TripTrus.Com - Nih, brosis! Ada kabar seru nih buat kamu yang kangen naik Gunung Semeru. Cekidot! Jadi, rencananya pendakian ke gunung ikonik ini mau dibuka lagi oleh pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Mereka nggak main-main nih, soalnya udah dua tahun lamanya pendakian ke sana tutup gara-gara si virus Covid-19 dan aktivitas gunung yang lagi ribut.
View this post on Instagram
A post shared by πππΆπππΆ ππΎππΆ πππΎπ»πΎπ π«ππππΎ (@clarradina)
Kepala Bagian Tata Usaha di Balai Besar TNBTS, si Septi Eka Wardhani, ceritanya mereka lagi persiapin segala sesuatunya buat nge-buka pendakian lagi. Salah satu persiapan keren yang mereka lakuin adalah nge-train para Pemandu Pendakian Gunung Semeru Terdaftar (PPGST). Nggak sembarang pemandu, harus yang udah terdaftar dan udah siap betul buat jadi guider. Nih, kata Septi Eka Wardhani, para PPGST ini harus dikasih pelatihan dulu biar nanti pas pendakian bener-bener smooth.
Katanya sih, “Para PPGST ini harus siap terlebih dahulu sebelum pendakian Gunung Semeru resmi dibuka nantinya,” kan kece?
Kemaren-kemaren, tepatnya tanggal 2-3 Agustus 2023, Balai Besar TNBTS udah ngadain bimbingan teknis (Bimtek) buat sekitar 200-an orang PPGST. Ini penting banget, bro, biar mereka tau kawasan konservasi, ekosistem Gunung Semeru, cara pertolongan medis, sampe etika yang harus dipegang pas pendakian.
[Baca juga : "Seru Abis! Tiga Event Keren Di Bali Yang Wajib Kamu Kunjungi!"]
“BBTNBTS masih akan mengadakan Bimtek satu kali lagi. Tapi masih belum kami jadwalkan untuk tanggal pastinya kapan,” ujar mereka.
Nah, di sisi lain, Balai Besar TNBTS dan beberapa komunitas lain lagi usaha keras buat ngembaliin jalur pendakian Gunung Semeru jadi lebih baik lagi. Soalnya masih ada beberapa bagian yang rusak, ada yang ringan, ada yang agak berat. Makanya, gak bisa dipastikan kapan persisnya pendakian ke sana bakal dibuka lagi.
Lagi pula, Yadi Yuliandi, si petugas di Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Semeru, ngasih tau kalo status gunung ini masih level III alias siaga. Jadi, kita mesti tetep waspada, bro, kalo mau petualangan ke sana.
Intinya, buat kamu yang pengen naik Semeru, sabar-sabar ya! Kita doain aja semuanya lancar dan aman pas udah dibuka lagi. (Sumber Foto @zhera_s)
...moreMeski punya bentuk dan rasa yang unik, tapi nama buah matoa belum dikenal luas. Buah matoa yang unik dan berkhasiat ini asli berasal dari Papua lho, TripTroops!Buah matoa yang punya nama latin Pometia Pinnata ini tumbuh di pohon tinggi yang bisa mencapai 18 meter dan diameternya bisa mencapai 1 meter. Buah ini sekilas terlihat seperti kedondong, karena bentuknya yang mirip, meski ukurannya lebih kecil. Namun, berbeda dengan kedondong yang kulitnya menempel di daging buah, kulit buah matoa ternyata mudah dikupas, seperti mengupas kulit buah kelengkeng. Jadi TripTroops tidak usah repot mengupas matoa dengan pisau. Cukup dengan menekan dengan ujung kuku saja, maka kulit buah matoa akan mudah terbuka.Di Papua, buah matoa mempunyai dua jenis yang populer, yaitu matoa kelapa dan matoa pepeda. Daging buah matoa kelapa bersifat kenyal tapi kering, sedangkan buah matoa pepeda memiliki daging yang