TripTrus.Com - Bro, sis … lo siap‑siap capcus ke Kepulauan Riau (Kepri) akhir tahun ini? Karena Pemprov Kepri — lewat Dinas Pariwisata Kepulauan Riau — udah ngerilis 9 event kece yang bakal mewarnai bulan Desember 2025. Mulai dari budaya, kuliner, olahraga, sampai pesta tahun baru — semua dijamin “rame & berkesan”, cocok banget buat lo yang pengin liburan beda dari biasanya. Daftar Event “Gila Sabar” Desember di Kepri:
View this post on Instagram
A post shared by Guntur sakti (@guntursakti)
Gurindam 12 Purnama — di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, tanggal 6–7 Desember 2025. Cocok banget buat lo yang doyan suasana santai + nuansa tradisional.
Lomba Jong Indera Sakti ke-1 Penyengat — juga di Pulau Penyengat tanggal 20–21 Desember 2025. Asik buat lo yang penasaran pengalaman lokal.
A Delightful Magical Dinner — di Nongsa Resort, Batam, pada 24 Desember 2025. Dinner romantis & vibes eksklusif banget deh, bro‑sis!
BTN Kepri Moonrun — di Tanjungpinang, tanggal 27–28 Desember. Buat lo yang suka olahraga sambil liburan, ini pas!
Gerakan Wisata Bersih Kepri — di kawasan Gurindam 12, 28 Desember. Gaul & ramah lingkungan, cocok bagi lo pencinta alam dan wisata sustainable.
Festival Gonggong Bintan — di Bintan, tanggal 30–31 Desember 2025. Siap‑siap makan gonggong & nikmatin budaya lokal yang asik!
Bintan Resort Carnival — di Lagoi, Bintan, tepat di 31 Desember 2025. Party kit alis liburan plus suasana resort, pas banget buat lo yang pengen tutup tahun dengan gaya.
Dan beberapa acara lain yang juga nggak kalah seru, semua tersebar di Batam, Bintan, Tanjungpinang — bikin akhir tahun lo makin warna‑warni.
[Baca juga : "Jabodetabek Desember 2025: Bazar, Live Music & Holiday Vibes On!"]
Kenapa Lo Gak Boleh Skip Kesempatan Ini. Bro sis, event‑event ini nggak cuma sekadar ajang nongkrong doang. Menurut Kepala Dispar Kepri, tujuan utamanya bukan cuma “bikin rame”, tapi juga ngasih kesan mendalam buat pengunjung dan membantu geliat ekonomi lokal — UMKM, pelaku wisata, seniman, semua kebagian manfaat. Jadi, selain lo bakal dapat pengalaman seru, lo juga bantu tumbuhin ekonomi warga setempat.
Plus, susunan acaranya variatif banget — ada budaya, wisata alam, olahraga, kuliner, sampai pesta akhir tahun. Jadi lo bisa pilih event yang paling cocok sama mood lo: santai, petualangan, atau jalan‑jalan sambil party. Kalau lo tanya gue: “Worth it nggak?”. Jawabannya: banget layak — apalagi buat lo generasi milenial, gen Z, pencari pengalaman seru sebelum tahun baru, dan yang pengen liburan kece sambil nambah cerita. (Sumber Foto @discoverykepri)
...moreTRIPTRUS - Kaum muslim yang berada di Wamena, Pengunungan tengah Papua memiliki tradisi unik saat bulan puasa. Adalah tradisi bakar batu.
Tradisi itu adalah memasak menggunakan batu yang dipanasi dengan dibakar di atas api sejak nenek moyang warga Papua sebelum memeluk agama Islam. Selama bulan Ramadan, tradisi ini tetap dilakukan untuk memasak makanan berbuka puasa.
Karena memasak dengan cara bakar batu memakan waktu lama, warga memanggang batu di atas kayu bakar hingga membara. Menunggu batu siap digunakan para kaum perempuan membersihkan sayuran, umbi-umbian, dan daging ayam yang telah dicuci bersih.
Begitu batu siap, warga membuat lubang kecil dan menaruh alang alang sebagai alas, lalu batu panas dimasukkan ke dalam lubang beralas alang-alang. Bahan makanan seperti singkong betatas serta jagung ditaruh di atas batu panas disusul sayur-mayur yang terdiri daun singkong dan daun betatas, daging ayam lalu ditutup menggunakan daun pisang.
