shop-triptrus



Lebak Outfest Sawarna Karst Festival 2023, Pesta Pantai Karang Bokor yang Seru Abis!

TripTrus.Com - Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, nge-buka resmi nih acara Lebak Outfest Sawarna Karst Festival 2023 yang digelar di Pantai Karang Bokor, Kecamatan Bayah, pas Sabtu kemaren, tanggal 30 September 2023. Acara ini bukan main-main, guys, ini acara khusus buat mereka yang doyan petualangan alam dan peduli banget sama alam Lebak.       View this post on Instagram A post shared by FORUM POTENSI KOTA CILEGON (@forumpotensi_kotacilegon) Dalam omongannya, Bupati Lebak enggak bisa lebih setuju lagi dengan acara keren ini. Kata Iti, acara ini jadi kesempatan bagus buat nunjukin pesona wisata Lebak yang keren banget. "Karang Bokor dan Goa Langir ini bagian dari Geo Park Bayah Dome yang harus kita jaga, rawat, dan kembangin. Ini kan jadi harta berharga daerah kita. Selain itu, kita bisa dorong perekonomian warga sekitar dan usaha-usaha kecil di daerah sini," ujar Iti. [Baca juga : "Festival Raja Ampat 2023, Lebih Gokil Dengan 3 Event Dalam Satu!"] Sementara itu, Firman Hidayatullah, ketua pelaksana Sawarna Karst Festival, ngasih tahu kalau ada sekitar 270 peserta yang dateng ke acara ini. Bahkan ada yang dateng dari luar kota, kayak Medan, Bogor, Bandung, dan Bali. Mantap, kan? "Dengan adanya Sawarna Karst Festival ini, kita bisa lebih akrab sama komunitas Climbing dan Camping Ground. Dan yang lebih penting, kita bisa nunjukin lokasi-lokasi wisata seru yang ada di Lebak," tambah Firman. Firman juga berharap, ke depannya acara ini bisa digelar terus dengan semangat yang lebih rame lagi. Semoga aja, ya, acara kayak gini bisa jadi agenda rutin di Lebak. Biar makin rame dan makin asyik! (Sumber Foto @atini_pw) 
...more

Liburan 2025: Saatnya Lo Healing Beneran, Bukan Cuma Demi Feed Aesthetic!