lembek dan sedikit lengket. Daging buah matoa sendiri kurang lebih teksturnya mirip dengan buah rambutan. Tapi, jika rambutan seringkali dagingnya menempel pada biji, buah matoa dagingnya dengan mudah dapat dilepas dari bijinya. Buah matoa biasanya berwarna hijau kemerahan atau keunguan seperti buah manggis.Keunikan lain dari buah matoa adalah aromanya yang sekilas mirip dengan aroma buah durian. Dan saat digigit pun aroma durian itu sedikit terasa di lidah. Meskipun begitu, buah matoa ini sama sekali tidak punya hubungan saudara dengan buah durian. Dan buat matoa juga kaya vitamin C dan vitamin E. Sayangnya, konsumsi berlebih buah matoa dapat menyebabkan "mabuk" karena rasa manis buah matoa berasal dari kandungan glukosa jenuh yang cukup tinggi. Sebagai informasi, vitamin C mempunyai khasiat untuk daya tahan tubuh dan sebagai antioksidan. Vitamin C dalam buah matoa juga bisa menangkal radikal bebas yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Sementara itu, vitamin E dalam buah matoa dapat bermanfaat buat elastisitas dan kelembaban kulit dan membantu meringankan stress, meningkatkan kesuburan, serta dapat meminimalkan resiko penyakit kanker dan jantung koroner.Buah matoa biasanya berbuah satu kali dalam setahun, yaitu antara bulan Juli sampai Oktober. Di Papua, buah matoa tumbuh tersebar dari dataran rendah hingga ketinggian + 1200 mdp; (meter di atas permukaan laut. Untuk dapat tumbuh subur, buah matoa memerlukan curah hujan yang tinggi (lebih dari 1200 mm/tahun). Pohon matoa juga tidak perlu perawatan yang rumit karena pohon dan buah matoa cukup kebal terhadap gangguan serangga. Buah matoa yang sudah dipetik tidak dapat bertahan lama di luar lemari es, jadi kalau TripTroops beli buah matoa dan ingin buahnya tetap segar lebih lama, jangan lupa untuk disimpan di dalam kulkas ya. Tapi tampaknya susah untuk menahan diri tidak menghabiskan buah matoa. Karena sekali coba, besar kemungkinan kamu baru bisa berhenti makan setelah buahnya habis.
...moreTripTrus.Com - Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akan menjalin kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia untuk mengaktifkan kereta wisata menuju Gunung Padang, sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke situs prasejarah peninggalan kebudayaan megalitikum.
' Ready To Journey ' , sejumlah penumpang di #stasiunlampegan #lampegan menunggu @keretaapikita dari arah #sukabumi menuju #cianjur, #nicepose #travel #trainlover #savetheheritage #geonusantara
A post shared by santosan (@simplyishot) onSep 29, 2017 at 9:37pm PDT
"Kami akan mengoptimalkan angka kunjungan wisatawan ke Gunung Padang dengan mengunakan kereta yang berhenti di Stasiun Lampegan, selanjutnya wisawatan dapat mengunakan kendaraan wara-wiri dari stasiun menuju situs," kata Wakil Bupati Cianjur Herman Suherman di Cianjur, Minggu.Dia menuturkan Pemkab Cianjur sempat merencanakan pembuatan kereta wisata sebagai sarana dan prasarana penunjang tempat wisata di Situs Meghalitik Gunung Padang, sehingga rencana tersebut akan segera dilaksanakan. "Wisatawan yang tidak mengunakan kendaraan pribadi dapat memanfaatkan kereta untuk sampai ke Gunung Padang," katanya.
