Setiap tahun, Tanah Lot dikunjungi oleh sekitar satu juta wisatawan domestik dan mancanegara. Bisa dikatakan tempat ini menjadi salah satu ikon kepariwisataan Provinsi Bali. Erosi yang disebabkan oleh air laut telah membentuk sejumlah gua di sekitarnya, yang menjadi tempat hidup ular-ular laut. Masyarakat setempat percaya kalau ular-ular itu merupakan hewan milik Dewa yang mendiami Pura Tanah Lot sehingga tidak boleh diganggu.Yang membuat tempat ini semakin indah tentu saja dengan adanya bangunan pura yang terletak di bibir pantai yang curam, bernama Pura Tanah Lot. Ketika air laut pasang, Pura Tanah Lot akan terlihat seperti daratan yang mengambang di tengah pantai. Para wisatawan baru bisa menginjakkan kaki di tempat ini saat air laut mulai surut. Pura ini dibangun pada abad ke-15 oleh Danghyang Nirartha atau Pedanda Bawu Rawuh yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Pada masa itu Tanah Lot dikuasai oleh Bendesa Beraben yang konon iri pada kesaktian Danghyang Nirartha yang mampu merebut simpati masyarakat Bali untuk memeluk agama Hindu. Lalu, Bandesa Beraben memaksa Danghyang Nirartha untuk segera meninggalkan Tanah Lot. Namun sebelum pergi, Danghyang Nirartha menggunakan kekuatan serta kesaktiannya untuk memindahkan sebuah batu berukuran sangat besar ke tengah pantai, lalu membangun sebuah pura di atasnya. Danghyang Nirartha juga mengubah selendangnya menjadi ular yang menjadi penjaga pura.Pura Tanah Lot ini sangat disukai oleh para fotografer yang ingin mengabadikan pura dengan latar matahari terbenam. Di dekat Pura Tanah Lot yang sangat indah ini, terdapat juga pura-pura lain yang berukuran lebih kecil, seperti: Pura Pakendungan, Pura Penataran, Pura Penyawang, dan lain-lain. Area wisata Tanah Lot berada di Desa Beraban, berjarak sekitar 13 kilometer dari Tabanan, atau sekitar 22 kilometer dari Kota Denpasar. Sementara dari Bandara Ngurah Rai, lokasi ini berjarak sekitar 25 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit.Tarif tiket masuk yang ditetapkan bagi wisatawan domestik yang ingin menikmati keindahan Tanah Lot adalah Rp 5.000,00 untuk anak-anak dan Rp 7.500,00 untuk orang dewasa. Sementara harga tiket masuk untuk wisatawan mancanegara sebesar Rp 10.000 untuk anak-anak dan orang dewasa. Dan biaya parkir kendaraan Rp 2.000,00 untuk motor, Rp 5.000,00 untuk mobil, dan Rp 10.000,00 untuk bus.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...moreTripTrus.Com - Jembatan gantung Situ Gunung menjadi kawasan favorit wisatawan di musim libur Lebaran 2018. Kunjungan wisatawan membeludak ke jembatan gantung yang disebut-sebut terpanjang di Asia Tenggara itu, sejak hari pertama dibuka pada H-1 Lebaran 2018.
Terletak di kaki Gunung Gede Pangrango, jembatan gantung tersebut menarik perhatian karena menyuguhkan panorama yang indah. Para wisatawan sengaja datang bukan hanya sekedar menikmati pesona hutan damar yang berada di aeral Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Namun juga ingin menguji nyali untuk berjalan di atas jembatan gantung berplat tali baja tersebut.
Jembatan yang menghubungkan objek wisata Situgunung kekawasan Curug Sawer itu, memiliki ketinggian mencapai 150 meter dari atas tanah. Adapun panjang membentang hingga mencapai 250 meter.
View this post on Instagram
life is journey with problems to solve and lessons to learn but most of all experiences to enjoy . #goodmorning
A post shared by Situgunung Suspension Bridge (@situgunungsuspensionbridge) onMar 1, 2019 at 9:33pm PST
Ini juga menjadi destinasi baru bagi wisatawan yang senang berswafoto. “Memang jembatan memiliki sensasi tersendiri saat dilintasi. Terutama bagi pengunjung yang akan berswafoto," kata salah seorang pengunjung objek wisata jembatan gantung, Chepi.
Chepi mengatakan jumlah pelintas jembatan dibatasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. "Apalagi membludaknya jumlah wisatawan berlalu-lalang terpaksa para petugas membatasinya," katanya.
Dia menuturkan, jembatan tersebut sangat menawan karena selain menawarkan keindahan dan kesejukan, para wisatawan juga dapat menikmati dua keindahan objek wisata dalam waktu bersamaan.
