shop-triptrus



Ini Kota yang Terpopuler di Indonesia Buat Liburan Akhir Tahun

TripTrus.Com - Liburan akhir tahun sudah di depan mata. Perusahaan marketplace mencatat kenaikan transaksi pembelian dan destibasi favorit menjelang akhir tahun ini. Travel and Entertainment Business Senior Lead Tokopedia Mirna Puspita mengungkapkan bahwa lonjakannya meningkat hampir 3,5 kali lipat. Hal tersebut tak terlepas dari momentum liburan akhir tahun yang cenderung dimanfaatkan masyarakat untuk wisata bersama keluarga atau kerabat ke destinasi yang diinginkan.       Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Paket Wisata Jogja by WisataJogja.com (@wisatajogja_com) Kota wisata yang paling diminati menjelang liburan akhir tahun, ada beberapa wilayah destinasi terpopuler untuk pembelian tiket pesawat, di antara lain: Jakarta Medan Bali Surabaya Di sisi lain, wilayah destinasi yang paling banyak diminati oleh masyarakat untuk pembelian tiket kereta, di antaranya: Jabodetabek Yogyakarta Surabaya Semarang Bandung [Baca juga : "5 Destinasi Anti Mainstream Di Indonesia Untuk Liburan Akhir Tahun"] Selain itu, transaksi pemesanan hotel lewat marketplace menjelang liburan akhir tahun juga mengalami tren peningkatan "Batam, Medan, Samarinda, Sleman dan Balikpapan menjadi beberapa wilayah dengan pertumbuhan transaksi pemesanan hotel tertinggi. Rata-rata peningkatan transaksi pemesanan hotel di berbagai daerah tersebut mencapai hampir 2 kali lipat," jelas Mirna. (Sumber: Artikel cnnindonesia.com Foto @firmanm05) 
...more