Situs Gunung Padang Situs Gunung Padang di Cianjur merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Lokasi situs ini berada di di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Situs Gunung Padang adalah tanda bahwa Indonesia memiliki peradaban yang jauh lebih maju dibanding peradaban di belahan bumi lainnya. Saat memasuki kawasan Gunung Padang, kita akan disuguhkan pemandangan berupa balok-balok batu yang berserakan. Di gunung, di sawah, di rumah-rumah penduduk, dan di bawah bukit semua dipenuhi balok-balok batu. Untuk sampai di puncak, pengunjung harus melewati ratusan anak tangga. Sesampainya di puncak, kita akan melihat ribuan bebatuan yang membentuk punden berundak. Letak Gunung Padang ini ada di tengah-tengah bukit. Dari sana, kita bisa melihat pemandangan Gunung Gede dari kejauhan. Tak jauh dari Gunung Padang, juga ada air terjun Curug Cikondang yang tak kalah indahnya. Situs ini berasal dari periode 2500-4000 SM, sekitar 2800 tahun sebelum dibangun Candi Borobudur, bahkan lebih tua dari Machu Picchu di Peru. Diperkirakan, Situs Gunung Padang sezaman dengan bangunan pertama Piramida di Mesir. Untuk menuju lokasi, pertama kita harus sampai ke Cianjur terlebih dahulu. Perjalanan bisa dimulai dengan menuju Jalan Raya Cianjur-Sukabumi, lalu memilih jalur Pal Dua. Dari jalur Pal Dua, kita harus ke Desa Warungkondang, melewati Cipadang, Cibokor, Lampegan, Pal Dua, Ciwangin, Cimanggu, dan berakhir di Dusun Gunung Padang. #explorecianjur #gunungpadang
A post shared by RendyHimawan (@rendyhimawan2) onMar 14, 2017 at 7:14pm PDT
Selama ini, ungkap dia, wisatawan yang datang mengunakan kereta cukup meningkat berdasarkan data yang diterima pihaknya, namun angka tersebut akan terus ditingkatkan dengan menyediakan kereta wisata yang khusus membawa wisatawan sampai ke Stasiun Lampegan dan selanjutnya disediakkan kendaraan khusus untuk sampai ke lokasi."Tahun depan akan kita realisasikan sehingga wisatawan yang datang mengunakan kereta dengan tarif murah ditambah kendaraan wara-wiri dengan harga yang terjangkau pula, sehingga angka kunjungan akan terus meningkat karena biaya yang dikeluarkan tidak mahal," katanya. Dia menambahkan untuk saat ini, pemkab masih menyelesaikan sejumlah fasilitas penunjang, seperti rest area di Lampegan dan jalan alternatif menuju Gunung Padang. "Harapan kami setelah ada kereta dan fasilitas penunjang lainnya, angka kunjungan akan terus meningkat setiap harinya," kata orang nomor dua di Cianjur itu.Sementara itu, berdasarkan keterangan, sejumlah pengunjung yang datang ke Gunung Padang, mengunakan kereta api Siliwangi jurusan Cianjur-Sukabumi. Mereka harus membayar ongkos ojek dari stasiun ke Gunung Padang yang mencapai Rp100.000 untuk pulang pergi karena tidak ada angkutan umum ke lokasi tersebut."Harapan kami ada angkutan murah yang disediakan pemerintah dari Lampegan ke Gunung Padang karena kalau pake ojek untuk pulang pergi kembali ke Lampegan, kami harus membayar Rp100.000 untuk satu ojek, sedangkan tiket kereta api hanya Rp6.000 untuk pulang pergi," kata Yoyoh (36) warga Kelurahan Sayang, Cianjur. (Sumber: Artikel antaranews.com Foto vakansinesia.com)
...moreTripTrus.Com - Lo masih inget kan film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts? Film ini cerita tentang Elizabeth Gilbert yang nyari ketenangan hidup dengan keliling dunia, salah satunya ke Bali. Syuting film ini bikin Bali heboh, dan bahkan jadi promosi gratis yang untungnya sampe jutaan dolar, lho!
1. Teras Sawah Tegalalang
Teras Sawah Tegalalang di Ubud ini tempat yang paling hits, bro! Tempat ini jadi spot favorit Julia Roberts buat meditasi dan foto-foto. Sawah di sini aesthetic banget, sistem teraseringnya bikin sawahnya rapi abis. Kalau lo ke Ubud, jangan sampe kelewatan spot ini, ya!
2. Pantai Padang Padang
Sebelum film ini tayang, Pantai Padang Padang belum banyak yang tau, bro! Lokasinya di Pecatu, Badung, tersembunyi di balik tebing. Di film, Julia Roberts santai di air jernih dan pasir putih yang bikin betah. Setelah film ini, banyak orang penasaran dan dateng ke sini. Selain berenang, lo bisa surfing, berjemur, atau baca buku di tepi pantai. Keren banget, kan?
3. Ubud Art Market
Trus, ada Ubud Art Market di pusat Ubud. Pasar ini rame dan warna-warni banget. Di sini lo bisa dapet barang seni, pakaian, dan barang unik lainnya. Ada topeng kayu Bali, patung-patung, pernak-pernik, dan baju tidur lucu. Harganya juga masih ramah di kantong. Kalau mau nawar, nawar aja yang wajar dan tetep sopan. Kelilingin dulu pasar ini, pasti banyak barang murah meriah yang bikin lo puas belanja!
