TripTrus.Com - Liburan di Lampung Timur bakalan makin menarik dengan adanya aneka event wisata tahun 2017. Berikut daftarnya.Pemerintah Kabupaten Lampung Timur makin serius mengembangkan pariwisata di sana. Agar traveler makin tertarik berkunjung, berbagai acara wisata pun diselenggarakan. Sepanjang 2017, dari Festival Panen Padi hingga Festival Way Kambas bakalan makin menyemarakkan suasana liburan di Lampung Timur.Kalau penasaran ingin merasakan kemeriahan festivalnya, simak dulu kalender wisata Lampung Timur yang telah cukup banyak beredar melalui media sosial. Seperti dilihat detikTravel dari akun Instagram resmi Kementerian Pariwisata, Selasa (3/1/2017), berikut ini aneka event wisata di Lampung Timur selama 2017:Festival Panen Padi (2 Maret), Lampung Timur BMX Festival (19 Maret), Festival Kicau Burung (26 Maret), Tasyakuran Laut (8 April), Pekan Seni Lampung Timur (20 April), Muli Mekhanai (21 April), Begawi Adat Lampung (14 Mei), Festival Kuliner Ramadan (17-23 Mei), Petualangan Motor Cross (28 Juni), Gebyar Wisata Mudik (27-30 Juni), Festival Layang-layang Maringgai (2 Juli), Festival Petik Lada (9 Juli), Festival Membaca (22 Juli), Festival Kuda Lumping (30 Juli), Festival Bersih Danau (11 Agustus), Festival Dayung Way Bungur (13 Agustus), Festival Musik Kreatif (9 September), Festival Tari Melinting (23 September), Festival Hijau Tanam Seribu Pohon (10 Oktober), Festival 10.000 Rebana (22 Oktober), Festival Napak Tilas Purbakala (28 Oktober) dan Festival Way Kambas (11-13 November) yang meliputi: Festival Film Rimba (11 November), Fotografi Hutan Lampung Timur (11 November), Festival Kuliner (11 November), Sketsa Way Kambas (11 November), Lomba Kreasi Souvenir (12 November), Jejak Petualang (12 November), Lomba Lari (12 November), Pesta Buah (13 November), Sepeda Santai (13 November) (Sumber: Artikel detik.com Foto pariwisatalampung.com)
...moreTripTrus.Com - Tahun 2017 memang masih lama. Tapi, Pemerintah melalui beberapa kementrian telah menyepakati draf Surat Keputusan Bersama: Libur Bersama dan Cuti Bersama untuk tahun 2017.
Setidaknya terdapat 19 hari libur nasional dan cuti bersama dengan perincian 15 hari libur nasional dan 3 hari cuti bersama Hari Raya Idul Fitri dan 1 hari cuti bersama Hari Raya Natal. Kebijakan cuti bersama dan libur bersama ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 dan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 1976 dan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983.
(Foto @Amieykha)
Tujuan pengaturan ini untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pemanfaatan hari kerja, hari libur dan juga cuti. Sehingga produktivitas kerja lebih terjaga bahkan meningkat. Di sisi lain, sektor pariwisata dalam negeri juga akan terkena peningkatan ekonomi.
Dari uraian di atas kalian harus segera bersiap menyambut tahun 2017 dengan bahagia. Terlebih beberapa maskapai penerbangan menerapkan harga murah atau promosi dengan sistem memesan jauh-jauh hari. Hal ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh kalian. Dengan cara tersebut kalian dapat membuat strategi liburannya dengan mengkombinasikan jatah cuti di kantor.
(Foto detik.com)
Berikut tanggal libur pada tahun 2017 yang wajib dicatat oleh kalian:
Januari 2017
- Tanggal 1 Januari 2017 (Minggu) Tahun Baru Masehi, meskipun jatuh di hari libur biasanya Tanggal 1 Januari ini bisa dimanfaatkan sebagai liburan akhir tahun dal awal tahun baru.
- Tanggal 28 Januari 2017 (Sabtu) Tahun Baru Imlek 2568 Kongzili, hari libur ini kembali lagi jatuh di hari libur. Tidak mengapa, karena kalian bisa berlibur dengan nuansa Imlek di kota-kota pecinan di Indonesia.
Maret 2017
- Tanggal 28 Maret 2017 (Selasa) Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939, untuk hari libur ini kalian disarankan tidak berlibur ke Bali dan memilih destinasi lainnya.
April 2017
- Tanggal 14 April 2017 (Jumat) Wafat Isa Al Masih, menurut berbagai sumber bahwa bulan April adalah bulan awal terbaik untuk mengunjungi Pulau Dewata. Karena April merupakan musim panasnya Bali.
- Tanggal 24 April 2017 (Senin) Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, pada liburan ini kalian bisa mengunjungi kota Medan dan sekitarnya. Karena kota ini cenderung stabil cuacanya. Medan terkenal akan wisata kuliner, sejarah dan alam.
