shop-triptrus



Pantai Padang Bai

Rasanya tak berlebihan jika menyebut Bali sebagai surganya pantai. Pantai lain yang juga tak kalah menariknya di Pulau Bali adalah Pantai Padang Bai.Pantai ini terletak di pelabuhan penyeberangan Bali - Lombok. Meskipun pantai ini merupakan jalur penyebrangan, namun kebersihannya tidak lantas terlupakan. Pantai ini cukup akrab terutama bagi para pecinta olahraga memancing dan juga menyelam. Meskipun posisinya bersebelahan dengan pelabuhan namun biota laut yang terdapat di panta ini masih sangat terjaga dengan baik. Arus yang tidak stabil dan kadangkala kencang, menjadi perhatian tersendiri terutama bagi Anda yang berniat melakukan penyelaman di lokasi ini.Sedikit berbeda dengan pantai-pantai lain di Bali. Pantai ini menawarkan sebuah suasana wisata pantai yang tenang dengan kondisi yang kontras dengan Pantai Kuta yang ramai dengan hiruk pikuk pengunjungnya.Nah, jika Anda penasaran, jangan lewatkan kunjungan Anda ke Pantai Padang Bai. Sebuah pengalaman wisata pantai yang mungkin saja berbeda dari yang pernah Anda rasakan sebelumnya. Smber: http://www.indonesiakaya.com
...more