5 Masjid Tertua Dan Bersejarah di Jakarta - Part 3

TripTrus.Com - Ditengah hingar-bingar DKI Jakarta, masih banyak berdiri bangunan-bangunan bersejarah, salah satunya adalah Masjid. Berikut ini  beberapa Masjid tua dan bersejarah yang masih kokoh berdiri di tengah angkuhnya ibu kota : 1. Masjid Jami' Al-Anwar, Angke       View this post on Instagram Masjid yg didirikan oleh seorang muslimah tionghoa yg bergaya hindu Bali, Eropa dan tionghoa pada tahun 1700-an. . Sudah menjadi cagar alam nasional sejak thn 1993 . #wisataedukasi #wisatakemasjid #wisatasekolah #masjid #masjidjamiangke @wisatasekolah A post shared by shinta aryani dewi (@_shintaad) onJun 1, 2018 at 11:00pm PDT Sejarah pendirian masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa di zaman Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741), beberapa kali terjadi ketegangan antara VOC dengan rakyat dan orang Tionghoa. Ketegangan memuncak pada tahun 1740 ketika orang-orang Tionghoa bersenjata menyusup dan menyerang Batavia. Karena kejadian ini, sang jenderal sangat marah dan memerintahkan pembunuhan massal terhadap orang-orang Tionghoa. Peristiwa ini diketahui Pemerintah Belanda, sang jenderal dimintai pertanggungjawaban dan dianggap sebagai gubernur jenderal tercela. Akibatnya, ia kemudian dipenjarakan Pemerintah Belanda pada tahun 1741. Dan tak lama kemudian sang jenderal pun akhirnya mati di penjara. Sewaktu terjadi pembunuhan massal itu, sebagian orang Tionghoa yang sempat bersembunyi dilindungi oleh orang-orang Islam dari Banten, dan hidup bersama hingga tahun 1751. Mereka inilah yang kemudian mendirikan Masjid Angke pada tahun 1761 sebagai tempat beribadah dan markas para pejuang menentang penjajah Belanda. Masjid konon juga sering dipakai sebagai tempat perundingan para pejuang dari Banten dan Cirebon. Berdasarkan sumber Oud Batavia karya Dr F Dehan, masjid didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya’ban 1174 H yang bertepatan dengan tanggal 2 April 1761 M oleh seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim dari Tartar bernama Ny. Tan Nio yang bersuamikan orang Banten, dan masih ada hubungannya dengan Ong Tin Nio, istri Syarif Hidayatullah. Arsitek pembangunan masjid ini adalah Syaikh Liong Tan, dengan dukungan dana dari Ny. Tan Nio. Makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Jami Angke, yang berada di bagian belakang Masjid Jami Angke. Menurut sejarawan Heuken dalam bukunya Historical Sights of Jakarta, kampung di sekitar Masjid Angke dulu disebut Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu. Kampung tersebut didirikan tahun 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia, sebagian dijual oleh raja mereka sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan kelompok lain lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi. Selama puluhan tahun orang-orang Bali menjadi kelompok terbesar kedua dari antara penduduk Batavia (A Heuken SJ, 1997:166). Selain orang-orang Bali, kampung sekitar masjid dulunya juga banyak dihuni masyarakat Banten dan etnis Tionghoa. Mereka pernah tinggal bersama di sini sejak peristiwa pembunuhan massal masyarakat keturunan Tionghoa oleh Belanda. Bahkan jika kita berkunjung ke tempat tersebut saat ini, akan kita lihat masih banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di perkampungan tersebut. 2. Masjid Jami Tambora, Tambora       View this post on Instagram With mosques, it's often difficult to guess if they're old or new. Some people get overzealous with upgrading or renovating them. Little expansion here, adding ceramic panels there, and the mosques look totally unrecognisable from the original. I'd thought that Masjid Jami Tambora (pictured above) and Tangerang's Masjid Jami Kalipasir were built pretty recently, perhaps in the last 30 or 40 years. It wasn't until I saw signs in front of the mosques that I came to understand that both were actually built in the 18th century. A post shared by Heru Santoso (@sirhumphreyappleby) onFeb 3, 2019 at 6:23am PST Masjid Jami Tambora dibangun pada tahun 1181 H (1761 M) oleh Kiai Haji Moestoyib, Ki Daeng, dan kawan-kawan. Mereka berasal dari Makasar dan lama tinggal di Sumbawa tepatnya di kaki Gunung Tambora. Pada tahun 1176 H (1756 M) KH. Moestodijb dan Ki Daeng dikirim ke Batavia oleh Kompeni karena menentang dan dihukum kerja paksa selama lima tahun. Setelah hukuman selesai mereka tidak kembali ke Sumbawa, tetapi menetap di Kampung Angke Duri (sekarang Tambora) dan berkenalan dengan ulama setempat. Kemudian mereka menemukan ide untuk membangun sebuah masjid sebagai tanda syukur. Lokasinya sengaja dibuat di tepi Kali Krukut karena saat itu air kali masih jernih sehingga bisa dipakai untuk berwudlu. Sumber lain menyebutkan, konon Masjid Tambora ini dibangun oleh H. Moestoyib, bersama seorang kontraktor Tionghoa Muslim yang berasal dari Makasar pada tahun 1761, kedua Muballigh itu ditahan oleh penguasa Belanda selama kurang lebih 5 Tahun dengan tuduhan makar, tetapi tuduhan itu tidak terbukti dan mereka pun dibebaskan, lalu penguasa Belanda memberikan sebidang tanah di luar tembok Batavia yang kemudian dibangun Masjid Tambora. Sejak masjid selesai dibangun, peribadatan dimasjid ini dipimpin oleh K.H. Moestoyib sampai wafat. Haji Mustoyib dikuburkan di halaman depan masjid ini demikian pula dengan Ki Daeng. Guna kelanjutan kegiatan masjid setelah mereka wafat maka pada tahun 1256 H (1836 M) pimpinan masjid dialihkan kepada Imam Saiddin sampai wafat. Setelah itu masjid telah mengalami beberapa kali pergantian pimpinan. Terakhir pada tahun 1370 H (1950 M) pimpinan dipegang oleh Mad Supi dan kawan-kawannya dari gang Tambora. Masjid ini diperluas dan dipugar menyeluruh pada tahun 1980. 