Mei 2017
- Tanggal 1 Mei 2017 (Senin) Hari Buruh Internasional, berhubung hari libur ini seringkali banyak demo, kalian diharapkan menghindari perkotaan terutama Ibu Kota yang pasti dipenuhi demo buru di berbagai titik.
- Tanggal 11 Mei 2017 (Kamis) Hari Raya Waisak 2561, hari libur yang jatuh pada hari kamis, kalian bisa mengajukan cuti sehari di hari berikutnya.
- Tanggal 25 Mei 2017, (Kami) Kenaikan Isa Al Masih, lagi-lagi pada bulan Mei 2017 hari libur jatuh di hari kamis. Sebisa mungkin untuk memanfaatkan cuti di hari Jumat.
Sebagai info tambahan, katanya Yogyakarta yang terkenal sebagai kota kalem, berpenduduk ramah dan juga dengan biaya hidup murah ini musim keringnya dimulai dari bulan mei loh. Jadi enggak ada salahnya berkunjung ke Yogyakarta di bulan mei.
Juni 2017
- Tanggal 25- 26 Juni 2017 (Sabtu-Minggu) Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah, hari libur yang dirayakan oleh umat muslim ini bisa dimaanfaatkan untuk berlibur di kampung halaman atau sekedar berkunjung untuk silahturahmi dengan sanak keluarga.
Agustus 2017
- Tanggal 17 Agustus 2017 (Kamis) Hari Kemerdekaan Indonesia ke 72, pada hari libur yang dirayakan seluruh rakyat Indonesia dipastikan akan meriah di berbagai kota dan daerah-daerah. Bukan tanpa alasan, setiap kota pasti memiliki cara tersediri merayakan kemerdekaan negaranya. Hari liburnya bertepatan dengan hari kamis bisa dijadikan alas an untuk mengajukan cuti di hari jumat. Kalian bisa memanfaatkan momen ini untuk mengexplore keunikan perayaan tujuh belasan di berbagai dan daerah-daerah di Indonesia.
September 2017
- Tanggal 1 September 2017 (Jumat) Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah, perayaan hari raya umat muslim ini diberbagai daerah dilaksanakan cukup menarik. Di antaranya di Semarang, saat Idul Adha akan ada tradisi sedekah bumi apitan. Tadisi ini dilakukan dengan mengarak tumpeng dan hasil bumi di jalan raya. Lain lagi kalau di Banyuwangi, masyarakat di sana melakukan tradisi jemur kasur. Tradisi ini dilakukan untuk menolak bala dan menjaga keharmonisan rumah tangga para penduduk Banyuwangi. Tradisi tersebut bisa jadi alasan kalian untuk berlibur dan menikmati liburan yang berkesan.
- Tanggal 21 September 2017 (Kamis) Tahun Baru Islam 1439 Hijriah, beragam tradisi unik dilakukan umat muslim Indonesia dalam merayakan tahun baru. Di Cirebon, r ibuan santri Pondok Pesantren Jagastru Kota Cirebon, Jawa Barat, menggelar atraksi sepak bola dan tongkat api. Dan di Kuningan dalam rangka memeriahkan tahun baru hijriah menggelar pawai ratusan lampion dan obor. Pawai dilakukan di sejumlah jalan protokol Kuningan.
Jadi, banyak tradisi-tradisi unik dan menarik yang bisa dikunjungi saat berlibur.
Desember 2017
- Tanggal 1 Desember 2017 (Jumat) Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah, dirayakan dengan berbagai cara oleh umat Islam di Indonesia. Ragam perayaan itu umumnya berakar dari kebiasaan dan adat istiadat daerah setempat. Oleh karena itu, di manapun kalian berlibur sempatkanlah untuk ikut serta dalam perayannya yang pasti mernarik untuk diikuti.
- Tanggal 25 Desember 2017 (Senin) Hari Raya Natal, hari raya umat nasrani ini bisa dibilang sebagai liburan akhir tahun dan biasanya peak season. Oleh karena ini kalian disarankan untuk mereservasi tiket dari jauh-jauh hari. Berbagai destinasi seperti Bali, Lombok, Sumba bisa dinikmati pada liburan ini.
Silakan sebarkan artikel ini untuk teman-teman dan kerabat kamu! Kemanapun liburan kalian, pastikan cari dan temukan di triptrus.com. (Sumber: Artikel-Foto @Amieykha)
...moreTripTrus.Com - Kota Tua sebagai salah satu landmark kota Jakarta menyimpan sejuta pesona bagi siapa saja yang mengunjunginya. Setiap akhir pekan, kawasan ini selalu saja ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Bangunan-bangunan tempo dulu zaman Kolonial Belanda adalah salah satu suguhan wisata yang enak dipandang. Selain itu, ternyata Kota Tua masih memiliki objek wisata lainnya yang siap mencuri perhatian banyak wisatawan. Berikut adalah 6 tujuan wisata Kota Tua yang sayang jika Anda lewatkan!