TripTrus.Com - Lo pernah kepikiran gak sih, pengen liburan tapi yang bukan cuma sekadar pindah tempat doang? Nah, 2025 bakal jadi tahunnya healing yang bener-bener nyentuh hati, bukan cuma demi likes di IG. Para raja traveling kayak Airbnb sampe Booking.com udah ngintip data dan ngeluarin ramalan tren wisata buat tahun depan. Bukan ngasal, mereka pake riset dan kebiasaan user buat ngebentuk tren. Bahkan kata si Jenny Southan, CEO-nya Globetrender, tren liburan tuh bantu kita paham dunia yang makin chaos ini. Intinya, liburan tuh bukan cuma soal destinasi, tapi soal makna dan arah hidup juga, bro. 1. Kencan Sama Malem: Wisata Noctourism yang Bikin Merinding tapi Nagih       View this post on Instagram A post shared by Visit Norway (@visitnorway) Lo anak malem banget? Sini merapat. Tahun depan tren jalan-jalan malem alias noctourism bakalan makin rame. Tapi bukan yang keluyuran random ya, ini lebih ke eksplor tempat yang magical banget kalo diliat malem-malem. Contohnya pantai bioluminesensi yang nyala sendiri sampe aurora borealis yang makin terang gegara aktivitas matahari yang gila. Spot kece kayak Islandia, Norwegia, dan Svalbard bakal rame dikunjungi. Dan ini tuh bukan sekadar konten doang, tapi lo juga bisa ngerasain keindahan alam yang beda banget vibes-nya sama siang bolong. 2. Calmcation: Mode Diam Aktif, Gadget Mati, Jiwa Nyala Bosan sama notifikasi? Telinga lo capek denger suara klakson? Lo butuh calmcation, bro. Ini tipe liburan yang ngejauhin lo dari dunia digital dan nyambungin lo ke alam. Banyak banget tempat di Eropa, terutama di Finlandia dan Norwegia, yang nyediain kabin anteng, tanpa sinyal, tanpa keramaian. Contohnya di Majamaja, lo bisa ngerasain hidup tanpa gadget dan connect ke alam asli. Ada juga yang nyediain alat pengukur kebisingan, biar lo sadar betapa hectic-nya dunia yang lo tinggalkan. Liburan ini buat yang pengen recharge hati dan refresh pikiran, bukan cuma selfie doang. 3. Robot Jadi Tour Guide? Gak Masalah, Asal Itinerary Makin Kece Lo tim males mikir pas liburan? Udah waktunya lo serahin semua ke AI. Di 2025, teknologi makin masuk ke dunia traveling. Dari mulai bikin itinerary, booking, sampe nyari spot hidden gem, AI bisa bantu semua. Kayak Byway yang bikin rute anti-pesawat pake AI, sampe TripAdvisor yang udah integrate AI biar lo bisa nemuin tempat idaman lo lebih gampang. Di bandara juga makin canggih, koper lo disortir otomatis, bro. Tapi kalo lo oldschool, tenang… brosur fisik masih eksis kok. Teknologi dan nostalgia bisa jalan bareng, kayak duet Gen Z sama boomer. 4. Jodoh Datangnya di Jalan-Jalan: Cinta Lokasi Is Real Lo udah capek swipe kanan-kiri di dating apps tapi tetep jomblo? Mungkin jodoh lo lagi nunggu di next destinasi liburan. Sekarang makin banyak orang yang nemuin pasangan pas lagi traveling. Banyak travel agent yang nawarin trip buat solo traveler yang pengen ketemu temen baru, bahkan cinta baru. Contohnya Flash Pack sama G Adventures. Lo tinggal join trip, ngobrol, sharing cerita, siapa tau pulang-pulang udah gak sendiri lagi. Ini jauh lebih natural dan seru daripada cuma chatting di app doang, seriusan! [Baca juga : "Lo Belum Keren Kalo Belum Ke Sumba, Bro! Destinasi Hidden Gem Yang Lagi Naik Daun Di 2025!"] 5. Tempat Sepi = Surga Baru Buat Liburan Lo pernah ngerasa sumpek banget pas liburan karena rame banget? Nah, lo gak sendirian. Di 2025, orang mulai ngehindarin destinasi yang udah terlalu mainstream. Sekarang malah banyak yang nyari tempat antah-berantah tapi vibes-nya dapet banget, kayak Zanzibar, Madagaskar, sampe Uzbekistan. Bahkan tempat kayak Norfolk yang dulu kalah saing sama Cornwall sekarang mulai naik daun. Airbnb juga mulai nyodorin lokasi yang underrated tapi cakep maksimal kayak East Sussex. Intinya, liburan sekarang bukan soal pamer tempat, tapi soal nemuin ketenangan yang asli. 6. Safari Anti Panas-Panasan: Nyari Adem, Bukan Keringetan Iklim makin gak bisa ditebak, jadi orang-orang mulai males ke tempat panas. Makanya sekarang banyak yang milih destinasi dingin buat healing. Kayak Norwegia, Islandia, dan Finlandia yang jadi favorit baru. Safari pun ikut bergeser waktunya—biasanya Desember, sekarang mending Maret. Jadi buat lo yang pengen liat singa, zebra, gajah, jangan lupa atur ulang rencana. Ini bukti kalo kita harus lebih peka sama bumi dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada, bukan maksa cuaca ngikutin maunya kita. 7. Nostalgia Trip: Balik ke Era yang Bikin Lo Senyum-Senyum Sendiri Lo kangen masa kecil? Pengen flashback ke jaman Polly Pocket atau dengerin Oasis sambil makan ciki di warung? Nah, nostalgia trip adalah jawabannya. Tren ini makin hype karena banyak orang nyari perasaan “dulu enak banget ya.” Di Eropa dan AS, kamp dewasa yang vibe-nya kayak summer camp zaman dulu mulai rame. Bahkan Airbnb punya penginapan tema nostalgia, kayak rumah ala 90-an sampe tempat nginep ala Barbie. Seru banget buat lo yang pengen healing sambil throwback. Lo sekarang tim mana, bro? Tim aurora hunter, pencari damai, atau penggali memori masa kecil? Apapun pilihannya, 2025 tuh waktunya lo ngejalanin liburan dengan hati yang lebih tulus dan kepala yang lebih ringan. Udah gak zaman liburan cuma buat konten doang. Sekarang saatnya liburan yang nyambungin lo sama diri sendiri, sama orang lain, sama alam juga. Yuk, gas dari sekarang rencanain liburan yang bukan cuma berkesan, tapi juga bermakna. Dunia nunggu lo buat dijelajahi dengan cara yang lebih real dan jujur. (Sumber Foto @kytourism)
...more

Rekomendasi Desa Wisata di Indonesia yang Cocok untuk Generasi Z dan Milenial!

