tahun 1812M, Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Dan juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan kitab “Fathul Mu’in” atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional.
Habib Ahmad bin Hamzah Alatas juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor. Ketika dibangun, masjid ini tidak saja merupakan sebuah bangunan untuk ibadah semata namun juga merupakan tempat penyelenggaraan pendidikan islam. Kini bangunan masjid ini dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.
Masjid Azzawiyah berada tidak jauh dari jalan Pekojan Kecil, awalnya hanya berupa mushola kecil, Mushola ini kemudian diwakafkan hingga sekarang dan kemudian menjadi sebuah masjid. Kawasan Pekojan juga dikenal sebagai Kampung arab meskipun pada awalnya dihuni oleh Muslim dari India. Saat ini di Pekojan terdapat 4 Masjid Jami’ dan 26 mushola beberapa diantaranya sudah eksis sejak era kolonial.
Masjid kecil ini begitu ramai dikunjungi oleh muslim keturunan arab terutama di hari Lebaran hingga hari ketiga. Tepat di depan Mushola ini berdiri rumah tua bergaya Moor, rumah tersebut sekarang ditempati keluarga Saleh Aljufri. Keluarga Saleh Al-Jufri ini adalah salah satu keturunan Arab yang masih tinggal di kawasan Pekojan. (Sumber: Artikel situsbudaya.id Foto bujangmasjid.blogspot.com)
...moreTripTrus.Com - Lo semua yang demen healing ke tempat eksotis, siap-siap deh! Pemerintah Provinsi NTB baru aja ngerilis Calendar of Events 2025 dan isinya tuh bener-bener ngegas banget! Acaranya digelar kece badai di Senggigi, Lombok Barat, rame-rame bareng pejabat, travel agent, dan pelaku industri pariwisata. Pokoknya, vibe-nya udah kayak countdown festival besar gitu, cuy. NTB beneran niat mau bikin 2025 jadi tahunnya pariwisata, dari mulai yang lokal vibes sampe yang kelas dunia.
View this post on Instagram
A post shared by LOMBOK EVENT OFFICIAL (@lombokevent)
1. Alam NTB yang Bikin Lupa Pulang
Lo tau gak sih, kata Pj Gubernur NTB, Hassanudin, NTB tuh punya pesona yang susah banget dijelasin pake kata-kata. Dia sampe bilang, orang yang udah nyampe sana tuh bisa-bisa lupa jalan pulang saking indahnya. Emang bener sih, dari Gunung Rinjani yang udah mendunia, sampai Pulau Moyo yang pernah dijadiin tempat bulan madu sama Putri Diana, semuanya epic parah. Gak cuma itu, ada juga Mandalika, Gunung Tambora, dan Dompu yang pemandangannya bener-bener no debat.
2. Banjir Event, Gak Ada Alasan Gabut di 2025
Tahun depan tuh NTB bakal ngegelar 58 event kece dari berbagai genre. Ada yang fokus ke budaya, olahraga, sampe skala internasional. Jadi kalo lo anaknya suka festival, adventure, atau sekadar nongki kece sambil liat sunset, fix ini surganya lo. Event kayak MotoGP Mandalika, MXGP Indonesia, Bau Nyale Festival sampe Festival Rimpu Mantika di Bima udah disiapin buat manjain lo semua. Yang doyan vibes Ramadhan juga bisa nyicipin Pesona Khazanah Ramadhan—kayak ngabuburit level sultan gitu.
3. Event Internasional, Bukan Kaleng-Kaleng Bro
Kata Kadis Pariwisata NTB, Jamaluddin Maladi, NTB makin serius ngegas di dunia pariwisata global. Mereka udah siapin beberapa event yang skalanya udah internasional, kayak MotoGP sama MXGP. Gak cuma itu doang, ada juga event lokal yang lagi dikurasi buat masuk daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025—macem Perang Topat di Lombok Barat sampe Festival Gili yang vibes-nya tropis abis. Harapannya sih, ini semua bisa jadi referensi kece buat travel agency dan hotel-hotel, biar bisa nyusun paket liburan yang gak receh.
[Baca juga : "April 2025 Bakal Gokil! Festival Di Tiap Kota Bikin Lo Nggak Mau Diem Di Rumah"]
4. Ini Dia Deretan Event yang Bikin Kalender Lo Penuh Terus!
Sepanjang tahun 2025, NTB siap ngasih lo full package acara dari awal sampai akhir tahun. Di bulan Februari aja, lo udah bisa mulai trip lo dengan Merumatta Coast Trail yang cocok buat pencinta alam dan lari-lari manja di pantai. Abis itu, lo bisa lanjut mampir ke Lombok Travel Mart buat liat-liat paket wisata kekinian, terus ada Maen Jaran—event khas NTB yang kental sama budaya lokal. Dan pastinya, Festival Bau Nyale jadi highlight-nya bulan ini, di mana lo bisa liat tradisi turun-temurun sambil nikmatin vibe pantai Lombok yang gak pernah gagal.
Masuk ke bulan Maret, NTB bakal ngadain Gelegar Pesona Khazanah Ramadhan—acara yang bener-bener ngebawa nuansa religi sekaligus budaya lokal jadi satu paket lengkap. April juga gak kalah seru. Ada Festival Lebaran Topat yang unik banget karena cuma ada di Lombok, plus Festival Rimpu Mantika dari Bima yang nunjukin keindahan busana tradisional Rimpu dalam nuansa yang super estetik. Jadi buat lo yang demen culture trip, ini momen yang pas buat eksplor.
Mei juga gak main-main! Buat lo yang suka suasana kreatif dan entrepreneur vibes, ada Wonderpreneur Festival yang isinya anak-anak muda dengan ide bisnis gokil. Trus, buat si pecinta tantangan ekstrem, siap-siap ikut Rinjani 100 Marvelous Trail atau nonton Paragliding Accuracy World Cup yang pastinya bakal bikin jantung lo deg-degan. Nah, Juni lebih chill tapi tetap asik. Ada Festival Betulak, Mataram Classic Fest, Festival Muharram, dan Festival Melala yang semuanya penuh budaya, musik, dan tradisi khas lokal. Cocok banget buat lo yang pengen healing sambil nambah wawasan.