Butuh waktu sekitar 2 jam hingga tak ada asap yang keluar dari lubang dan seluruh bahan makanan matang dan siap untuk berbuka puasa Komunitas Muslim Wamena yang berjumlah sekitar 24 kepala keluarga. (Sumber: Artikel dan Foto tv.liputan6.com)
...moreTripTrus.Com - Nih, catet dulu guys! Jelang 2024, Pemerintah Jawa Timur bareng komunitas dan asosiasi pariwisata udah siapin deretan event keren yang bisa dinikmati semua orang. Event-event kece ini udah direncanain matang-matang sama para kurator daerah dan nasional, jadi jangan sampai kelewatan!
Lihat aja, dari awal 2023 sampe Desember kemarin, udah ada lebih dari 1.000 event di Jawa Timur. Dan tahun depan, katanya bakal jadi tahun penuh acara, mulai dari musik, karnaval, kuliner, olahraga, seni/budaya, dan banyak lagi.
View this post on Instagram
A post shared by LMJK a.k.a LUMAJANGKU (@lumajang.ku)
Jawa Timur emang jadi primadona pariwisata, deh! Ada strategi keren dari pemerintah setempat buat menggelar event di berbagai daerah, supaya wisatawan makin banyak datang. Dan jangan lupa, Jawa Timur punya kekayaan budaya, alam yang indah, dan makanan enak di setiap sudutnya.
Nah, menuju 2024 ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur udah nyiapin 9 event buat masuk ke Kharisma Event Nusantara dan 15 event buat jadi bagian dari Sportive (Sport, Music and Creative Event) buat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.
Ini dia deretan event keren yang bakal diadain di Jawa Timur tahun 2024 dan wajib banget buat masuk list favorit buat ditonton dan dinikmati:
1. East Java Fashion Harmony, Juni 2024, Tulungagung
Event fashion keren banget yang ngeangkat budaya wastra Jawa Timur, khususnya Batik dan Tenun.
2. Jazz Gunung Bromo, 19-21 Juli 2024, Probolinggo
Musik Jazz Etnik berskala Internasional dengan panggung terbuka di atas ketinggian 2.000m di atas laut. Indahnya Jazz, Merdunya Gunung!
3. Eksotika Bromo, 27-28 Juli 2024, Probolinggo
Pergelaran spektakuler yang gabungin keindahan Gunung Bromo sama kesenian terbaik Jawa Timur.
4. Banyuwangi Ethno Carnival, Juli 2024
Karnaval unik yang tampil beda dengan kostum tradisional kontemporer yang keren abis.
5. Festival Nasional Reyog Ponorogo, Juli 2024
Pesta rakyat dengan nuansa Grebeg Suro, salah satu festival tahunan yang keren abis.
6. Batu Street Food Festival, 1-3 Agustus 2024
Kuliner kelas atas dari chef hotel dan restoran bintang lima, tapi harganya kaki lima.
7. Jember Fashion Carnaval, 1-4 Agustus 2024
Parade karnaval kreatif dalam konsep fashion, bakal seru banget di jalan raya Kota Jember.
[Baca juga : "Lasiana Kota Kupang Siap Bersinar, Geber Masuk Desa Wisata Indonesia 2024"]
8. Festival Rontek Pacitan, 6-8 September 2024
Festival tradisional dengan alat musik bambu yang unik dari tradisi gugah sahur.
9. Parade Surabaya Juang, 1-3 November 2024
Event rutin nan spektakuler buat memperingati Hari Pahlawan di Kota Surabaya.
10. Gandrung Sewu, November 2024, Banyuwangi
Festival tahunan yang mengenalkan budaya Banyuwangi, khususnya Gandrung, di Pantai Boom Marina. Eh, masih ada lho 15 event seru berbasis Sport dan Music. Jadi, buat lo yang doyan olahraga dan musik yang wajib lo datengin di 2024.
Jadi, jangan sia-siain kesempatan buat nikmatin liburan seru di Jatim tahun depan, ya! Rencanain dari sekarang, dan pastiin lo bakal dapetin pengalaman tak terlupakan bareng keluarga dan sahabat. (Sumber Foto @teddy_wardhana24)
...moreTripTrus.Com - Lake Toba Fashion Week (LTFW) 2023 bakal heboh banget bulan Oktober nanti! Pemprov Sumatera Utara dan kabupaten-kabupaten sekitarnya udah deal untuk bikin event seru ini di Sipinsur Park Geosite, wilayah Kabupaten Humbanghasundutan.
