shop-triptrus



April Saatnya ke Cirebon, Ada Festival Pesona Cirebon

TRIPTRUS.COM - Cirebon, Jawa Barat, segera menggelar festival "pesona Cirebon" pada bulan April mendatang yang bertujuan mengenalkan potensi wisata daerah tersebut ke publik. "Kami akan adakan festival 'pesona Cirebon' bulan April, ini bertujuan untuk mengangkat wisata, budaya dan juga sejarah Cirebon," kata Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Arief Natadiningrat, di Cirebon, Sanin. Festival yang semula direncanakan dengan nama festival "pesona bahari Cirebon" kemudian diganti, karena untuk memperkenalkan keseluruhan Cirebon ke Publik bukan hanya baharinya saja. Cirebon merupakan salah satu kota yang kaya akan budaya, sejarah dan peninggalan atau artevak kuno, untuk itu perlu dipamerkan dan juga dipublikasikan kepada masyarakat luas. "Pesona Cirebon itu lebih menyeluruh, mengingat Cirebon begitu banyak sejarah dan budaya yang perlu diletahui khalayak," ujarnya. Dalam festival itu akan ditampilkan semua kesenian Cirebon juga makanan khas Cirebon, karena temanya adalah Cirebon. Sultan berharap, dengan adanya festival Cirebon bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas dan juga pariwisata yang ada bisa semakin maju. "Kami ingin mengenalkan dan mengangkat pariwisata Cirebon, karena dengan berkembangnya pariwisata, maka perekonomianpun akan mengikutinya," ujarnya. (Sumber: Artikel dan Foto kompas.com)
...more