Bulan Juli? Wah, ini sih epic banget. MXGP Indonesia bakal ngeramein NTB dengan motor trail kelas dunia, ditambah Senggigi Lombok Fun Run buat lo yang pengen olahraga santai sambil liat sunset. Ada juga Festival Film Sangkareang, pas banget buat lo yang doyan nonton film indie atau lokal yang punya pesan kuat. Agustus makin panas! MotoGP Mandalika pastinya jadi spotlight-nya, belum lagi Gili Festival yang selalu nyuguhin suasana pantai dengan musik dan kuliner yang gak ada obat. Festival Mutiara Mataram juga wajib masuk list lo, karena isinya gemerlap budaya dan pertunjukan yang keren abis.
Masuk September, lo bisa nikmatin Masbagik Festival yang khas dengan budaya lokal, Samota International Festival buat yang suka event dengan sentuhan internasional, dan Mandalika International Festival yang biasanya penuh performance dan expo seru. Oktober juga gak mau ketinggalan, ada Senggigi Sunset Jazz buat lo yang pengen duduk santai nikmatin musik jazz sambil liat matahari terbenam. Trus ada juga Rinjani Travel Mart yang cocok buat lo cari inspirasi liburan selanjutnya.
November vibes-nya makin chill tapi tetep rame karena ada Mataram Reggae Festival yang pastinya bikin lo pengen goyang santai ala pantai. Dan akhirnya, Desember ditutup dengan dua event yang wajib banget lo datengin: Perang Topat 2025 yang kental dengan budaya unik, dan Sunrise to Sunset Festival buat lo yang pengen nutup tahun dengan penuh warna. Jadi, gak ada alasan buat lo gabut tahun depan—NTB udah siap manjain lo tiap bulan!
5. NTB Gaspol Menuju Destinasi Dunia
Dengan semua persiapan itu, NTB kayaknya serius banget nih buat jadi primadona pariwisata Indo. Gubernur NTB terpilih, Lalu Muhamad Iqbal, juga udah nyatakan komitmennya buat angkat NTB ke level internasional. Harapannya sih, acara-acara kece ini gak cuma buat hiburan semata, tapi juga bisa ngangkat ekonomi lokal dan bikin masyarakat sekitar makin sejahtera. Jadi, liburan lo nanti gak cuma buat healing, tapi juga bantuin roda ekonomi daerah muter makin kenceng. Keren kan?
Kalau lo belum masukin NTB ke wishlist 2025 lo, fix lo ketinggalan tren. Tahun depan, saatnya lo booking tiket, siapin outfit, dan nikmatin NTB dari pagi sampe sunset. Jangan bilang temen lo belum tau—share info ini sekarang juga! (Sumber Foto @veby_senopatisilam)
...moreTRIPTRUS - Sebelum Raden Ajeng Kartini berusia 20 tahun, kaum perempuan diberi kebebasan sebatas macak (merias diri), masak, dan manak (melahirkan). Para perempuan terkungkung dengan berdiam diri di rumah dan menyiapkan seluruh keperluan untuk suami dan anak-anaknya. Tetapi kini, perempuan dan laki-laki bisa bepergian sama jauhnya.
Tidak tampak lagi batasan antara perempuan dan laki-laki soal perjalanan. Pun dengan travelling dengan berkeliling dunia. Emansipasi wanita pun telah melahirkan banyak travel writer yang menginspirasi para pecandu perjalanan untuk pergi lebih jauh. Menularkan semangat untuk melihat dunia lebih luas.
Berikut Okezone rangkum tiga travel writer wanita yang selalu membagi pengalaman perjalanannya ke berbagai belahan dunia melalui buku:
Claudia Kaunang
Perjalanan sepertinya telah mendarah daging pada perempuan kelahiran Jakarta ini. Claudia Kaunang memulai traveling pertamanya sejak bayi.
Claudia menerbitkan buku pertamanya pada tahun 2009 yang berjudul Rp2 Juta Keliling Thailand, Malaysia & Singapura. Keinginannya menulis buku ini berangkat dari rasa ingin membagi pengalaman dan tips berlibur hemat pada traveller,terutama mereka yang senang bepergian dengan budget minim atau backpacker.
Delapan buku lain ciptaannya adalah TraveLove, Rp2,5 Juta Keliling Jepang, Rp3 Juta Keliling Taiwan, Rp2 Juta Keliling Macau, Hong Kong & Shenzhen, Rp500 Ribu Keliling Singapura, 101 Travel Tips & Stories, dan Traveling is Possible (2015).
(Sumber: bambangpurnomohp.blogspot.com)
Melalui buku Traveling is Possible, ia ingin menularkan semangat travelling pada masyarakat. Dalam bukunya ini, ia menuliskan berbagai kalimat inspirasi untuktravelling.
Bagi seorang Claudia Kaunang, travelling bukan hanya soal jalan-jalan, tetapi juga mendekatkan diri kepada Tuhan, belajar memahami karakter masyarakat di suatu negara, belajar lebih peka terhadap lingkungan dan berbagai aspek sosial lainnya.
Windy Ariestanty
Windy adalah seorang travel writer yang telah menulis beberapa buku, termasuk Life Traveler (2011) dan Studying Abroad: Belajar Sambil Berpetualang di Negeri Orang (2007).
Melalui bukunya, Windy berbagi pengalamannya saat travelling. Ia juga mendeskripsikan perjalanan dalam arti yang luas. Tentang menemukan rumah bagi batinnya, tentang menemukan teman dan saudara yang tidak memiliki ikatan darah.
(Sumber: ganlob.com)
Baginya, perjalanan adalah sebuah rumah yang sesungguhnya. Sehingga tidak membuatnya asing meski berada di tempat asing.