1. Museum Fatahillah
Ber #commuterline kita ke #museumfatahillah #kotatuajakarta #museumwayangjakarta 😍😍
A post shared by @ bettyardi onJun 13, 2018 at 3:12am PDT
Museum Fatahillah ini dikenal juga dengan Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Pada zaman pendudukan Belanda, gedung ini merupakan balai kota, pengadilan, sekaligus penjara bawah tanah. Tapi kini, bangunan berwarna putih yang terlihat klasik ini beralih fungsi menjadi sebuah museum yang menyimpan beragam barang antik, mulai dari furnitur antik zaman Belanda, prasasti dan arca, hingga alat musik Gambang Kromong. Sedangkan pada bagian luar gedung terhampar sebuah lapangan yang dikenal dengan Lapangan Fatahillah. Pada akhir pekan lokasi ini ramai pengunjung. Biasanya mereka melakukan aktifitas bersepeda ontel, fotografi atau duduk santai sambil menikmati WiFi gratis.
Jam operasional : Hari Selasa – Minggu mulai pukul 09.00 – 15.00 WIB
Harga : Rp. 2.000,- untuk dewasa dan Rp. 1.000,- untuk anak
Alamat : Jalan Taman Fatahillah No 2, Jakarta Barat.
Untuk menjangkau tempat ini dari terminal Blok M naik bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M – Kota dan turun di halte Kota kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki hingga Museum Fatahillah.
2. Museum Bank Indonesia
JalanJalanZeru🤩 #museumbankindonesia
A post shared by @ anugrah.christine onJun 23, 2018 at 6:02am PDT
Di masa Indonesia baru merdeka, Museum Bank Indonesia menjadi pusat pengendali ekonomi dan moneter. Awalnya bangunan ini adalah sebuah rumah sakit bernama Binnen Hospital. Kemudian dalam perjalanannya dialihfungsikan menjadi sebuah bank yang bernama De Javasche Bank pada tahun 1828. Kemudian sejak tahun 1962, bangunan ini sudah tidak lagi difungsikan menjadi kantor pusat Bank Indonesia dan beralihfungsi menjadi sebuah museum. Meskipun demikian, kondisi bangunannya hingga kini masih terlihat sangat kokoh dengan perpaduan antara bangunan klasik dan modern. Museum Bank Indonesia menggunakan teknologi multimedia, panel statistik, display elektronik, dan diorama untuk mengisahkan peranan Bank Indonesia dalam perekonomian bangsa. Selain itu, pengunjung dapat juga melihat berbagai koleksi menarik seperti uang rupiah dari masa ke masa.
Jam operasional : Selasa-Kamis 08.30-14.30, Sabtu-Minggu 09.00-16.00, Jumat 08.30-11.00 WIB
Harga : Gratis
Alamat : Jalan Pintu Besar Utara No.4, Kota Jakarta Barat
Untuk menjangkau tempat ini dari terminal Blok M naik bus Transjakarta koridor 12 jurusan Pluit – Tanjung Priok dan turun di halte Kali Besar Barat.
[Baca juga : Menyusuri Budaya Tionghoa Tangerang]
3. Museum Seni Rupa dan Keramik
Museum Seni Rupa dan Keramik. 2007 #wonderfulindonesia #museum #museumsenirupadankeramik #arsitekturphotography #jakarta #streetphotographyindonesia #streetphotographerscommunity #streetphotographyinternational #aboutstreetphotography #lensculture #visionofpictures #bnw_demand #bnwphotography #noiretblancphotographie #blackandwhitephotography #magnumphotos #maklumfoto #architecture #jakarta
A post shared by Aran Kulow (@arankulow) onJun 6, 2018 at 2:40pm PDT
Tampak luar, Museum Seni Rupa dan Keramik terlihat mewah dengan corak arsitektur Eropa yang dilengkapi dengan pilar-pilar besar. Dan ketika memasuki bagian dalam, keindahan museum semakin bertambah. Pengunjung dapat menyaksikan sekitar 350 lukisan dan 1350 jenis keramik, baik dari nusantara, Asia, hingga Eropa. Bagi Anda yang menyukai karya seni lukis dan kerajinan tangan berbentuk keramik, tempat ini menjadi pilihan yang tepat untuk menambah pengetahuan. Di tempat ini, pengunjung juga dapat mempelajari tentang cara membuat keramik.
Jam operasional : Selasa – Minggu mulai pukul 9.00 – 15.00 WIB
Harga : Rp. 2.000,- untuk dewasa, Rp. 1.000,- Mahasiswa, Rp. 600,- anak dan pelajar
Alamat : Jalan Pos Kota No.2, Jakarta Barat
Untuk menjangkau tempat ini dari terminal Blok M naik bus Transjakarta koridor 12 jurusan Pluit – Tanjung Priok dan turun di halte Museum Fatahillah.