View this post on Instagram
A post shared by Lake Toba Fashion Week 2023 (@ltfw2023)
Ini acara pertama kali di kawasan Danau Toba yang melibatkan delapan kabupaten sekaligus, geng. Ada Kabupaten Toba, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Samosir, Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Karo, dan Kabupaten Pakpak Bharat jadi tuan rumah.
Di acara ini, bakal ada banyak kegiatan seru, mulai dari pameran produk UMKM, fashion show, workshop bisnis, pagelaran seni, sampai workshop buat model, desainer, dan fotografer.
Semua kabupaten yang ikut dalam rapat koordinasi LTFW 2023 nunjukin dukungan mereka buat suksesin event tahunan ini. Rapatnya digawes Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumut, Nawal Lubis, di Medan.
Ada juga yang ikut rapat, kayak Sekda Kabupaten Humbahas Tonny Sihombing, para kepala OPD di Sumut, dan OPD dari wilayah Kawasan Danau Toba. Gak ketinggalan, ada Ketua Dekranasda Kawasan Danau Toba dan Wakil Ketua Harian Dekranasda Sumut, Dian Arief S Trinugroho, plus Sekretaris Dekranasda Sumut, Hasnah Lely Siregar.
[Baca juga : "Medan Bakal Geber Pameran Start Up, Cerita Sukses Dan Keberagaman Budaya Jadi Sorotan"]
Nawal Lubis bilang, event keren kayak gini bisa promosiin Danau Toba sebagai destinasi andalan Sumut dan bikin UMKM di sekitarnya melesat. "Danau Toba Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Kita tanpa Danau Toba bukan Sumut, jadi kita ramein Danau Toba, biar makin terkenal, dan juga biar bisa dorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lewat kunjungan wisatawan," katanya.
Nawal Lubis juga ajak semua pihak buat ikutan dan bantu suksesin LTFW 2023 ini, geng. Sekda Kabupaten Humbahas, Tonny Sihombing, bilang, event ini buat naikin pamor produk UMKM dan pariwisata di Kawasan Danau Toba. "Kita terus promosiin pariwisata di Kawasan Danau Toba yang selama ini belum dapet perhatian maksimal, baik di dalam maupun luar negeri," katanya. (Sumber Foto @diskominfo.sumutprov.go.id)
...moreTripTrus.Com - Hey, para pendaki! Musim pendakian udah tiba nih. Meski cuaca kadang masih suka nggak jelas, tapi puncak-puncak gunung di Jawa Tengah udah ngundang-ngundang kamu buat didaki. Buat kamu yang ngincar seven summits tapi masih terlalu jauh buat ngejar tujuh puncak tertinggi di Indonesia atau dunia, Jawa Tengah bisa jadi start yang pas. Akses ke basecamp-nya rata-rata gampang banget dijangkau, nggak pake ribet. Paling lama, kamu bisa ngabisin dua hari satu malam buat naik turun gunung-gunung ini. Kalo mau santai atau menikmati jalur, bisa tambah sehari lagi, atau malah bisa tektok sehari aja!
View this post on Instagram
A post shared by Pejelajah gunung indonesia (@pejelajah.gunung)
1. Gunung Slamet (3.428 mdpl)
Ini dia atapnya Jawa Tengah, gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Lerengnya luas banget, sampai lima kabupaten: Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Di puncaknya ada kawah belerang yang masih aktif, dan medannya berbatu serta berpasir yang sering tiba-tiba berkabut. Ada enam jalur resmi yang bisa kamu pilih: Baturraden, Bambangan, Gunung Malang, Dipajaya, Guci, dan Kaliwadas. Jalur ini punya karakter dan tingkat kesulitan masing-masing. Buat yang mau nikmatin perjalanan, sebaiknya kamu alokasikan tiga hari dua malam deh biar nggak kecapekan.