[Baca juga : "7 Destinasi Healing Ala 'Eat, Pray, Love' Yang Wajib Dikunjungi Di Bali"]
4. Monkey Forest
Monkey Forest di sekitar Ubud juga gak boleh kelewatan! Di buku dan filmnya, Gilbert sering lewat sini tiap naik sepeda. Di sini, lo bisa liat monyet-monyet yang berkeliaran bebas. Monyet-monyet ini dihormati sama masyarakat Hindu, dan ada Pura Dalem Agung Padangtegal plus pura kremasi. Tapi, hati-hati jangan pake perhiasan atau barang yang bisa bikin monyet tertarik, karena mereka bisa nakal dan nyolong barang. Jadi, tetap waspada ya!
5. Rumah Ketut Liyer
View this post on Instagram
A post shared by Ariana Martins (@arianaa_martins)
Terakhir, ada Rumah Ketut Liyer di Jalan Raya Pengosekan, Ubud. Dia ini guru spiritual yang bakal baca wajah dan garis tangan lo. Katanya, tiap orang punya ciri khas di tengkuknya masing-masing. Sesi ramalan di sini santai banget, sering diselingi candaan yang bikin lo ngakak. Sebelum pulang, lo bakal dapet wejangan dari Ketut Liyer yang bisa ngebantu hidup lo. Datang pagi-pagi biar dapet nomor antrian pertama, ya!
Jadi, lo udah siap jalan-jalan ke lokasi syuting Eat, Pray, Love di Bali? Dari spot yang bikin lo ngerasa kayak Julia Roberts, sampe tempat hits yang bikin liburan lo makin seru. Semoga informasi ini bikin lo makin semangat liburan di Bali. Jangan lupa siapin kamera, hati-hati sama barang bawaan lo, dan nikmatin keindahan Bali dengan gaya lo sendiri! Selamat liburan, guys! (Sumber Foto @overdressedmoonchild)
...moreTRIPTRUS - Bagi penggemar kucing, mungkin nama Pulau Tashiro di Jepang sudah dikenal sebagai surga bagi kucing dan penggemarnya. Sebelum menuai kepopuleran sebagai pulau kucing, dengan diterbitkannya artikel mengenai seekor kucing di pulau itu, desa Tashiro adalah desa sepi yang sebagian besar penduduknya berusia di atas 60 tahun. Namun berkat kepopuleran artikel itu, para penggemar kucing dari Jepang dan seluruh dunia mulai ramai mengunjungi pulau yang mempunyai populasi ratusan kucing itu.
Tapi ternyata, tidak hanya di Tashiro saja yang penuh dengan kucing. Para pecinta kucing di Indonesia tidak harus jauh-jauh ke Jepang untuk menemukan pulau kucing. Di Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Polewali Mandar, ada sebuah pulau bernama Pulau Dea-dea yang hanya dihuni oleh ratusan ekor kucing. Tidak ada satu manusiapun yang tinggal di pulau ini.
Kucing-kucing di pulau ini sudah berkembang biak sejak puluhan tahun lalu, meski tidak ada yang dapat memastikan kapan kucing mulai menghuni dan menguasai Pulau Dea-dea. Meskipun begitu, kucing-kucing di sana terlihat sehat dan dapat hidup mandiri tanpa adanya manusia.
Untuk mencapai Pulau Dea-dea, waktu perjalanan yang harus ditempuh adalah sekitar 15 menit dengan menggunakan speedboat atau taksi air (sebutan warga setempat untuk perahu penyeberangan antar pulau) dari dermaga Belang-belang di Desa Tonyamang. Kucing-kucing di Dea-dea awalnya berasal dari beberapa kucing yang dibuang oleh warga dari pulau lain di pulau tak berpenghuni itu.
Lama kelamaan, populasi kucing di pulau itu meningkat sehingga mencapai ratusan ekor kucing. Semua kucing di Dea-dea hidup tanpa ada campur tangan manusia ataupun pemerintah daerah setempat, sehingga pengunjung tidak dapat begitu saja bermain dan mengelus kucing-kucing di pulau ini karena kebanyakan bersifat liar.