“Memang panorama sangat indah, sehingga banyak wisatawan datang dan menikmati jembatan ini,” katanya.
Jembatan gantung Situ Gunung menjadi kawasan favorit wisatawan di musim libur Lebaran 2018. Kunjungan wisatawan membeludak ke jembatan gantung yang disebut-sebut terpanjang di Asia Tenggara itu, sejak hari pertama dibuka pada H-1 Lebaran 2018.
Terletak di kaki Gunung Gede Pangrango, jembatan gantung tersebut menarik perhatian karena menyuguhkan panorama yang indah. Para wisatawan sengaja datang bukan hanya sekedar menikmati pesona hutan damar yang berada di aeral Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Namun juga ingin menguji nyali untuk berjalan di atas jembatan gantung berplat tali baja tersebut.
Jembatan yang menghubungkan objek wisata Situgunung kekawasan Curug Sawer itu, memiliki ketinggian mencapai 150 meter dari atas tanah. Adapun panjang membentang hingga mencapai 250 meter.
Ini juga menjadi destinasi baru bagi wisatawan yang senang berswafoto. “Memang jembatan memiliki sensasi tersendiri saat dilintasi. Terutama bagi pengunjung yang akan berswafoto," kata salah seorang pengunjung objek wisata jembatan gantung, Chepi.
[Baca juga : "Menarik Dikunjungi Nih, 5 Wisata Seru Di Kota Gombong"]
Chepi mengatakan jumlah pelintas jembatan dibatasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. "Apalagi membludaknya jumlah wisatawan berlalu-lalang terpaksa para petugas membatasinya," katanya.
Dia menuturkan, jembatan tersebut sangat menawan karena selain menawarkan keindahan dan kesejukan, para wisatawan juga dapat menikmati dua keindahan objek wisata dalam waktu bersamaan. “Memang panorama sangat indah, sehingga banyak wisatawan datang dan menikmati jembatan ini,” katanya. (Sumber: Artikel pikiran-rakyat.com Foto jayakartanews.com)
...moreTRIPTRUS - "Kebanyakan klub luar negeri itu ingin bermain di Bali," kata Djohar. Sepakbola di Bali mulai kembali menggeliat. Ini tak lepas dari munculnya Bali United Pusam yang kini menjadi klub andalan Pulau Dewata.Sebelumnya, sepakbola di Bali terbilang "mati suri". Hanya empat tim yang pernah menghiasai sepakbola nasional, yaitu Gelora Dewata, Perseden Denpasar, PS Gianyar dan Bali Devata.Kehadiran Bali United Pusam pun memunculkan asa baru bagi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Induk organisasi sepakbola nasional ini punya mimpi Bali akan menjadi daerah wisata sepakbola.Untuk itu, PSSI berharap Bali memiliki stadion yang levelnya internasional. Ini agar mempermudah Indonesia mendatangkan klub luar negeri."Kebanyakan klub luar negeri itu ingin bermain di Bali. Jadi Bali kami harapkan punya stadion internasional sehinga memudahkan tim luar negeri untuk datang ke sana," ujar Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin."Jadi Bali bukan hanya jadi daerah wisata alam, tapi juga wisata sepakbola," tegas Djohar kepada wartawan di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Kamis 5 Maret 2015.Saat ini, Bali United Pusam tengah membangun stadion yang diharapkan bisa memenuhi standar internasional. Seperti diketahui, Stadion Kapten I Wayan Dipta tengah dipoles penampilannya.Stadion dengan kapasitas 25.000 tempat duduk ini akan direnovasi besar-besaran dari segi fasilitas. Bahkan, ruang ganti pemain diklaim memiliki konsep yang sama dengan ruang ganti Old Trafford, markas Manchester United.Dari sisi lampu penerangan juga diperbaiki secara luar biasa. Kini Stadion Dipta sudah bisa menggelar pertandingan malam karena punya total 96 lampu berkekuatan 192.000 watt. (Sumber: Artikel viva.co.id Foto tribunnews.com)
...moreTripTrus.Com - Bro-sis traveler, lo udah pernah denger soal kawasan Banten Lama belum? Kalau belum, fix lo harus catet destinasi ini di bucket list lo! Tempat ini bukan cuma spot healing yang adem dan tenang, tapi juga sarat banget sama nilai sejarah era Kesultanan Banten. Jadi lo bisa liburan sambil nambah insight, apalagi buat lo yang demen vibes klasik dan budaya lokal yang kental. Yuk kita bahas spot-spot kece di sini!