“Because travelers never think that they are foreigners,” ujarnya.
Trinity
Trinity mulai dikenal sejak menulis blog The Naked Traveler. Kemudian ia menulis buku dengan judul yang sama.
Sejak saat itu, dirinya menjadi salah satu penulis buku travel terkenal di Indonesia. Bahkan, ia pernah mendapatkan penghargaan sebagai Manusia Inspirasional yang memberi Kontribusi bagi Dunia Pariwisata pada 2010 oleh sebuah majalah travel.
Hingga saat ini, dirinya telah menelurkan delapan buku tentang perjalanan. Tak hanya melalui buku, perempuan kelahiran Sukabumi ini juga kerap membagi pengalaman liburannya melalui akun Twitter-nya, @trinitytraveler.
(Sumber: kompas.com)
Dalam urusan travelling, Trinity bukanlah orang yang senang menikmati perjalanan dengan fasilitas mewah. Ia justru lebih senang bepergian sendiri dengan memilih tempat-tempat terpencil yang menawarkan keindahan alam yang asri dan menenangkan. (Sumber: Artikel okezone.com Foto panduanwisata.id)
...moreTripTrus.Com - Ministry of Tourism and Creative Economy/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) ngasih support buat acara 1st Indonesia Mountain Tourism Conference (IMTC) buat nunjukin potensi wisata gunung yang keren banget di Indonesia.
Nah, buat yang gak tau, acara ini digelar pas hari Pariwisata Dunia, yakni tanggal 27 September nanti. Info ini kita dapet dari "The Weekly Brief With Sandi Uno" yang diadain di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, pada Senin (18/9/2023).
Direktur Wisata Minat Khusus Kemenparekraf/Baparekraf yang akrab disapa Itok Parikesit cerita kalo konferensi keren ini bakal diadain di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk, Jakarta Barat, dan ini juga jadi salah satu side event keketuaan Indonesia di ASEAN.
Dalam pembicaraannya, Itok ngarepin banget konferensi ini bisa jadi kesempatan buat ngerangkul semua pihak di Indonesia buat ngegali potensi wisata gunung yang keren abis. Tau gak, Indonesia punya banyak banget destinasi wisata gunung yang bisa bikin mata kita melek.
"Itu nih, Indonesia punya gunung lebih banyak dari negara lain di dunia, tapi masalah pengelolaan atraksi dan pengunjungnya masih rada ribet. Nah, di konferensi ini, kita bakal undang semua orang penting buat diskusiin cara mengembangkan wisata gunung di Indonesia," kata Itok.
[Baca juga : "Efek Wisata Halal, Jumlah Hotel Syariah Di Indonesia Melejit 500%"]
Nia Niscaya, si Ahli Utama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif dari Kemenparekraf/Baparekraf, nambahin juga kalo selain membahas potensi wisata gunung, konferensi ini juga bakal ngebahas aturan-aturan yang harus diikutin sama para penggemar wisata gunung. Soalnya, wisata gunung jadi favorit banget buat para wisatawan selama pandemi COVID-19, dan trennya masih terus berlanjut.
"Di event ini, kita juga bakal bahas apa yang boleh dan nggak boleh dilakuin sama wisatawan dan pihak-pihak terkait. Semua itu buat bikin wisata gunung jadi sesuatu yang bisa berlanjut terus," kata Nia. (Sumber Foto @infopublik.id)
...moreTripTrus.Com - Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada bulan Maret 2023 mencapai 809,96 ribu kunjungan. Jumlah ini meningkat sebesar 15,39 persen dibandingkan bulan Februari 2023 dan meningkat sebesar 470,37 persen dibandingkan dengan bulan Maret 2022.
View this post on Instagram
A post shared by Bello Bungalow (@bello_bungalow)
Hal ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata di Indonesia terus mengalami peningkatan. Kunjungan wisman pada bulan Maret 2023 didominasi oleh wisman yang berasal dari Malaysia (15,39 persen), Singapura (13,74 persen), dan Australia (11,87 persen), demikian dikatakan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono, dalam sebuah konferensi pers pada Selasa (2/5/2023).
Dalam periode Januari hingga Maret 2023, jumlah kunjungan wisman meningkat sebesar 508,87 persen atau lima kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022. Peningkatan kunjungan ini terutama terjadi di bandara Ngurah Rai dan Soekarno Hatta, masing-masing meningkat sebesar 6.274,83 persen dan 623,78 persen.