4. Toko Merah
Hei! serunya di jakarta.. ada banyak cerita.. macet dienakin aja.. • • • #tokomerah #kotatua #jakarta #indonesia #whpgetlost
A post shared by Aditya Dharma Putranto (@aditjaws) onJun 23, 2018 at 3:09am PDT
Jika sedang berada di wilayah Kali Besar, tidak jauh dari tempat itu ada sebuah bangunan yang berwarna merah yang dikenal dengan sebutan Toko Merah. Warnanya yang merah menyala memang menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang melewati tepi sungai Ciliwung. Tapi sayangnya, Toko Merah adalah salah satu tempat di kawasan wisata Kota Tua yang tidak terbuka untuk publik luas. Pengunjung yang ingin bertandang ke tempat ini diharuskan mengurus perizinan yang diperlukan terlebih dahulu.
Alamat : Jalan Kali Besar Barat 17, Jakarta Barat
Untuk menjangkau tempat ini dari terminal Blok M naik bus Transjakarta koridor 12 jurusan Pluit – Tanjung Priok dan turun di halte Kali Besar Barat.
5. Jembatan Kota Intan
Minggu ini traveling ku gak jauh jauh cukup di ibu kota yang kata orang sangat bising dan macet. Tapi nyata nya ada juga tempat yang sepi dan nyaman buat bersantai. Sudah bertahun tahun aku di Jakarta tapi baru sekali ini aku bisa main ke tempat ini. Dan keturutan juga keinginan ku berfoto di tempat ini. Ada yang bertanya foto dimana itu? Nah aku kasih tau sekarang, itu lokasinya di kota tua dan tempat itu nama nya Jembatan Kota Intan Sunda Kelapa. Sejarahnya Jembatan ini sebenarnya sering mengalami pergantian nama sesuai pergantian zaman. Dan yang terakhir ini setelah Kemerdekaan nama nya Jembatan Kota Intan. Photo by @siska_endarwati #jakarta #wisatajakarta #kotatua #jembatankotaintan #traveling #traveler #instagram #tourismindonesia #like4like
A post shared by TRAVEL AND LEISURE (@veronika.desi) onMar 18, 2018 at 4:48am PDT
Jembatan yang satu ini merupakan satu-satunya jembatan sisa peninggalan zaman Kolonial Belanda yang ada di Jakarta. Jembatan Kota Intan ini awalnya adalah jembatan biasa yang dibangun pada tahun 1628 yang bernama Jembatan Engelse Brug atau Jembatan Inggris. Jembatan kayu ini memiliki panjang 30 meter dan lebar 4,43 meter. Jembatan tersebut berfungsi sebagai penghubung antara benteng Belanda (VOC) dan Inggris (IEC) yang saat itu berseberangan dan dibatasi oleh Kali Besar. Singkat cerita, pada tahun 1938 fungsi jembatan inipun diubah menjadi jembatan gantung. Tujuannya agar dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan mencegah kerusakan akibat banjir, namun bentuk dan gayanya tidak pernah diubah. Hingga kini Jembatan Kota Intan masih berdiri dengan kokoh dan berfungsi sebagai objek wisata. Jika akhir pekan, tempat ini banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.
Harga : Gratis
Alamat : Ancol, Pademangan, Jakarta Barat
Untuk menjangkau tempat ini dari terminal Blok M naik bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok m – Kota.
6. Pelabuhan Sunda Kelapa
The fisherman. • • • • #pelabuhansundakelapa #fisherman #sundakelapaharbour #harbour #boat #ship #instagram
A post shared by Buddy Trisatyo (@buddy.trisatyo) onJun 24, 2018 at 7:48pm PDT
Pelabuhan Sunda Kelapa usianya lebih tua dari kota Jakarta. Pelabuhan ini sudah ada jauh sebelum Kota Jakarta terbentuk. Karena tempatnya yang strategis, sejak abad ke-12 pelabuhan ini sudah digunakan sebagai tempat persinggahan banyak kapal mancanegara yang datang untuk perdagangan. Selain itu, karena usianya inilah, Pelabuhan Sunda Kelapa udah mengalami lintas penguasa, mulai dari kerajaan Pajajaran, Portugis, Kerajaan Demak, dan Belanda. Sore hari ketika matahari mulai tenggelam adalah saat dimana pelabuhan ini terlihat begitu indah dan cantik. Tergambar jelas siluet kapal-kapal yang sedang bersandar di bibir dermaga.
Harga : Gratis
Alamat : kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara
Untuk menjangkau tempat ini dari terminal Blok M naik bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok m – Kota dan dilanjutkan dengan menggunakan taxi. (Sumber: Artikel jakarta.panduanwisata.id, Foto vakansinesia.com)
...moreTripTrus.Com - Pesona nuansa heritage Islami muslim Tionghoa di Masjid Lautze yang merupakan masjid unik dan bersejarah yang berlokasi di Jakarta Pusat.