2. Gunung Sumbing (3.371 mdpl)
Gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah setelah Slamet. Lerengnya dipenuhi kebun tembakau, mirip kayak saudara kembarnya, Gunung Sindoro. Di dekat puncak ada kaldera yang bisa dieksplor, seperti Segoro Banjaran, Segoro Wedi, dan kawah belerang aktif. Banyak jalur menuju puncak seperti jalur Butuh, Mangli, Banaran, Cepit, dan lainnya. Jalur pendakiannya cenderung lurus dan menanjak, kadang nggak ada sumber air, jadi pastikan bawa air lebih.
3. Gunung Lawu (3.265 mdpl)
Berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Gunung Lawu nggak cuma terkenal di kalangan pendaki, tapi juga para peziarah. Banyak jalur pendakian yang juga menyimpan situs cagar budaya, seperti Candi Cetho dan Candi Kethek. Jalur lainnya ada Cemoro Kandang dan Tambak di Karanganyar. Udara di Gunung Lawu lebih dingin dibanding gunung lain, jadi persiapkan fisik dan perlengkapan yang memadai.
4. Gunung Sindoro (3.153 mdpl)
Gunung ini punya kawah belerang aktif yang besar, dan lokasinya tepat di seberang Gunung Sumbing, hanya dipisahkan lembah dengan jalan raya Temanggung-Wonosobo di atasnya. Banyak jalur pendakian dari berbagai arah seperti Sigedang, Bansari, Ndoro Arum, Kledung, Alang-alang Sewu, dan Bedakah. Pemandangannya keren banget, dan dari puncak kamu bisa lihat gunung-gunung besar lainnya.
5. Gunung Merbabu (3.145 mdpl)
Terletak di kawasan taman nasional, Merbabu punya seven summits-nya sendiri yang bisa kamu capai lewat jalur Thekelan di Semarang. Jalur ini punya tiga titik sumber air yang bisa dimanfaatkan. Kamu harus siapin fisik, logistik, dan manajemen waktu yang baik buat bisa mencapai tujuh puncak tertingginya. Informasi panduan registrasi pendakian bisa dicek secara daring.
[Baca juga : "Petualangan Seru Di Tangkahan, Eksplorasi Surga Tersembunyi Di Sumatera Utara"]
6. Gunung Prau (2.590 mdpl)
Gunung ini udah jadi favorit para pendaki, terutama saat akhir pekan atau libur panjang. Jalur pendakian yang populer ada Patak Banteng dan Dieng di Wonosobo. Kalau mau yang agak sepi, coba jalur Wates, Igirmranak, Kalilembu, atau Dieng Kulon. Dari puncak, kamu bisa lihat pemandangan gunung-gunung besar di sekitarnya, terutama saat matahari terbit atau terbenam.
7. Gunung Merapi (2.930 mdpl)
Gunung Merapi, dengan puncak setinggi 2.930 mdpl, berada di empat kabupaten: Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, serta dua provinsi, yaitu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski aktif, gunung ini tetap jadi spot favorit buat hiking dan wisata seru!
Ada beberapa jalur pendakian yang bisa dipilih para pendaki sesuai tingkat kesulitan, preferensi, dan izin yang ada. Jalur Selo, Babadan, dan Kinahrejo jadi yang paling populer buat sampai ke puncak Gunung Merapi. Yuk, cobain serunya mendaki di sini. (Sumber Foto @haydarrmohammad)
...moreTripTrus.Com - Nih, berita terkini nih! Jakarta masuk jadi salah satu kota wajib buat dikunjungi di tahun 2024. Keren banget kan! Loncat dari urutan ke-7 menurut majalah perjalanan asal Amerika, 'Lonely Planet'. Bikin Jakarta melibas Praha dan Izmir gitu.
Kabarnya, Jakarta dapet gelar 'Best Cities to Visit in 2024'. Makin kece, Jakarta diakui sebagai destinasi wisata kelas dunia. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, ngegombalin, "Ini momentum penting, guys, buat Jakarta jadi destinasi wajib buat para pencinta jalan-jalan."
View this post on Instagram
A post shared by Siti Nurohni (@siti.nurohni)
Dikutip dari si Sandiaga, Jakarta pada semester pertama 2023 udah dikunjungi 798.163 turis asing, loh. Ini bukti banget kalo Jakarta emang oke buat jadi spot liburan. Apalagi, ini seiring rencana pindah Ibu Kota baru.