1. Masjid Agung Banten: Ikonik Banget, Bro!
View this post on Instagram
A post shared by Rangga El Haris Fatin (@rangga_elharis)
Lo bakal langsung ngerasa vibes kesultanan pas nginjekin kaki di Masjid Agung Banten. Arsitekturnya tuh klasik Jawa banget, tapi ada sentuhan Belanda dan Tiongkok juga, hasil kolaborasi multikultur zaman dulu. Didirikan tahun 1566, masjid ini jadi saksi sejarah penting Kesultanan Banten. Menaranya ikonik dan bisa lo panjat buat liat view sekitar yang bikin hati adem. Wajib foto-foto di sini buat feed lo makin classy.
2. Benteng Speelwijk: Sisa Kolonial yang Masih Berdiri Gagah
Buat lo yang suka hunting foto dengan nuansa vintage, Benteng Speelwijk ini surganya! Dulu benteng ini dibangun sama Belanda buat ngadepin Kesultanan Banten, tapi sekarang jadi spot keren buat belajar sejarah dan nikmatin arsitektur kolonial yang megah. Lo bakal nemuin sisa-sisa bangunan bata merah yang makin estetik kalau difoto pas sunset. Bawa outfit vintage lo, terus explore deh!
3. Keraton Surosowan: Bekas Istana Raja, Sekarang Jadi Tempat Ngedate Sejarah
Nah ini dia, bro-sis, bekas pusat pemerintahan Kesultanan Banten yang vibe-nya masih kerasa sampe sekarang. Walaupun cuma tinggal puing-puing fondasi, Keraton Surosowan tetap punya daya tarik misterius yang kuat. Lo bisa bayangin gimana megahnya kerajaan ini dulu. Cocok juga buat lo yang pengin ngedate sambil ngobrolin sejarah, romantis plus intelek gitu deh.
4. Vihara Avalokitesvara: Toleransi Itu Nyata, Bro!
Lo kira kawasan Banten Lama cuma buat religi Islam doang? Nope! Di sini juga ada Vihara Avalokitesvara yang kece banget dan vibe-nya tenang parah. Vihara ini jadi bukti nyata toleransi dan keberagaman sejak zaman dulu. Banyak patung-patung keren dan arsitektur ala Tiongkok yang bikin lo ngerasa kayak lagi di film kolosal Asia. Respect banget buat nilai keberagaman di sini.
[Baca juga : "Trip Nostalgia Sejarah Dan Mistis: Jelajah Tiga Pulau, Tiga Cerita, Tiga Vibes!"]
5. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama: Belajar Tanpa Bosan
Buat lo yang pengin dapet konteks sejarah lebih deep, mampir ke museum ini deh. Di sini lo bisa liat koleksi benda-benda peninggalan zaman Kesultanan, mulai dari keramik, senjata, sampe artefak yang bikin lo amazed. Jangan takut bosen, bro-sis, karena penataannya udah cukup modern dan informatif. Worth it banget buat lo yang demen sejarah atau pengin ngerti akar budaya lokal.
6. Danau Tasikardi: Nyantai Sambil Flashback ke Zaman Sultan
Danau Tasikardi tuh dulunya dipakai buat tempat penampungan air buat keluarga Kesultanan. Tapi sekarang jadi spot piknik yang super chill. Lo bisa sewa perahu, duduk di tepi danau sambil nyemil dan ngobrol-ngobrol santai. Sambil menikmati pemandangan, lo juga bisa ngebayangin gimana kehidupan bangsawan Banten zaman old. Healing sambil belajar sejarah? Gaskan aja!
7. Makam Sultan Maulana Hasanuddin: Wisata Religi Bikin Hati Tenang
Ini nih, spot yang cocok banget buat lo yang pengin dapet ketenangan batin. Makam Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, selalu ramai didatengin buat ziarah. Tempat ini dijaga banget kesuciannya, dan suasananya bikin lo refleksi diri. Jalan-jalan religi emang beda feels-nya, bro-sis. Selain wisata hati, lo juga bisa belajar banyak soal perjuangan dakwah Islam di Nusantara.
8. Menara Masjid Agung: Panjat Dikit, View-nya Goks!
Menara masjid ini tuh ikonik banget dan jadi spot wajib buat lo yang mau dapet view kota tua dari ketinggian. Desainnya unik, mirip mercusuar, dan lo bisa naik ke atas buat ngeliat keseluruhan area Banten Lama. Wajib bawa kamera atau HP lo full baterai, karena spot ini fotogenik abis. Dijamin story lo makin keren dan edukatif!