Sebelum pergi ke pulau kucing di Sulawesi Barat ini, ada baiknya mengemas jas hujan atau payung, karena di sana tidak didirikan satupun bangunan oleh manusia yang dapat dijadikan tempat berteduh atau menginap. Ini dikarenakan karena dari dulu, Pulau Dea-dea adalah pulau yang tidak pernah dihuni oleh manusia.
Tapi rasanya pemandangan Pulau Dea-dea yang hijau dan penuh pepohonan rindang, meski tidak ada tempat beristirahat dan berteduh buatan manusia, sudah cukup untuk jadi daya tarik para pecinta kucing. Mungkin suasana asri pulau itu yang membuat pulau kucing di Kecamatan Binuang ini jadi tempat berkembang biak yang cocok untuk kucing-kucing di pulau ini. Mungkin ini juga cocok bagi pecinta kucing yang ingin berlama-lama bermain dengan kucing-kucing di pulau itu. Ditambah lagi, pemandangan pantai yang indah membuat kunjungan ke Pulau Dea-dea jadi semakin mengesankan.Photos taken from: Buzzfeed.com
...moreTripTrus.Com - Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini masuk ke dalam Karesidenan Batavia dan mempertahankan karakteristik tiga etnis, yaitu suku Sunda, suku Betawi, dan Tionghoa.
Pembentukan wilayah ini sebagai kota otonom berawal dari keinginan warga di kawasan Tangerang Selatan untuk menyejahterakan masyarakat. Pada tahun 2000, beberapa tokoh dari kecamatan-kecamatan mulai menyebut-nyebut Cipasera sebagai wilayah otonom. Warga merasa kurang diperhatikan Pemerintah Kabupaten Tangerang sehingga banyak fasilitas terabaikan.
Pada 27 Desember 2006, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang menyetujui terbentuknya Kota Tangerang Selatan. Calon kota otonom ini terdiri atas tujuh kecamatan, yakni, Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara dan Setu.
Pada 29 Oktober 2008, pembentukan Kota Tangerang Selatan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, dengan tujuh kecamatan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang yang telah disetujui oleh DPRD Kabupaten Tangerang pada 27 Desember 2006.
1. Situ Gintung
View this post on Instagram
Bersandar melepas mentari, tanda tlah tiba saatnya kita ngopi :) . Lokasi: Situ Gintung, lewat pintu masuk kuburan lurus terus, ketemu lapangan tempat adu burung lurus, belokan ke dua setelah warung. . #dolanae #situgintung #tangsel #danausitugintung #tangerangselatan #kelanapesonaindonesia #senja #ngopi #tempatngopi #wisata #banten #jelajahbanten #visitbanten #ciputat #siluet #indonesia_photography #danau #jalanjalansore #mancingmania #mancing #pariwisata #pesonaindonesia #wonderfulindonesia #wonderfulplaces #travelphoto #travelphotography #indotravellers #instanusantarajakarta #enjoyjakarta #geonusantara
A post shared by Febri Amar (@febriamar) onDec 11, 2018 at 11:19pm PST
Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini masuk ke dalam Karesidenan Batavia dan mempertahankan karakteristik tiga etnis, yaitu suku Sunda, suku Betawi, dan Tionghoa.
Pembentukan wilayah ini sebagai kota otonom berawal dari keinginan warga di kawasan Tangerang Selatan untuk menyejahterakan masyarakat. Pada tahun 2000, beberapa tokoh dari kecamatan-kecamatan mulai menyebut-nyebut Cipasera sebagai wilayah otonom. Warga merasa kurang diperhatikan Pemerintah Kabupaten Tangerang sehingga banyak fasilitas terabaikan.
Pada 27 Desember 2006, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang menyetujui terbentuknya Kota Tangerang Selatan. Calon kota otonom ini terdiri atas tujuh kecamatan, yakni, Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara dan Setu.
Pada 29 Oktober 2008, pembentukan Kota Tangerang Selatan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, dengan tujuh kecamatan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang yang telah disetujui oleh DPRD Kabupaten Tangerang pada 27 Desember 2006.