TripTrus.Com - Keberadaan desa wisata saat ini tidak terlepas dari teknologi dan media digital. Desa wisata digital harus memiliki potensi dan daya tarik wisatawan, terutama untuk anak-anak muda seperti Gen Z dan Milenial yang gemar traveling.       View this post on Instagram A post shared by Luluk Eris Setyawaty (@luluk_eris) Menurut UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, desa wisata adalah suatu destinasi wisata yang menggabungkan daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, dan aksesibilitas. Semua hal tersebut disajikan dalam suatu struktur masyarakat yang terintegrasi dengan tata cara serta tradisi yang berlaku di desa tersebut. Indonesia memiliki 3.419 desa wisata yang dapat dikunjungi untuk melepas penat. Tidak hanya menawarkan keindahan alam, berikut adalah rekomendasi Desa Wisata digital yang juga menawarkan kegiatan sosial dan budaya. 1. Desa Wisata Candirejo Desa Wisata Candirejo terletak di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Desa Candirejo berjarak 3 km ke arah tenggara dari pusat peradaban dunia, yaitu Candi Borobudur, yang bisa ditempuh dengan naik andong. Selain menikmati pemandangan sekitar yang hijau, para wisatawan yang berkunjung ke desa ini juga dapat menikmati wisata offroad di kawasan Menoreh dan berakhir di Watu Kendil. Mereka juga dapat menyaksikan aktivitas masyarakat setempat dan membawa pulang kerajinan khas serta makanan tradisional yang dibuat oleh warga setempat. Jangan khawatir tentang bahasa, karena pemandu wisata di sana rata-rata dapat berbicara dalam Bahasa Inggris hingga Bahasa Prancis. Sungguh keren, bukan? 2. Desa Panglipuran Bali memiliki banyak daya tarik, dari pantai, kuliner hingga budaya yang sulit untuk dilewatkan oleh para pelancong. Salah satu daya tarik Bali yang paling terkenal adalah Desa Panglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli. Desa Panglipuran merupakan sebuah desa adat yang menjadi salah satu destinasi pariwisata paling populer di Bali. Desa ini dikenal sebagai desa terbersih di dunia. Wisatawan dapat menemukan hutan bambu yang melindungi desa, serta menikmati ritual keagamaan seperti ritual Ngusaba yang masih terus dipraktikkan hingga saat ini. Pesona lainnya dari Desa Panglipuran adalah festival budaya yang disebut Penglipuran Village Festival. Festival ini menampilkan parade pakaian adat Bali, Barong Ngelawang dan parade seni budaya. [Baca juga : "Kunjungan Wisatawan Asing Ke Indonesia Meningkat, Negara Ini Jadi Yang Paling Banyak"] 3. Desa Gubug Klakah Desa Gubug Klakah terletak di kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Daya tarik utama dari desa wisata ini adalah Air Terjun Coban Pelangi, yang dikelilingi oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Wisatawan hanya perlu membayar tiket sebesar Rp10 ribu untuk masuk ke Coban Pelangi, dan air terjun ini buka setiap hari. Disarankan untuk berkunjung pada siang hari agar dapat melihat pelangi yang muncul di sekitar air terjun. Selain menikmati keindahan air terjun, wisatawan juga dapat menikmati river tubing, rafting, dan agro wisata apel di Desa Gubug Klakah. Desa ini dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti area parkir, jungle tracking, kafetaria, kamar mandi umum, kuliner, mushola, dan kios souvenir. (Sumber Foto @mia_mhiyol) 
...more