Jakarta tidak hanya memiliki obyek wisata yang berisikan waha permainan, namun kawasan Ibukota indonesia ini memiliki obyek wisata heritage yang menarik dikunjungi yang menyebar di beberapa kawasan daerah bilangan sawah besar Pasar Baru Kota Jakarta.
Menurut catatan sejarah, Pasar Baru merupakan suatu area pusat perbelanjaan di Jakarta, dan sebuah kawasan yang memiliki bangunan yang berdiri kokoh sejak jaman Belanda dengan nuansa khas Eropa dan Tiongko tempat wisata heritage yang berlokasi di kecamatan Sawah besar jakarta Pusat ini bukan hanya menjadi central perekonomian masyarakat Jakarta saja, namun memiliki kisah catatan sejarah panjang dari sisi-sisi keunikan bangunan yang menjadi saksi bisu perkembangan Kota Jakarta
Konon, sejak dulu kala masyarakat Tionghoa terkenal dengan keuletannya. maka tidaklah heran jika usaha gula dan tebu semakin berkembang pada waktu itu masih bernama Batavia membuat masyarakat etnis Tionghoa lainnya untuk datang dan mengadu nasib di Batavia yang kini disebut dengan nama jakarta.
View this post on Instagram
Pengalaman yg menarik sembahyang disini. Mereka putih putih, gw item. Mereka sipit sipit, gw belo.
A post shared by @ daanandraan onMay 26, 2018 at 4:49am PDT
Perbauran masyarakat membuat muslim Tionghoa kian hari kian bertambah dengan salah satu buktinya kita bisa melihat sebuah bangunan Masjid Lautze yang merupakan masjid muslim Tionghoa pertama di Jakarta yang berlokasi di Jalan lautze Sawah Besar, Jakarta
Jejak muslim Tionghoa kini dapat kita temukan di kawasan Sawah Besar Jakarta yaitu Masjid Lautze yang menjadi pusat aktifitas muslim Tionghoa ini berdiri sejak tahun 1991 dan berada di bawah Yayasan Karim Oei yaitu seorang muslim Tionghoa yang berperan mengenalkan ajaran agama Islam di kalangan masyarakat etnis Tionghoa.
Nama masjid ini merujuk pada alamat lokasi berdirinya bangunan masjid itu sendiri yaitu di jalan Lautze yang merupakan sebuah kawasan pecinan di jakarta Pusat. Nama Masjid Lautze ini juga mengingatkan kepada kita akan sebuah nama seorang tokoh yang bernama Lautze yaitu seorang yang bijak dari negeri Tiongko.
Tidak hanya nama masjidnya yang unik, namun kegiatan di Masjid Lautze ini pun juga terbilang unik, karena masjid ini hanya dibuka pada waktu tertentu saja. Sekilas bangunan ini tidak terlihat seperti tampaknya bangunan masjid pada umumnya. Keberadaan masjid ini tidak lepas dari keteguhan pengelola untuk menegakan syiar Islam khususnya bagi warga keturunan Tionghoa yang tidak pernah tersentuh oleh para ustad atau kiyai.
Nama “Lautze” dalam bahas Tiongkok yang berarti guru bagai penerang jiwa, sosok inspirasi penyebar dakwah Islam hdair dibawah naungan masjid. Beragam aktifitas keagamaan seperti tilawah berada di masjid ini.Mulai dari tilawah anak hingga tilawah biasa. Namun Masjid Lautze Pasa Baru jakarta ini berbeda dari masjid pada umum dimana masjid ini hanya beroperasi hingga pukul 17.00 WIB hal ini menyesuaikan dengan katifitas jemaahnya dan kondisi lingkungan sekitar. Karena jemaah masjid ini sebagian berprofesi sebagai pedagang yang tidak lagi berkegiatan diatas pukul 17.00 sore hari. Kegiatan rutin positif di masjid ini biasa dimulai seusai kegiatan tilawah pada akhir pekan.
Konon, informasi yang Direktori Wisata terima, tidak terhitung warga Tionghoa yang datang dan belajar tentang agama Islam di masjid ini. Selama bulan Ramadhan akhir pekan dipilih sebagai waktu silaturahmi jamaah masjid. Mulai dari kegiatan buka puasa bersama hingga sholat tarawih berjamaahyang dilakukan di masjid ini.
[Baca juga : "9 Inilah Tempat Bersejarah Di Kudus"]
Bagi sahabat dan pembaca setia Direktori Wisata indonesia yang akan merasakan nuansa Islami sambil silturahmi dengan jamaah di sini bisa langsung datang menuju lokasi yang berada di dekatPasar Baru Jakarta yang dapat ditempuh dengan mengunakan kendaraan bermotor dan mobil menuju lokasi.