3. Masjid Jami Almubarak, Krukut       View this post on Instagram Diantara kebaikan Di bulan Ramadhan adalah menuntut Ilmu A post shared by arfan latif (@arfan_latif) onJun 2, 2017 at 7:04pm PDT Masjid Jami Almubarak atau Masjid Krukut adalah salah satu masjid tua di Jakarta, dibangun sesudah tahun 1785 di atas sebidang tanah luasnya 1.000 m2 yang disebut Cobong Baru. Dibangun oleh kaum peranakan Tionghoa di Batavia, setelah memperoleh izin dari Gubemur Jenderal Alting. Izin tersebut diberikan kepada kapitan Cina peranakan (Muslim) yang bernama Tamien Dosol Seeng. Pada abad ke-19 dan abad ke20 masjid ini mengalami perubahan besar. Sebuah mimbar kayu pantas dianggap karya besar seni ukir Tionghoa. Sayang sekali, bentuk ukiran mimbar itu tak tajam lagi akibat dilapisi cat perak tebal pada tahun 1975 dan kini mimbar tersebut raib tak jelas keberada’annya. Perombakan dan pembangunan total masjid ini dilakukan tahun 1994 14 Januari 1994, diperluas oleh tanah wakaf yang diberikan Syech Abdul Khaliq A Bakhsh dan dilaksanakan oleh Abdul Malik Muhammad Aliun sebagai wakaf untuk umat Islam. Di kawasan Krukut kini sudah hampir tak ada lagi muslim Tionghoa yang bermukim disana dan justru lebih banyak di dominasi muslim keturunan arab. [Baca juga : "5 Fakta Sejarah Tentang Pulau Penyengat"] 4. Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Kebon Jeruk       View this post on Instagram Masjid Jami Kebon Jeruk Jakarta Kota Markaz Dakwah dan Tabligh Indonesia Malam Markaz setiap malam jum'at di seluruh dunia #masjidkebonjeruk #malammarkaz #markazdakwahtablighindonesia #dsas #khurujindonesia A post shared by Jefry Berahim (@jefryberahim) onDec 21, 2018 at 2:07am PST Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Muslim Tionghoa bernama, Chau Tsien Hwu atau Tschoa atau Kapten Tamien Dosol Seeng di tahun 1786. Beliau adalah salah seorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karena ditindas oleh pemerintah setempat. Sesampai di Batavia, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak serta tidak terpelihara lagi. Kemudian di tempat tersebut, ia dan teman-temannya, sesama pendatang dari Tiongkok mendirikan mesjid dan diberi nama Masjid Kebon Jeruk. Alasan diberinya nama Masjid Kebon Jeruk, menurut petugas Istiqbal (humas-red) Masjid Kebon Jeruk, Abdul Salam, karena memang pada waktu itu di daerah ini ditumbuhi banyak pohon jeruk. Jauh sebelumnya, tahun 1448 Masehi, di lokasi ini telah berdiri sebuah mesjid surau atau langgar. Bangunannya bundar, beratap daun nipah, bertiang empat, masing-masing penuh dengan ukiran. Siapa saja pendirinya tidak diketahui. Chan tsin Hwa beserta istrinya Fatima hwu tiba di Batavia pada tahun 1718, dan menetap di daerah Kebon Jeruk sekarang ini. Mereka ini adalah rombongan muhajirin (pengungsi) yang memeluk agama Islam, yang terpaksa meninggalkan negrinya karena terdesak oleh penguasa Dinasti Chien yang menganut agama leluhur mereka, Budha. Selain nilai historisnya, masjid ini menjadi terkenal karena Masjid Kebon Jeruk sebagai pusat kegiatan tabligh dan dakwah Islam di Indonesia. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini menjadi markas kegiatan Jemaah Tabligh untuk wilayah Indonesia dengan kegiatan jamaahnya adalah melakukan penyebaran Islam dengan mengunjungi berbagai tempat di seluruh nusantara dan berbagai negara. 5. Masjid Az-Zawiyah, Pekojan       View this post on Instagram Masjid Az Zawiyah adalah salah satu masjid tua yang berada di kawasan Pekojan, Jakarta Barat. Masjid yang terletak di jalan Pekojan Kecil dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas dari Tarim, Yaman Selatan. Biasanya di 10 malam terakhir Ramadhan ada tradisi buka bersama di beberapa masjid tua di Jakarta salah satunya adalah masjid Azzawiyah di setiap tanggal ganjil. Dengan adanya buka bersama ini, terlihat semakin eratnya umat muslim di Indonesia, terbukti tidak dari Jakarta saja yang menghadiri acara buka bersama ini, ada yang dari Jonggol, Bogor, Depok dan sekitarnya. Semoga dengan adanya tradisi seperti ini umat muslim di Indonesia semakin mesra hubungannya dengan sang Maha Pencipta. __ Foto : @sugoroaprian __ #iwashere #bukber #masjidazzawiyah #pekojan #jakarta #detikdetikterakhirramadhan #indonesia A post shared by Irfan Ramdhani (@ramdhani_irfann) onJun 22, 2017 at 3:28am PDT Masjid Az-Zawiyah merupakan salah satu masjid tua Jakarta yang berada di kawasan Pekojan. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas pada tahun 1812M, Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Dan juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan kitab “Fathul Mu’in” atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional. Habib Ahmad bin Hamzah Alatas juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor. Ketika dibangun, masjid ini tidak saja merupakan sebuah bangunan untuk ibadah semata namun juga merupakan tempat penyelenggaraan pendidikan islam. Kini bangunan masjid ini dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas. Masjid Azzawiyah berada tidak jauh dari jalan Pekojan Kecil, awalnya hanya berupa mushola kecil, Mushola ini kemudian diwakafkan hingga sekarang dan kemudian menjadi sebuah masjid. Kawasan Pekojan juga dikenal sebagai Kampung arab meskipun pada awalnya dihuni oleh Muslim dari India. Saat ini di Pekojan terdapat 4 Masjid Jami’ dan 26 mushola beberapa diantaranya sudah eksis sejak era kolonial. Masjid kecil ini begitu ramai dikunjungi oleh muslim keturunan arab terutama di hari Lebaran hingga hari ketiga. Tepat di depan Mushola ini berdiri rumah tua bergaya Moor, rumah tersebut sekarang ditempati keluarga Saleh Aljufri. Keluarga Saleh Al-Jufri ini adalah salah satu keturunan Arab yang masih tinggal di kawasan Pekojan. (Sumber: Artikel situsbudaya.id Foto bujangmasjid.blogspot.com)
...more