[Baca juga : "Desa-Desa Wisata Tertinggi Di Indonesia Dengan Budaya Lokal Yang Menarik"]
Peningkatan aktivitas wisata juga tercermin dari Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Pada bulan Maret 2023, TPK hotel bintang mencapai 46,26 persen, naik 1,11 poin secara tahunan tetapi turun 1,57 poin secara bulanan. Namun, TPK nonbintang pada bulan yang sama mencapai 21,26 persen, turun 0,80 poin secara year-on-year (y-on-y) dan 1,41 poin secara month-to-month (m-to-m). Rata-rata lama tamu menginap di hotel bintang juga meningkat sebesar 0,05 poin dibandingkan tahun lalu, yaitu mencapai 1,67 hari, sebagaimana diungkapkan oleh Margo Yuwono. (Sumber Foto @pustaka_lewi)
...moreTripTrus.Com - Siapa bilang hobi traveling itu adalah hobi yang paling mahal. Bahkan traveling bisa mengobati penyakit yang suatu saat akan mengancam kesehatan Anda.Singkirkan pikiran bahwa traveling itu mahal, karena dengan biaya terjangkau Anda bisa mengeksplorasi tempat-tempat keren yang mungkin belum terjamah. Bonus plusnya Anda juga terbebas dari segala penyakit seperti rematik, obesitas, serangan jantung dan lainnya.Lantas bagaimana bisa hobi seperti itu bisa menyembuhkan penyakit. Sederhana sekali sebenarnya,boys. Tubuh Anda yang bergerak saat berjalan menikmati alam pegunungan atau keindahan kota pastinya akan memacu jantung untuk bekerja lebih baik.Selain itu, dengan jalan kaki lemak yang menumpuk selama beberapa hari bekerja akan terbakar. Dengan berjalan kaki Anda bisa terhindar dari penyakit seperti stroke, kanker, kencing manis, obesitas dan semacamnya. Jadi, jika Anda sedang traveling, pilih saja jalan kaki. Selain hemat juga sehat.Traveling ke pantai pun juga memiliki banyak khasiat. Selain relekasasi menikmati ombak dan deburan pantai, air pantai juga bisa menyembuhkan luka yang Anda alami dengan cara berendam.Air laut yang mengandung garam ternyata telah lama dikenal sebagai media untuk mensterilkan luka dengan efektif. Luka akan bersih dan cepat sembuh setelah terkena air laut. Namun, satu hal yang harus diperhatikan, boys. Usahakan pantai yang Anda kunjungi masih alami dan belum terkontaminasi, sebab air laut saat ini sudah tidak steril lagi.Traveling juga sangat pas bagi penderita asma dengan memilih tempat yang alami dan berudara segar seperti pegunungan ataupun hutan. Isi paru-paru Anda dnegan udara segar yang bebas polusi. Hirup sedalam-dalamnya agar leluasa bernafas. Di Indonesia sendiri daerah pengunungan sangatlah banyak dan mudah dijangkau, tinggal pilih kemana Anda ingin melangkah. (Sumber: Artikel sooperboy.com, Foto jadiberita.com)
...moreTRIPTRUS - Jangan ngaku pecinta laut jika masih merusaknya. Laut bukan hanya dinikmati tanpa memikirkan kelestarian biota yang hidup di dalamnya. Laut juga bukan tebu yang dinikmati manisnya setelah sepah kemudian dibuang. Beberapa pantangan berikut wajib kamu ketahui sebelum memutuskan masuk ke dalam laut.
Snorkeling merupakan kegiatan air yang sangat menyenangkan. Dengan ini traveler bisa melihat keindahan terumbu karang serta ikan warna-warni yang cantik. Snorkeling biasanya dilakukan di perairan yang dangkal dengan karakteristik ombak yang tenang. Namun tak banyak dari traveler yang memahami aturan mainnya. Berikut Travelingyuk lansir dari Detik Travel 5 pantangan saat snorkeling di laut.
1. Menginjak Terumbu Karang
resiko paling besar yang dihadapi para terumbu karang ini adalah kaki-kaki para snorkeler. Bagaimana tidak hampir semua traveler yang berenang di laut baik sengaja maupun tidak sengaja pasti pernah menginjak terumbu karang. Terlebih mereka para pemula yang hanya snorkelingan karena ikut-ikutan tren, mereka tidak peduli atau tidak mau peduli dengan kelestarian alam bawah laut.
Menginjak atau menabrak karang sama halnya dengan membunuh mereka. Tabrakan ini bisa terjadi baik saat melakukan kayuhan dengan sepatu katak atau saat berdiri mengambil nafas. Menginjak atau menabrak karang sebetulnya adalah dua hal yang sangat haram dilakukan saat snorkelingan. So, lebih berhati-hati lagi ya saat berenang di atas terumbu karang.
2. Menyentuh atau Menabrak Terumbu Karang
Deretan terumbu karang yang tumbuh di perairan dangkal akan terlihat menarik terlebih jika terkena sorotan cahaya matahari. Warna-warni terumbu karang sangat menggoda untuk disentuh. Kebanyakan snorkeler penasaran bagaimana rasanya menyentuh karang di dasar laut tersebut hingga akhirnya baik disengaja atau pun tidak mereka menyentuh terumbu karang tersebut.
Padahal sentuhan manusia terhadap terumbu karang dapat meningkatkan potensi kematian pada spesies itu. Kalau sudah mati karang ini akan berubah menjadi cokelat dan tidak indah lagi. So, sebaiknya jika snorkeling cukuplah menikmati keindahan terumbu karang dengan melihat atau memfotonya saja tanpa menyentuhnya langsung.
3. Memberi Makan Ikan
Mungkin Anda pernah memperhatikan bagaimana para wisatawan yang melakukan snorkeling, memancing ikan agar mau mendekatinya. Tepat sekali, mereka membawa makanan berupa roti atau mie instan dan menebarkan di wilayah penyelamannya. Kegiatan memberi makan ikan ini memang menyenangkan, ikan-ikan akan datang mengerubungi kita dan saat itu adalah waktu terbaik untuk berfoto-foto.
Tapi perlu diketahui bahwa memberi makan ikan akan memberikan efek negatif pada hewan air itu. Mereka akan terbiasa dengan makanan pemberian dan buruknya lagi mereka akan ketergantungan yang berujung pada hilangnya nafsu makan mereka pada makanan alami. Hasilnya mereka akan mati kelaparan karena hal tersebut.
4. Memegang Biota Laut
Kadang untuk menujukkan ekspresi snorkeling yang paling kece seseorang rela melakukan hal-hal yang di larang. Melihat teman bisa foto bareng ikan-ikan imut membuat kita termotivasi untuk menyaingi dan melakukan lebih salah satunya dengan tidak hanya berfoto bareng ikan tapi memegangnya pula.
Hal ini sebenarnya sangat berbahaya bagi si ikan itu sendiri. Banyak kasus ikan mati di spot snorkeling yang disebabkan oleh manusia yang menangkap dan memainkannya. Seharusnya tidak perlu menyentuh ikan apalagi menangkap dan bermain-main dengan hewan ini. Cukup dekati dari jarak yang aman dan ambil gambar yang bagus dengan kamera kedap air.
5. Buang Sampah ke Laut
Biasanya wisatawan yang berenang sambil memberi makan ikan akan membuang sampahnya begitu saja di laut. Sampah ini berasal dari botol plastik yang digunakan sebagai wadah roti atau jajanan lain untuk memberi makan ikan. Mereka malas untuk membawanya lagi hingga ke tepi pantai hasilnya tinggal saja di tengah laut.