Katanya, Jakarta punya banyak spot seru, mulai dari belanja di Tanah Abang, Sarinah, Pasar Baru, sampe ngejar produk ekonomi kreatif khas Jakarta. Udah gitu, bisa mampir ke Monumen Nasional atau jalan-jalan di kawasan Mangrove di Jakarta Utara.
Tapi, nih, Jakarta punya trik seru buat kita, yang kadang-kadang terlupakan. Gak cuma Bali yang jadi bintang, Jakarta juga bisa, loh! Masa iya Bali terus yang paling ngetop? Nah, versi Lonely Planet, Jakarta berhasil ngegeser Bali, guys! Jakarta merajai sebagai kota pilihan wisata terbaik 2024.
Menurut Sandiaga Uno, tahun lalu kita juara lewat Raja Ampat sebagai tempat pelarian terbaik. Sekarang, Jakarta berhasil ngegulirin gelar Best Cities to Travel. Sandiaga langsung terima penghargaannya di London. Keren, kan?
[Baca juga : "27 Hari Libur Nasional 2024, Cek Jadwalmu Untuk Petualangan Seru!"]
Jakarta emang padat, tapi banyak banget atraksi pariwisatanya. Dari belanja budget di Tanah Abang sampe hura-hura di mal mewah kayak Grand Indonesia. Kalo malam, bisa jalan-jalan di Jakarta Selatan yang asik banget.
Gak cuma itu, Jakarta juga punya produk kreatif yang legendaris di Sarinah, plus kuliner enak di Blok M, Pecenongan, Pasar Baru, Mangga Dua, sampe Kelapa Gading. Coba aja rasain, sensasi metropolitan Jakarta bakal nempel banget pas jalan-jalan.
Selain makanan enak, Jakarta juga punya potensi buat pengembangan pariwisata sejarah, budaya, dan alam. Bisa mampir ke museum-museum keren atau Monumen Nasional buat ngecek sejarah Indonesia. Pengen alam? Dateng aja ke kawasan mangrove di Angke Kapuk, Jakarta Utara. Keren, kan, Jakarta emang gak kalah seru dari Bali! #JakartaKeren #Wisata2024 (Sumber Foto @dyahlistyowardhani)
...moreTripTrus.Com - Sepanjang wilayah Pantai Utara Timur dari Demak-Kudus hingga ke Jawa Timur dikenal sebagai daerah-daerah persinggahan para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam. Tak heran, jika budaya dan sisa-sisa peninggalan sejarah Islam masih melekat di daerah tersebut.
Seperti di Kota Kudus, terdapat makam Sunan Muria dan Sunan Kudus, sebagai penyebar agama Islam yang sampai sekarang makamnya banyak dikunjungi peziarah. Dengan kehadiran dua tokoh tersebut, banyak meninggalkan kisah dan artefak kebudayaan Islam yang masih dapat dijumpai di sejumlah tempat. Salah satunya peninggalan masjid-masjid yang memiliki sejarah panjang. Berikut 5 masjid tua bersejarah di Kudus yang bisa menjadi pengingat dan bahan pelajaran generasi saat ini.
1. Masjid At Taqwa Sunan Kedu
Pada tahun 1576 M Sunan Kedu sudah berada di Kudus dan sangat gigih menyebarkan syiar Islam dan pemerintahan mengingat pada saat itu Sunan Kedu dipercaya Kesultanan Demak menjadi Tumenggung/Wedono. Tahun 1599 M, Sunan Kedu mendirikan Masjid At–Taqwa bertepatan dengan hari Jumat Pahing dengan dibantu para santri dan juga Kanjeng Sunan Kudus selama 3 minggu. Dilengkapi batu alam yang dikenal ” Watu Kenong ” khusus bermunajat dan berdoa khusus Syeih Abdul Basir. Saat ini batu tersebut berada di belakang masjid. Sebagai tempat ibadah tempat itu juga dilengkapi sumber mata air kehidupan dan sebagai tempat berwudhlu yang dinamakan “Mbelik Sumber Joyo” atau menurut masyarakat sekitar disebut Mbelik Pundung. Keberadaan Sunan Kedu akhirnya beliau wafat pada tahun 1612 M dan dimakamkan di area masjid yang terletak di sebelah Barat. Lalu di sebelah Barat dari makam beliau adalah makan Siti Nadhiroh dan Dewi Maryam yang merupakan putri beliau.