Cheng Ho dan Daya Tarik Wisatawan Cina di Indonesia

TripTrus.Com - Laksamana Cheng Ho menjadi daya tarik sendiri untuk menggaet wisatawan Cina. Banyak warga Cina yang tidak mengetahui persis seorang kasim Muslim yang menjadi kepercayaan Kaisar Yongle, kaisar ketiga Dinasti Ming, yang berkuasa pada 1403-1424 itu. "Iya, (dalam sejarah) dia dikenal sebagai pelaut," ujar Lu Yao Xing, seorang sopir. Lu mengaku tidak banyak mengetahui tentang sejarah terkait sosok Cheng Ho, kecuali hanya dikenal sebagai seorang pelaut pada zaman dahulu kala. "Nama dia ada di buku sejarah," katanya mengenai Zheng He atau Cheng Ho menurut lidah orang Indonesia. Jangankan mengenai perjalanan Cheng Ho, sebagian besar masyarakat Cina juga tidak mengerti bahwa tokoh muslim Cina yang diperkirakan hidup pada 1371-1433 itu pernah berlayar hingga Nusantara. Apalagi bila dikaitkan dengan beberapa masjid di Jawa dan Sumatra yang mengadopsi nama Cheng Ho, pemahaman mereka belum sampai ke situ. "Saya tahu nama itu dari pelajaran sejarah di sekolah dasar," kata Jing Ruixue, warga Liupanshui, Provinsi Guizhou.   Damai di bumi bersatu dengan dharma baik dari seluruh umat manusia. . . #Berwisata #Dharma #Karma #SamPooKong #LaksamanaChengHo #Semarang A post shared by diondamas (@gruupapas) onDec 30, 2017 at 12:28am PST Dalam salah satu catatan biografi, Cheng Ho bernama asli Ma He atau dikenal juga sebagai Ma Sanbao yang berasal dari Provinsi Yunnan, satu wilayah di barat daya daratan Cina yang berbatasan dengan Provinsi Guizhou di timur laut, Daerah Otonomi Guangxi (timur), Provinsi Sichuan (barat laut), Daerah Otonomi Xizang (barat), dan India, Myanmar, serta Vietnam (barat, selatan, dan timur). Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kebiri. Ditinjau dari marganya "Ma", Cheng Ho seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku mayoritas Han, namun beragama Islam. Cheng Ho melakukan ekspedisi paling sedikit tujuh kali dengan menggunakan kapal armadanya. Dari tujuh kali ekspedisi itu, enam di antaranya Cheng Ho menyinggahi Jawa dan Sumatera, yakni pada periode 1405-1407, 1407-1408, 1409-1411, 1413-1415, 1416-1419, dan 1430-1433. Pada tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati, Cirebon), Jawa Barat. Saat itu dia menghadiahi beberapa cendera mata khas Cina kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan Ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, Jawa Tengah, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) dan patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong. Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana. Namun pada tahun 1424, kaisar Yongle wafat. Penggantinya, Kaisar Hongxi yang berkuasa pada 1424-1425 memutuskan untuk mengurangi pengaruh kasim di lingkungan kerajaan. Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (berkuasa 1426-1435). Setelah periode tersebut, dia sudah tidak lagi melakukan pelayaran atas kebijakan penguasa pada saat itu karena anggaran yang terbatas. Namun, ekspedisi Cheng Ho itu telah menginspirasi pemerintah Cina dalam menginisiasi Belt and Road sebagai gambaran dari peta blok Jalur Sutera dan Jalur Maritim Abad ke-21. Cina yang terhubung dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan masuk dalam kawasan "Road" yang digagas Presiden Xi Jinping dan disampaikan di depan anggota DPR-RI di Senayan, Jakarta, pada Juni 2013. Sebelumnya Xi juga mengumumkan Belt yang menghubungkan Cina dengan negara-negara di Eropa dan Afrika di Astana, Kazakhstan. Lebih Edukatif Kementerian Pariwisata RI mencoba mengambil inisiatif tersebut seiring dengan makin lebarnya ceruk pasar wisatawan Cina. Hal itu juga bagian dari ikhtiar untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan Cina ke Indonesia yang masih belum pulih 100 persen dari trauma dampak letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali. Sebagai tuan rumah Asian Games XVIII/2018, terbuka peluang bagi Indonesia untuk memasarkan wisata sejarah ekspedisi Cheng Ho tersebut. Asian Games yang digelar di Palembang, Sumatera Selatan, dan Jakarta, memberikan manfaat tersendiri bagi warga China yang ingin mendukung atlet idolanya berlaga di pesta olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade musim panas sekaligus berwisata. Apalagi Cheng Ho memiliki jejak sejarah di Palembang. Pada awal abad ke-15, Kota Palembang diduduki perompak Chen Zuyi yang berasal dari Cina. Armada bajak laut Chen Zuyi kemudian ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1407. Laksamana Cheng Ho juga dianggap berperan dalam penyebaran Islam di Palembang. Armada Cheng Ho sebanyak 62 unit kapal dan tentara yang berjumlah 27.800 orang pernah empat kali berlabuh di Palembang. Oleh karena masyarakat setempat mengadopsi nama Cheng Ho pada salah satu masjid di Jakabaring yang juga dikenal sebagai pusat olahraga sekaligus tempat penyelenggaraan Asian Games tahun ini. Masjid dua lantai yang mampu menampung sekitar 600 orang itu didesain dengan memadukan arsitektur bergaya Cina dan budaya lokal masyarakat Palembang. Menara di kedua sisi masjid yang dibangun pada 2008 tersebut meniru bangunan klenteng-klenteng di Cina dengan dominasi warna merah dan hijau giok. Di Palembang juga terdapat tempat-tempat lain yang tidak bisa dipisahkan dari adat dan tradisi masyarakat Cina, seperti Kampung Kapitan yang langsung menghadap Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak. Selain Palembang, Jakarta dan Semarang juga patut menjadi daya tawar bagi Kemenpar untuk mengundang wisatawan dari daratan Cina. Di kawasan Ancol, Jakarta Utara, ada makam Wu Ping, juru masak Cheng Ho, dan istrinya Siti Wati, yang merupakan penduduk lokal. Kemudian di Semarang juga ada kelenteng Sam Po Kong yang merupakan petilasan persinggahan pertama Cheng Ho. Belum lagi Masjid Cheng Ho di Kabupaten Pasuruan dan Kota Surabaya. Tempat-tempat tersebut tidak kalah bernilainya bagi masyarakat Cina yang sebagian besar menggemari wisata sejarah dengan mengunjungi museum atau situs-situs tertentu. (Sumber: Artikel republika.co.id, Foto flickr.com/erlzaid)
...more