Bro-sis traveler, jangan cuma jadi penonton di sosmed liat orang healing ke tempat-tempat bersejarah. Sekali-kali, lo juga harus ngerasain vibes keren di Banten Lama. Selain dapet konten kece, lo juga bisa nambah ilmu dan rasa cinta ke sejarah negeri sendiri. Seru, mendidik, plus bisa jadi ajang quality time bareng keluarga atau temen. Yuk, ajak yang lain juga buat explore bareng! (Sumber Foto @tmidaliu_)
...moreTripTrus.Com - Kalau lo lagi nyusun itinerary ke Labuan Bajo, satu hal yang nggak boleh lo skip: sunset-an. Serius, ini bukan sekadar matahari terbenam biasa—ini tuh paket lengkap antara laut biru, gugusan pulau kecil, sama langit yang berubah warna jadi dramatis banget. Gue jamin, sekali lo lihat, bakal susah move on. Apalagi vibes di ujung barat Pulau Flores ini emang beda, ada feel tenang tapi tetap aesthetic buat feed Instagram lo.
1. Bukit Cinta — Panorama Romantis di Puncak Bukit
Salah satu spot yang wajib lo datengin adalah Bukit Cinta. Dari atas sini, lo bisa dapet view 360 derajat yang super luas—laut, pulau, dan langit jingga jadi satu frame. Anak muda, fotografer, sampai pasangan juga sering nongkrong di sini karena suasananya romantis banget. Tapi ya, jangan dadakan datang pas matahari udah mau hilang—datanglah minimal satu jam sebelumnya biar lo bisa nikmatin gradasi warna langit dari awal.
2. Kampung Ujung — Sunset Dekat Pelabuhan
View this post on Instagram
A post shared by Villa (@hekovilla)
Kalau lo tipe yang lebih suka suasana santai tapi tetap dapet view cakep, coba melipir ke Kampung Ujung. Di sini, lo bisa lihat kapal nelayan sama ferry lalu-lalang sambil nunggu sunset. Vibes-nya lebih lokal, lebih chill, dan nggak terlalu ramai. Cocok buat lo yang pengin menikmati senja tanpa banyak distraksi, tapi tetap berasa “hidup”.
3. Pulau Kalong — Sunset dan Saksikan Keluarnya Kelelawar
Nah, kalau lo mau pengalaman yang anti-mainstream, wajib banget ke Pulau Kalong. Jadi gini, setelah matahari tenggelam, ribuan kelelawar bakal keluar dari pulau ini dan terbang bareng—kayak scene film gitu. Sunset-nya udah cakep, ditambah bonus fenomena alam yang unik banget. Ini sih bukan cuma estetik, tapi juga experience yang susah lo temuin di tempat lain.
[Baca juga : "The Big Three Labuan Bajo: 3 Pulau Wajib Banget Lo Kunjungi"]
4. Puncak Waringin — Sunset dari Ketinggian
Buat lo yang pengin lihat semuanya dari ketinggian tanpa halangan, Puncak Waringin adalah jawaban paling aman. Dari sini, lo bisa lihat Labuan Bajo secara keseluruhan—laut, kota, dan pulau-pulau kecil kelihatan jelas. Enaknya lagi, tempatnya cukup luas, jadi cocok banget buat datang ramean bareng temen atau keluarga sambil bawa camilan biar makin santai.
5. Pelabuhan Labuan Bajo — Sunset di Tengah Aktivitas Laut
Sementara itu, kalau lo pengin sunset dengan nuansa yang lebih “hidup”, coba stay di Pelabuhan Labuan Bajo. Di sini, lo bakal lihat siluet kapal, aktivitas nelayan, dan warna langit yang berubah pelan-pelan—semuanya nyatu jadi pemandangan yang dinamis. Nggak sepi, tapi justru itu yang bikin beda dari spot lainnya.
Biar pengalaman lo makin maksimal, ada beberapa tips simpel: datang lebih awal biar dapet full moment perubahan langit, pilih musim kemarau sekitar April sampai Oktober supaya cuaca clear, dan jangan lupa bawa jaket tipis karena angin laut bisa lumayan dingin pas senja. Kamera atau HP juga wajib standby, karena trust me—ini sayang banget kalau nggak diabadikan.
Intinya, sunset di Labuan Bajo itu bukan cuma soal pemandangan, tapi soal pengalaman. Dari yang romantis, tenang, sampai yang penuh aktivitas, semuanya punya karakter sendiri. Tinggal lo pilih aja, mau menikmati senja versi lo yang kayak gimana. (Sumber Foto @suriadin_252000)
...moreTripTrus.Com - Ada rasa tenteram dan kepuasan tersendiri saat berkunjung ke kawasan Situs Arca Domas Cibalay, sebuah Situs Megalitikum besar yang sangat mengesankan. Situs ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, tepatnya di Desa Cibalay, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.