Tiga "Kartini" Travel Writer dalam Dunia Perjalanan

TRIPTRUS - Sebelum Raden Ajeng Kartini berusia 20 tahun, kaum perempuan diberi kebebasan sebatas macak (merias diri), masak, dan manak (melahirkan). Para perempuan terkungkung dengan berdiam diri di rumah dan menyiapkan seluruh keperluan untuk suami dan anak-anaknya. Tetapi kini, perempuan dan laki-laki bisa bepergian sama jauhnya. Tidak tampak lagi batasan antara perempuan dan laki-laki soal perjalanan. Pun dengan travelling dengan berkeliling dunia. Emansipasi wanita pun telah melahirkan banyak travel writer yang menginspirasi para pecandu perjalanan untuk pergi lebih jauh. Menularkan semangat untuk melihat dunia lebih luas. Berikut Okezone rangkum tiga travel writer wanita yang selalu membagi pengalaman perjalanannya ke berbagai belahan dunia melalui buku:   Claudia Kaunang Perjalanan sepertinya telah mendarah daging pada perempuan kelahiran Jakarta ini. Claudia Kaunang memulai traveling pertamanya sejak bayi. Claudia menerbitkan buku pertamanya pada tahun 2009 yang berjudul Rp2 Juta Keliling Thailand, Malaysia & Singapura. Keinginannya menulis buku ini berangkat dari rasa ingin membagi pengalaman dan tips berlibur hemat pada traveller,terutama mereka yang senang bepergian dengan budget minim atau backpacker. Delapan buku lain ciptaannya adalah TraveLove, Rp2,5 Juta Keliling Jepang, Rp3 Juta Keliling Taiwan, Rp2 Juta Keliling Macau, Hong Kong & Shenzhen, Rp500 Ribu Keliling Singapura, 101 Travel Tips & Stories, dan Traveling is Possible (2015). (Sumber: bambangpurnomohp.blogspot.com) Melalui buku Traveling is Possible, ia ingin menularkan semangat travelling pada masyarakat. Dalam bukunya ini, ia menuliskan berbagai kalimat inspirasi untuktravelling. Bagi seorang Claudia Kaunang, travelling bukan hanya soal jalan-jalan, tetapi juga mendekatkan diri kepada Tuhan, belajar memahami karakter masyarakat di suatu negara, belajar lebih peka terhadap lingkungan dan berbagai aspek sosial lainnya.   Windy Ariestanty Windy adalah seorang travel writer yang telah menulis beberapa buku, termasuk Life Traveler (2011) dan Studying Abroad: Belajar Sambil Berpetualang di Negeri Orang (2007). Melalui bukunya, Windy berbagi pengalamannya saat travelling. Ia juga mendeskripsikan perjalanan dalam arti yang luas. Tentang menemukan rumah bagi batinnya, tentang menemukan teman dan saudara yang tidak memiliki ikatan darah. (Sumber: ganlob.com) Baginya, perjalanan adalah sebuah rumah yang sesungguhnya. Sehingga tidak membuatnya asing meski berada di tempat asing. “Because travelers never think that they are foreigners,” ujarnya.   Trinity Trinity mulai dikenal sejak menulis blog The Naked Traveler. Kemudian ia menulis buku dengan judul yang sama. Sejak saat itu, dirinya menjadi salah satu penulis buku travel terkenal di Indonesia. Bahkan, ia pernah mendapatkan penghargaan sebagai Manusia Inspirasional yang memberi Kontribusi bagi Dunia Pariwisata pada 2010 oleh sebuah majalah travel. Hingga saat ini, dirinya telah menelurkan delapan buku tentang perjalanan. Tak hanya melalui buku, perempuan kelahiran Sukabumi ini juga kerap membagi pengalaman liburannya melalui akun Twitter-nya, @trinitytraveler. (Sumber: kompas.com) Dalam urusan travelling, Trinity bukanlah orang yang senang menikmati perjalanan dengan fasilitas mewah. Ia justru lebih senang bepergian sendiri dengan memilih tempat-tempat terpencil yang menawarkan keindahan alam yang asri dan menenangkan. (Sumber: Artikel okezone.com Foto panduanwisata.id)
...more