Juli Full Gaya! 5 Festival Paling Kece Buat Lo yang Doyan Healing Plus Budaya

TripTrus.Com - Bro-sis traveler, fix banget Juli 2025 ini bakal rame parah sama festival kece dari ujung Pacitan sampe Bali utara! Lo yang udah suntuk kerjaan atau kuliah, saatnya cuti bentar, gas liburan, dan nikmatin vibes lokal yang dibungkus cara kekinian. Gak cuma ngopi-ngopi doang, di sini lo bisa nyaksiin parade budaya, konser musik chill, fashion show etnik, sampe jajan kuliner khas yang rasanya lokal banget. Pokoknya ini bukan liburan biasa—lo bisa healing, nambah insight, plus dapet konten kece buat feed lo. Yuk, intip lima festival gokil yang kudu lo sambangin di Juli ini. 1. Festival Ronthek Pacitan: Musik Bambu yang Bikin Lo Nggak Bisa Diam 📍 Pacitan, 7–9 Juli Buat lo yang demen suasana malam meriah tapi tetap tradisi, Ronthek Pacitan bakal jadi pengalaman unik. Di sepanjang jalan Alun-Alun, lo bakal dengerin suara bambu digebuk rame-rame dari alat musik lokal kayak thethek, seruling, gong, sampe gendang bambu. Tapi ini bukan festival jadul ya—anak-anak muda Pacitan udah nge-blend musik dan fashion-nya biar tetap kece buat Gen Z! Ada juga bazar UMKM lokal yang jualan snack, kriya, dan pernak-pernik kece buat oleh-oleh. Suasananya tuh kayak street parade, tapi beneran dari hati! 2. Banyuwangi Ethno Carnival: Malem-Malem Tapi Colorful Abis! 📍 Taman Blambangan, 11–13 Juli       View this post on Instagram A post shared by 👑 POETRA COLLECTION 🇮🇩 (@putra_collection98) Kalau lo tim yang gak bisa jauh dari aesthetic dan lighting syahdu, gas ke Banyuwangi Ethno Carnival. Sepanjang 2,5 km berubah jadi runway penuh LED dan kostum etnik super niat. BEC tahun ini punya tema World Class Ethnic Attraction, dan semua digelar malam hari, bro-sis. Kostum nyala, tarian megah, musik tradisi, semua tampil dalam vibes magical kayak lagi di dunia dongeng. Lo juga bisa ngintip workshop budaya, jajan di bazar, bahkan liat lomba poster pelajar. Satu kata: GOKIL! 3. Manakarra Fair Mamuju: Pantai, Budaya, dan Local Pride Gabung Jadi Satu 📍 Anjungan Pantai Manakarra – Pertengahan Juli Bro-sis yang pengen chill di pinggir pantai tapi tetap dapet vibes budaya, Manakarra Fair di Mamuju cocok banget buat lo. Lo bisa nongkrong pinggir pantai sambil nonton pertunjukan seni tradisional Sulbar, jajan makanan khas yang susah lo temuin di kota besar, dan ikut workshop kriya bareng seniman lokal. Anak-anak kreatif Mamuju beneran totalitas ngasih yang terbaik—bikin lo makin cinta lokal dan bangga jadi bagian dari Indonesia. Suasananya adem, tapi semangatnya panas! [Baca juga : "Gaskeun, 7 Festival Paling Gokil 2025 Buat Lo Healing, Hunting & Explore!"] 4. Geopark Night Specta 7.0: Musik, Alam, dan Bintang-Bintang di Langit Jogja 📍 Embung Nglanggeran, Gunungkidul – 18–19 Juli Kalau lo tipe senja-senja club, penggemar alam, dan suka musik chill, wajib banget ke Geopark Night Specta. Venue-nya di UNESCO Geopark Gunung Sewu, dan acaranya tuh gabungan antara edukasi, konser musik, dan pelestarian alam. Ada Letto, Tami Aulia, Hasan Aftershine, sampe musisi lokal lainnya tampil dengan gaya Georkestra yang syahdu. Ditambah lagi ada Festival Coklat yang ngajarin lo soal sustainability sambil icip-icip coklat lokal. Lo healing sambil nambah ilmu? Siapa takut! 5. Lovina Festival Bali: Sunsetan, Paddle, dan Bantuin Laut Tetap Bersih 📍 Lovina, Buleleng – 18–22 Juli Bro-sis, lo yang lagi cari vibes Bali tapi pengen yang beda dari Kuta-Canggu, Lovina Festival tempatnya! Di pantai utara Bali yang tenang dan eksotis, lo bisa join acara ramah lingkungan kayak stand-up paddle, underwater cleanup, cooking class, sampe fashion show budaya. Festival ini ngajarin lo jaga laut sambil having fun. Gak ketinggalan ada pameran UMKM, workshop kriya, dan seminar soal pariwisata berkelanjutan. Fix banget, healing lo jadi meaningful! Pokoknya, jangan sampe lo nyesel cuma rebahan di rumah doang, bro-sis! Festival-festival kece ini GRATIS alias tinggal dateng! Dari tabuhan bambu di Pacitan sampe sunset di Lovina, semuanya punya cerita lokal yang dikemas modern. Lo bisa stay stylish, tetep jalan-jalan, plus nambah wawasan budaya yang makin bikin lo bangga jadi anak Indonesia. Buruan ajak bestie, pacar, geng lo, atau solo trip sekalian juga seru banget. Juli 2025? Harus jadi bulan paling penuh warna di hidup lo! (Sumber Foto @gedekresna__)
...more