4 Tempat Bersejarah di Kota Cilegon

TripTrus.Com - Pada tahun 1816 dibentuk Districh Cilegon atau Kewedanaan Cilegon oleh pemerintah Hindia Belanda dibawah Keresidenan Banten di Serang. Rakyat Cilegon ingin membebaskan diri dari penindasan penjajahan Belanda. Puncak perlawanan rakyat Cilegon kepada Kolonial Belanda yang dipimpin oleh KH. Wasyid yang dikenal dengan pemberontakan Geger Cilegon 1888 tepatnya pada tanggal 9 Juli 1888, mengilhami rakyat Cilegon yang ingin membebaskan diri dari penindasan penjajah dan melepaskan diri dari kelaparan akibat Tanam Paksa pada masa itu. Pada masa 1924, di Kewedanaan Cilegon telah ada perguruan pendidikan yang berbasis Islam yaitu perguruan Al-Khairiyah dan madrasah Al-Jauharotunnaqiyah Cibeber. Dari perguruan pendidikan tersebut melahirkan tokoh-tokoh pendidikan yang berbasis Islam di Cilegon. Pada masa kemerdekaan, dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia rakyat Cilegon telah menunjukan semangat juangnya. Jiwa patriotisme rakyat Cilegon dan Banten pada umumnya dizaman revolusi fisik mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 telah ditunjukan dan terkenal dengan Tentara Banten. 1. Rumah Dinas Walikota Cilegon       View this post on Instagram Rumdin walikota Cilegon.. Indah bukan. @pemkotcilegon @ilovecilegon @cilegoneksiss @halocilegon A post shared by ADI HARYADI (@adyvanhoutten93) onOct 25, 2018 at 10:38pm PDT Rumah dinas Walikota Cilegon terletak di Jl. Jenderal Ahmad Yani, Jombang Wetan, Kec. Cilegon, Kota Cilegon, Banten 42416, merupakan bekas gedung kawedanan, sebagai kantor Asisten Residen Gubbels, hingga kini bangunan berarsitektur Eropa ini masih terpelihara dengan baik. Bangunan ini menjadi saksi atas tragedi berdarah “Geger Cilegon” yang terjadi pada tahun 1888, dipimpin oleh KH. Wasyid. Rumah bergaya Eropa bercorak oud Holland atau Belanda Kuno ini menggunakan serambi yang disangga oleh tiang-tiang bergaya doria, sebuah gaya dengan bantalan di bagian atasnya berbentuk segi empat dan badan tiangnya dihiasi motif gerigi bertaut. Model bangunan rumah ini oleh V.I van de Wall disebut sebagai gaya echt Indisch atau gaya Hindia Belanda yang sebenarnya. Daun pintu dan jendela pada bangunan ini memiliki corak tersendiri berjenis jalousie window atau jendela yang disusun dari tumpukan kayu yang tertata rapi horizontal. Denah bangunan ini berbentuk empat persegi panjang, menghadap kearah timur. Didepan bangunan utama terdapat bangunan berbentuk joglo (semacam tempat pertemuan) dengan empat tiang utama ditengah dan sepuluh tiang kecil yang menopang atap bersusun dua. Bangunan utama terdapat 5 terap anak tangga dibagian muka.Bagian serambi bangunan ini ditopang oleh 6 buah pilar berbentuk persegi empat berwarna putih,dua buah pilar dikiri dan kanan berbentuk pilaster (tiang semu). Dinding serambi berdaun jendela terbuat dari kayu berjenis jalosie window. Atap bangunan berbentuk limasan dengan konstruksi kayu. Gentingnya terbuat dari tembikar berwarna coklat, yang kini sudah diganti dengan genting berglasir. Pintu masuk bagian depan berukuran besar (tinggi 3 meter) berjumlah 4 buah, keempatnya merupakan pintu rangkap, artinya memiliki dua lapis daun pintu. Daun pintu rangkap pertama terbuat dari bahan kayu dengan hiasan potongan kayu susun kebawah (jalosie) dan seperempat bagian berbentuk panil biasa, daun pintu rangkap kedua terbagi kedalam 4 bagian, 3 panil teratas diberi kaca, sebuah panil yang terletak dibawah berbentuk panil kayu biasa. Pada bagian belakang bangunan ini terdapat halaman yang luas dan bangunan tambahan berbentuk barak. Bangunan yang disebelah kanan diperuntukkan untuk kantor, dan yang disebelah kiri diperuntukkan untuk garasi. Dibagian selatan terdapat bangunan yang digunakan sebagai kantor. Bentuk bangunan ini bujur sangkar, atap bangunan bergaya joglo. 2. Stasiun Cilegon       View this post on Instagram Menunggu kereta terakhir.... #keretaapirangkasmerak #stasiuncilegon #poejalankaki #kotacilegon A post shared by Poe Saputra (@saputrapoe) onAug 3, 2018 at 4:56am PDT Stasiun Cilegon (CLG) adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Jombang Wetan, Jombang, Cilegon. Stasiun yang terletak pada ketinggian +14 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta. Stasiun ini mulai dibuka pada tanggal 1 Desember 1899, dengan petak jalan Stasiun Serang-Stasiun Anyer Kidul sepanjang 27 km. Bangunannya terdiri dari dua buah ruangan: ruangan pertama adalah ruangan kontrol perjalanan kereta api dan ruang kepala stasiun, sedangkan ruang kedua merupakan loket dan administrasi. Bangunan stasiun ini merupakan salah satu dari lima bangunan cagar budaya yang ada di Kota Cilegon. 3. Stasiun Krenceng       View this post on Instagram Stasiun Kereta Api Kerenceng #shootonVIVOv9 #fotography #stasiunkrenceng #banten A post shared by @ dinioktvni__ onJul 8, 2018 at 8:38am PDT Stasiun Krenceng (KEN) merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Kebonsari, Citangkil, Cilegon. Stasiun yang terletak pada ketinggian +16,15 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta. Stasiun ini memiliki tiga jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus. Stasiun kereta api Krenceng didirikan pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, sekitar tahun 1896 oleh Staatspoorwegen (Perusahaan Kereta Api Negara). Stasiun kereta ini menjadi penghubung dan jalur yang cukup vital menuju Batavia, melalui Serang, Rangkasbitung, dan Serpong. Dahulu stasiun ini merupakan persimpangan menuju Anyer kidul lalu jalur ini ditutup pada tahun 1981 dan hanya digunakan hanya untuk kereta api babarandek (batu bara rangkaian pendek) tujuan Nambo dari Cigading. Hanya ada satu kereta api yang melayani penumpang di stasiun ini, yaitu KA Lokal Merak. [Baca juga : "3 Wisata Sejarah Di Tangerang Selatan"] 4. Rumah Maulana Hasanudin Rumah Maulana Hasanudin terletak di Jalan Umar nomor 175-A, Lingkungan Temu Putih, Kelurahan Ciwaduk, Kecamatan Cilegon. Tipe rumah mewah pada zamannya itu bergaya oud indische stujl atau bergaya klasik Indis atau Hindia lama ini menggunakan serambi depan tinggi dan luas, sebelum 1974 masih digunakan sebagai tempat tinggal oleh Tuan Hanibal. Tetapi setahun berikutnya kosong tak berpenghuni sampai 1994. Kini rumah itu digunakan sebagai tempat pusat pendidikan anak sholeh Yayasan Maulana Hasanudin. Kawasan perkampungan ini berada di Jalan Kyai Haji Undulusi, Kampung Pekuncen, Kelurahan Ciwedus, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, Provinsi Banten. Kawasan ini merupakan permukiman kuno, hal ini terlihat dari beberapa bangunan rumah tradisional yang terdapat di sepanjang Jalan Kyai Haji Undulusi. Salah satu rumah kuna yang ada di kawasan ini adalah rumah tinggal Ibu Tuasmah. Rumah tinggal ini tepat berada di depan Masjid Agung Kampung Pekuncen, dimana di bagian selatan berbatasan dengan Jalan Kyai Haji Undulusi, di utara berbatasan dengan rumah penduduk, bagian barat dan timur juga berbatasan dengan rumah penduduk. Menurut keterangan Ibu Tuasmah (70 tahun), rumah ini merupakan peninggalan dari orang tuanya yang berprofesi sebagai petani dan pedagang. Rumah yang berukuran 12,60 m x 15,70 m tersebut, dibagi menjadi dua bagian dimana bagian barat ditempati oleh Ibu Tuasmah beserta keluarganya sedangkan bagian timur ditempati oleh Ibu Maadiah (adik ibu Tuasmah) beserta keluarganya. Bangunan ini disekat menggunakan pasangan bata berplester di bagian tengah, yang berfungsi sebagai pemisah antara rumah Ibu Tuasmah dan Ibu Maadiah. Ketebalan dinding penyekat bangunan tidak setebal dinding asli yang mempunyai ketebalan 26 cm. Dinding bangunan asli terbuat dari bata mentah dengan plesteran dari tanah dan kapur. Untuk mempermudah, selanjutnya bangunan ini akan disebut dengan rumah tinggal Ibu Tuasmah. Bangunan ini berdenah segi empat dengan atap berbentuk pelana dan penutup atap berupa genteng tanah liat. Semula, penutup atap bangunan ini berupa “welit” yaitu daun pohon kelapa yang dikeringkan. Bangunan lebih tinggi 60 cm dibandingkan permukaan tanah di sekitarnya. Bangunan mempunyai selasar (teritisan) di bagian depan (selatan) selebar 90 cm yang atapnya berbeda dengan atap bangunan inti, sehingga atap bagian depan terlihat bersusun dua. Atap teritisan tersebut ditopang oleh empat tiang kayu serta beberapa konsul kayu yang menempel di dinding bangunan. Selasar atau teras depan ini berfungsi sebagai ruang transisi antara lingkungan luar dengan rumah tinggal. Bagian ini bersifat profan atau terbuka. (Sumber: Artikel gpswisataindonesia.info Foto id.railfansid.wikia.com)
...more