Puncak Terhits Berburu Sunrise di Bogor, Kunjungi Bukit Batu Roti

TripTrus.Com - Selalu saja ada hal menarik ketika Anda memilih Bogor sebagai tujuan destinasi untuk berlibur. Mulai dari danau, pegunungan, hingga wisata alamnya selalu menjadi daya tarik wisatawan.       View this post on Instagram Moment sunrise memang paling ditunggu untuk di nikmati, bnyak tempat bagus untuk melihat sunrise tak terkecuali di puncak batu roti ini, tepatnya berada di ciampea bogor, pemandangan yg super indah ini, ingin rasanya kembali ksini. . 📍 Puncak batu roti, gunung kapur, ciampea, bogor . 📷 @rahmancosta92_ A post shared by M Bista Ilham (@bistailham_) onMay 22, 2018 at 4:13am PDT Salah satu destinasi yang menarik dan tak boleh dilewatkan adalah mengunjungi bukit batu roti. Ini merupakan gunung kapur di Ciampea Bogor. Berada di atas puncak roti, Anda akan melihat lanskap tercantik di Bogor. Pemandangan alamnya terlihat memesona, ditambah struktur bebatuan di puncaknya menarik untuk dijadikan background untuk Anda berswafoto. Bogor tak hanya memiliki gunung Pangrango. Kota hujan ini juga memiliki bukit kapur yang kerap diincar wisatawan. Bukit Kapur memiliki tiga puncak yang memiliki pemandangan yang sama indahnya. Bukit yang didominasi oleh tanah dan karst berketinggian tidak lebih dari 400 mdpl ini memberikan sensasi yang berbeda. [Baca juga : "Lokasi Wisata Bogor Dengan Spot Underwater Yang Keren Abis"] Salah satu puncak yang paling diincar wisatawan untuk berburu sunrise adalah puncak batu roti. Puncak yang dikenal dengan karstnya yang membentuk seperti roti jika dilihat dari bawah. Bisa dibilang Puncak Batu Roti adalah salah satu spot terbaik untuk melihat matahari terbit di Bogor Barat. Ditunjang dengan puncak karst yang mengerucut, membuat Anda dapat memandang ke sekelilingnya 180 derajat tanpa terhalang apa pun. (Sumber: Artikel inews.id Foto payungrimba.blogspot.com)
...more

Liburan Kece Akhir Tahun di Jogja, 9 Event Seru Buat Lo Gaskeun!

TripTrus.Com - Yo, Desember udah di depan mata nih, bulan paling rame buat jalan-jalan di Indo! Banyak banget acara seru, dari tradisi unik sampai konser musik keren, bikin akhir tahun lo makin pecah. Nah, gue udah rangkumin nih beberapa event kece yang sayang banget kalo dilewatin. Yuk, simak biar lo bisa atur liburan lo sekarang juga!       View this post on Instagram A post shared by W Stage Picture (@wstagepict) 1. Katastrop 2024 (2 Desember) Suka sastra atau teater? Langsung gas ke Ekspresi Sastra 2024 dari anak Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Lokasinya di Auditorium Driyarkara, Kampus II USD, mulai jam 5 sore. Serius, ini GRATIS bro! 2. Jelajah Ruang Menoreh Geo Heritage Run & Walk (7 Desember) Olahraga sekalian healing? Lo kudu banget ikutan event ini di Kawasan Geo Heritage. Dapet jersey, medali, voucher UMKM, plus vibes udara segar! Kombo parah, kan? 3. Gelegar Musik Prambanan (7 Desember) Mau karaoke bareng ribuan orang? Dateng ke konser ini! Mahalini, Juicy Luicy, sampe Yura Yunita bakal manggung epic di depan Candi Prambanan. Tiketnya? Langsung sikat di PLN Mobile. Jangan sampe telat! 4. Closing Ceremony JAFF ke-19 (7 Desember) Buat pecinta film, festival ini bakal nutup acara dengan vibes gokil. Empire XXI jadi saksi kolaborasi Jogja Hip Hop Foundation, dan lo bisa nikmatin GRATIS! 5. Saemen Fest 2024 (14 Desember) Lagi galau abis putus? Atau butuh lagu healing? Dateng ke Saemen Fest di Stadion Mandala Krida. Pamungkas, Tulus, sampe Bernadya bakal bikin lo nyanyi sampe lupa patah hati. [Baca juga : "Desember Penuh Warna, Festival Asik Buat Liburan Lo Di 2024"] 6. Bantul Culture Run (15 Desember) Lari sambil nostalgia sejarah? Gaskeun di Bantul Culture Run. Start di Alun-alun Wukirsari, Imogiri. Hadiahnya? Gokil sih, bisa dapet mobil atau kambing! Siapa tau hoki lo lagi on fire. 7. Amikom Fest (21 Desember) Event anak muda banget, bro! Stadion Mandala Krida bakal rame sama Braves Boy, Rumah Sakit, dan lainnya. Tiketnya cuma 65 ribu. Worth it parah buat malem minggu lo. 8. Sasi Kiruna (22 Desember) Buat lo yang demen lari, Sasi Kiruna wajib masuk agenda. Rutenya di Embung Giwangan bikin mata adem, plus doorprize kece. Cuma modal 200 ribu, lo bisa sekalian ketemu komunitas lari Jogja. 9. Swara Prambanan (31 Desember) Tutup 2024 lo di Swara Prambanan! Ada Raisa, Mocca, Nadin Amizah, sampe JKT48 bikin countdown lo makin epik. Tiketnya mulai dari 250 ribu, bro. Jangan sampai kelewatan vibes keren ini! Jadi, lo mau rebahan doang akhir tahun ini atau mau gas ke Jogja? Biar gak FOMO, buruan atur itinerary, siapin outfit keren, ajak bestie lo, dan pastiin tiket udah aman di tangan. Yuk, tutup 2024 lo dengan vibe yang gak bakal lo lupain! See you in Jogja! 🎉 (Sumber Foto @ferandy_ardhianto) 
...more