2. Masjid Sunan Muria
View this post on Instagram
A post shared by KUDUS JOURNEY🇮🇩 (@kudusjourney) onOct 31, 2019 at 10:43pm PDT
Tidak banyak sumber yang menjelaskan tentang kapan Sunan Muria yang bernama asli Raden Umar Said ini lahir dan membangun masjidnya tersebut, karena di antara para Walisongo. Sunan Muria adalah wali yang paling sedikit penjelesan biografinya dalam catatan sejarah. Masjid ini diperkirakan dibangun pada masa hidup Sunan Muria yaitu sekira abad ke-15 hingga 16 M. Masjid menjadi simbol dakwah Sunan Muria di lereng Gunung Muria, dalam mendakwahkan Islam kepada masyarakat sekitar yang pada waktu itu banyak yang memeluk Hindu dan Budha. Pemilihan Gunung Muria sendiri disebut sebagai salah satu bagian dari identitas dan sifat Sunan Muria, yang tidak suka dengan popularitas, sehingga beliau memilih berdakwah di lereng Gunung Muria. Masjid yang menjadi salah satu situs penting sejarah Islam di Indonesia ini, berada di ketinggian 1.600 meter. Masjid ini telah dipugar beberapa kali, sehingga sudah tidak terlihat sebagai bangunan tua dan asli. Hanya beberapa bagian saja yang masih nampak asli sampai sekarang.
3. Masjid Wali Jepang (Al Makmur)
View this post on Instagram
A post shared by edy kurniawan (@idiwaekey) onJul 8, 2016 at 5:15pm PDT
Dahulu Desa Jepang adalah sebuah rawa yang besar, di rawa itu Aryo Penangsang sering menambatkan perahunya, setelah menempuh perjalanan dari Kadipaten Jipang (sekarang wilayah Kabupaten Blora) untuk menuju Pondok Pesantren Sunan Kudus untuk menimba ilmu agama. Sunan Kudus yang mengetahui kebiasaan dari muridnya tersebut, membuat Sunan Kudus iba dan kemudian mendirikan sebuah Masjid di lokasi itu, sebagai tempat ibadah dan istirahat sang murid. Proses pembangunan Masjid yang dilakukan Sunan Kudus, akhirnya dilanjutkan oleh Aryo Penagsang sekitar abada ke-16 M. Selanjutnya, Masjid yang dikerjakan guru dan murid itu diberi nama Masjid Wali karena memiliki Soko Papat (terbuat dari kayu utuh) seperti masjid-masjid yang dibangun oleh para wali. Selain itu, masjid Wali Al Makmur ini memiliki gapura seperti Masjid Menara Kudus. Berdasarkan prasasti yang ada, pemberian imbuhan nama Al Makmur oleh seorang Ulama dari Desa Karangmalang, yang benama Sayyid Dloro Ali pada tahun 1917 M.
[Baca juga : "5 Masjid Tertua Dan Bersejarah Di Kudus - Part 1"]
4. Masjid Jami' Manarul Huda
Masjid Jami’ Manarul Huda adalah masjid tertua yang berdiri di Dukuh Baran-Kiringan Desa Samirejo Dawe. Sebuah warisan nenek moyang yang dibangun pada masa hidup Mbah Kyai Abdullah ‘Asyiq bin Abdussyakur atau lebih akrab masyarakat menyebutnya dengan julukan ‘Mbah Kyai Udan Panas’. Beliau diyakini sebagai orang pertama yang singgah di Desa Baran, pada waktu itu Beliua 'babat alas' tak kenal lelah walau saat teriknya panas matahari dan hujan sekalipun Beliau tetap tegar demi misinya menyebarkan agama islam diwilayah tersebut. Masjid Manarul Huda sendiri mempunyai icon menara yang khas tampak seperti bangunan kuno menyerupai menara pada Masjid Menara Kudus. Masjid ini berkali-kali mengalami pemugaran,dimana renovasi terahir dilakukan pada tahun 1993-1994 yang dicanangkan oleh KH. A. Musa Maulani MA dan diresmikan pada tahun 1995. Masjid ini mempunyai management yang cukup solid dan mengalami kemajuan pesat di era moderen ini.