Prediksi Destinasi Wisata Indonesia yang Banyak Dikunjungi di 2018

TripTrus.Com - Liburan tahun baru sudah berakhir, kini saatnya menyongsong 2018 dengan semangat baru dan segudang rencana baru. Sebagian dari kamu mungkin telah menyiapkan rencana traveling ke luar kota seperti Bali, Malang, Medan, Yogyakarta dan lain-lain. Tak hanya itu saja, ada beberapa kota lainnya di Indonesia yang diprediksi akan banyak dikunjungi oleh para wisatawan di 2018. Di mana saja? Simak ulasannya di sini: 1. Danau Toba, Sumatera Utara dan Sabang, Aceh   Dari sudut manapun danau toba memang sangat indah .. Horas halak hita #bataknesia #halakhita #horas #hitsbatak #danautoba #indonesia #zonabatak A post shared by HITS BATAK (@hitsbatak70) onJan 2, 2018 at 10:17pm PST "Destinasi wisata di Aceh dan Sumatera Utara diprediksi akan semakin naik daun pada 2018. Pasalnya, terminal Bandara Internasional Silangit, Tapanuli Utara, baru saja diresmikan Presiden Jokowi pada 24 November 2017 lalu dan menyediakan penerbangan langsung dari Singapura." Otomatis, bandara itu akan memudahkan akses traveler yang ingin menyambangi Danau Toba, Aceh dan sekitarnya.Selain itu, acara Sail Sabang juga menarik banyak wisatawan pada 2017 lalu sehingga tak menutup kemungkinan Sail Sabang 2018 mendatang akan lebih ramai lagi. Event ini berhasil mendongkrak jumlah wisatawan di Aceh dan sekitarnya. 2. Palembang, Sumatera Selatan   Pulo Kemaro dengan pagodanya setinggi 40 meter di Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan. Pulau ini mempunyai luas sekitar 24 hekatare di dalamnya juga terdapat Klenteng Hok Tjing Bio. Pulau ini berjarak sekitar enam kilometer dari Jembatan Ampera. . Di pagoda terdapat relief yang mengisahkan legenda Siti Fatimah dan Tan Bun An, yaitu sepasang pengantin baru yang menceburkan diri ke Sungai Musi dan tak pernah kembali. . Foto oleh Marti Karina PS @mkarinaps #natgeoindinesia #natgeotraveler #natgeotravelerid #pulokemaro #palembang #sumsel A post shared by National Geographic Indonesia (@natgeoindonesia) onJul 21, 2017 at 12:38am PDT Sebagai tuan rumah Asian Games 2018, Indonesia punya kesempatan emas untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. Palembang yang menjadi kota penyelanggara akan merasakan dampak langsung meroketnya jumlah wisatawan pada 2018. Mulai dari atlet hingga supporter dari penjuru Asia akan memenuhi Palembang saat Asian Games digelar. Satu yang jelas, pempek diprediksi akan menjadi kuliner yang semakin populer. 3. Lombok, Nusa Tenggara Barat   Dikarenakan habis hujan , gagal deh dapet air yang berwarna biru . Tapi , tidak masalah yang penting masih bisa selfie . thanks abang @_ayyif udah mau jadi fotografer aku 😊⛰🌧#waterfall #mangkusaktiwaterfall #nature #views #lomboktrip #explorelombok #vacation A post shared by Gaby (@0313_gaby) onJan 2, 2018 at 10:59pm PST Lombok Mandalika memang selalu ramai oleh traveler sepanjang tahun. Namun sejak Kawasan Ekonomi Khusus Lombok Mandalika diresmikan pada 20 Oktober 2017 lalu, jumlah wisatawan diprediksi akan terus melonjak naik pada 2018 ini. Lombok juga mengantongi tiga penghargaan dalam World Halal Tourism Awards pada 2016 lalu. Bisa jadi popularitas Lombok segera menyaingi Bali. 4. Banyuwangi, Jawa Timur   Kehidupan yang baik belum tentu membuatmu bahagia, tapi jika kamu bahagia maka kehidupanmu akan menjadi baik. #alaspurwo #pancur A post shared by Nando™ itsuki (@ernandamufc) onJan 1, 2018 at 8:38am PST Dengan slogan ‘Majestic Banyuwangi, kabupaten di ujung timur Jawa ini makin getol mempromosikan pariwisatanya. Apalagi sejak 22 Desember 2017 lalu, Bandara Banyuwangi telah resmi dioperasikan oleh Angkasa Pura II (Persero). Operator bandara tersebut berambisi untuk menaikkan jumlah penumpang di Bandara Banyuwangi menjadi dua kali lipat. Dengan bertambahnya jumlah penerbangan langsung dari Jakarta-Banyuwangi, tentu akan memudahkan traveler bertandang ke destinasi itu. Banyuwangi juga punya sejuta pesona seperti Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Pantai Red Island, dan lain-lain. 5. Sumba, Nusa Tenggara Timur   Tanjung Mareha- with outlook to Bwanna beach #sumba #travel #wonderfulindonesia A post shared by winta (@wintawati) onDec 30, 2017 at 2:25pm PST Dinas Pariwisata NTT juga sedang giat menarik perhatian wisatawan pencinta suasana eksotis. Salah satu yang menjadi andalan adalah Sumba. Selama ini Sumba terkenal dengan padang savana di mana kita bisa melihat kuda berlarian bebas Padang savana itu rencananya akan dibuat wisata ternak. Pemandangan galaksi milky way di langit malam Sumba juga yang terbaik di Nusantara. Oleh karena itu Sumba diprediksi akan makin naik daun pada 2018. (Sumber: Artikel kumparan.com, Foto flickr.com/JohnsonRingo)
...more