Wisata Religi Islam di Masjid Lautze Jakarta

TripTrus.Com - Pesona nuansa heritage Islami muslim Tionghoa di Masjid Lautze yang merupakan masjid unik dan bersejarah yang berlokasi di Jakarta Pusat. Jakarta tidak hanya memiliki obyek wisata yang berisikan waha permainan, namun kawasan Ibukota indonesia ini memiliki obyek wisata heritage yang menarik dikunjungi yang menyebar di beberapa kawasan daerah bilangan sawah besar Pasar Baru Kota Jakarta. Menurut catatan sejarah, Pasar Baru merupakan suatu area pusat perbelanjaan di Jakarta, dan sebuah kawasan yang memiliki bangunan yang berdiri kokoh sejak jaman Belanda dengan nuansa khas Eropa dan Tiongko tempat wisata heritage yang berlokasi di kecamatan Sawah besar jakarta Pusat ini bukan hanya menjadi central perekonomian masyarakat Jakarta saja, namun memiliki kisah catatan sejarah panjang dari sisi-sisi keunikan bangunan yang menjadi saksi bisu perkembangan Kota Jakarta Konon, sejak dulu kala masyarakat Tionghoa terkenal dengan keuletannya. maka tidaklah heran jika usaha gula dan tebu semakin berkembang pada waktu itu masih bernama Batavia membuat masyarakat etnis Tionghoa lainnya untuk datang dan mengadu nasib di Batavia yang kini disebut dengan nama jakarta.       View this post on Instagram Pengalaman yg menarik sembahyang disini. Mereka putih putih, gw item. Mereka sipit sipit, gw belo. A post shared by @ daanandraan onMay 26, 2018 at 4:49am PDT Perbauran masyarakat membuat muslim Tionghoa kian hari kian bertambah dengan salah satu buktinya kita bisa melihat sebuah bangunan Masjid Lautze yang merupakan masjid muslim Tionghoa pertama di Jakarta yang berlokasi di Jalan lautze Sawah Besar, Jakarta Jejak muslim Tionghoa kini dapat kita temukan di kawasan Sawah Besar Jakarta yaitu Masjid Lautze yang menjadi pusat aktifitas muslim Tionghoa ini berdiri sejak tahun 1991 dan berada di bawah Yayasan Karim Oei yaitu seorang muslim Tionghoa yang berperan mengenalkan ajaran agama Islam di kalangan masyarakat etnis Tionghoa. Nama masjid ini merujuk pada alamat lokasi berdirinya bangunan masjid itu sendiri yaitu di jalan Lautze yang merupakan sebuah kawasan pecinan di jakarta Pusat. Nama Masjid Lautze ini juga mengingatkan kepada kita akan sebuah nama seorang tokoh yang bernama Lautze yaitu seorang yang bijak dari negeri Tiongko. Tidak hanya nama masjidnya yang unik, namun kegiatan di Masjid Lautze ini pun juga terbilang unik, karena masjid ini hanya dibuka pada waktu tertentu saja. Sekilas bangunan ini tidak terlihat seperti tampaknya bangunan masjid pada umumnya. Keberadaan masjid ini tidak lepas dari keteguhan pengelola untuk menegakan syiar Islam khususnya bagi warga keturunan Tionghoa yang tidak pernah tersentuh oleh para ustad atau kiyai. Nama “Lautze” dalam bahas Tiongkok yang berarti guru bagai penerang jiwa, sosok inspirasi penyebar dakwah Islam hdair dibawah naungan masjid. Beragam aktifitas keagamaan seperti tilawah berada di masjid ini.Mulai dari tilawah anak hingga tilawah biasa. Namun Masjid Lautze Pasa Baru jakarta ini berbeda dari masjid pada umum dimana masjid ini hanya beroperasi hingga pukul 17.00 WIB hal ini menyesuaikan dengan katifitas jemaahnya dan kondisi lingkungan sekitar. Karena jemaah masjid ini sebagian berprofesi sebagai pedagang yang tidak lagi berkegiatan diatas pukul 17.00 sore hari. Kegiatan rutin positif di masjid ini biasa dimulai seusai kegiatan tilawah pada akhir pekan. Konon, informasi yang Direktori Wisata terima, tidak terhitung warga Tionghoa yang datang dan belajar tentang agama Islam di masjid ini. Selama bulan Ramadhan akhir pekan dipilih sebagai waktu silaturahmi jamaah masjid. Mulai dari kegiatan buka puasa bersama hingga sholat tarawih berjamaahyang dilakukan di masjid ini. [Baca juga : "9 Inilah Tempat Bersejarah Di Kudus"] Bagi sahabat dan pembaca setia Direktori Wisata indonesia yang akan merasakan nuansa Islami sambil silturahmi dengan jamaah di sini bisa langsung datang menuju lokasi yang berada di dekatPasar Baru Jakarta yang dapat ditempuh dengan mengunakan kendaraan bermotor dan mobil menuju lokasi. Dari perjalanan wisata religi Islam di Masjid Lautze jakarta ini, kita bisa mengambil pembelajaran tentang arti kerukunan, kebersamaan bawa di mata Alloh SWT semua makhluk ciptaanNya adalah sama, dan yang hanya membedakannya hanya nilai ketaqwaannya saja. (Sumber: Artikel direktori-wisata.com Foto nusantaranews.co)
...more