Dari perjalanan wisata religi Islam di Masjid Lautze jakarta ini, kita bisa mengambil pembelajaran tentang arti kerukunan, kebersamaan bawa di mata Alloh SWT semua makhluk ciptaanNya adalah sama, dan yang hanya membedakannya hanya nilai ketaqwaannya saja. (Sumber: Artikel direktori-wisata.com Foto nusantaranews.co)
...moreTripTrus.Com - Setelah mengalami vakum selama dua tahun akibat pandemi COVID-19, Dinas Pariwisata (Dispar) Buleleng akan menggelar kembali Lovina Festival. Festival Lovina rencananya akan digelar pada bulan Juli 2023.
Hal ini memberikan harapan baru bagi pelaku pariwisata dan UKM di Buleleng. Lovina Festival memiliki daya tarik yang besar bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait persiapan festival yang akan berlangsung di Pantai Lovina.
View this post on Instagram
A post shared by Anjar Tri Astuti (@triastutianjar)
"Kami telah mendorong komunitas seni dan para pelaku industri pariwisata di kawasan Lovina untuk bersama-sama menyelenggarakan Lovina Festival yang pertama kali setelah pandemi COVID-19," ujar Kepala Dispar Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, pada Kamis (20/4/2023).
Dalam menentukan waktu penyelenggaraan, Dody mempertimbangkan periode high season pada bulan Juli. High season diharapkan dapat menarik minat sebanyak mungkin dari wisatawan mancanegara.
Selama tiga hari, wisatawan dapat menikmati Lovina Festival yang menampilkan pertunjukan seni dan budaya serta kuliner khas Buleleng. Festival ini akan lebih mengutamakan perkembangan sektor seni dan budaya serta ekonomi kreatif. "Dalam penyelenggaraan Lovina Festival tahun ini, akan diadopsi banyak ide dan gagasan baru," jelasnya.
[Baca juga : "Pengaruh Pertandingan FIFA Matchday Indonesia Vs Argentina Terhadap Pariwisata Menurut Sandiaga"]
Event ini juga menjadi momentum untuk memulihkan sektor pariwisata di kawasan Lovina. Melalui Lovina Festival, Dispar Buleleng akan menunjukkan bahwa Lovina sebagai kawasan wisata memiliki beragam talenta seni dan budaya yang khas.
"Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan seni dan budaya kepada para tamu wisatawan yang akan menjadikan Lovina Festival sebagai agenda tetap setiap tahun, sehingga mereka dapat kembali pada periode high season berikutnya, bahkan mengajak keluarga dan kerabat mereka untuk datang ke sini," tambahnya. (Sumber Foto @cityzens_reports)
...moreSelain keindahan alamnya, Kei mempunyai banyak kuliner yang sangat menggugah selera. Makanan khas masyarakat Kei sangat lekat dengan kondisi alamnya di mana singkong dan hasil laut menjadi bahan baku utama kuliner mereka.
5 kuliner khas Kei yang sangat menggiurkan adalah
1. Embal
Merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Kei yang berasal dari singkong. Bentuk, rasa dan cara menikmatinya pun bermacam-macam, bisa dimakan dengan ikan asar, ikan kuah, sayur dll pada saat makan besar, bisa pula dimakan sebagai penganan dengan dicelup ke dalam teh. Ada embal yang berbentuk bubuk, goreng, embal swami dan embal busa (dicetak).
Saat ini Embal juga sudah diproduksi oleh masyarakat sebagai oleh-oleh dengan berbagai rasa.
2. Lad
Lad atau tumis rumput laut adalah makanan khas masyarakat Kei yang sangat lezat sebagai lauk pauk. Varian dari Lad adalah rumput laut segar ditumis singkat dengan bawang merah, bawang putih dan cabai atau dicampur dengan kelapa parut seperti urap. Masyarakat Kei bisa menyantap Lad dengan nasi, embal atau ketupat sebagai teman lauk utama berupa ikan. Rasa lezat rumput laut segar yang baru saja dipanen membuat selera makan kita menjadi bertambah. Rumput laut mempunyai kandungan protein tinggi.
3. Ikan Asar
Proses pembuatan ikan asar
Ini adalah salah satu menu utama masyarakat kuliner masyarakat Kei, yang berupa ikan yang diolah dengan cara diasap. Biasanya ikan asar berbahan baku ikan laut seperti ikan komo (tongkol), ikan sapuda (kakap), atau ikan semandar (baronang). Ikan asar dimakan dengan embal, sambal colo-colo dan sirsir atau lad.
Rasa gurih ikan sangat terasa karena masyarakat Kei terbiasa memasak dengan bahan baku ikan yang masih segar. “Di sini ikannya hanya mati sekali,” seloroh mereka tentang kesegaran ikan-ikannya, “Bukan ikan yang mati 4 kali seperti di Jawa!”