5 Masjid Tertua Dan Bersejarah Di Kudus - Part 3

TripTrus.Com – Sepanjang wilayah Pantai Utara Timur dari Demak-Kudus hingga ke Jawa Timur dikenal sebagai daerah-daerah persinggahan para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam. Tak heran, jika budaya dan sisa-sisa peninggalan sejarah Islam masih melekat di daerah tersebut. Seperti di Kota Kudus, terdapat makam Sunan Muria dan Sunan Kudus, sebagai penyebar agama Islam yang sampai sekarang makamnya banyak dikunjungi peziarah. Dengan kehadiran dua tokoh tersebut, banyak meninggalkan kisah dan artefak kebudayaan Islam yang masih dapat dijumpai di sejumlah tempat. Salah satunya peninggalan masjid-masjid yang memiliki sejarah panjang. Berikut 5 masjid tua bersejarah di Kudus yang bisa menjadi pengingat dan bahan pelajaran generasi saat ini. 1. Masjid Jami' Kaujon       View this post on Instagram A post shared by RIZKY AJHARIE (@rizky_ajharie) onJun 28, 2017 at 7:01am PDT Langgardalem, adalah sebuah desa yang konon dulunya adalah tempat tinggal Sunan Kudus. Di desa ini terdapat delapan dukuh, yang masing-masing dukuh itu memiliki masjid sendiri. Di dukuh Kaujon ada sebuah masjid yang berada di atas kontur tanah yang tinggi, Kaujon pula namanya. Nama yang sama dengan dukuhnya dikarenakan tidak ada yang tahu kapan dan oleh siapa masjid ini dibangun. Masjid ini dulunya kecil, dan tanah sekeliingnya kala itu adalah milik Nitisemito. Kemungkinan masjid ini sudah ada sejak zaman Nitisemito. Luas bangunan masjid awalnya hanya 70 m2. Masjid Kaujon direnovasi pertama kali pada tahun 1989 dengan diprakarsai oleh K.H. Ma’ruf Irsyad yang kala itu menjadi nadhir masjid dan H. Mukhlis, BA yang menjadi wakil nadhir. Pelebaran hingga teras depan dilakukan karena semakin banyaknya jamaah. Hingga sekarang, luas masjid sekitar 345 m2 dan dapat menampung 800 jamaah. Dengan daya tampung tersebut, masjid ini disebut-sebut sebagai masjid terbesar di desa Langgardalem. 2. Masjid Agung Kudus       View this post on Instagram A post shared by KUDUS (@sekitarkudus) onMay 18, 2018 at 1:26am PDT Pada awalnya masjid ini tidak seperti sekarang. Masjid ini dulunya bernama Masjid Kriyan yang letaknya ada di belakang “Toko Sidodadi”5 . Berdasarkan cerita, keberadaan Masjid Kriyan sebenarnya masih ada, akan tetapi jalur akses untuk menuju ke lokasi sudah tidak bisa. Pada tahun 1991 Masjid Kriyan ini dipindahkan ke lokasi Masjid Agung Kudus yang sekarang ini. Berdirinya Masjid Agung Kudus, merupakan salah satu dari beberapa syarat yang harus ada dalam keberadaan pemerintahan. Pada zaman kolonial syarat adanya pusat pemerintahan harus mencakup tiga komponen, (Tiga Adat Jawa) yaitu: 1. Pendapa Kabupaten (dulu Kadipaten), 2. Adanya alun-alun dan 3. Adanya pohon besar yang terletak bersebelahan dengan kadipaten atau 1. Masjid, 2. Pendopo dan 3. Pembinaan Umat. Atas dasar tersebut, oleh prakarsa dari Muhammad Idris atau Raden Tumenggung Aryo Condro Negoro ke-IV (Bupati Kudus ke-4) pada tahun 1853 M/1274 H pembangunan Masjid mulai berlangsung. 3. Masjid Al-Firdaus Masjid Al-Firdaus merupakan masjid Muhammadiyah terbesar se-Kabupaten Kudus. masjid dominan warna merah marun itu dibangun sekitar tahun 1925. Masjid terakhir mulai direnovasi pada tahun 2012, hingga sekarang sudah hampir tujuh tahun mengalami perbaikan, biaya pembangunan diambil dari hasil swadaya masyarakat. Masjid berdiri di atas tanah luas sekitar 2 ribu meter persegi.  Sebelum direnovasi, masjid dulu berdiri seluas tanah 100 meter persegi. Masjid yang terletak di Jl. Raya Sudimoro, Desa Gribig, Kec. Gebog, ini memiliki dua buah menara yang menjulang tinggi. Menara tersebut mengapit kubah berwarna merah berkombinasi putih. Di bagian depan masjid, terdapat kubah-kubah kecil berwarna emas mengelilingi halaman masjid sebagai pagar. Dua buah menara di bagian depan mengadopsi desain dari Masjid Nabawi di Madinah. Di ruang utama masjid bagian dalam kubah bertuliskan lafal Ayat Kursi yang melingkar seirama bentuk kubah. Depan masjid dan bagian imam, tertuliskan lafal Allah dan Muhammad. [Baca juga : "5 Masjid Tertua Dan Bersejarah Di Kudus - Part 2"] 4. Masjid Kyai Telingsing       View this post on Instagram A post shared by M.Sholachudin.AL_AYUBI (@al_ayubi.54) onJun 10, 2019 at 9:06am PDT Menurut H.J. De Graff & Th. Pigeaud (1985:108-122) Sunan Kudus merupakan salah satu imam masjid Kerajaan Demak pada akhir masa Sultan Trenggana, dan pada awal masa Sultan Prawata. Kyai Telingsing sebagai Guru Sunan Kudus dalam hal ilmu kanuragan atau kasekten adalah mubalig yang berasal dari Yunnan, Tiongkok Selatan. Selain menjadi mubalig, beliau juga seorang pedagang, serta pelukis terkenal dengan motif lukisan Dinasti Sung dari Tiongkok. Setelah datang ke Kudus untuk menyebarkan Islam, ia kemudian mendirikan Masjid Kyai Telingsing dan pesantren di Kampung Nganguk. Masjid yang diyakini sebagai tempat syiar agama untuk orang-orang yang nyantri pada Kiai Telingsing. Hanya saja, bangunan masjid itu tampak modern, jauh dari kesan kuno. Konon, dulu bangunnaya dari kayu jati berbentuk panggung. Di depan masjid, ada bangunan berbentuk Joglo Pencu, ciri arsitektural rumah di Kudus. Ada teras yang luas. Jejak lain sang kiai yang bisa dijumpai makam yang berjarak sekitar 50 meter dari masjid. 5. Masjid Darussalam Masjid yang dibangun pada tahun 1938, berlokasi di Dukuh Jetak, Desa Kedungdowo, RT. 05 RW. 04, Kaliwungu. Masjid ini memiliki luas tanah 925 m2 , luas bangunan 2.700 m2 dengan status tanah Wakaf. Jumlah daya tampungnya 50 - 100 jamaah. Semenjak terakhir direnovasi, halaman masjid jadi terlihat lebih luas dan bangunan masjidnya juga jadi lebih bagus. (Sumber: Artikel sknews.com, betanews.id, kemdikbud.go.id, lokadata.id, dkm.or.id Foto instagram.com/al_ayubi.54) 
...more