Surga Kucing di Sulawesi Barat

TRIPTRUS - Bagi penggemar kucing, mungkin nama Pulau Tashiro di Jepang sudah dikenal sebagai surga bagi kucing dan penggemarnya. Sebelum menuai kepopuleran sebagai pulau kucing, dengan diterbitkannya artikel mengenai seekor kucing di pulau itu, desa Tashiro adalah desa sepi yang sebagian besar penduduknya berusia di atas 60 tahun. Namun berkat kepopuleran artikel itu, para penggemar kucing dari Jepang dan seluruh dunia mulai ramai mengunjungi pulau yang mempunyai populasi ratusan kucing itu. Tapi ternyata, tidak hanya di Tashiro saja yang penuh dengan kucing. Para pecinta kucing di Indonesia tidak harus jauh-jauh ke Jepang untuk menemukan pulau kucing. Di Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Polewali Mandar, ada sebuah pulau bernama Pulau Dea-dea yang hanya dihuni oleh ratusan ekor kucing. Tidak ada satu manusiapun yang tinggal di pulau ini. Kucing-kucing di pulau ini sudah berkembang biak sejak puluhan tahun lalu, meski tidak ada yang dapat memastikan kapan kucing mulai menghuni dan menguasai Pulau Dea-dea. Meskipun begitu, kucing-kucing di sana terlihat sehat dan dapat hidup mandiri tanpa adanya manusia. Untuk mencapai Pulau Dea-dea, waktu perjalanan yang harus ditempuh adalah sekitar 15 menit dengan menggunakan speedboat atau taksi air (sebutan warga setempat untuk perahu penyeberangan antar pulau) dari dermaga Belang-belang di Desa Tonyamang. Kucing-kucing di Dea-dea awalnya berasal dari beberapa kucing yang dibuang oleh warga dari pulau lain di pulau tak berpenghuni itu. Lama kelamaan, populasi kucing di pulau itu meningkat sehingga mencapai ratusan ekor kucing. Semua kucing di Dea-dea hidup tanpa ada campur tangan manusia ataupun pemerintah daerah setempat, sehingga pengunjung tidak dapat begitu saja bermain dan mengelus kucing-kucing di pulau ini karena kebanyakan bersifat liar. Sebelum pergi ke pulau kucing di Sulawesi Barat ini, ada baiknya mengemas jas hujan atau payung, karena di sana tidak didirikan satupun bangunan oleh manusia yang dapat dijadikan tempat berteduh atau menginap. Ini dikarenakan karena dari dulu, Pulau Dea-dea adalah pulau yang tidak pernah dihuni oleh manusia. Tapi rasanya pemandangan Pulau Dea-dea yang hijau dan penuh pepohonan rindang, meski tidak ada tempat beristirahat dan berteduh buatan manusia, sudah cukup untuk jadi daya tarik para pecinta kucing. Mungkin suasana asri pulau itu yang membuat pulau kucing di Kecamatan Binuang ini jadi tempat berkembang biak yang cocok untuk kucing-kucing di pulau ini. Mungkin ini juga cocok bagi pecinta kucing yang ingin berlama-lama bermain dengan kucing-kucing di pulau itu. Ditambah lagi, pemandangan pantai yang indah membuat kunjungan ke Pulau Dea-dea jadi semakin mengesankan.Photos taken from: Buzzfeed.com
...more