Melewati tanjakan tajam setelah Curug Luhur, terlihat di kiri jalan plang nama tertulis Situs Arca Domas, kebon kopi ,Pasir Manggis, Situs Batu Bergores, Punden Endong Kasang, Punden Jami Piciing, Situs Pangentehan dan berjarak sekitar 2 km.
Untuk ke lokasi komplek Situs Cibalay, melewati jalan aspal dengan kualitas sederhana sepanjang sekitar 2 km, semakin ke dalam semakin menyempit jalannya, bertanya arah ke penduduk, dan berdasar informasi itu berjalan lurus lalu belok ke kiri menyusuri jalan setapak.
Di sebelah kiri terlihat lembah persawahan. di sebelah kanan dan jauh di depan adalah pegunungan. setelah beberapa puluh menit berjalan berpapasan dengan penduduk setempat kemudian berjalan melewati jalan setapak turun dan mendaki sekitar kurang lebih 50 menit (2-3 km).
Terlihat undakan semen, di ujung atas undakan itu terdapat tanah lapang dengan hamparan rumput hijau dimana terdapat Situs Balekambang yang memperlihatkan menhir dan batu megalitikum lainnya.
Ada sekitar tujuh menhir, dua diantaranya berukuran besar, serta ada beberapa buah dolmen berukuran kecil sedang, menurut cerita konon sebelum melakukan peribadatan di Situs Arca Domas diharuskan berhenti sejenak disini (situs balekambang)untuk mempersiapkan segala sesuatu nya,dan juga karena Situs Balekambang adalah merupakan semacam pintu gerbang.
Melanjutkan perjalanan melewati dataran ini, lalu menuruni undakan dan sesaat kemudian terlihat gerbang sederhana /Gapura kecil dengan undakan lagi di belakangnya,dan terlihat jelas tulisan di gapura itu “ Selamat Datang di Situs Kawasan Cibalay Kabupaten Bogor Balai Pustaka Pelestarian Cagar Budaya Serang”
View this post on Instagram
In different place #nature #landscape #another #canon #photography #nationalgeographic #folkgreen #stone #eventide #sunset #jalankampung #instanusantara #latepost
A post shared by Moch Resa Maulana (@resdasein) onMar 24, 2016 at 11:46pm PDT
Di kelilingi gerumbul pepohonan, serta pegunungan tinggi di depan sana, menciptakan suasana alami menyegarkan, sesaat berikutnya sampailah ke Situs Cibalay, dan apa yang terpampang di depan mata membuat takjub. Sebuah bukit hijau dengan serakan batu peninggalan zaman purba dalam kondisi sangat baik dan terpelihara. Bagaimana tidak takjub melihat begitu banyak batu tua serta punden berundak yang tertata yang berasal dari jaman Megalitikum, jaman manusia purba yang hidup pada 2500 – 1500 SM.
Agak jauh di sebelah kiri terdapat plang bertuliskan “Situs Cibalay”, lalu tengara atasnya berbunyi “Situs Arca Domas”, sedangkan tengara satu lagi bertuliskan bahwa situs ini di lindungi oleh undang–undang. Pemandangan yang tak kalah elok di puncak perbukitan Situs Cibalay Selain lintasan memanjang tatanan batu datar pipih dengan menhir di kiri kanannya, ada pula tatanan batu melingkari area yang terlihat di ujung kanan.
Agak ke ujung terdapat tumpukan batu paling besar di puncak Situs Cibalay, dengan menhir berukuran cukup besar di atasnya. sebuah dolmen, meja batu, berukuran paling besar berada di ujung area puncak bukit.
Wikipedia menyebut bahwa Menhir adalah Monolith (batu tunggal) yang berdiri tegak di atas tanah, berasal dari periode Neolitikum (6000/4000 SM – 2000 SM). istilah menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men = batu dan hir = panjang.
Bahasa Keltik adalah bahasa yang digunakan kaum kuno yang bermukim di Wales, Irlandia, Skotlandia, Cornwall, Pulau Man, Bretagne dan beberapa bagian Eropa lainnya, konon Bangsa Keltik adalah Cimmerians yang berasal dari Pulau Defrobani, negeri musim panas dan tanah orang-orang Cimmeria.
Di sebelah kiri adalah dolmen yang terlihat tadi, sementara di lereng bukit di sebelah kanan tampak beberapa orang tengah menyapu daun kering yang jatuh, lelaki yang sedang menyapu itu adalah Bapak Wahyu dan Bapak Deni mereka adalah Jupel (juru pelihara) di kawasan Situs Megalitik Arca Domas. Tiang pagar besi dan kawat yang mengelilingi puncak perbukitan ini terlihat rapi dan baru.