Tempat Wisata Favorit Orang Indonesia Ternyata Bukan Hanya Bali!

TripTrus.Com - Berbeda dengan para wisatawan asing, orang Indonesia tidak mengunjungi Bali sebagai destinasi wisata yang paling populer. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), wisatawan nusantara atau wisnus cenderung mengunjungi daerah-daerah di Pulau Jawa. Dari total 734,86 juta perjalanan yang dilakukan oleh wisnus sepanjang tahun 2022, sekitar 75,49% atau tiga dari empat perjalanan dilakukan ke Pulau Jawa.       View this post on Instagram A post shared by Rental Sewa Mobil Hiace Jogja | Rent Car & Tour Yogyakarta (@sewahiacejogja_insan) Kepala BPS, Margo Yuwono, mengungkapkan bahwa daerah yang paling banyak dikunjungi oleh wisnus pada tahun 2022 adalah Jawa Timur dengan total 200,55 juta perjalanan atau 27,29% dari total perjalanan wisnus. Selanjutnya, wisnus juga banyak mengunjungi Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan jumlah perjalanan masing-masing sebesar 123,53 juta (16,81%) dan 110,35 juta (15,02%). DKI Jakarta, Banten, dan Yogyakarta juga termasuk dalam enam besar provinsi tujuan utama wisnus, namun seluruhnya berada di Pulau Jawa. Sedangkan untuk Bali, jumlah total perjalanan wisnus ke daerah tersebut sebanyak 14,26 juta atau sekitar 1,94% dari total perjalanan wisnus. Jumlah kunjungan wisman ke Bali pada tahun 2022 juga lebih banyak dibandingkan wisnus, yaitu sebanyak 3,29 juta kunjungan. [Baca juga : "Mengunjungi Taman Nasional Gunung Bromo Saat Libur Lebaran: Panorama Alam Yang Menakjubkan"] Pada tahun 2022, jumlah wisnus yang berpelesir di dalam negeri semakin meningkat. Total perjalanan wisnus mencapai 734,86 juta perjalanan, yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 (613,30 juta), tahun 2020 (524,57 juta), namun masih di bawah jumlah perjalanan wisnus pada tahun 2019 (712,16 juta). Margo Yuwono mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah wisnus pada tahun 2022 sangat menggembirakan, karena terjadi peningkatan sebesar 19,82% dibandingkan dengan tahun 2021 dan peningkatan 1,76% dibandingkan dengan masa sebelum tahun 2019. (Sumber Foto @hladchenko_ph) 
...more