Tak heran jika beberapa perairan di Indonesia yang menjadi spot snorkeling makin dipenuhi dengan sampah plastik. Sampah yang menumpuk ini akan membuat alam bawah laut rusak parah dan tidak ada yang tersisa untuk generasi yang hidup setelah kita. So, nikmati pantainya tapi jangan merusaknya guys! (Sumber: Artikel travelingyuk.com Foto JKTjalanjalan)
...moreTripTrus.Com - Seperti kembali ke masa lalu!
Setiap kota di Indonesia, tentu memiliki sejarah tersendiri. Kisah-kisah kuno dan historis dari tiap kota bisa dilihat dari bangunan tua di masing-masing daerah. Hebatnya, Indonesia memiliki banyak lokasi dengan nuansa oldies, retro dan vintage.
Kerennya lagi, kota tua di Indonesia cukup banyak. Bagi kamu yang tertarik mengunjungi kota tua di Indonesia, 14 area ini bisa menjadi referensi untuk sesi liburan berikutnya.
1. Kota Tua Bandung
View this post on Instagram
This Uzbek lady is just can’t moving on from Bandung. πΊπΏπ²π¨ #uzbekinindonesia #uzbekindo #uzbekistan
A post shared by Flavia Domitilla Walma Jelena (@walmajelena) onJan 4, 2019 at 7:05pm PST
Bandung adalah salah satu kota yang menjadi saksi perjuangan para pahlawan. Jika ingin berburu nuansa vintage di Bandung, langsung saja menuju Jl. Asia Afrika dan Braga. Banyak bangunan dengan gaya artdeco yang kokoh dan menjadi ciri dari bangunan tua.
Atmosfer retro juga dipertahankan, menjadikan wisata belanja dan wisata kuliner ini lebih menyenangkan untuk dikunjungi. Dijamin, rasanya seperti back to old times.
2. Kota Tua Jakarta
View this post on Instagram
Ada rindu yang selalu jatuh" di terik matahari yang lupa berteduh.. #kotatuajakarta
A post shared by bodim_widiatmoko (@bodimajja01) onJan 6, 2019 at 7:54am PST
Jakarta adalah kota terbesar di Indonesia yang tentu saja ada banyak sejarah di dalamnya. Sisa-sisa Batavia bisa dilihat dengan jelas di beberapa bangunan antik tua, namun tetap indah seperti Jembatan Kota Intan, Museum Bank Indonesia dan Museum Fatahilah yang kini semakin eksotis setelah mendapat sentuhan perbaikan.
Semuanya itu memiliki keunikan tersendiri dan menjadi magnet bagi wisatawan domestik serta mancanegara. Daerah ini juga menjadi salah satu tujuan wisata andalan di Jakarta bagi mereka yang tertarik melihat nuansa oldies dan retro.
3. Kota Tua Kediri
View this post on Instagram
Pecinan Kediri Tipikal kawasan Pecinan di Kediri hampir sama dengan Pecinan di kota lain di Indonesia. Sebuah klenteng yang didominasi warna merah, kuning, dan hijau dibangun di dekat sungai untuk beribadah. Adalah Klenteng Tjoe Hwie Kiong nama dari klenteng tersebut. Klenteng ini sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Selain itu di sekitar klenteng berjajar rumah warga keturunan yang kebanyakan tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal namun juga sebagai toko untuk mencari nafkah. Kegigihan, keuletan, dan sifat pantang menyerah mereka dalam berdagang yang membuat usaha mereka bertahan puluhan tahun. Berbeda dengan kawasan Pecinan lainnya yang satu wilayah dengan pasar besar, Pecinan Kediri ini tidak terletak satu wilayah dengan pasar. Pasar terdekat dengan kawasan Pecinan ini dipisahkan oleh Sungai Brantas. Menyusuri kawasan Pecinan itu seperti sedang menyusuri kota tua. Warga keturunan cenderung mempertahankan model rumah mereka yang lawas. Di kawasan Pecinan Kediri ini, meski bangunan modern juga sudah dibangun, rumah-rumah gaya kolonial hindis/ Indische yang ditandai dengan pilar besar dan kokoh di depan rumah beserta tiga pintu dengan masing-masing memiliki dua daun pintu masih bisa ditemui. Pintu bergaya China Hindia yang terdiri dari dua lapis pintu dengan salah satu pintu lebih rendah juga masih ada. Sayangnya di beberapa toko rumah yang sudah tidak dipakai sudah "dihiasi" vandalisme π₯ Kediri City Tour di sepanjang kawasan Pecinan Kediri merupakan potensi wisata yang bagus. Kita tidak hanya jalan-jalan melepas penat tapi juga sambil belajar sejarah dan budaya. Kita juga bisa menikmati kuliner khas Kediri yang dijual di sepanjang kawasan Pecinan. Ah, satu paket lengkap!
A post shared by Dian Pratiwi (@deeduniaku) onDec 15, 2017 at 8:23am PST
Kamu bisa menelusuri Jl. Doho di Kediri untuk merasakan salah satu nuansa kota tua di Indonesia. Meskipun banyak bangunan telah dimodernisasi, namun di sini kamu masih bisa merasakan suasana tua.
4. Kota Tua Mataram
View this post on Instagram
harus tetap di lestarikan.. #kotatuaampenan #rodaduasampetua
A post shared by Mr.Chan'd (@mr.jadoel) onApr 25, 2018 at 4:34am PDT
Daerah Ampenan di Mataram begitu kentara dengan sentuhan Eropa masa lalu. Di sini kamu disuguhkan dengan banyak bangunan kokoh bernuansa oldies yang menghiasi area ini. Gak sedikit warga yang menjadikan salah satu kawasan kota tua di Indonesia ini sebagai latar belakang foto prewedding.