4. Sirsir
Sirsir, ikan asar, dan embal bubuk
Sayuran khas Kei ini berupa tumisan daun singkong dan bunga pepaya yang ditambah santan pukat. Sama seperti Lad, Sirsir dimakan sebagai lauk embal dan ikan asar. Rasa segar dan sedikit pahit menjadi sensasi sendiri bagi mereka yang menyantap menu tradisional ini. Keunikan rasa makanani ini membuat masyarakat Kei sampai mempunyai lagu tentang sirsir
5. Kue Langar
Penganan khas Kei ini terbuat dari singkong yang disangrai setengah matang dan ketika masih hangat disiram dengan santan kemudian digumpal-gumpal dibentuk seperti anyaman kemudian digoreng dengan minyak panas.
Langar sudah dibuat juga dalam bentuk stik dengan berbagai varian rasa seperti keju, cokelat, pandan dan rasa lainnya dan bisa dijadikan oleh-oleh khas Kei.
Hampir seluruh makanan tradisional masyarakat Kei tersebut dapat dengan mudah dijumpai dan dicicipi di Pasar Malam Kota Tua, di mana para penjualnya pun berjejer dengan menggunakan penerangan berupa pelita secara tradisional.
Jejeran penjual makanan di Pasar Malam Kota Tual
Jadi sudah saatnya kita kunjungi Kepulauan Kei, Maluku Tenggara dan nikmati pesona alam serta kelezatan kuliner khas masyarakatnya.
...moreTelaga Biru adalah objek wisata baru yang masih asing bagi sebagian orang dan baru ngehits akhir-akhir ini setelah keindahannya tersebar via pembicaraan dan postingan foto di media sosial.
Telaga Biru yang dikenal juga dengan sebutan Blue Lake ini terletak di Dusun Ngentak, Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul. Untuk menuju ke Telaga Biru dari Kota Yogyakarta menuju ke Wonosari melewati Pathuk lalu ke Karangmojo. Dari Karangmojo perjalan dilanjutkan ke Semin hingga tiba di Watu Kelir, disitu sudah ada papan penunjuk arah yang mengantarkan menuju ke Telaga Biru.
Sumber: Foto gunungkidulonline.com
Telaga Biru adalah telaga buatan yang muncul karena di area ini dulunya digunakan untuk menambang batuan kapur. Sisa-sisa area penambangan batu kapur ini menyisakan lubang-lubang raksasa yang kemudian terisi air ketika hujan. Telaga ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu pada warna airnya yang berwarna hijau kebiru-biruan. Dari situlah nama Telaga Biru atau Blue Lake ini muncul.
Sumber: Foto wisatabagus.co
Yang lebih unik lagi ketika kita amati dari area yang letih tinggi air pada beberapa ceruk telaga ini memeiliki warna yang berbeda-beda seperti nampak ada tiga warna yang berbeda. Karena terbilang masih baru, Telaga Biru ini pun masih belum banyak pengunjungnya. Namun keindahan telaga ini sudah banyak menyebar di media sosial seperti Instagram. Jelas, datang kesini adalah sebuah pengalaman baru apalagi jika datang bersama teman-teman dekat.
Sumber: Artikel jogjapos.com Foto gedangsari.com
...moreTripTrus.Com - Kota Bukittinggi, yang jadi tempat lahirnya Wakil Presiden pertama sekaligus Proklamator RI, Bung Hatta, punya banyak destinasi seru, lho. Namanya juga Bukittinggi, kota ini ada di dataran tinggi Sumatera Barat, sekitar 100 km dari Bandara Internasional Minangkabau, Padang. Suasana sejuk dan view bukit bikin perjalanan ke sana makin asyik, apalagi jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan tebing di kanan kiri.
View this post on Instagram
A post shared by Ikhsan Yody Farhan (@ikhsan.yody)
Bukittinggi juga terkenal sama Jam Gadang, tapi ada destinasi yang nggak kalah bersejarah dan bikin kita tambah pinter, yaitu Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta. Di sini kamu bisa ngintip kehidupan Bung Hatta kecil sampai perjuangannya buat memerdekakan Indonesia! Sebelum mampir, yuk cek dulu 6 fakta menarik tentang museum ini.
1. Dibangun Sekitar Tahun 1860
Rumah masa kecil Bung Hatta dibangun sekitar 1860-an dengan kayu sebagai material utama. Ada bangunan utama, paviliun, lumbung padi, dapur, dan kandang kuda. Bangunan utama buat ruang tamu, makan, dan kamar keluarga. Nah, paviliun jadi kamar tidur Bung Hatta kecil.
2. Bung Hatta Tinggal di Sini Sampai Umur 11
Bung Hatta lahir di Bukittinggi, dulu namanya Fort De Kock, tanggal 12 Agustus 1902. Di rumah ini, dia tinggal sampai usia 11 tahun sebelum pindah ke Padang buat sekolah. Meski cuma 11 tahun, rumah ini berperan besar banget dalam pembentukan karakter Bung Hatta. Di sini, dia belajar disiplin, sederhana, dan penuh kasih sayang.