Pesona Kepulauan Togean

TRIPTRUS- Di tengah Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, terhampar puluhan pulau indah yang membentuk gugus Kepulauan Togean. Pesona Kepulauan Togean tersebut membuat pemerintah menetapkan kawasan Togean sebagai taman nasional pada tahun 2004. Togean dikenal kaya akan keindahan alam bawah laut dan hamparan datarannya yang menakjubkan. Jika selama ini traveler dari seluruh dunia terpesona dengan keindahan Raja Ampat (Papua Barat) dan Derawan (Kalimantan Timur), kini mata dunia mulai menatap Togean sebagai destinasi wisata bahari yang mulai jadi favorit para pejalan -- baik dari mancanegara maupun domestik. Kepulauan Togean berada di bawah daerah administrasi Kabupaten Tojo Una-una dan merupakan bagian dari Taman Laut Kepulau Togean. Dari 66 pulau yang menjadi bagian dari rangkaiannya, Pulau Una-una, Batudaka, Togean, Talatakoh, Waleakodi dan Waleabahi merupakan beberapa pulau besar di Togean. Sebagian besar pulau di Togean memiliki suasana yang teduh akibat lebatnya pepohonan yang tumbuh. Ini disebabkan oleh aktivitas vulkanis yang dulu membentuk kepulauan ini. Hal ini juga membuat Togean jadi bagian dari coral triangle - yang meliputi wilayah Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Jepang, dan Australia -- dengan keanekaragaman berupa empat terumbu karang: karang tepi, karang penghalang, karang tompok, dan karang cincin. Pasir putih yang mengkilat di pinggir pantainya menggoda para pejalan untuk berjemur dan bermain tanpa merasa bosan. Lalu bagi yang ingin menikmati keindahan alam bawah lautnya, beningnya air Togean dengan karang yang berwarna-warni membuat siapapun tak sabar ingin segera melompat masuk ke dalamnya. Jika selama ini orang hanya mengenal Danau Kakaban yang memiliki keunikan berupa ubur-ubur yang tidak menyengat, ternyata di Togean juga ada. Tepatnya di Pulau Togean, pulau terbesar kedua di kepulauan ini. Di Danau Mariona ini, kamu bisa berenang di antara ribuan ubur-ubur tanpa harus takut tersengat. Dan sama seperti Danau Kakaban, Mariona juga memiliki air yang asin. Danau ini tidak seperti Kakaban yang mudah ditemukan, untuk mencapainya ada baiknya menggunakan pemandu lokal.
...more

Tradisi Idul Adha Nusantara, Dari Ngejot Sampai Manten Sapi, Seru Banget!