5. Kota Tua Medan
View this post on Instagram
I remember it now it takes me back to when it all first started But I've only got myself to blame for it, and I accept it now It's time to let it go, go out and start again • KODALINE~high hopes • Taken byπΈ: @uchiwooland14 • #latepost#kodaline#highhopes#lyrics#song#oldbuilding#history#stylehijab#style#adidas#instagram#instagood#instatravel#me#holiday#photography#photooftheday#like4like#building#kotamedan#medan#shotoniphone#kotatua#kotatuamedan#iphone#iphoneography#ootdhijab
A post shared by Evi O'Donoghue (@evi_odonoghue) onJul 31, 2018 at 2:53am PDT
Medan juga memiliki banyak bangunan tua yang indah dan menakjubkan, khususnya di daerah Kesawan. Sebut saja gedung London Sumatra yang dibangun sejak tahun 1906. Diberi nama demikian, karena mirip bangunan Belanda tetapi berada di Sumatera.
London Sumatra menjadi gedung 5 lantai pertama yang memiliki lift pada saat itu. Sampai sekarang, gedung ini telah menjadi perkantoran dan dengan perubahan nama menjadi PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatra.
Selain itu, di daerah Kesawan juga ada kesan kota tua lainnya, yaitu sebuah rumah dari Chong A Fie, yang merupakan seorang pengusaha Cina di masa lalu.
6. Kota Tua Padang
View this post on Instagram
#Pekanbaruprewedding #pkuphoto #prewedding #wedding #weddingdress #bride#photo #beauty #photowedding #weddingdestination #bridestory#idenikah #weddingpekanbaru #pekanbaru #kotatuapadang #prowedclub #photovisionprints#profilmlab #PNwedding #heckyeahpresets#belovedstories #moodchemical #lookslikefilm#weddinginspiration #liveauthentic #artofvisuals#thebridestory #photobugcommunity#junebugweddings #wildelopements
A post shared by Andha Serenade (@andhaserenade) onMar 8, 2018 at 2:28am PST
Penduduk setempat menyebut salah satu daerah perkotaan tua di Indonesia ini dengan sebutan Padang Lama. Ada banyak hal yang bisa didapatkan di sini, mulai dari gedung kolonial tua hingga kafe dengan nuansa retro yang legendaris. Mengunjungi kawasan ini dijamin memberi kesan mendalam tentang masa lalu.
7. Kota Tua Palembang
View this post on Instagram
Kampung Arab Al -Munawar, Kota Palembang, Sumatera Selatan.kampung yang didirikan 300 tahun yang lalu oleh pedagang asal Yaman, Almunawar. Kampung ini sudah setahun dibuka sebagai destinasi wisata sejarah oleh pemerintah provinsi sumatera selatan. Terdapat 8 bangunan bersejarah yang berusia 200-300 tahun. #almunawar #kampung #kampungarab #kampungarabalmunawar #kampungarabpalembang #wisatasejarah #wisataislami #wisataziarah #kotatua #kotatuapalembang #kotapalembang #wisatakotapalembang #budayaarab #arabicculture #traveltopalembang #triptopalembang #palembangtourism #wisatapalembang #jalanjalan #trip #travel #wisata #jalanjalankepalembang #liburan
A post shared by ignatius ferry (@tourismvaganza) onSep 2, 2017 at 1:57am PDT
Di kota tertua Indonesia yang berdiri sejak 682 masehi, yaitu Palembang, memiliki ratusan bangunan tua, bersejarah dan ikonik. Ingin menikmati momen masa lalu di Palembang? Langsung saja ke daerah Sekanak atau menelusuri setiap bangunan di Jl. Jenderal Sudirman sampai Jembatan Ampera.
[Baca juga : "Cagar Budaya Tangerang Mendunia"]
8. Kota Tua Salatiga
View this post on Instagram
Kota Salatiga Heritage #heritage #kotasalatiga #salatigahitz #salatigakeren #salatigacity #heritagebuilding #instagram #instagood #instasalatiga #instaplace #instaday #instasalatiga #visitsatiga #wisatasejarahkotasalatiga #salatigaheritage
A post shared by Deny A Prasetyo (@densprast) onSep 23, 2016 at 6:45am PDT
Salatiga adalah kota di antara Semarang dan Solo. Gak seperti Semarang yang panas, Salatiga cenderung sejuk karena dekat dengan Gunung Merbabu. Salatiga sendiri adalah salah satu kota dengan gelar penuh sejarah dan tua di Indonesia yang terus dilestarikan, terbukti dengan keberadaan bangunan kuno yang masih ada.
Di antaranya ada gereja tua bernama Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) yang masih berdiri kokoh dengan arsitektur bergaya Belanda yang kental. Dan dari GPIB ke arah Jl. Diponegoro, nuansa oldies dan retro sangat terasa. Bahkan, beberapa bangunan tua di Salatiga masih difungsikan hingga kini untuk perkantoran atau tempat wisata.
9. Kota Tua Semarang
View this post on Instagram
Karena SUKSES itu AKIBAT bukan TUJUAN ππ . . #aslisemarang #semarang #kotalamasemarang #pesonajawatengah #wisatasemarang
A post shared by YES OR NO (@arif_mahfut) onDec 27, 2018 at 3:28am PST
Bangunan terkenal di kota tua Semarang adalah Gereja Blenduk, yaitu gereja dengan kubah bundar seperti masjid dan Lawang Sewu dengan susunannya yang antik serta sangat memanjakan mata. Kota yang kaya akan wisata sejarah ini memang bisa membuat siapa saja terpukau dengan serangkaian bangunan tuanya.
Selain itu, banyak bangunan antik yang tersebar di kawasan Kota Tua Semarang yang fungsinya masih dipertahankan. Kafe dengan nuansa vintage juga tersebar di sejumlah lokasi, menambahkan keunikan tersendiri untuk classic feel di kota Semarang.