Awal pembentukan situ (danau) ini adalah sebagai waduk yang berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan dan untuk perairan ladang pertanian di sekitarnya, dibuat antara tahun 1932-1933 dengan luas awal 31 ha. Kapasitas penyimpanannya mencapai 2,1 juta meter kubik. Situ ini adalah bagian dari Daerah Aliran Ci Sadane merupakan salah satu sungai utama Provinsi Banten dan Jawa Barat sumber berasal dari Gunung Salak dan Gunung Pangrango di (Kabupaten Bogor, sebelah selatan Kabupaten Tangerang) yang mengalir ke Laut Jawa panjang sungai ini sekitar 80 km dan bendungan aliran Kali Pesanggrahan. Di tengah-tengah situ terdapat sebuah pulau kecil yang menyambung sampai ke tepi daratan seluas kurang lebih 1,5 ha yang bernama Pulau Situ Gintung beserta hutan tanaman yang berada sekitarnya.
Semenjak tahun 1970-an kawasan pulau dan salah satu tepi Situ Gintung dimanfaatkan sebagai tempat wisata alam dan perairan di mana terdapat restoran,kolam renang,dan outbond.
Terhitung tahun 2011 Situ Gintung berubah nama menjadi Bendungan Gintung (sesuai dengan PP No. 37 Tentang Bendungan Tahun 2010).
2. Stasiun Sudimara
View this post on Instagram
Jangan berharap akan menjadi pemenang jika tidak pernah kalah, taklukan apa yang ingin kamu taklukan dengan perjuangan! . Foto : @jonasiagianmoto #stasiunsudimara #ciputat #tangsellife #guetangsel #ilovetangsel #initangsel #tangsel #tangerangselatan
A post shared by Tangsel Life (@tangsel.life) onOct 23, 2018 at 6:20pm PDT
Stasiun Kereta Api Sudimara (SDM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sudimara, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian + 28 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kereta api kelas III. Stasiun Sudimara terletak di Jalan Raya Jombang, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Pasar Jombang.
Bangunan Stasiun Sudimara yang lama merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda meski fasade bangunan ini sedikit mengalami perubahan dengan penambahan ruangan di sebelah kanan bagian depan. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Duri-Rangkasbitung sepanjang 76 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1899 berbarengan dengan pengerjaan jalur kereta api Duri-Tangerang. Peresmian stasiun ini dilakukan pada 1 Oktober 1899.
Proyek jalur kereta api Duri-Rangkasbitung ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Barat jilid 2 (Westerlijnen-2) hingga Merak. Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Duri-Rangkasbitung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Rangkasbitung-Serang-Cilegon (1900), dan Cilegon-Merak (1914).
Pada awal mulanya, Stasiun Sudimara ini berfungsi sebagai stasiun lintasan kereta api saja (Stopplaats), namun kemudian berubah menjadi stasiun kecil (halte) untuk melayani warga sekitar yang menjual hasil perkebunannya ke Batavia Zuid (sekarang Jakarta Kota) maupun Tanah Abang. Pada 16 Maret 1954, Direksi Djawatan Kereta Api menaikkan Stasiun Sudimara menjadi stasiun kelas IV.
Sekarang, stasiun ini menjadi stasiun kelas III. Akan tetapi sejak dioperasikan KRL (Kereta Listrik), atau dalam bahasa menterengnya disebut Commuter Line hingga Stasiun Maja di Tangerang, Stasiun Sudimara ini menjadi stasiun yang tergolong ramai, sibuk dan padat jadwal lintasannya. Hal ini juga tak terlepas dari perkembangan hunian yang ada di sekitar stasiun tersebut, karena Ciputat merupakan daerah penyangga Kota Jakarta.