Menikmati Gemericik Air Terjun Selogiri

Letaknya yang berada di kawasan perkebunan menjadikan hawa sejuk begitu terasa di kawasan air terjun ini. Gemericik air terjun yang perlahan-lahan terdengar seperti memberikan nuansa ketenangan dan kedamaian tersendiri bagi siapa saja yang mengunjunginya. Inilah Air Terjun Selogiri, air terjun yang terletak di Perkebunan PTPN XII Selogiri, Banyuwangi.Berkunjung ke air terjun yang berada di Banyuwangi ini menjadi tantangan tersendiri. Jalanan yang berbatu menjadi medan yang menantang bagi pengunjung untuk sampai ke destinasi wisata ini. Sebaiknya untuk bisa sampai ke Air Terjun Selogiri pengunjung mengendarai mobil dengan penggerak empat roda alias 4WD. Kalaupun ditempuh dengan kendaraan niaga, disarankan untuk jalan perlahan-lahan dan hati-hati dengan medan yang ada. Pohon jati begitu mendominasi kawasan perkebunan ini. Pepohonan yang rindang berpadu dengan hijaunya dedaunan dan sesekali terdengar kicauan burung menjadi teman setia yang menemani pengunjung selama berada di kawasan ini. Suasana sejuk begitu terasa mendominasi area sekitar air terjun yang dipenuhi bebatuan ini.Pengunjung juga bisa merasakan segarnya air terjun dengan menceburkan kaki di kolam yang berada di bawah air terjun. Mendengarkan gemericik air terjun sambil bermain air menjadi terasa mengasyikan di sini. Selain itu, mengabadikan indahnya air terjun dengan kamera juga menjadi aktivitas yang menyenangkan ketika berada di air terjun ini. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