[Baca juga : "5 Tempat Hits Di Bali Yang Bikin Lo Ngerasa Kayak Julia Roberts Di Eat Pray Love"]
3. Dibangun Ulang Tahun 1994
Rumah aslinya sempat runtuh tahun 1960-an, tapi kemudian dibangun ulang di tahun 1994 atas ide dari Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta. Proses pembangunan dimulai tanggal 15 Januari 1995, dan diresmikan pada 12 Agustus 1995, pas hari ulang tahun Bung Hatta dan 50 tahun Indonesia Merdeka.
4. Perabotannya Masih Asli, Lho!
Rumah ini dibangun ulang tapi tetep pakai konsep asli. Sebagian besar perabotan di dalam rumah juga masih asli, warisan dari masa kecil Bung Hatta. Bahkan sepeda ontel yang sering dipakai Bung Hatta masih ada, tersimpan di paviliun belakang.
5. Info Sejarah Bung Hatta Lengkap Banget
Di museum ini, kamu bisa lihat gimana sederhananya kamar Bung Hatta. Kamar kecil dengan lemari penuh buku. Selain itu, ada info tentang silsilah keluarga Bung Hatta dan foto-foto perjuangannya dalam meraih kemerdekaan Indonesia.
6. Lokasi Dekat Jantung Kota Bukittinggi
Museum ini gampang banget dijangkau, lokasinya di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi. Hanya butuh waktu jalan kaki 15 menit dari Jam Gadang. Serunya lagi, masuk museum ini gratis! Buka setiap hari dari jam 08.00-17.00 WIB.Jadi, kapan mau ke sini? Jangan sampai kelewatan, ya! (Sumber Foto @khairawwrrr)
...moreTRIPTRUS - Tanaman bambu yang serba bisa dikenal di hampir seluruh negara Asia dan Amerika Selatan sebagai tanaman yang batangnya punya banyak kegunaan. Mulai dari menjadi bahan baku pembuatan rumah, rakit, tangga, dan lain-lainnya. Tapi di Maluku, bambu juga digunakan sebagai permainan mistis yang seru. Permainan "Bambu Gila", atau Buluh Gila atau Bara Suwen adalah permainan yang membuat para pemainnya menyentuh dunia supranatural.Untuk memainkan bambu gila, diperlukan sebatang bambu berdiameter 8 cm atau lebih dengan panjang kurang lebih 2,5 meter dengan jumlah ruas yang ganjil. Para pemain yang memegang bambu biasanya berjumlah tujuh orang ditambah satu orang pawang yang membacakan mantra sambil menghembuskan asap kemenyan ke bambu. Kemenyan dibakar di dalam sebuah wadah tempurung kelapa yang dipegang oleh sang pawang. Sambil mengucapkan mantra dalam bahasa tanah (salah satu bahasa tradisional Maluku), asap kemenyan perlahan-lahan dihembuskan. Kemenyan dan mantra digunakan untuk memanggil roh leluhur yang akan memberikan kekuatan mistis pada bambu. Bambu yang dipeluk oleh para pemain bambu pada awalnya memang terasa tidak terlalu berat, tapi lama-kelamaan bambu mulai bergerak seakan ingin lepas dari pelukan para pemainnya. Permainan pun dimulai ketika pawang yang berkomat-kamit membaca mantra meneriakkan, "Gila, gila, gila!" Bambu mulai meronta seakan memiliki jiwa sendiri. Ketujuh pemain yang memegang bambu harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan bambu. Bambu "hidup" itu bergerak mengikuti asap kemenyan dari tempurung yang dipegang pawang. Ke mana asap bergerak, bambu akan mengikuti asap tersebut dan para pemain harus berjuang untuk menahan bambu agar tidak lepas dari dekapan mereka. Ditambah pula alunan irama musik yang mengiringi seolah menambah gilanya bambu yang dipegang para pemain. Bambu gila akan diakhiri apabila ada pemain yang jatuh pingsan saat memegang bambu atau tempurung yang dipegang pawang dijatuhkan terbalik di tanah. Tetapi gerakan mistis bambu baru akan benar-benar hilang setelah pawang memberi makan berupa api dari kertas yang dibakar sambil membacakan mantra.Tidak sembarang bambu yang bisa digunakan untuk bambu gila. Bambu harus merupakan bambu lokal daerah tersebut. Selain itu, bambu harus terlebih dahulu dipilih serta dipotong dengan menggunakan ritual tertentu. Pawang bambu gila juga harus meminta izin para roh yang menghuni hutan bambu. Selanjutnya, bambu dibersihkan dan dicuci dengan ramuan minyak khusus dan dihias dengan kain pada tiap ujungnya.Permainan tarian bambu gila diperkirakan sudah dimulai sebelum masa masuknya agama Islam dan Kristen di Kepulauan Maluku. Kini, tarian bambu gila dilakukan pada saat perayaan-perayaan tertentu saja. Tertarik melakukannya?
Photos courtesy of: Indonesia Travel, Wikipedia
...more