Di sebelah kiri luar pagar. masih dalam lingkungan di dekat situs, ada tiga saung berbale-bale, Walaupun hanya terbuat dari bilik bambu, saung-saung itu bersih dan rapi. di belakang saung-saung ada lembah yang di bawahnya terdapat pancuran air.
Wahyu dan Deni bertutur bahwa pada tahun 2006 dan 2012 sekitar 8 orang melakukan penggalian dan penelitian di kawasan situs ini, mereka dari Balai Arkeologi Bandung, Serang, dan Pusat Arkeologi, selama sekitar 10 hari di 3 lokasi. dan selama ekskavasi menginap di saung ini. penggalian sebelumnya dilakukan oleh mahasiswa Universitas Indonesia pada 1992.
Sebenarnya, penamaan “Situs Megalitik Arca Domas” untuk Situs Cibalay ini menurut sebagian kalangan adalah salah kaprah karena di Situs Megalitik Arca Domas ini belum pernah dilaporkan keberadaan arca, yang ada hanyalah kompleks punden berundak.
Situs Megalitik Arca Domas Cibalay menempati area yang cukup luas, sekitar 1500 m, dan merupakan salah satu punden berundak dengan komponen yang cukup lengkap. teras utamanya ada di undakan paling tinggi dengan beberapa batu menhir di atasnya.
Situs ini pertama kali dilaporkan oleh De Wilde (1830), kemudian Junghuhn (1844), lalu Muller (1856), dan terakhir oleh N. J. Krom dalam Rapporten Oudheid kundige Diensten – nederlan indie tahun1914.
[Baca juga : "5 Tempat Wisata Sejarah Di Karawang Yang Wajib Dikunjungi"]
Batuan Megalitik Cibalay adalah berupa punden berundak ,menhir dan batu tegak / batu kubur yang dalam penempatan dan susunannya tidak terarah pada suatu sudut,situs cibalay juga di jadikan pemakaman karena di Situs Bale Kambang dan Situs Jami Paciing terdapat nama – nama Mangun Tapak, Patah Aki Soleh,Eyang Nuralam yang di makamkan dekat atau berdampingan dengan Situs Megalit tersebut.
Deni menjelaskan dan juga menyarankan untuk mengunjungi situs lain nya yang berada di kawasan Situs Cibalay ini yang semuanya ada delapan Situs, selain Situs Balekambang dan Situs Arca Domas, ada juga Situs Endong Kasan, Situs Kebon Kopi, Situs Jami Piciing, Situs Batu Bergores, Situs Pasir Manggis, dan Situs Pangantehan jelasnya dan menutup obrolan singkatnya. (Sumber: Artikel hallo.id Foto fatahilaharis.wordpress.com)
...moreTripTrus.Com - Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Meskipun sebuah kecamatan, Lasem bisa dibilang sebuah kota terbesar kedua setelah kota Rembang. Lasem merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa, maka dari itu terdapat banyak sekali perkampungan tionghoa yang tersebar di Lasem, oleh karena itu Lasem dikenal sebagai “Tiongkok Kecil”.
Pembatik Batik Tulis Lasem
A post shared by Almer (@almer_katili) onSep 25, 2017 at 12:11am PDT
Memiliki luas sekitar 45,04 km² dan terdiri dari 20 desa, Lasem kental dengan sejarah panjang terkait etnis tionghoa. Bukan hanya itu, Lasem juga dikenal sebagai kota santri karena banyaknya pondok pesantren di kota ini. Hal tersebut membuat Lasem semakin unik oleh kemajemukan dan kulturasi budaya yang saling berbaur.
Lasem merupakan kota penghasil hasil laut seperti: garam dan terasi, selain itu Lasem juga sebagai penghasil jambu, mangga dan tembakau. Ciri khas Lasem lainnya adalah Batik Lasem, sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani. Konon Batik Lasem dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dari Tiongkok dan Campa. Karena tradisi membatik yang sudah turun temurun, di Lasem memiliki seni lelet. Seni lelet merupakan seni membatik dengan media sebuah batang rokok yang menggunakan tinta dari lethekan kopi lelet (ampas kopi yang dicampur dengan susu krimer).