10. Kota Tua Singkawang
View this post on Instagram
“Parade” Perayaan Cap Go Meh dikota Singkawang menghadirkan parade atraksi tatung mengelilingi kota sebagai bentuk pelestarian adat dan tradisi. yok Ikutan : @harivo_santoso @lukmanhakum15051991 @reza_novriandi Lomba foto Wow Singkawang : @wow.singkawang @asiaworksid #wowdaysingkawang #20anniversary #merangkulkemangusiaan #asiaworksjakarta #asiaworksindonesia #singkawang #singkawanghebat #pastikesingkawang #singkawangcity #singkawangheritage
A post shared by Teguh Yanu Priyatna (@priyatna_teguh) onOct 30, 2018 at 11:35pm PDT
Salah satu daerah perkotaan tua di Indonesia yang menawarkan nuansa sedikit berbeda adalah di Singkawang, tepatnya di daerah Pasar Hong Kong di pusat kota. Bangunan perbelanjaan yang ada saat ini identik dengan nuansa Tiongkok di masa lalu.
Beberapa tempat ikonik lainnya adalah Kuil Tri Dharma Bumi Raya yang terletak di pusat kota dan rumah tua keluarga Tjhia, yang menunjukkan nuansa vintage gaya Cina.
11. Kota Tua Solo
View this post on Instagram
Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berperan sebagai pusat kedaton yang baru setelah runtuhnya Kasultanan Mataram Kartasura pada masa SISKS Pakubuwono II. Dibangun pada tahun 1745 dengan daerah kekuasaan dari sisa wilayah mataram kartasura. Pada tahun 1755 terjadi perjanjian giyanti yang menandai pembagian wilayah antara Surakarta dan Ngayogyakarta. Dan merupakan tahun dimana berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Lokasi: kori kamandungan lor, kompleks keraton kasunanan. @wisata_solo @soloinfo @surakarta.hitz_ @jelajahsolo #wisatasolo #keratonsolo #sejarahsolo #royalsurakartaheritage #wisatasejarahsolo #kotatuasolo #jelajahsolo #surakarta Nb: mohon koreksi jika ada kesalahan
A post shared by Rikho Ade Mahendra (@rmmahendra) onDec 30, 2018 at 10:51pm PST
Selain Semarang dan Yogyakarta, ada juga Solo, kota kecil yang juga memiliki daya tarik wisata tersendiri. Di kota ini ada banyak bangunan tua yang memanjakan mata dan untuk hunting foto keren.
Yang paling populer dan banyak dibicarakan adalah Omah Lowo. Selain itu, istana-istana dan benteng di kota ini masih sangat menawan.
12. Kota Tua Surabaya
View this post on Instagram
Choose happy ππ #kotatuasurabaya#exploresurabaya#surabayakotapahlawan#exploreindonesia
A post shared by Hyedvi Rahma Fitroh (@hyedvirahma) onOct 10, 2018 at 1:44am PDT
Surabaya, ibu kota Jawa Timur adalah salah satu kota tertua di Indonesia. Banyak bangunan yang masih terawat dalam keindahannya untuk menyimpan sejarah yang tersimpan di dalamnya. Gak sedikit bangunan tua di Surabaya yang masih digunakan untuk hotel, kantor atau bahkan museum.
Ada beberapa tempat yang oldies, retro dan vintage. Namun, nuansa kota tua akan sangat terasa ketika mengunjungi kawasan Jembatan Merah dan Tugu Pahlawan. Mulai dari gedung-gedung yang bertebaran di kiri dan kanan jalan menuju rumah-rumah warga, semuanya masih menjadi ciri bangunan tua yang kokoh dengan interior tempo dulu.
Pemerintah kota Surabaya juga benar-benar melindungi warisan budaya ini dan bahkan memperindahnya, membuat area ini jadi tambah instagramable.
13. Kota Tua Tegal
View this post on Instagram
Kalian tidak tahu banyak rahasia yang persiapan disini... #kotatuategal
A post shared by edo saputra (@ode.artupas) onJul 9, 2016 at 3:40am PDT
Di kota ini ada banyak sekali bangunan tua yang bisa dijadikan objek wisata di masa sekarang. Ikon kota ini adalah menara air yang berasal dari bangunan tua. Selain menara air, Tegal memiliki banyak bangunan tua yang masih berfungsi hingga saat ini. Salah satunya adalah Pangkalan TNI AL Tegal.
14. Kota Tua Yogyakarta
View this post on Instagram
Titik Nol Kilometer tempat dimulainya segala kisah tentang Jogja. Di persimpangan ini bisa melihat Jogja secara utuh. Jogja yang semrawut namun syahdu, Jogja yang modern namun tetap mempertahanan lokalitas, Jogja yang mencipta kelu juga rindu.. ππ
πππ€ #Latepost #Arquitectura #Architecture #Arsitektur #ArchitectureArtDeco #ArtDeco #ArsitekturKolonial #Herritage #HindiaBelanda #Eropa #BangunanLondo #GedungBankBNIYogyakarta #MonumenSeranganSatuMaret #Prapatan #TitikNolKM #TitikNolKilometerYogyakarta #KotaTuaYogyakarta #Yogyakarta #DaerahIstimewaYogyakarta #DIY #Indonesia
A post shared by Thoriq Septiawan K Oyiiex (@thoriqseptiawan_k.oyiiex) onDec 25, 2017 at 7:44pm PST
emua setuju bahwa Yogyakarta adalah kota yang sangat kental dengan sejarah dan berbagai tradisi yang membuatnya rindu. Dari pusat kota, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman sampai titik KM 0 Yogyakarta, ada banyak bangunan bersejarah dengan nuansa oldies dan vintage yang berpadu antara gaya Jawa kuno dan gaya Eropa.
Di antaranya, adalah Bank BNI, Gedung Agung, Gedung Bank Indonesia dan Kantor POS. Sementara di daerah Kota Gede, ada bangunan bergaya vintage yang masih terawat keasliannya, lho!