5. Masjid Baitul Azis Hadiwarno
Desa Hadiwarno memiliki cagar budaya berupa masjid peninggalan Walisongo yaitu Masjid Baitul Aziz. Kebaradaan Masjid ini menjadi bukti akan perjalan dakwah Walisongo dalam mensyiarkan agama Islam di tanah Jawa. Masjid tersebut dibangun pada abad ke-16 M zaman wali, terbuat dari batu bata merah kuno dengan luas bangunannya yaitu 150m persegi. Masjid ini termasuk peninggalan masa sunan Kudus ketika beliau sedang berada di Kudus. Pada masjid ini terdapat Gapuro Padurekso dengan panjang 3 m, lebar 176 cm, dan tinggi 270 cm. Ditengah gapuro terdapat pintu jati dan bagian atas pintu terukir Tri Sula Naga, Tri Sula Naga merupakan bahasa Sansekerta, dimana Tri berarti tiga, Sula berarti enam dan Naga berarti delapan atau secara keseluruhan diartikan sebagai tahun 836 Hijriah dalam kalender Islam. Gaya bangunan Padurekso merupakan campuran dari dua kebudayaan yaitu antara Hindu dan Islam. Arsitekturnya seperti Masjid Agung Demak, dimana tiap penyangga terdiri dari 4 soko dilandasi dengan umpak batu. (Sumber: Artikel isknews.com, alif.id, irmamadagroup.wordpress.com, hadiwarnokudus.blogspot.com Foto betanews.id)
...moreTripTrus.Com - Banten kaya akan potensi wisata sejarah dan religi. Tidak ada yang memungkiri fakta itu. Tetapi, potensi saja, tanpa dikembangkan dengan penuh komitmen, hanya akan berdiam di dalam pikiran orang. "Karena itu, jika ingin berlari cepat maju, maka tidak ada pilihan lain, kecuali implementasikan dengan baik, semua konsep percepatan pariwisata di Banten," kata Menpar Arief Yahya.
Wisata budaya dan religi itu mensyaratkan ada atraksi. Akan menjadi hidup dan berkembang jika disediakan akses yang baik dari originasi atau marketnya, serta amenitas, fasilitas agar customers atau wisatawan merasa nyaman dan kerasan tinggal lebih lama di Banten.
Oleh sebab itu, pemerintah pusat yang diwakili Kemenpar dan pemerintah daerah, serta pengelola tempat wisata sejarah di Provinsi itu berembuk untuk membicarakan Bimbingan Teknis Pengembangan Destinasi Wisata Sejarah dan Religi di Hotel Horison Forbis, Cilegon pada tanggal 22-24 Maret.
Hadir dalam acara itu antara lain Asdep Pengembangan Destinasi Wisata Sejarah dan Religi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Lokot Ahmad Enda, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Banten Eneng Nurcahyati, Pengelola Kesultanan Agung Tirtayasa A Wahid, Pengelola Kesultanan Maulana Yusuf TB Faidz, serta tokoh MUI Banten HS Usman.
Lokot mengatakan, wisata sejarah di Banten menarik karena dari sudut pandang sejarah kawasan itu pernah berjaya karena letaknya yang strategis membuat kapal-kapal pedagang melewati wilayah ini dan menjadikannya pelabuhan terbesar di Indonesia. Selain itu, Kesultanan Banten yang mengatur wilayah Banten merupakan kerajaan maritim yang mengandalkan perdagangan sebagai sektor utama perekonomiannya. Walhasil,Banten menjadi jalur niaga bagi pedagang dari negara Persia, India, Cina, Vietnam, Filipina dan Jepang.
Meski Kesultanan Banten resmi dihapus pada 1813 oleh pemerintah Kolonial Inggris dengan memaksa Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin turun dari tahta, namun jejak-jejak peninggalannya masih tampak berdiri kokoh hingga saat ini. Beberapa peninggalan sejarah dan religi tersebut antara lain Menara Masjid Agung Banten, Jejak Sultan Ageng Tirtayasa, Benteng Speekwijk, Keraton Surowowan, Keraton Kaibon serta Vihara Avalokitesvara.
"Namun, faktanya kini pariwisata bukanlah sektor utama dalam pengembangan ekonomi propinsi Banten meskipun sektor hotel dan restoran menyumbang kurang lebih 1 triliun rupiah setiap tahunnya," ujar Lokot.