Hal-hal di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa Lasem memiliki potensi wisata yang sangat besar, karena jenis-jenis wisata yang ditawarkan bervariasi: Wisata Alam, Wisata Batik, Wisata Belanja, Wisata Religi dan Wisata Sejarah. Dengan demikian menjadi tugas kita bersama untuk mempopulerkan Lasem sebagai destinasi wisata yang menarik dan menjaga segala keunikannya, agar kelak keanekaragaman Lasem dapat menjadi buah bibir traveler dalam negeri bahkan luar negeri yang ingin mengunjunginya. Awesome Lasem! (Sumber: Artikel-Foto @Amieykha)
...moreTripTrus.Com - Buat kamu yang suka ngintip binatang liar, Indonesia punya tempat-tempat keren buat ngeliatin mereka! Mulai dari komodo raksasa di Pulau Komodo sampe berenang bareng lumba-lumba di Pantai Lovina, Bali. Yuk, intip lima tempat seru di Indonesia buat nonton binatang liar!
1. Kadal Raksasa di Pulau Komodo
Siapa yang gak kenal komodo? Kadal gede banget yang jadi predator tertinggi di lingkungannya ini mirip monster naga dari mitos-mitos dunia. Komodo cuma ada di Indonesia, tepatnya di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Beda sama di kebun binatang, di sini lo harus ditemenin naturalist guide atau pemandu. Mereka bikin perjalanan aman dan tahu trek yang dilewatin, plus kasih tahu spot-spot komodo keren buat dilihat.
2. Orangutan Liar di Bukit Lawang
Trekking di hutan Bukit Lawang di Sumatera itu cara terkenal buat liat orangutan liar. Tiap tahun, ribuan turis datang ke desa kecil di perbatasan Taman Nasional Gunung Leuser buat lihat orangutan Sumatera dari dekat. Orangutan Bukit Lawang banyak yang bekas penangkaran, jadi perilakunya beda sama yang liar. Banyak pemandu yang biarin wisatawan kasih makan dan sentuh mereka, tapi kalau mau liat yang beneran liar, pakai pemandu ya.
3. Tarsius Mata Belo di Cagar Alam Tangkoko
Cagar Alam Tangkoko di Gunung Tangkoko, Kabupaten Bitung, Sulawesi Utara, sekitar sejam dari Manado, terkenal banget. Tarsius, primata terkecil di dunia yang cuma seukuran kepalan tangan, cuma ada di Sulawesi. Mata mereka gede banget, lucu deh. Mereka cuma bisa dilihat malam hari karena hewan nokturnal. Penduduk setempat nyebut mereka Astangkasi.
[Baca juga : "Festival Lamaholot Masuk Kharisma Event Nusantara 2024"]
4. Gajah terlatih di Way Kambas
Pusat Pelatihan Gajah ini udah berdiri sejak tahun 1985. Tempatnya sekitar 9 km dari gerbang taman nasional Plang Ijo. Tujuannya buat lindungin gajah dan bikin hubungan yang saling menguntungkan buat gajah dan manusia. Di sini, lu bisa ngeliat gajah ngelakuin macem-macem tugas kayak bawa kayu atau bajak sawah.
Selain itu, lu juga bisa liat mereka ngelakuin aktivitas khusus kayak main bola atau pertunjukan lainnya.
5. Renang bareng Lumba-lumba di Pantai Lovina
View this post on Instagram
A post shared by Wina Amir (@winaamir17)
Satu-satunya cara buat lu bisa renang bareng lumba-lumba di Bali itu dengan ikutan tur perahu dari Lovina, kota kecil di Pantai Utara Bali. Di Lovina, mereka manfaatin populasi lumba-lumba alaminya. Setiap pagi, puluhan perahu wisata berangkat buat liat lumba-lumba sama langit pagi yang keren abis.
Gak cuma liat lumba-lumba dari atas air doang, penduduk lokal juga pasang ayunan di samping semua perahu nelayan yang bawa turis keluar. Dari ayunan itu, lu bisa masukin kepala ke air dan liat lumba-lumba berenang dan main.
Jadi, buat kalian yang pengen ngalamin petualangan alam liar di Indonesia, jangan lupa mampir ke tempat-tempat keren ini. Dijamin, pengalaman ngeliatin binatang liar secara langsung bakal bikin liburanmu makin seru dan berkesan! Ayo, mulai rencanain petualanganmu sekarang juga!(Sumber Foto @rosmawati_ardyn)
...moreTripTrus.Com - Selain dikenal dengan destinasi wisata alamnya, Kabupaten Karawang ternyata memiliki banyak tempat wisata sejarah yang penting untuk dikunjungi.