Lawang Sewu

Sebuah gedung tua peninggalan kolonial Belanda terlihat berdiri tegak di jantung kota. Gelap. Kosong. Eksotis sekaligus mistis. Angker. Kesan itulah yang terpancar dari Lawang Sewu, nama bangunan tua yang berada di dekat Bundaran Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah. Bangunan ini bergaya art deco dan memiliki begitu banyak pintu yang berderet. Secara harfiah, Lawang Sewu berarti seribu pintu, meski sebenarnya jumlah pintunya tidak sebanyak itu. Bangunan ini dibangun pada tahun 1904–1907, dan awalnya dipakai sebagai kantor pusat perusahaan kereta api regional wilayah Jawa Tengah yang dikelola oleh Belanda, yaitu Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Namun setelah Jepang berkuasa di Indonesia, gedung ini pun diambil alih dan ruang bawah tanahnya dijadikan sebagai saluran pembuangan air dan juga ruang tahanan sekaligus penyiksaan.Penjara bawah tanah ini menjadi saksi atas penyiksaan dan pembantaian terhadap orang-orang Indonesia, yang dilakukan oleh tentara Jepang pada saat diberlakukannya kerja paksa atau romusha. Suasana di tempat ini membuat bulu kuduk berdiri, apalagi saat memasuki salah satu sudut ruang sempit yang berbentuk seperti kolam-kolam kecil yang dulu dijadikan tahanan. Setelah Indonesia merdeka hingga tahun 1994, tempat ini sempat berubah fungsi menjadi kantor Djawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Sempat juga digunakan sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Namun setelah itu, bangunan ini dibiarkan kosong dan tidak terurus.Dulu, kesan angker dan mistis menyertai bangunan ini, tetapi setelah dipugar dan dijadikan pusat kerajinan Indonesia di Jawa Tengah, diharapkan kesan itu perlahan hilang. Semoga cagar budaya ini semakin banyak dikunjungi oleh wisatawan, bukan sebagai bangunan angker, tapi karena memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

Pantai Watu Bale, Spot Menarik Berfoto di Kebumen

TripTrus.Com - Kebumen salah satu daerah di Jawa Tengah yang terkenal memiliki tempat wisata keren, mulai dari wisata alam, sejarah hingga deretan pantai indahnya. Salah satu pantai tersembunyi di Kebumen bernama Pantai Watu Bale. Pantai Watu Bale terbilang pantai yang cukup sempit dan memiliki pasir berwarna hitam, walaupun begitu Pantai Watu Bale cukup memikat hati wisatawan. Pesona Pantai Watu Bale adalah spot-spot fotonya yang disusun sedemikian rupa sehingga nampak kece. Pantai Watu Bale memiliki lebih dari 3 buah selfie Desk yang sudah disediakan agar wisatawan berfoto dengan background yang unik. Tiga spot itu adalah Tebing Titanic, Jembatan Segitiga, dan Rumah Pohon. Salah satu spot selfie di Pantai Watu Bale adalah Bukit Titanic, yaitu sebuah bukit dengan bangunan berbentuk ujung kapal yang dibuat dari kayu.  Sahabat Sporto akan melihat sebuah kapal titanic yang dibangun di atas tebing Watu Bale, menciptakan kesan seolah ada sebuah kapal yang berlayar melintasi samudra Hindia. Selain Tebing Titanic, ada spot foto bernama Jembatan Segitiga, jembatan ini berbentuk segitiga yang instragamable. Jika ingin mendapatkan foto keren di jembatan segitiga Pantai Watu Bale, datanglah pada saat cuaca cerah dan langit yang biru agar hasil foto lebih berkesan. Selain itu, Pantai Watu Bale meiliki rumah pohon dengan pemandangan laut yang biru dan luas. Untuk konsep rumah pohon ini hampir mirip dengan Kalibiru di Kulon Progo, bedanya adalah background yang didapat lautan bebas dengan karang di kiri kanan. Sahabat Sporto bisa melihat panorama alam yang luar biasa. Jadi selain bisa menikmati suasana semilir angin laut dengan suara deburan ombak yang menyapu karang,  juga dapat mengambil foto dengan spot-spot yang memukau. (Sumber: Artikel sportourism.id Foto metrotvnews.com)
...more