TripTrus.Com - Lo tau nggak sih, ternyata Idul Adha di Indonesia tuh nggak cuma soal potong kambing dan sapi doang. Di berbagai daerah, ada tradisi-tradisi unik yang kece banget, kental sama budaya lokal, dan penuh makna. Dari yang mistis, heboh, sampe yang penuh toleransi—semuanya bikin vibes Lebaran Kurban makin spesial. Yuk, kita kulik satu-satu tradisi gokil ini, siapa tau tahun depan lo pengen ngerasain langsung! 1. Meugang di Aceh: Dagingan Bareng-Bareng Sebelum Hari H, warga Aceh tuh udah heboh dengan yang namanya Meugang. Pokoknya, suasana jadi rame, pasar penuh, semua orang buru-buru beli daging buat masak rame-rame. Uniknya, daging yang dimasak nggak cuma buat keluarga, tapi juga dibagi-bagiin ke yatim piatu dan tetangga. Ini bukan cuma soal makan-makan, tapi wujud syukur mereka ke Allah SWT. Lo bakal ngerasain vibes kekeluargaan yang hangat banget di sini. Biasanya, prosesi Meugang dimulai dari potong hewan kurban, terus lanjut masak dan nikmatin bareng. Kalo lo lagi nggak punya hewan kurban, nggak masalah, bisa beli di pasar. Pokoknya, yang penting semua dapet bagian dan bisa ngerayain bareng. Keren banget kan? 2. Apitan di Semarang: Berebut Hasil Bumi, Bro! Namanya Apitan, karena emang diadain di bulan yang ‘diapit’ antara Syawal dan Zulhijjah. Ini tradisi Semarang yang seru parah, soalnya warga bakal rebutan hasil bumi yang diarak keliling. Ada pertunjukan kuda lumping juga loh, makin rame dan mistis vibes-nya! Awalnya sih ini tradisi sedekah bumi, tapi sekarang jadi hiburan rakyat yang bikin warga kumpul bareng. Tradisi ini juga jadi bentuk syukur warga karena hasil panen mereka. Kalo lo beruntung, bisa dapet sayuran atau hasil tani yang katanya bawa berkah. Siap-siap rebutan, ya! 3. Gamelan Sekaten di Surakarta: Tabuhan Sakral nan Syahdu Di Solo, ada Gamelan Sekaten yang bukan sembarang gamelan. Ini tuh pusaka dari zaman Kerajaan Mataram, dan cuma ditabuh pas event gede kayak Maulid Nabi, Idul Fitri, atau Idul Adha. Bayangin deh, gamelan yang usianya ratusan tahun, bunyinya syahdu, dan penuh makna spiritual. Warga yang nonton biasanya sambil ngunyah kinang, semacam tradisi juga. Katanya sih biar awet muda dan bisa nonton gamelan ini terus tiap tahun. Jadi bukan cuma nonton, tapi juga ngalamin tradisi yang udah berjalan dari tahun 1644. Gila sih, ini tua banget tapi masih keren! 4. Grebek Gunungan di Yogyakarta: Rebutan Gunungan Demi Berkah Kalau lo lagi di Jogja pas Idul Adha, jangan sampe kelewatan Grebeg Gunungan. Ada 7 gunungan gede dari hasil tani yang bakal diarak keliling. Abis diarak, warga langsung berebut hasilnya, karena katanya sih yang berhasil dapet bisa dapet keberkahan. Seru banget kayak pasar dadakan tapi penuh aura sakral. Tempat arakannya juga dibagi tiga, dari Masjid Gede sampe Puro. Bayangin tuh rame-nya, penuh sesak orang yang pengen dapet berkah dari gunungan. Ini bukan soal dapet sayur atau buah, tapi lebih ke simbol rezeki dari Tuhan. Merinding, cuy! 5. Manten Sapi di Pasuruan: Sapi Pun Punya Hari Bahagia       View this post on Instagram A post shared by Puspita Nagari (@puspita_nagari_) Di Pasuruan, sapi kurban dimanja banget, cuy! Namanya Manten Sapi, jadi sebelum disembelih, sapinya dimandiin, dikasih bunga tujuh rupa, sampe dipakaikan sorban dan sajadah. Kayak pengantin beneran! Sapi-sapi itu bakal diarak bareng-bareng ke masjid buat diserahin ke panitia kurban. Ini bukan cuma seru, tapi juga bentuk penghormatan ke hewan yang bakal jadi persembahan. Tradisi ini tuh ngajarin lo buat bersyukur dan menghargai segala ciptaan Tuhan, bahkan hewan kurban sekalipun. [Baca juga : "Liburan 2025: Saatnya Lo Healing Beneran, Bukan Cuma Demi Feed Aesthetic!"] 6. Toron & Nyalasi di Madura: Mudik & Ziarah, Dua Tradisi Sekaligus Orang Madura punya tradisi yang nggak kalah keren, namanya Toron dan Nyalasi. Toron tuh artinya turun, jadi kayak mudik pas Idul Adha. Meski sibuk merantau, pas momen ini mereka pasti pulang ke kampung. So sweet kan? Nah, setelah sholat Ied, mereka lanjut ke nyalasi, alias ziarah ke makam keluarga. Lo bakal ngeliat jalanan penuh orang, suasana haru campur bahagia. Ini bukan sekadar pulang kampung, tapi bentuk penghormatan dan doa buat leluhur mereka. Respect abis, sih! 7. Mepe Kasur di Banyuwangi: Kasur Pun Ikutan Rayain Di Desa Kemiren, Banyuwangi, warga suku Osing punya tradisi unik banget: Mepe Kasur alias jemur kasur. Tapi bukan sembarang jemur, kasurnya harus warna merah-hitam. Merah lambang keberanian, hitam lambang kelanggengan. Tradisi ini tujuannya buat buang sial dan jaga keharmonisan rumah tangga. Jadi bukan cuma kasurnya yang ‘disucikan’, tapi juga energi di rumah lo. Semua warga jemur barengan, kayak vibe gotong royong yang adem dan penuh makna. 8. Ngejot di Bali: Toleransi Tingkat Dewa Bali emang nggak pernah gagal bikin takjub. Di sana ada tradisi Ngejot pas Idul Adha. Masyarakat Muslim bakal bagi-bagi makanan ke tetangga yang beda agama. Ini bentuk rasa syukur plus bukti bahwa toleransi di Bali tuh bukan sekadar wacana. Yang dikasih bisa makanan, buah, bahkan minuman. Tetangga yang non-Muslim pun nerima dengan senang hati. Gimana nggak adem, coba? Di tengah perbedaan, mereka tetep bisa saling menghargai. Indonesia banget, kan? 9. Accera Kalompoang di Gowa: Cuci Pusaka ala Kerajaan Di Gowa, Sulawesi Selatan, ada tradisi sakral bernama Accera Kalompoang. Intinya, benda pusaka kerajaan dicuci sebelum dan saat Idul Adha. Prosesinya dua hari, dan lokasinya di Rumah Adat Balla Lompoa. Tradisi ini jadi momen penting buat mempererat hubungan antara keluarga kerajaan dan masyarakat. Selain sakral, acaranya juga megah dan penuh filosofi. Ini bukan sekadar nyuci benda, tapi simbol menyucikan hati dan hubungan antarmanusia. 10. Kaul Negeri & Abda'u di Maluku Tengah: Parade Budaya Seru Abis Tepat setelah shalat Idul Adha, warga Negeri Tulehu langsung gelar Kaul dan Abda’u. Bayangin, pemuka adat gendong tiga ekor kambing pake kain, terus jalan keliling kampung sambil takbiran dan shalawatan. Habis itu, baru deh kurbannya disembelih. Tradisi ini udah ada sejak abad ke-17 dan masih lestari sampai sekarang. Bukan cuma satu desa doang, tapi banyak desa ikutan gabung. Tujuannya? Nolak bala dan minta perlindungan dari Allah SWT. Meriah, sakral, dan penuh makna. Respect banget! Gila sih, ternyata Idul Adha di Indonesia tuh berwarna banget ya! Dari Aceh sampe Maluku, tiap daerah punya cara unik buat ngerayain hari besar ini. Yang penting bukan cuma potong hewan, tapi juga makna di balik setiap tradisi: syukur, kebersamaan, toleransi, dan budaya yang kaya banget. Yuk, jaga dan lestarikan biar tradisi keren ini nggak cuma jadi cerita doang, tapi terus hidup sampai anak cucu kita nanti! (Sumber Foto @ajanggojang)
...more