5 Festival Kece 2025 yang Bikin Liburan Lo Nggak Cuma Healing Tapi Juga Berfaedah!

TripTrus.Com - Bro-sis traveler! Tahun 2025 ini tuh vibes-nya gak main-main, bro-sis! Dari ujung barat sampe timur, banyak festival kece yang siap lo sambangin buat healing, cari konten estetik, nambah insight budaya, sampe explore hal baru yang pastinya gak zonk! Lo bisa nikmatin parade, musik, kuliner, seni, sampe bazar handmade—all in one package! Jadi, dari sekarang mending lo tandain kalender, siapin outfit kece, dan gas bareng bestie buat eksplor festival hits ini. Cek deh, list paling kece tahun ini yang udah gue acak-acak tapi tetep gokil buat lo! 1. Tong Tong Night Market – Malang, 24–27 Juli 2025 Lo suka vibes pasar malam yang nostalgic tapi pengen versi glow up? Tong Tong Night Market di Malang ini jawabannya, bro-sis! Empat malam penuh lampion lucu, live music indie, booth jajanan lokal kekinian, sampe street food yang packaging-nya Instagramable banget. Bayangin aja lo nyicipin dessert viral sambil chill bareng DJ set low-key—suasana taman jadi magical dan cozy parah! Mulai dari penganan tradisional yang dibikin aesthetic, sampe spot foto temaram buat konten story lo yang dreamy abis. Terus, tiap malam ada live performance, musisi muda nongol satu-satu bawa vibe yang slow tapi nagih. Dan nih ya, sesi akhir acara ada workshop DIY & mini talk soal upcycle barang bekas—lo bakal pulang gak cuma kenyang, tapi juga makin sustainable mindset-nya. Gas gak tuh? 2. Solo Keroncong Festival – Solo, 25–26 Juli 2025 Nah buat lo yang mau ngerasain kombinasi musik tradisional tapi tetap nempel di lidah Gen Z, Solo Keroncong Festival ini destinasi lo, sis bro! Diadain dua hari di area Gladag sampe Puro Mangkunegaran yang epic abis, event ini bukan sekadar konser, tapi juga cultural healing spot. Paduan antara keroncong klasik + hip hop fusion bikin telinga lo happy dan hati lo adem. Ada juga workshop bareng musisi muda, diskusi musik santai, sampe spot bazar makanan tradisional yang dikemas dengan vibe cafe kekinian. Jangan skip juga experience “Becik Ketitik” yang dalam tapi catchy banget—kayak quote kehidupan yang lo bawa pulang. Lo bakal makin cinta budaya tapi tetap relevan sama zaman. 3. Asia Africa Festival – Bandung, 25–27 Juli 2025       View this post on Instagram A post shared by bdg.humas (@humas_bandung) Siap-siap, Bandung bakal geger sama event satu ini, bro-sis traveler! Asia Africa Festival balik lagi dan kali ini vibes-nya makin rame, makin niat! Bayangin lo nyusurin jalan Braga sampe Cikapundung Barat, sambil jajan kuliner lokal, hunting barang UMKM kekinian, dan cari angle buat feed IG lo yang on point. Acara full tiga hari ini ada parade budaya, fashion show, sampe penampilan komunitas lokal dan internasional yang bikin lo merasa kayak lagi di festival luar negeri—padahal lokal pride, bro! Jangan lupa mampir ke Asia Africa Corner, tempat nongki sambil cicip makanan khas, fashion bazar, sampe barang limited edition yang punya story. Tips gue: dateng hari kedua atau ketiga biar dapet vibes paling maksimal dan food stall yang lebih chill! [Baca juga : "Juli Full Gaya! 5 Festival Paling Kece Buat Lo Yang Doyan Healing Plus Budaya"] 4. Alunan Budaya Pringgasela Raya – Lombok Timur, 20–26 Juli 2025 Mau dapet experience budaya yang autentik tapi tetap kekinian? Cuss ke Desa Pringgasela Raya, Lombok Timur. Selama tujuh hari penuh, lo bakal disuguhin tenun Sasak asli, upacara adat, musik tradisional, dan talkshow seru seputar pelestarian budaya. Highlight-nya? Demo langsung dari para penenun, workshop bikin motif tenun lo sendiri (yes, bikin bukan cuma beli!), plus pertunjukan tari dan musik adat yang dikurasi biar tetap cocok sama selera Gen Z. Jangan heran kalo malem terakhir lo bakal baper gara-gara staging-nya yang megah dan nuansa budaya Lombok yang deep banget. Siap-siap bawa pulang bukan cuma oleh-oleh, tapi juga pengalaman yang soulful abis! 5. Kenduri Seni Melayu – Batam, 16–18 Mei 2025 Bro-sis, ini nih festival yang cocok buat lo yang cinta budaya Melayu tapi pengen tampil modern. Kenduri Seni Melayu di Batam bawa suasana Melayu serumpun—dari Indonesia, Brunei, Malaysia, sampe Singapura—semua tumplek blek dalam satu panggung kece di Harbourbay! Mulai dari fashion show etnik, bazar kuliner khas Melayu modern, live music lintas negara, sampe workshop batik dan kriya, semua bisa lo temuin di sini. Jangan lupa juga ada kompetisi seni tradisional ala Gen Z yang fresh. Dan penutupnya? Panggung kolosal plus kembang api yang bakal bikin malem terakhir lo pecah banget. Cocok buat lo yang suka vibes internasional tapi rooted ke budaya lokal. Tahun 2025 tuh bukan sekadar nyari liburan doang, tapi soal bikin momen yang memorable, meaningful, dan pastinya penuh warna! Dari festival keroncong sampe night market, dari vibes Melayu sampai parade budaya internasional—semuanya bisa jadi story kece buat lo share di medsos. Jadi jangan cuma wacana, yuk atur waktu, ajak bestie lo, dan eksplor festival-festival ini bareng. Karena hidup tuh terlalu singkat buat liburan yang biasa aja. Let’s make 2025 your most colorful journey ever! (Sumber Foto @nanang_malik)
...more