Target Makin Gede, NTB Incar Lima Juta Wisatawan Di 2024 Dengan Serangkaian Event Keren!

TripTrus.Com - Target kunjungan wisatawan ke NTB pada tahun 2024 bakal dikejar sampe lima juta orang, guys! Dispar NTB pun yakin bisa mewujudkan target itu lewat serentetan event keren yang bakal digelar. Mulki, si Kepala Bidang Pemasaran Dispar NTB, bilang bahwa target gede ini juga mempertimbangkan kunjungan ke Tiga Gili (Trawangan, Air, Meno) di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Dia yakin banget, ngeliat kondisi sekarang, target ini bisa dicapai tanpa banyak beban. "Target kita lima juta. Gili-gili udah naik sekarang, tinggal naikin kualitas aja. Gak susah banget kok ngeliat step-stepnya," ungkapnya semangat, Senin (28/11) pagi.       View this post on Instagram A post shared by Tristan Valmy (@trisiwiz) Katanya lagi, tiap harinya udah ada sekitar 2 ribu turis mancanegara yang merapat ke Tiga Gili. Selain itu, potensi wisatawan juga datang dari kapal pesiar yang berlabuh di Lombok. "Nah sekarang gimana kita atur sama KLU dan gimana caranya ngefisienin biar serasi," jelasnya. Dia ngejelasin lagi, target wisatawan saat ini udah mendekati dua juta orang. Plus, akhir tahun 2023 ini diprediksi bakal melonjak. "Pasti nambah kalo udah akhir tahun. Makanya aku yakin tahun 2023 bisa capai tiga juta wisatawan. Tinggal sesuain data aja," tambahnya semangat. [Baca juga : "Desa Wisata Serangan Bakal Makin Keren Di 2024!"] Supaya target bisa tercapai, rencananya bakal ditambah rute penerbangan dan dikoreksi harga tiket biar ramah dompet. Turunin harga tiket ini sih butuh kebijakan nasional. "Harus ada kebijakan nasional, itu kendalanya. Kita kemarin ajak investor ke PJ Gub biar rute dari Senggigi, Tiga Gili, sampe Pulau Moyo, Komodo bisa lanjut terus," bebernya. Target ini juga dapet dukungan dari Kemenparekraf RI, loh. Ada banyak event seru yang bakal digelar buat tarik perhatian para wisatawan. "Event-event ini banyak banget digelar. Nanti tata kelola kita bakal dipoles lagi biar makin kece," tegasnya. Event terakhir tahun ini adalah Lombok Sumbawa Motocross. Mereka bakal usahain biar event ini bisa jadi agenda rutin yang dihelat pertengahan tahun. "Ada nih Lombok Sumbawa Motocross, mungkin kedepannya bisa mulai tahun atau pertengahan tahun. Gak mendadak, biar persiapannya makin oke," tambahnya sambil semangat. (Sumber Foto @thelomboklodge.pool.villas) 
...more