Atur jadwal untuk ke kota-kota tua di atas dan bawa pulang oleh-oleh khas daerahnya serta jangan lupa untuk berfoto! (Sumber: Artikel sindonews.com Foto republika.co.id)
...moreMasih ingat heboh penamaan KRI Usman Harun? Tak dinyana si pemberani Harun Thohir yang menuai kontroversi karena namanya dipakai sebagai nama kapal perang itu adalah orang Bawean. Ya, pulau yang berada di Laut Jawa dan termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik JawaTimur itu memang dikenal luas di Singapura dan Malaysia sebagai tanah asal para pelaut yang bekerja di kapal2 mereka. Orang Bawean dan kawasan pemukiman mereka di kedua negara jiran itu mendapat julukan sebagi Orang Boyan dan Kampung Boyan.
LEGENDA AKSARA JAWA
Dari dusun penangkaran rusa perjalanan dilanjutkan dengan mengendarai sepeda motor ke arah barat pulau, kira-kira berjarak 7 km, terdapat sebuah Pantai Kubur Panjang (Jherat Lanjheng) yang sarat dengan legenda kelahiran aksara jawa. Makam yang panjangnya sekitar 11 meter itu dipercayai sebagai makam pembantu setia Aji Saka, tokoh utama Babad Tanah Jawa, Doro dan pedang pusakanya. Pemandangan yang luar biasa saat sang surya perlahan turun terpampang megah di kawasan ini. Bias jingga, langit biru dan hamparan karang karena laut surut mempesona indah. Tetapi tak bisa berlama-lama di pantai ini, selain karena sepi tidak ada hunian dan warung makanan, faktor jalan rusak dan gelap juga memicu rasa khawatir untuk berlama-lama di kawasan tersebut.
Kuburan Panjang (Jherat Lanjeng)
Segenap lelah bisa dibasuh dengan mandi air panas di Dusun Kebun Daya, Desa Sawah Mulia, yang berjarak sekitar 3 km dari pelabuhan. Tempat mandi umum ini berukuran sekitar 2,5 X 3 meter dan dipakai bergantian oleh kaum pria dan perempuan. Semakin malam semakin banyak warga Bawean yang mandi, kendati hanya diterangi sebuah lampu dan sekelilingnya sawah, namun tidak menyurutkan niat merendam badan dalam suhu sekitar 34 derajat Celsius ini. Orang Bawean mempunyai 2 tempat pemandian air panas yang sumbernya belum diketahui, karena airnya tidak mengeluarkan bau menyengat seperti bau sulfur.
SUNSET, SUNSET DAN SUNSET
Hari berikutnya, Pantai Selayar, Danau Kastoba, Pantai Labuan dan bukit tempat lapangan udara sedang dibangun adalah tujuan kami. Dari pantai Selayar bisa ke Pulau Selayar dengan berjalan kaki atau naik motor jika air laut surut. Pulau tak berpenghuni itu nampak asri dan nyaman untuk dipakai sebagai tempat piknik sambil menikmati bekal dan kelapa muda yang dipetik langsung dari pohon ditepi pantai. Air jernih semata kaki dan pasir putih mengundang minat berjalan kaki hingga ke batas laut biru sambil memotret kemolekan alam sekitar pantai Selayar.
Pulau dan Pantai Selayar
Sedangkan kecantikan alami Danau Kastoba bisa dinikmati sambil makan siang karena hanya sekitar 45 menit jaraknya dari Pantai Selayar. Lelah mendaki bukit setinggi sekitar 500 meter segera terbayar begitu melihat teduh dan tenangnya Danau Kastoba. Penduduk Bawean biasanya suka berpiknik rombongan dan membakar ikan di tepi danau. Kekuatiran kami adalah sisa api yang ditinggalkan bisa memicu kebakaran hutan di Cagar Alam Bawean ini. Terlebih pada musim kemarau yang membuat tumbuhan kering dan meranggas. Saat kami berkunjung ke Danau Kastoba, sekelompok orang meninggalkan api sisa bakar ikan dan harus dipadamkan hingga benar2 tidak ada asap. Seharusnya sebagai kawasan Cagar Alam yang dilindungi pemerintah, danau dan kawasan sekitarnya dijaga ketat dari kemungkinan pengrusakan alam baik yang disengaja maupun tidak.
Pemandangan Danau Kastoba
Lewat tengah hari adalah waktu yang tepat untuk beranjak ke lokasi wisata berikutnya, yakni pantai Labuan. Pantai ini tempat berlabuh kapal2 besar agar terlindung dari terjangan ombak dan gelombang laut tinggi. Menikmati secangkir kopi, makan baso ikan di warung sederhana tepi pantai merupakan keasyikan tersendiri. Di kejauhan tampak bukit kecoklatan yang disiapkan untuk lapangan terbang perintis.
Sore hari di Pantai Labuan
Hanya 15 menit bermotor untuk mencapai kawasan bandara Pulau Bawean yang telah dibangun sejak 2-3 tahun lalu. Bandara ini masih jauh dari rapi. Pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana untuk sebuah lapangan udara yang siap didarati pesawat perintis sekalipun masih jauh dari sempurna. Jika diprosentase bisa dibilang baru sekitar 45 % saja. Landasan pacu masih belum diaspal dan yang sudah diaspal pun sudah mulai rusak lapisannya. Infrastruktur jalan masih sangat minim, baik di dalam kawasan bandara maupun dari atau ke pusat kota kecamatan Sangkapura atau dari dan ke arah kota pelabuhan. Padahal lapangan udara ini bisa menjadi tumpuan harapan untuk membuka Pulau Bawean sebagai destinasi kunjungan wisata utama di Jawa Timur.
Klik rangkaian artikel tentang Pulau Bawean di bawah ini.
Pulau Bawean: Antara Legenda dan Keindahan Alam - 1
Pulau Bawean: Antara Legenda dan Keindahan Alam - 2
Pulau Bawean: Antara Legenda dan Keindahan Alam - 3
...more