Kunjungan Wisatawan ke Sumatera Barat Naik 11,02 Persen

TripTrus.Com - Padang- Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat kunjungan wisatawan asing ke provinsi itu pada Oktober 2017 mencapai 4.826 orang atau meningkat 11,02 persen dibandingkan September 2017 "Pada September 2017 wisatawan asing yang berkunjung ke Sumbar mencapai 4.347, Oktober 2017 naik menjadi 4.826 orang," kata Kepala BPS Sumbar, Sukardi di Padang, Selasa (5/12/2017)   Persahabatan ibarat sekotak crayon... masing masing memiliki warna... perpaduan antara semua warna akan menciptakan pelangi yang indah... 😍😘 Begitulah dengan persabatan kami 👭👭👭👭👭 Mom's Day Out trip to #padang #bukittinggi #persahabatan #bandaraminangkabau #istanapagaruyung #jamgadang #danausingkarak #keloksembilan #pantaipadang #sitinurbayabridge #masjidrayapadang A post shared by Yessy (@yessyari) onOct 8, 2017 at 12:51am PDT Menurut dia kunjungan Oktober 2017 masih didominasi oleh wisatawan asing dari Malaysia mencapai 3.325 orang diikuti Australia 205 orang, Thailand 57 orang, Perancis 41 orang, Inggris 40 orang, Amerika Serikat 28 orang, Jerman 15 orang, Jepang 14 orang, Tiongkok 14 orang, Korea Selatan 9 orang dan negara lainnya 1.232 orang. "Sejak Januari sampai Oktober 2017 jumlah pelancong asal Malaysia yang berkunjung ke Sumbar sudah mencapai 32.913 orang," ujarnya. Kunjungan wisatawan pada Oktober 2017 memberikan kontribusi sebesar 0,49 persen terhadap total wisman yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 976.038 orang. Ia memastikan jumlah yang terdata tersebut adalah mereka yang masuk melalui imigrasi di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) karena jika sebelumnya dari Jakarta atau Medan akan didata lewat bandara kedatangan.   Alhamdulillah.... Hello Sumatra Barat... 😄😆😍😊 . . . . . #sumatrabarat #padang #holiday #sumbar #minangkabauairport #bandaraminangkabau #liburan A post shared by Ria Fitriani (@riafitriya02) onApr 29, 2017 at 5:02am PDT Sementara Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Sumbar seperti dilansir Antara menyarankan pemerintah provinsi bisa belajar dari Malaysia bagaimana strategi menggaet wisatawan berkunjung ke daerah itu. "Saat ini sudah ada penerbangan langsung dari Padang ke Malaysia ini merupakan peluang namun harus diakui jumlah warga Sumbar yang datang ke Malaysia lebih banyak ketimbang orang Malaysia yang ke provinsi ini," kata Ketua Asita Sumbar Ian Hanafiah. Menurutnya Malaysia mempromosikan wisatanya terus menerus dengan membentuk badan khusus serta melakukan promosi dengan maksimal. Kemudian Malaysia juga menyiapkan beragam infrastruktur dan fasilitas yang membuat wisatawan nyaman. Sebab kunci agar orang mau berwisata itu adalah mampu melihat dan memenuhi kebutuhan wisatawan, bahkan kantor perdana menterinya sendiri juga bisa dikunjungi, jelasnya. Ia mengakui biro perjalanan yang ada di Sumbar jauh lebih nyaman membawa warga Sumbar ke Malaysia ketimbang membawa warga Malaysia ke Sumbar. "Kalau membawa orang Sumbar ke Malaysia sesudah kunjungan tidak ada masalah, tapi membawa orang Malaysia ke sini kami khawatir banyak keluhan mulai dari infrastruktur hingga toilet," ujarnya. Selain itu harga penginapan di Malaysia juga lebih murah bayangkan saja paket tahun baru tiga hari dua malam bisa dapat Rp1,7 juta untuk hotel bintang tiga, sedangkan di Bukittinggi untuk hotel saja satu malam sudah Rp2,5 juta. Ia menggarisbawahi kalau Sumbar ingin lebih banyak dikunjungi wisatawan asing maka benahi infrastruktur dan pahami kebutuhannya. (Sumber: Artikel industry.co.id Foto @Amieykha)
...more

5 Masjid Tertua Dan Bersejarah di Kudus - Part 1

TripTrus.Com - Sepanjang wilayah Pantai Utara Timur dari Demak-Kudus hingga ke Jawa Timur dikenal sebagai daerah-daerah persinggahan para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam. Tak heran, jika budaya dan sisa-sisa peninggalan sejarah Islam masih melekat di daerah tersebut. Seperti di Kota Kudus, terdapat makam Sunan Muria dan Sunan Kudus, sebagai penyebar agama Islam yang sampai sekarang makamnya banyak dikunjungi peziarah. Dengan kehadiran dua tokoh tersebut, banyak meninggalkan kisah dan artefak kebudayaan Islam yang masih dapat dijumpai di sejumlah tempat. Salah satunya peninggalan masjid-masjid yang memiliki sejarah panjang. Berikut 5 masjid tua bersejarah di Kudus yang bisa menjadi pengingat dan bahan pelajaran generasi saat ini. 1. Masjid Langgar Dalem Masjid Langgar Dalem terletak di Desa Langgar Dalem, Kec. Kota Kudus. Masjid ini merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah pada masa awal perkembangan islam, khususnya di wilayah Kudus. Berdasarkan sengkalan memet yang dibaca trisula pinulet naga di perkirakan Masjid Langgar Dalem didirikan pada tahun 885 H atau 1480 M.  Berdirinya Masjid Langgar Dalem ini dihubungkan dengan Sunan Kudus yang merupakan salah satu tokoh penyebar agama islam dan merupakan salah satu dari Walisango. Hal itu dibuktikan juga dengan  cerita rakyat yang dipercaya oleh masyarakat Kudus, yang menceritakan bahwa Masjid Langgar Dalem dibuat oleh para seniman dari Madura. Para seniman tersebut merupakan tawanan perang yang kemudian dibawah oleh Sunan Kudus untuk membangun kota Kudus. Dan jika dilihat secara sepitas, Ciri dari keunikan Masjid Langgar Dalem terletak pada bentuk atapnya yang berupa atap tumpang susun tiga yang dilengkapi dengan hiasan mustoko dipuncaknya. 2. Masjid Jami' Nganguk Wali Kramat       View this post on Instagram A post shared by Azkayra (@afnahaqy987) onJan 11, 2020 at 12:41am PST Masjid berukuran 25×20 meter ini ada kaitannya dengan Kyai Telingsing. Sang kyai adalah seorang keturunan Tionghoa yang bernama asli The Ling Sing (Tan Ling Sing/Tee Ling Sing). Disebut sebagai Masjid Nganguk Wali, karena konon masjid ini didirikan oleh para wali yang pengawasannya kemudian diserahkan kepada Kyai Telingsing. Pada blandar masjid terdapat tulisan yang berasal dari ajaran Kyai Telingsing, yaitu sholat sacolo saloho donga sampurna atau shalat adalah sebagai do’a yang sempurna, serta ada pula tulisan berbunyi lenggahing panggenan tersetihing ngaji yang bermakna menempatkan diri pada yang benar, suci dan terpuji. Salah satu yang membuat Masjid Nganguk Wali kini lebih menarik untuk dikunjungi adalah dinding tembok luar dan gapura paduraksa yang memisahkan pelataran luar dengan pelataran dalam yang lebih tinggi, dihubungkan sejumlah undakan. Pada lubang gapura terdapat struktur kayu yang diukir indah. Gapura ini belum lama dibuat, untuk mengembalikan bentuk bangunan aslinya. 3. Masjid Madureksan Masjid yang terletak di Dukuh Madureksan, Kel. Kerjasan, Kec. Kudus ini, dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1520 M. Masjid Madureksan dibangun oleh Sunan Kudus sebelum dibangunnya Masjid Menara Kudus. Pada masa itu, Masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah dan dakwah oleh Sunan Kudus dan para santrinya. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat musyawarah berbagai permasalahan agama dan menyusun siasat perang. Selain Sunan Kudus, ada seorang tokoh yang mewarnai keberadaan Masjid Madureksan ini, ia adalah Kyai Telingsing. Ulama asal Tiongkok ini juga memiliki peranan besar dalam penyebaran Islam di Kota Kudus. Bergulirnya waktu, bangunan Masjid Madureksan mulai terpendam hingga kedalaman 70 sentimeter. Hal ini disebabkan bangunan jalan dan pemukiman sekitar yang lebih tinggi, menjadikan Masjid ini seperti terpendam. Sehingga pada tahun 1998, Masjid Madureksan dipugar total dan berdiri sebuah bangunan baru seperti yang masyarakat kenal saat ini. [Baca juga : "5 Masjid Tertua Dan Bersejarah Di Banten - Part 3"] 4. Masjid Menara Kudus (Al Aqsa)       View this post on Instagram A post shared by @mamotomo onApr 30, 2020 at 6:21pm PDT Masjid ini tergolong unik karena desain bangunannya, yang merupakan penggabungan antara Budaya Hindu dan Budaya Islam. Hal itu menjadi bukti, bagaimana sebuah perpaduan antara Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Hindu telah menghasilkan sebuah bangunan yang tergolong unik dan bergaya arsitektur tinggi. Sebuah bangunan masjid, namun dengan menara dalam bentuk candi dan berbagai ornamen lain yang bergaya Hindu. Gaya arsitektur candi pada Menara Kudus menyerupai candi-candi di Jawa Timur, salah satunya seperti Candi Jago di Malang. Selain itu, bangunan masjid ini juga menyerupai Menara Kukul di Bali. Menurut sejarah, masjid Kudus dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H atau 1549 M. Menurut cerita, Sunan Kudus membangun menara ini dengan cara menggosok-gosokkan batu bata yang satu dengan lain sehingga menjadi lengket. Selain itu, terdapat juga mustaka mirip atap tumpang pada masjid tradisional Jawa. Fungsi dari menara itu adalah untuk tempat mengumandangkan adzan. 5. Masjid Wali Loram Kulon (Jami At Taqwa) Nama resmi masjid ini adalah Masjid Jami At-Taqwa, namun masyarakat setempat lebih suka menyebutnya Masjid Wali Loram Kulon. Masjid ini berada di Desa Loram Kulon, Kec. Jati, Kab. Kudus. Seperti laiknya bangun masjid pada zaman dahulu, masjid ini dibuat dengan kayu jati yang telah dilengkapi dengan menara, sumur tempat berwudhu dan bedug. Bangunan asli masjid ini dibangun pada 1596-1597 oleh seorang Tionghoa Muslim asal Campa bernama Tjie Wie Gwan atas perintah Sultan Hadlirin. Namun seiring bertambahnya usia, masjid ini dilakukan pemugaran pada awal 1990-an. Bagian yang sama sekali tidak diubah pada bagian gapura paduraksa yang berada di depan masjid. Ada aksara arab berbunyi “Allhumma baariklana bil khoir” dan di bawahnya ada terjemahannya yang berbunyi “Ya Allah, berkahilah kebaikan kepada kami” yang tertera di gapura itu. Seperti Masjid Menara Kudus, Masjid Wali Loram Kulon ini juga berarsitektur Jawa Hindu dan mengkombinasikannya dengan gaya Timur Tengah. (Sumber: Artikel kemdikbud.go.id, isknews.com, situsbudaya.id, islamic-center.or.id, indonesiakaya.com, inibaru.id Foto instagram.com/artetaarie)
...more