Begini Kolaborasi Petani Kopi Robusta dengan Dinas Pariwisata

TripTrus.Com -  Gunung Pancar tak hanya menyajikan suasana alam pedesaan yang adem dan asri. Gunung yang berada di wilayah Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini juga dikenal dengan penghasil kopi robusta. Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor, bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berkolaborasi menjadikan kawasan itu sebagai kampung lopi.  Disebut demikian karena Babakan Madang sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Barat untuk jenis robusta. "Produksi kopi robusta sebanyak 2.844.528 kilogram per tahun," kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Irma Villayanti di Cibinong, Senin, 6 Agustus 2018.       View this post on Instagram Diveraifikasi perkeebunan kopi dengan sayur. Ada enaknya Ada ga enaknya Enaknya, kita bisa memiliki dua penghasilan. Tanah padat termanfaatkan maksimal. Habis jual kopi lalu panen sayur. Asyik kan, duitnya banyak Xixixixi Salah satu ga enaknya adalah ketika salah satu tanaman sayur atau kopi terkena hama. Dan menular ke pohon lain, lalu terjadilah transfer penyakit. Jadi kami harus telaten menyemprot dengan fungisida. Kami sedang riset fungisida alami menggunakan bahan yang ada di kebun. Bahannya sangat mudah ditemui misalnya gadung, mimba, mahkota dewa, lengkuas, jahe, kunyit, dan serai. Ah, bertani itu penuh tantangan, kesabaran dan mengasyikkan. Bangga saat hasilnya memuaskan, sabar ketika belum sesuai harapan. Semua itu tak lain agar kita pandai bersyukur dan selalu ikhtiar. Sudah sore ya, siap-siap pulang kerja ya bosku? Pulangnya ngopi dulu☕☕☕ #pirocoffee #kopisukabumi #kopijabar #javapreanger #scai #kopigayo #kopimalaysia #kopibogor #kopijakarta #kopibekasi #kopidepok #kopibali #kopitoraja #kopipapua #kopijogja #kopisurabaya #kopibandung #kopicianjur #kopijatim #kopipuntang #manualbrew #coffeeroaster #sukabumi #sukabumi_ #sukabumifoodies #sukabumikuliner #sukabumiupdate #sukabumitoday #geoparkciletuh #arabika A post shared by Piro Coffee Halimun Sukabumi (@kopigununghalimunsukabumi) onOct 5, 2018 at 3:06am PDT Luas area tanaman kopi saat ini, berdasarkan catatan Irma, mencapai 6.059 hektare terdiri dari 408 hektare kopi jenis arabika dan 5.651 hektare robusta. Data rata-rata produksi 750  sampai 800 kilogram per hektare. Hasil ini belum mengarah ke produktivitas maksimal. "Hasil yang sesungguhnya seharusnya bisa mencapai 1.500 sdampai 2.000 kilogram perhektare." Tak kurang dari 40 kelompok tani kopi di Gunung Pancar berhimpun. Mereka mendapat binaan, berupa pelatihan peningkatan produksi dan promosi. "Menurut data, pecapain tersebut setelah ada 40 kelompok tani yang menjadi binaan," kata Irman. Untuk meningkatkan produktivitas, menurut Irma, perlu adanya sistematika dan sinergisitas dengan Dinas Pariwisata. "Ini sistematika membuka peluang usaha agar tercapainya kemandirian dan penyegaran di bidang pariwisata guna menjadikan kampung wisata kopi," ujar Irman sembari menambahkan bahwa sektor pariwisata, hasil perkebunan dan hasil bumi harus bersinergi menjadi obyek wisata alam. Di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, petani kopi robusta memasuki akhir panen. Berdasarkan pantauan di Desa Tepusen, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, harga biji kopi robusta di tingkat petani pada awal panen Rp 24 ribu per kilogram, saat ini turun menjadi Rp 23 ribu per kilogram. [Baca juga : "Festival Kopi Temanggung Sediakan 1000 Gelas Kopi Gratis"] Menurut petani kopi di Dusun Nolopo, Desa Tepusen, Mujiono, mengatakan meskipun harga biji kopi turun, namun harga kopi gelondong masih bertahan Rp 5.500 per kilogram untuk petik campur, yakni merah dan hijau, sedangkan petik merah bisa mencapai Rp6.000 sampai 6.300 per kilogram. "Penurunan harga kemungkinan karena produksi kopi tahun ini melimpah dibanding tahun lalu," kata pria 60 tahun ini. Petani warga Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Eko Susilo, menjelaskan produksi kopi tahun ini memang lebih baik dari tahun lalu karena pada saat berbunga disertai hujan yang cukup. "Kami menyayangkan harga biji kopi turun di akhir masa panen ini," kata Eko yang memprediksi pada akhir Agustus ini kemungkinan panen kopi selesai. (Sumber: Artikel tempo.co Foto pixabay.com)
...more