Tari Kipas Pakarena

Tari Kipas Pakarena merupakan ekspresi kesenian masyarakat Gowa yang sering dipentaskan untuk mempromosi pariwisata Sulawesi Selatan. Dalam bahasa setempat, “pakarena” berasal dari kata “karena” yang memiliki arti “main”. Tarian ini sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Gowa yang merupakan bekas Kerajaan Gowa.Tidak ada yang tahu persis sejarah tarian ini. Namun menurut mitos, tarian Pakarena berawal dari kisah perpisahan antara penghuni boting langi (negeri khayangan) dengan penghuni lino (Bumi) pada zaman dahulu. Konon sebelum berpisah, penghuni boting langi sempat mengajarkan bagaimana cara menjalani hidup, bercocok tanam, beternak, dan berburu kepada penghuni lino, melalui gerakan-gerakan badan dan kaki. Selanjutnya, gerakan-gerakan itu pula yang dipakai penghuni limo sebagai ritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada penghuni boting langi.Ekspresi kelembutan akan banyak terlihat dalam gerakan tarian ini, mencerminkan karakter perempuan Gowa yang sopan, setia, patuh dan hormat terhadap laki-laki pada umumnya, khususnya terhadap suami. Tarian ini sebenarnya terbagi dalam 12 bagian, meski agak susah dibedakan oleh orang awam karena pola gerakan pada satu bagian cenderung mirip dengan bagian lainnya. Tapi setiap pola mempunyai maknanya sendiri. Seperti gerakan duduk yang menjadi tanda awal dan akhir pementasan tarian Pakarena. Gerakan berputar searah jarum jam melambangkan siklus hidup manusia. Sementara gerakan naik turun mencerminkan roda kehidupan yang kadang berada di bawah dan kadang di atas.Tarian Kipas Pakarena memiliki aturan yang cukup unik, di mana penarinya tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar, sementara gerakan kakinya tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Tarian ini biasanya berlangsung selama sekitar dua jam, jadi penarinya dituntut untuk memiliki kondisi fisik yang prima.Sementara itu, tabuhan Gandrang Pakarena yang disambut dengan bunyi tuip-tuip atau seruling akan mengiringi gerakan penari. Gemuruh hentakan Gandrang Pakarena yang berfungi sebagai pengatur irama dianggap sebagai cermin dari watak kaum lelaki Sulawesi Selatan yang keras. Sebagai pengatur irama musik pengiring, pemain Gandrang harus paham dengan gerakan tarian Pakarena. Kelompok pemusik yang mengiringi tarian ini biasanya berjumlah tujuh orang, dan dikenal dengan istilah Gondrong Rinci. Tidak hanya penari saja yang bergerak, penabuh gandrang juga ikut menggerakkan bagian tubuhnya, terutama kepala.  Ada dua jenis pukulan yang dikenal dalam menabuh gandrang, yaitu menggunakan stik atau bambawa yang terbuat dari tanduk kerbau, dan menggunakan tangan. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

Event Pariwisata Sulawesi Selatan di Desember 2023

TripTrus.Com - Desember udah deket, guys! Banyak event keren pariwisata Sulawesi Selatan yang bakal digelar nih. Info lengkapnya udah diumumin sama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sulawesi Selatan dalam Calender of Event Sulawesi Selatan 2023.       View this post on Instagram A post shared by RUNTORAJA (@runtoraja) Dalem kalender itu dijelasin ada 20 event seru yang bakal diadain di beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Ada Tana Toraja, Parepare, Enrekang, Bulukumba, Toraja Utara, sampe Maros. Jangan sampe gak kebagian ya, catet tanggal dan lokasinya buat event pariwisata di Sulsel menjelang akhir tahun 2023 ini. [Baca juga : "Nih, 3 Event Asik Di Kepri Bulan November - Desember 2023"] Agenda Event Pariwisata Tana Toraja: Hias Pohon Natal 1 Desember, Panduan Suara (Toraya Mala'bi Coir Competition) 2 Desember, Toraja Run Maraton 3 Desember, Jelajah Sepeda Wisata 4 Desember, Sepeda Gunung 4 Desember, Lomba Foto Wisata 7 Desember, Pameran Ekraf (Pasar UMKM), 7 Desember, Gelar Kuliner/Pangan Lokal 7 Desember, Rafting (Arum Jeram) 9 Desember, Panjat Tebing10 Desember, Tenun & Fashion 11 Desember, Pesona Kopi Toraja 11 Desember dan Puncak Lovely (Artraksi Budaya) 14 Desember Agenda Event Pariwisata Parepare: Event Lokal Mingguan 10-24 Desember. Agenda Event Pariwisata Enrekang: Maccerang Manurung (Desa Wisata Pasang) 18 Desember Agenda Event Pariwisata Bulukumba: Pesta Musik 30-31 Desember dan Festival Sejuta Kembang Api 30-31 Desember Agenda Event Pariwisata Toraja Utara: Festival Panduan Suara 31 Desember Agenda Event Pariwisata Maros: Festival Koleksi Museum 31 Desember dan Kejuaraan Renang 31 Desember 2023 Nah, itu dia rangkuman acara keren di Sulawesi Selatan buat bulan Desember 2023. Sayangnya, Makassar belum ada jadwal event. Semoga info ini membantu kalian!🌟(Sumber Foto @tempo.co) 
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography
×

...