7 Spot Eksotis di Wisata Pulau Sangiang, Wajib Eksplor!

TripTrus.Com - Wisata Pulau Sangiang adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Selat Sunda, yakni antara Jawa dan Sumatra, tepatnya di Kabupaten Serang. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten. Dulu pulau ini di jadikan cagar alam. Namun seiring berjalannya waktu, pulau ini dijadikan taman wisata alam laut. Belum banyak yang tahu tentang pulau kebanggaan Kabupaten Serang tersebut. Terbukti dari sedikitnya wisatawan yang mengunjungi sehingga keindahan pulaunya masih terjaga sampai saat ini. Berikut adalah daftar beberapa spot menarik yang sayang untuk kamu lewatkan jika kebetulan berkunjung ke Pulau Sangiang seperti dikutip dari IDN Times.       View this post on Instagram A post shared by Jakarta Jalan Jalan (@jktjalanjalan) onMar 30, 2020 at 7:01pm PDT 1. Pemandangan nuansa hijau sebelum sampai di dermaga Spot indah yang pertama kali menyambut kedatangan wisatawan adalah nuansa hijau dari hutan bakau dan anak sungai menuju ke dermaga Pulau Sangiang, seperti sungai Amazon nuansa yang tergambar pada spot ini 2. Goa Kelelawar Bukan hanya Bali, di Pulau Sangiang kalian dapat menjumpai goa kelelawar dan menyaksikan ratusan kelelawar bermain – main dengan deburan ombak yang memasuki goa tersebut. Pada bagian ujung gua terlihat lubang sebagai tempat masuknya air. Wajar saja jika permukaan gua terendam oleh air laut. Ada satu yang unik dari terendamnya permukaan gua ini yakni ikan hiu datang untuk menunggu kelelawar yang jatuh untuk menjadi santapan. Namun untuk melihat peristiwa yang langka tersebut pengunjung harus menunggu momen yang pas. Biasanya pagi sampai siang hari di bulan Mei hingga Agustus menjadi waktu yang pas untuk melihat hiu melahap kelelawar yang jatuh dari langit-langit di Gua Kelelawar, Pulau Sangiang 3. Puncak Begal Pengalaman paling menarik dari Puncak Begal adalah wisatawan disuguhkan keindahan sunset di sore hari. Dan di Puncak Begal ini kalian dapat melihat pemandangan laut lepas serta sensasi ombak yang bertabrakan dengan tebing – tebing di sekitar serta memiliki pemandangan yang indah untuk jadi spot foto. [Baca juga : "2021, Pemkab Bogor Targetkan Geopark Pongkor Mendunia"] 4. Bukit Harapan Di spot ini kalian dapat beristirahat sejenak setelah melakukan perjalan dari spot sebelumnya. Bukit Harapan menyuguhkan pemandangan indah dan asri serta anginnya yang sepoi-sepoi dijamin bikin kalian betah berlama-lama di spot ini 5. Pantai Sangiang Di Pantai Sangiang sendiri kalian dapat menikmati pemandangan yang indah dari pasir putih dan biru laut serta hijau tebing. Tidak seperti pantai kebanyakan, Pantai Sangiang ini tidak begitu di penuhi wisatawan sehingga kalian bebas berfoto di spot ini tanpa terganggu keramaian orang berlalu-lalang. For your information, kalian bisa menginap di sekitar pantai dengan menggunakan tenda bersama teman – teman kalian Selain itu saat berwisata ke Pulau Sangiang, jangan lewatkan pemandangan bawah lautnya yang indah dengan cara melakukan snorkeling. Jika kamu tidak membawa alat snorkeling, jangan khawatir sebab banyak persewaan alat snorkeling di Pulau Sangiang. (Sumber: Artikel bantennews.co.id Foto jktjalanjalan)
...more