Ketika hari kerja maupun menjelang libur akhir pekan bersama keluarga, tidak ada salahnya berkunjung ke beberapa tempat wisata bersejarah yang sudah dirangkum Redaksi portaljabar.net dari berbagai sumber berikut ini:
1. Monumen Rawagede
View this post on Instagram
Monumen Rawagede . Sudah beberapa kali mendengar cerita tentang Monumen Rawagede, and finally I visited it, one of historical tourism destination in Karawang. Pak Sukarman yang merupakan sejarawan Karawang sekaligus guide disini, senantiasa menceritakan secara detail kisah dibalik Monumen Rawagede ini. Selalu senang belajar sejarah dengan beliau. . Kalau kamu berkunjung kesini dan belum puas dengan penjelasan guidenya, kamu bisa membeli CD dan buku terkait Peristiwa Rawagede karangan pak Sukarman.😊 - Diabadikan oleh @novrianh #MokaKarawang #VisitKarawang #HayuKaKarawang #Karawang #ExtraordinaryKarawang
A post shared by Nunung Nurhayati Suwanda (@nunungns) onOct 25, 2018 at 7:01pm PDT
Tempat wisata sejarah ini berada di Jl. Monumen Rawagede, Desa Mekarjaya, Kecamatan Rawamerta. Monumen Rawa Gede ini ditujukan untuk mengenang korban sipil yang dibunuh tentara Belanda.
Pada dasarnya monumen ini adalah sebuah taman makam pahlawan dan korban kejahatan perang melawan kekejaman penjajah Belanda. Kita dapat mengunjungi objek wisata ini dengan mudah karena letaknya yang berada di tepi jalan.
2. Monumen Kebulatan Tekad
View this post on Instagram
🇮🇩🇲🇨
A post shared by BUNENG♡ (@shanty_nuravianti) onMar 19, 2019 at 8:57am PDT
Monumen Kebulatan Tekad berada di Jl. Raya Rengasdengklok, Desa Rengasdengklok Selatan, Kecamatan Rengasdengklok.
Monumen ini hanya menempati area seluas 1500 meter persegi. Namun begitu, suasana asli klasik tempo dulu masih dipertahankan. Monumen perjuangan ini didirikan untuk mengenang sejarah awal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Untuk mengunjungi monumen ini kita dapat menggunakan bantuan GPS pada kendaraan pribadi atau ponsel. Antau kita bisa dengan memanfaatkan kendaraan umum yang tersedia.
3. Situs Candi Jiwa
View this post on Instagram
Mencari ketenangan jiwa di candi jiwa wkwk
A post shared by fakhri akmalluddin (@fakhriakmaludin) onJun 29, 2016 at 5:39am PDT
Lokasi tempat wisata sejarah ini berada di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Karawang. Selain dapat melihat situs Candi Jiwa di Karawang ini, kita juga akan disuguhi pemandangan sawah yang terhampar. Ini karena situs Candi Jiwa ini terletak di tengah sawah.
4. Rumah Rengasdengklok
View this post on Instagram
CNY di rumah Popo-Kungkung 💕 * * #family #familypic #familyphoto #chinesenewyear #imlek #gongxifacai #EugenioJaden #EmerickJenssen #doubleJ #Jbrother #JadenJenssen #EJF #rengasdengklok #rumahsejarah #rumahsejarahrengasdengklok #babadjiauw #djiauwkiesiong
A post shared by Grace Julian Sari (@grajuls) onFeb 18, 2018 at 5:03am PST
Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong adalah rumah yang persinggahan Soekarno dan Hatta. Ketika itu keduanya dibawa ke Rengasdengklok oleh pemuda dari Perkumpulan Menteng 31 seperti Wikana, Aidit, dan Soekarni.
Peristiwa tersebut terjadi pada 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB agar Soekarno dan Hatta dapat mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
[Baca juga : "10 Candi Termegah Di Indonesia, Yuk Dikunjungi!"]
5. Bendungan Walahar
View this post on Instagram
Lah walahar.
A post shared by MUHAMMAD RIFQI MUNAWWAR | MRM (@sakiwjr) onApr 16, 2017 at 1:53am PDT
Bendungan Walahar terletak di Desa Walahar Kecamatan Ciampel. Tempat ini digunakan sejak tanggal 30 November 1925. Dibangun pada masa penjajahan Belanda, dimana dalam pembangunannya mengandalkan tenaga pribumi.
Maka tidak heran jika arsitekturnya mengingatkan kita pada bentuk bangunan sisa penjajahan Belanda lainnya yang masih bisa kita temui di berbagai pelosok tanah air.
Bendungan yang membagi air Sungai Citarum ini difungsikan untuk mengatur debit dan sirkulasi air dalam mengairi areal pesawahan di Karawang seluas ±87.507 ha. (Sumber: Artikel portaljabar.net Foto id.wikipedia.org)
...more