Tiga "Kartini" Travel Writer dalam Dunia Perjalanan

TRIPTRUS - Sebelum Raden Ajeng Kartini berusia 20 tahun, kaum perempuan diberi kebebasan sebatas macak (merias diri), masak, dan manak (melahirkan). Para perempuan terkungkung dengan berdiam diri di rumah dan menyiapkan seluruh keperluan untuk suami dan anak-anaknya. Tetapi kini, perempuan dan laki-laki bisa bepergian sama jauhnya. Tidak tampak lagi batasan antara perempuan dan laki-laki soal perjalanan. Pun dengan travelling dengan berkeliling dunia. Emansipasi wanita pun telah melahirkan banyak travel writer yang menginspirasi para pecandu perjalanan untuk pergi lebih jauh. Menularkan semangat untuk melihat dunia lebih luas. Berikut Okezone rangkum tiga travel writer wanita yang selalu membagi pengalaman perjalanannya ke berbagai belahan dunia melalui buku:   Claudia Kaunang Perjalanan sepertinya telah mendarah daging pada perempuan kelahiran Jakarta ini. Claudia Kaunang memulai traveling pertamanya sejak bayi. Claudia menerbitkan buku pertamanya pada tahun 2009 yang berjudul Rp2 Juta Keliling Thailand, Malaysia & Singapura. Keinginannya menulis buku ini berangkat dari rasa ingin membagi pengalaman dan tips berlibur hemat pada traveller,terutama mereka yang senang bepergian dengan budget minim atau backpacker. Delapan buku lain ciptaannya adalah TraveLove, Rp2,5 Juta Keliling Jepang, Rp3 Juta Keliling Taiwan, Rp2 Juta Keliling Macau, Hong Kong & Shenzhen, Rp500 Ribu Keliling Singapura, 101 Travel Tips & Stories, dan Traveling is Possible (2015). (Sumber: bambangpurnomohp.blogspot.com) Melalui buku Traveling is Possible, ia ingin menularkan semangat travelling pada masyarakat. Dalam bukunya ini, ia menuliskan berbagai kalimat inspirasi untuktravelling. Bagi seorang Claudia Kaunang, travelling bukan hanya soal jalan-jalan, tetapi juga mendekatkan diri kepada Tuhan, belajar memahami karakter masyarakat di suatu negara, belajar lebih peka terhadap lingkungan dan berbagai aspek sosial lainnya.   Windy Ariestanty Windy adalah seorang travel writer yang telah menulis beberapa buku, termasuk Life Traveler (2011) dan Studying Abroad: Belajar Sambil Berpetualang di Negeri Orang (2007). Melalui bukunya, Windy berbagi pengalamannya saat travelling. Ia juga mendeskripsikan perjalanan dalam arti yang luas. Tentang menemukan rumah bagi batinnya, tentang menemukan teman dan saudara yang tidak memiliki ikatan darah. (Sumber: ganlob.com) Baginya, perjalanan adalah sebuah rumah yang sesungguhnya. Sehingga tidak membuatnya asing meski berada di tempat asing. “Because travelers never think that they are foreigners,” ujarnya.   Trinity Trinity mulai dikenal sejak menulis blog The Naked Traveler. Kemudian ia menulis buku dengan judul yang sama. Sejak saat itu, dirinya menjadi salah satu penulis buku travel terkenal di Indonesia. Bahkan, ia pernah mendapatkan penghargaan sebagai Manusia Inspirasional yang memberi Kontribusi bagi Dunia Pariwisata pada 2010 oleh sebuah majalah travel. Hingga saat ini, dirinya telah menelurkan delapan buku tentang perjalanan. Tak hanya melalui buku, perempuan kelahiran Sukabumi ini juga kerap membagi pengalaman liburannya melalui akun Twitter-nya, @trinitytraveler. (Sumber: kompas.com) Dalam urusan travelling, Trinity bukanlah orang yang senang menikmati perjalanan dengan fasilitas mewah. Ia justru lebih senang bepergian sendiri dengan memilih tempat-tempat terpencil yang menawarkan keindahan alam yang asri dan menenangkan. (Sumber: Artikel okezone.com Foto panduanwisata.id)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography

Upcoming Trips

Open Trip Dieng Plateau
10 - 12 Jul 2026
Treaking Gunung Papandayan
10 - 11 Jul 2026
Open Trip Pulau Pari
11 - 12 Jul 2026
Open Trip Pulau Tidung
11 - 12 Jul 2026
×

...