Dua Masjid di Bogor Ini Sering Dikunjungi Wisatawan

TripTrus.Com - Wisata religi menjadi kegiatan yang sudah umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Kota-kota besar pun kerap menjadi tujuan dari wisata keagamaan tersebut. Seperti di Kota Bogor, wisatawan bisa berkunjung ke tempat wisata religi di Masjid Raya Bogor. Dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, lokasi rumah ibadah ini ada di Jalan Raya Pajajaran Nomor 10. Keberadaan Masjid Raya Bogor terbilang strategis sehingga pengunjung tidak akan kesulitan dalam mencari bangunan Islami tersebut. Jika dari pintu keluar Tol Jagorawi, maka Masjid Raya Bogor berada tempat di sampingnya. Tidak terlalu jauh dengan pusat Kota Bogor. Masjid Raya Bogor termasuk bangunan bersejarah karena rampung berdiri tahun 1979. Luas rumah ibadah umat Muslim di Kota Bogor ini sekitar 4.000 meter persegi. Gaya arsitektur masjid terlihat indah bersama ornamen bintang berbentuk segi delapan. Pengunjung bisa mengunjungi Masjid Raya Bogor kapan saja karena rumah ibadah satu ini selalu terbuka untuk para jamaah Muslim yang hendak beribadah. Bukan hanya itu, pungunjung juga dapat mencicipi beragam kuliner menarik di depan Masjid Raya Bogor.Selain Masjid Raya Bogor, wisatawan bisa juga mengunjungi rumah ibadah Masjid Agung Bogor. Masjid ini berlokasi di kawasan Pasar Anyar, tepatnya berada di Jalan Dewi Sartika Nomor 1A, Bogor. Berdasarkan sejarah, Masjid Agung Bogor berdiri di kawasan pasar dengan luas tanah mencapai 4.000 meter persegi dan luas bangunan 2.500 meter persegi.Masjid Agung Bogor ada di tengah keprihatinan para ulama Kota Bogor yang melihat lebih banyak berdiri gereja di banding masjid. Sehingga pada tahun 1990 berdirilah Masjid Agung Bogor ini. Tidak perlu heran dengan hiruk-pikuk di sekitar Masjid Agung Bogor, hal itu sudah menjadi pemandangan umum setiap hari. (Sumber: Artikel republika.co.id Foto lovelybogor.com)
...more

10 Masjid Bersejarah di Indonesia

TRIPTRUS - Sepuluh Masjid Bersejarah di Indonesia yang patut dikunjungi di Bulan Ramadhan. Salah satu alternatif wisata Ramadhan untuk para traveller adalah mengunjungi masjid-masjid bersejarah di Indonesia. Meski banyak sekali masjid yang sudah lama berdiri dan penuh dengan sejarah, TripTrus menyajikan sepuluh masjid yang paling terkenal di Indonesia.   1. Masjid Raya Baiturrahman Masjid yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612. Ada juga yang mengatakan bahwa masjid ini dibangun di tahun 1292 oleh Sultain Alaidin Mahmudsyah. Pada zaman penjajahan Belanda, masjid ini sempat dihancurkan di tahun 1873. Namun Belanda memutuskan untuk membangun kembali masjid ini di tahun 1877, sebagai permintaan maaf atas dirusaknya bangunan masjid yang lama. Pembangunan kembali masjid baru mulai dilaksanakan pada tahun 1879. Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1883 dan tetap berdiri hingga sekarang. Pada saat bencana Tsunami di tahun 2004, Masjid Raya Baiturrahman tidak mengalami kerusakan sedikitpun dan jadi tempat mengungsi para korban gelombang Tsunami terbesar di dunia itu.   2. Masjid Raya Medan Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Al-Mashun ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909 oleh Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam. Kemegahan masjid ini memang disengajakan oleh Sultan, yang menganggap masjid ini harus lebih megah dari istananya, Istana Maimun. Sebagian bahan bangunan untuk masjid ini diimpor dari luar negeri, seperti marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia dan Jerman, dan kaca patri dari Cina, dan lampu gantung dari Prancis. Arsitek Belanda yang merancang masjid ini, JA Tingdeman merancang bangunan ini dengan corak bangunan Maroko, Eropa, Melayu, dan Timur Tengah.   3. Masjid Raya Ganting Menurut sejarah, masjid ini awalnya dibangun pada tahun 1700. Namun bangunannya beberapa kali dipindah sampa pada akhirnya berada di daerah Ganting, kota Padang, Sumatra Barat mulai tahun 1805. Atapnya yang berbentuk persegi delapan itu dibuat oleh para pekerja etnis Cina yang membantu mengembangkan bangunan ini, setelah Belanda menambahkan bangunan masjid ini sebagai kompensasi digunakannya tanah wakaf untuk jalur transportasi pabrik semen Indarung ke Pelabuhan Teluk Bayur. Masjid ini juga tetap kokoh dan tidak mengalami kerusakan pada saat dilanda gempa dan Tsunami di tahun 1833. Presiden Pertama Indonesia, Bung Karno, juga pernah mengungsi ke masjid ini sebelum diasingkan ke Bengkulu di tahun 1942.   4. Masjid Istiqlal Masjid terbesar di Asia Tenggara ini diprakarsai oleh Bung Karno pada tahun 1951. Diarsiteki Frederich Silaban, masjid ini baru mulai dibangun pada tahun 1961 dan merampungkan pembangunannya pada tahun 1978. Nama masjid ini diambil dari bahasa Arab yang berarti “Kemerdekaan.” Bangunan yang ditetapkan sebagai masjid negara Indonesia ini menjadi pusat perayaan berbagai acara agama umat Muslim seperti Iedul Fitri, Iedul Adha, Maulid Nabi Muhammad, dan Isra’ Mi’raj. Masjid ini mampu menampung hingga 200 ribu jamaah yang bisa memenuhi satu lantai dasar dan lima lantai di atasnya.  Masjid Istiqlal dibangun di atas reruntuhan bekas benteng Belanda, benteng Prins Frederik – yang didirikan pada tahun 1873.   5. Masjid Agung Banten Masjid dengan atap bangunan yang menyerupai pagoda ini dibangun oleh arsitek Cina bernama Tjek Ban Tjut pada masa pemerintahan sultan pertama dari Kesultanan Banten, Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati di tahun 1560. Di sisi utara dan selatan masjid ini terdapat makam kuno para sultan Banten dan keluarganya. Sementara, menara masjid yang tingginya 24 meter, terdapat di sisi timur dan menjadi atraksi bagi para wisatawan karena keunikan bentuk bangunannya. Menara itu dibangun oleh arsitek Belanda, Hendrik Lucasz Cardeel. Cardeel juga membangun bangunan khusus di sisi selatan masjid yang dulu digunakan sebagai tempat bermusyawarah dan berdiskusi.   6. Masjid Agung Cirebon Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Agung Kasepuhan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini diprakarsai pembangunannya oleh Sunan Gunung Jati dan diarsiteki oleh Sunan Kalijaga. Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1480, di masa penyebaran agama Islam oleh Wali Songo. Berlokasi di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, masjid ini mempunyai keunikan berupa sembilan pintu untuk masuk ke ruangan utama, yang melambangkan Wali Songo. Di bulan Ramadhan, sumur air Banyu Cis Sang Cipta Rasa selalu ramai dikunjungi oleh peziarah yang meyakini air dari sumur itu mampu mengobati berbagai penyakit. Masjid Agung Cirebon juga dikenal dengan nama Masjid Sunan Gunung Jati.   7. Masjid Menara Kudus Sunan Kudus mendirikan masjid di kota Kudus pada tahun 1549 dengan menggunakan batu pertama dari Baitul Maqdis, dari Palestina. Bentuk menara yang mirip dengan bentuk candi menunjukkan percampuran pengaruh agama Hindu dan Budha, seperti cara Sunan Kudus menyampaikan ajaran agama Islam agar lebih mudah dimengerti oleh penganut agama Hindu dan Budha pada masa itu. Menara masjid ini dibangun tanpa menggunakan semen sebagai perekatnya dan dihiasi oleh 32 piring biru yang berhiaskan lukisan.   8. Masjid Agung Demak Raden Patah, raja pertama dari Kesultanan Demak, beserta para Wali Songo mendirikan masjid ini di tahun 1466. Masjid Agung Demak diselesaikan pembangunannya pada tahun 1479. Bangunan induk masjid ini ditopang oleh empat tiang utama yang bernama saka guru. Uniknya, salah satu dari tiang utama tersebut terbuat dari serpihan kayu, dan dinamakan saka latal. Di samping masjid ini terdapat Museum Masjid Agung Demak yang menampilkan berbagai koleksi unik masjid, seperti beduk dan kentongan yang dibuat oleh Wali Songo, kitab tafsir Al-Qur’an Jus 15-30 tulisan tangan Sunan Bonang, sepotong kayu dari saka latal yang diambil oleh Sunan Kalijaga, dan lain-lain.   9. Masjid Sunan Ampel Di tahun 1421, Sunan Ampel bersama dua sahabatnya, yang dikenal dengan Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji, mendirikan Masjid Ampel. Bangunan seluas kurang lebih 2 km persegi itu memiliki keunikan berupa 16 tiang kayu setinggi 17 meter dengan diameter 60 cm. Tiang-tiang dari kayu jati itu tidak terbuat dari sambungan kayu dan sampai sekarang tidak diketahui bagaimana cara mendirikan tiang tersebut. Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel, lokasi Masjid Sunan Ampel, tiap harinya dipenuhi oleh wisatawan yang berziarah ke makam Sunan Ampel di sekitar halaman masjid. Di kompleks pemakaman masjid itu juga terdapat makam salah satu pahlawan nasional, KH Mas Mansyur.   10. Masjid Kotagede Di Yogyakarta, selain Masjid Agung Kauman, juga terkenal Masjid Kotagede. Masjid Kotagede adalah masjid tertua di Yogyakarta, yang didirikan oleh Sultan Agung, pemimpin kerajaan Mataram, pada tahun 1640. Bangunan ini dikerjakan dengan bergotong-royong melibatkan pekerja beragama Hindu dan Budha, sehingga terlihat pengaruh bangunan Hindu dan Budha pada masjid ini. Awalnya, Masjid Kotagede hanya seluas 100 meter persegi, namun Paku Buwono X memperluas bangunan masjid ini hinga mencapai 1.000 meter persegi. Di bulan Ramadhan, Masjid Kotagede punya keunikan berupa sholat tarawih yang dilakukan pada saat jam 24.00.
...more