5 Hal Keren Yang Wajib Lo Lakuin Kalo Ke Banyuwangi

TripTrus.Com - Banyuwangi udah masuk dalam daftar tempat yang lo pengen kunjungi? Gokil! Lo udah pilih tempat yang tepat banget, deh. Banyuwangi itu nggak cuma punya gunung keren sama kawah yang super epic, tapi juga ada taman nasional yang siap bikin lo betah berpetualang. Nih, gue kasih 5 hal yang wajib banget lo lakuin kalo lo lagi main ke Banyuwangi. 1. Ngeliat Api Biru di Kawah Ijen Kalo lo suka petualangan yang bikin lo deg-degan, naik Gunung Ijen bisa jadi pilihan. Lo bakal liat fenomena api biru yang muncul di kawah, yang ternyata tuh api yang muncul karena proses pembakaran belerang. Perjalanan ke puncak Ijen lumayan ngetes fisik, tapi pemandangannya nggak bohong, sangat worth it. Jangan lupa, lo harus berangkat tengah malem banget, soalnya api biru ini muncul pas fajar. Dan yang paling penting, siapin masker karena belerangnya bisa bikin sesak napas. Biar nggak ribet, mending sewa guide yang udah biasa bawa orang naik ke puncak. 2. Safari Seru di Taman Nasional Meru Betiri       View this post on Instagram A post shared by Shri Sainis (@shri.sainis) Kalo lo suka sama alam liar, Meru Betiri bisa jadi destinasi yang nggak boleh lo lewatin. Taman nasional ini jadi rumah buat macan Jawa yang katanya udah punah (tapi katanya sih masih ada). Ada juga Pantai Sukamade yang terkenal banget buat konservasi penyu. Lo bisa ikutan tur yang udah disediain, biasanya ada mobil dan driver yang jadi guide lo. Tapi, kalo lo pengen jelajah sendiri, pastiin lo naik jeep off-road, soalnya jalanannya bumpy abis. 3. Menyatu Sama Alam di Taman Nasional Alas Purwo Alas Purwo emang penuh misteri, banyak cerita horor yang beredar. Tapi sebenernya, taman nasional ini jauh lebih dari itu. Luas banget, sekitar 434 km², ada hutan mangrove, sabana, sampai pantai berkarang. Di sini lo bisa liat banteng Jawa yang hampir punah, atau hewan langka lainnya kayak lutung Jawa, merak hijau, ayam hutan merah, sampai kucing hutan yang jarang kelihatan. Kalo lo mau yang lebih seru, bisa jelajah bareng guide lokal yang ngerti banget jalurnya. [Baca juga : "10 Spot Wajib Di Banyuwangi Yang Bikin Lo Makin Keren Abis!"] 4. Surfing Asyik di G-Land G-Land atau Pantai Plengkung terkenal banget di kalangan surfer lokal sama internasional. Pantainya itu unik, bentuknya bikin ombaknya gede-gede banget, bisa sampe 2-4 meter! Kalo lo pengen belajar surfing, ada beberapa surf camp di sekitar sini. Atau kalo udah jago, join aja sama para surfer yang udah nyelam di sana seharian. G-Land bisa dijangkau lewat perahu dari Bali, tapi kalo lo mau petualangan darat, lo bisa lewat Alas Purwo juga. 5. Belajar Sejarah di Pura Agung Blambangan Pura Agung Blambangan itu salah satu pura terbesar di Pulau Jawa, setelah yang ada di Gunung Salak. Ini tempat yang sakral buat umat Hindu dan juga spot yang pas buat lo yang mau belajar sejarah Banyuwangi. Biasanya ada festival besar di sini pas hari-hari tertentu. Kalo lo dateng, pastiin pake pakaian yang sopan, ya, karena ini tempat ibadah. Jadi, buat lo yang lagi nyari tempat petualangan seru, Banyuwangi tuh pilihan yang nggak bakal bikin lo kecewa. Dari ngeliat fenomena api biru di Kawah Ijen, safari liar di Meru Betiri, sampai ngejelajahin pantai dan hutan yang masih asri di Alas Purwo, semuanya ada di sini. Kalo lo hobi surfing, G-Land bakal jadi tempat yang lo nggak bakal lupain. Jangan lupa juga buat mampir ke Pura Agung Blambangan buat nyelami sejarah Banyuwangi yang penuh makna. So, tunggu apa lagi? Saatnya lo buat #JelajahBanyuwangi dan ngerasain langsung semua keindahannya! (Sumber Foto @mlorensoo) 
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography

Upcoming Trips

Treaking Gunung Papandayan
31 Jul - 01 Aug 2026
Open Trip Dieng Plateau
31 Jul - 02 Aug 2026
Open Trip Pulau Pahawang Lampung
31 Jul - 02 Aug 2026
×

...