Beberapa faktor menjadi penyebab masih mandegnya pengembangan pariwisata Banten. Eneng mengungkapkan revitalisasi Benda Cagar Budaya menjadi permasalahan umum yang dihadapi oleh pengelola hingga kini. Hal itu berdampak pada rendahnya minat dan tingkat kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Banten. Sejatinya hal ini sangat ironis sebab Bandar Udara International Sukarno Hatta terletak di Provinsi Banten.
Selain itu, kurang tertatanya pengembangan wisata sejarah dan religi di Provinsi Banten juga menyebabkan rendahnya minat wisatawan untuk berkunjung.
"Para pengelola wisata sejarah dan religi di Provinsi Banten membutuhkan bantuan teknis dan pendanaan untuk merevitalisasi Benda Cagar Budaya yang ada," ujar Eneng.
Lokot mengatakan, story telling dan pola perjalanan juga menjadi aspek penting yang secepatnya perlu dikembangkan di Provinsi Banten. Salah satu rute perjalanan yang potensial untuk dikembangkan sebagai pola perjalanan wisata sejarah dan religi di Banten adalah rute Tangerang – Anyer –Labuan
Selain itu, untuk mendukung pengembangan wisata sejarah dan religi di Banten, pemerintah akan menyelenggarakan beberapa even baik yang berskala lokal dan nasional. Even-even itu antara lain Seba Baduy 2017 pada pertengahan April, Gebyar Wsata Banten yang akan dilakukan bersamaan dengan Gebyar Wisata Nusantara pada bulan Mei 2017 di Jakarta Convention Center, Serentaun pada Agustus/September 2017, Banten Beach Festival pada Oktober 2017, serta Cilegon Ethnic Carnival bersamaan dengan Golok Day Festival dan Sail Krakatau pada 27 – 30 April 2017. (Sumber: Artikel indopos.co.id Foto radarbanten.co.id)
...moreTripTrus.Com - Ada satu jenis makanan khas yang unik dan dijumpai di daerah Gombong Kabupaten Kebumen. Mungkin banyak orang yang belum tahu dan tentu saja belum pernah mencicipinya.
Di daerah Gombong atau tepatnya daerah wonokriyo perempatan kalitengah yakni dari Gombong ke selatan, maka dapat dijumpai satu makanan yang disebut Gembus. Gembus sebenarnya makanan yang relatif cukup enak, khususnya jika dimakan saat malam dan masih hangat selepas digoreng. Makanan ini berasal dari ubi singkong dengan rasa yang tidak kalah dengan makanan-makanan kota. Gembus berbentuk untingan macam klanthing tapi berukuran lebih besar. Kalau klanthing digoreng sampai kering, maka geblek ini tidak sampai kering sehingga masih terasa liat saat digigit.
[Baca juga : Yuk Ke Kudus, Lihat Museum Jenang Pertama Di Indonesia]
Saya sendiri belum pernah melihat proses pembuatannya tapi mendengar dari cerita bapak penjualnya. Jadi proses pembuatannya mulai dari pengupasan singkong, kemudian dicuci dan diparut dengan mesin. Setelah itu parutan singkong diberi bumbu dan dikukus untuk dijadikan adonan. Dengan ditambah sedikit tepung maka adonan ini kemudian dibentuk menjadi berbentuk panjang dan melingkar seperti cincin. Gembus ini siap untuk digoreng dan dimakan. Jadi biasanya Gembus disiapkan oleh penjualnya dalam bentuk siap goreng seperti itu.
Belajarlah menyalahkan diri sendiri, karena menyalahkan orang lain tak perlu belajar. #gembus #pagiku
A post shared by DiDotc (@dotcfreakz) onMar 9, 2018 at 1:34pm PST
Penjual Gembus biasa berjualan dengan menggunakan angkringan yang dipanggul. Satu bagian untuk wadah Gembus siap goreng. Bagian yang lainnya untuk tempat anglo dan wajan penggorengan. Untuk menggoreng Gembus ini digunakan anglo tanah liat dengan bahan bakar arang. Tetapi kalau sekarang lebih banyak penjual Gembus yang menggunakan kompor minyak tanah atau kompor gas. Setelah di lokasi, kemudian mulai menggoreng Gembus ini dan disajikan di tempat dasaran dari bambu. Gembus digoreng dalam minyak yang cukup panas sehingga diperoleh Gembus matang dan tidak keras. (Sumber: Artikel kabarkebumen.com, Foto catatanalamat.blogspot.com)
...more