Mei Gak Boleh Rebahan Doang! Ini Deretan Event Keren Buat Healing & Eksis

TripTrus.Com - Bro sis, lo udah nyiapin agenda buat Mei 2025 belum? Jangan sampe cuma scroll medsos doang sambil rebahan ya. Soalnya, sepanjang bulan Mei ini, Indonesia rame banget sama event kece dari ujung barat sampe timur. Ada yang nuansanya budaya, ada juga yang bisa lo nikmatin sambil kulineran atau ngejoget bareng crowd di festival musik. Cocok banget buat lo yang pengen liburan sambil eksplor hal-hal baru dan tetap eksis di feed Instagram lo! ✨ SEBA BADUY (1–4 Mei 2025 – Lebak, Banten)       View this post on Instagram A post shared by Iwan Kristiana (@iwankristiana) Event ini vibes-nya beda banget, sob. Lo bisa ngintip budaya Baduy yang masih super tradisional tapi magis abis! Kegiatan ini jadi ajang warga Baduy Luar nganterin hasil bumi ke Pemda Banten sebagai simbol perdamaian dan rasa syukur. Lo bakal ngerasain atmosfer yang damai, jauh dari hiruk-pikuk kota, cocok buat lo yang lagi pengen detoks digital. 🎭 SEMARANG NIGHT CARNIVAL (4 Mei 2025 – Semarang, Jateng) Lo suka lampu-lampu gemerlap dan kostum nyentrik? Nah, SNC ini tuh parade malam yang bikin jalanan Semarang jadi panggung catwalk penuh warna. Banyak performance unik dari berbagai komunitas dan pelajar. Lo bisa hunting foto estetik buat feed lo. Pokoknya, vibes-nya asik banget! 🧘‍♀️ BALI SPIRIT FESTIVAL (7–11 Mei 2025 – Gianyar, Bali) Lo yang suka yoga, meditasi, dan healing vibes ala-ala Ubud, wajib banget datang ke sini. Festival ini bukan cuma soal gerakan, tapi juga jiwa dan pikiran. Banyak banget workshop, kelas spiritual, sampai pertunjukan seni dari penjuru dunia. Bisa banget buat recharge energi lo yang udah mulai soak! 🍜 FESTIVAL KULINER LEGENDARIS SURABAYA (8–10 Mei 2025 – Surabaya, Jatim) Geng perut lapar, mari merapat! Lo bisa nyobain makanan legendaris khas Suroboyo yang udah melegenda dari zaman kakek-nenek. Dari rawon, rujak cingur, sampe lontong balap, semua ada di sini. Sambil makan, lo juga bakal disuguhi live music dan pertunjukan seni. Bener-bener paket lengkap! 🏖️ PESONA BELITUNG BEACH FESTIVAL (8–12 Mei 2025 – Belitung, Babel) Pantai, musik, dan sunset kece, siapa yang nolak? Di event ini, lo bisa ngerasain keindahan pantai Belitung sambil nikmatin festival musik dan lomba seru kayak beach volleyball sampe lomba layangan. Pas buat lo yang doyan vitamin-sea tapi tetep pengen ada hiburannya juga. 📚 MINANGKABAU LITERACY FESTIVAL (8–12 Mei 2025 – Padang, Sumbar) Buat lo yang suka dunia literasi, ini surganya! Banyak diskusi buku, workshop penulisan, sampai pertunjukan budaya Minang yang kece banget. Bisa ketemu penulis-penulis top juga. Lo gak cuma dapet ilmu, tapi juga kenalan baru. Siapa tau jodoh juga, kan? 💃 FESTIVAL MUARO PADANG (8–12 Mei 2025 – Padang, Sumbar) Kalo lo demen sama vibes festival rakyat, ini cocok! Ada parade budaya, kuliner khas Minang, sampe atraksi seru di tepi sungai Muaro. Acaranya tuh gabungan antara adat dan hiburan kekinian. Lo bisa happy-happy sekaligus belajar soal budaya lokal. 🎨 SEMARAK BUDAYA INDONESIA (9–10 Mei 2025 – Solo, Jateng) Solo gak pernah kehabisan ide buat bikin acara kece. Di event ini, lo bakal disuguhin tarian tradisional, pameran kriya, sampe fashion show kain-kain etnik. Lo bisa banget liat langsung gimana budaya Indonesia dipoles jadi kekinian. Estetik parah! ⛰️ FESTIVAL PARALAYANG BUKIK MARANDO (16–23 Mei 2025 – Pasaman Barat, Sumbar) Lo adrenaline junkie? Wajib terbang ke Sumbar! Paralayang di sini tuh epic, view-nya gunung dan sawah yang hijau banget. Selain itu, ada juga hiburan lokal dan stand-stand kuliner buat ngisi tenaga abis terbang. Lo bakal ngerasa kayak burung, tapi tetep stylish! 🚤 LOMBA PERAHU LAYAR (17 Mei 2025 – Surabaya, Jatim) Balik lagi ke Suroboyo, kali ini ada event seru di laut! Lomba perahu layar ini bukan cuma adu cepat, tapi juga adu estetik perahu yang dihias kece abis. Bisa sekalian piknik pinggir laut sambil nonton. Bawa sunscreen, jangan lupa! [Baca juga : "Mei 2025, Liburan Panjang, Waktunya Ngebebas Dan Manfaatin Semua Tanggal Merah!"] 🌺 FESTIVAL ISEN MULANG (17–23 Mei 2025 – Palangka Raya, Kalteng) Festival ini tuh semacam all-in-one package buat lo yang mau liat budaya Dayak lebih dekat. Dari lomba masak tradisional, seni bela diri, sampe fashion show etnik, semua ada! Bener-bener kaya budaya tapi dikemas kekinian. Jangan heran kalo tiba-tiba lo pengen stay lebih lama di Kalimantan. 🍉 FESTIVAL RUJAK ULEG (17–18 Mei 2025 – Surabaya, Jatim) Lo suka rujak? Di sini bukan cuma makan doang, tapi lo juga bisa ikutan nguleg rame-rame bareng ratusan orang. Seru, unik, dan rame! Ini tuh salah satu tradisi Suroboyo yang paling pecah, lo bakal dapet pengalaman yang gak biasa. 🥁 GELAR MELAYU SERUMPUN (20–24 Mei 2025 – Medan, Sumut) Event ini cocok buat lo yang pengen kenalan sama budaya Melayu. Ada musik, tari, kuliner, dan fashion yang semuanya berbau Melayu. Lo bakal ngerasa kayak lagi di negeri seberang tapi masih di Indonesia. Estetik dan edukatif! 🍴 JOGJA INTERNATIONAL FOOD EXPO (20–24 Mei 2025 – Bantul, DIY) Kalo lo foodie sejati, ini surganya! Dari makanan lokal sampe internasional, semuanya ada. Lo bisa nyobain kuliner unik dari berbagai negara, sambil nikmatin suasana Jogja yang hangat. Siapin perut kosong dan memori HP buat foto makanan!  🌍 KIRAB 1000 TENONG (20–24 Mei 2025 – Banjarnegara, Jateng) Tenong alias tempat makanan khas Jawa ini bakal dirayain dalam bentuk parade unik. Ada 1000 tenong diarak sambil diramein musik tradisional dan performance budaya. Lo bakal ngerasain momen spiritual dan kekeluargaan yang hangat banget. 🎶 KERONCONG PLESIRAN IX (24 Mei 2025 – Kulon Progo, DIY) Musik keroncong emang klasik, tapi jangan salah, dibawain dengan gaya modern tuh jadi beda vibes-nya. Festival ini ngebuktiin kalau musik jadul bisa banget jadi tren baru asal dikemas kreatif. Lo bisa chill di alam sambil dengerin musik santai. 🌊 FESTIVAL TUMPAH RUAH (27–31 Mei 2025 – Jambi) Festival ini literally tumpah ruah! Semua elemen budaya dan kreativitas warga Jambi disatuin jadi satu event meriah. Dari seni, musik, sampe lomba-lomba lucu ada semua. Cocok buat lo yang demen eksplor kota-kota non-mainstream. 🏝️ FESTIVAL PESONA AEKHULA (28 Mei–1 Juni 2025 – Nias Barat, Sumut) Nias tuh gak cuma surfing doang! Di festival ini, lo bakal liat budaya Nias yang unik banget, dari tarian perang, pameran kerajinan tangan, sampe kuliner lokal yang bikin nagih. Lo bakal sadar, Indonesia tuh kaya banget sama budaya yang belum tentu lo kenal sebelumnya. 🖼️ PALEMBANG ART AND CULTURE FESTIVAL (28 Mei–1 Juni 2025 – Palembang, Sumsel) Seni dan budaya Palembang gak boleh diremehkan, gengs! Di event ini, semuanya dipamerin dari lukisan, kerajinan, sampe tari tradisional. Lo bisa banget belajar sejarah sambil nikmatin suasana festival yang fun dan penuh warna. 🍲 UBUD FOOD FESTIVAL (30 Mei–1 Juni 2025 – Gianyar, Bali) Ubud tuh udah dikenal sebagai surga kuliner, dan festival ini jadi bukti nyatanya. Banyak chef top hadir, demo masak, talkshow, dan tentunya, makan-makan! Cocok buat lo yang pengen eksplor rasa baru sekaligus healing di alam Bali. Nah, lo udah liat sendiri kan betapa serunya bulan Mei 2025 ini? Event-nya gak kaleng-kaleng, dari budaya, kuliner, sampe extreme sport juga ada. Tinggal pilih yang sesuai mood lo. Jangan sampe lo nonton doang di Instastory orang lain. Yuk, siapin waktu, ajak bestie lo, dan buruan cus ke salah satu event kece ini. Karena hidup tuh soal momen, bukan cuma scroll-scroll doang! (Sumber Foto @rifkybombogie)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography
×

...