[Baca juga : "13 Bangunan Bersejarah Di Pandeglang"]
3. Monumen Palagan Lengkong
View this post on Instagram
MONUMEN PALAGAN LENGKONG. Monumen yang terletak di wilayah Lengkong Wetan, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, untuk sampai ke lokasi diperlukan usaha yang lebih karena letaknya tidak di jalur utama penghubung Kota Tangerang dengan Serpong, masuk dalam kawasan perumahan Bumi Serpong Damai. Sesampainya di lokasi yang pertama dijumpai adalah sebuah rumah dengan papan informasi di halaman depan, isinya menyatakan bahwa lokasi tersebut merupakan kawasan cagar budaya. Di rumah tersebut pada 25 Januari 1946 terjadi pertemuan antara Mayor Daan Mogot, Direktur Akademi Militer Tangerang, dengan tentara Jepang yang bertujuan untuk melucuti persenjataan tentara Jepang agar tidak jatuh ke tangan tentara Belanda. Perundingan dengan pihak Tentara Jepang dibawah pimpinan Kapten Abe dilakukan oleh Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo dan Taruna Alex Sajoeti, taruna Akademi Militer Tangerang. Letusan senjata dan rentetan mitraliur yang terjadi secara tiba-tiba ketika perundingan tengah berlangsung dan berujung pada terjadinya pertempuran tak seimbang yang berakhir dengan tewasnya 34 taruna dan 3 perwira TRI, yaitu Mayor Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo. Sedangkan Mayor Wibowo dan lebih dari 20 Taruna lainnya ditawan oleh Tentara Jepang. Sayangnya, saat ini rumah tersebut tidak digunakan sebagai museum hanya sebagai penanda lokasi saja. Lalu bergerak ke arah belakang rumah baru lah nampak terdapat monumen yang terletak di sisi kanan dari rumah. Monumen yang berbentuk bidang cekung setinggi lebih dari 2 meter berlapiskan marmer hitam dan tiang bendera yang terdapat di bagian atas dinding. Pada dinding monumen terdapat tulisan tinta emas yang berisikan catatan sejarah singkat terjadinya Peristiwa Lengkong dan nama-nama mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut serta diapit oleh dinding-dinding rumput yang memunggungi jalan masuk yang membuat lokasinya jadi tersembunyi dari pandangan mata. . #monumenperistiwalengkong #monumenpalaganlengkong #lengkongwetan #tangerangselatan #bsd #wisatasejarah #sejarahkemerdekaan #gowessejarah #mayordaanmogot
A post shared by azwar muhlis (@azwar_muhlis) onDec 24, 2016 at 7:20pm PST
Monumen Palagan Lengkong terletak di Jl. Bukit Golf Utara No.2, Lengkong Wetan, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310
Daan Mogot adalah tentara PETA dengan pangkat mayor. Pada tanggal 25 Januari 1946, mayor bernama lengkap Elias Daniel Mogot itu ditugaskan untuk melucuti senjata tentara Jepang di Tangerang. Ketika itu Jepang telah resmi dinyatakan kalah dari Sekutu dalam Perang Dunia II. Misi pasukan Mayor Daan Mogot adalah untuk mencegah senjata Jepang jatuh ke tangan Belanda.
Mayor Daan Mogot memimpin 70 taruna tentara menuju tempat bermukim tentara Jepang di daerah Lengkong. Sampai di sana, Mayor Daan Mogot mengutarakan tujuan kedatangannya kepada Kapten Abe yang merupakan pimpinan pasukan Jepang. Proses pelucutan senjata yang mulanya berjalan damai menjadi pertempuran. Dalam baku tembak di Hutan Lengkong tersebut pasukan Mayor Daan Mogot terdesak dan kalah. Mayor Daan Mogot beserta dua perwira dan 34 taruna gugur.
Untuk mengenang perjuangan Daan Mogot, di bekas lokasi pertempuran didirikan Monumen Palagan Lengkong. Bangunan yang kerap disebut Monumen Lengkong tersebut berada di bagian depan Perumahan BSD. Tugu peringatan di daerah Lengkong tersebut berbentuk persegi panjang dengan tinggi lebih dari dua meter. Seluruh bangunan didominasi warna gelap.
Permukaan depan Monumen Lengkong berupa bidang lengkung dari marmer hitam. Di atasnya tertulis rangkaian kata menggunakan tinta emas yang berbunyi : “Pada Hari Jumat petang tanggal 25 Januari 1946, telah terjadi peristiwa berdarah di Lengkong / Serpong, dimana pasukan dari Akademi Militer Tangerang yang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot yang tengah merundingkan penyerahan senjata dari Pasukan Jepang di Lengkong kepada Pasukan TRI secara tiba-tiba sekali telah dihujani tembakan dan diserbu oleh Pasukan Jepang, sehingga mengakibatkan gugurnya 34 Taruna Akademi Militer Tangerang dan 3 Perwira TRI, diantaranya Mayor Daan Mogot sendiri”. (Sumber: Artikel gpswisataindonesia.info Foto tangselmedia.com)
...moreTripTrus.Com - Beberapa hari terakhir, dunia perfilman Indonesia menjadi buah bibir. Film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang sudah tayang di Bioskop-bioskop seluruh Indonesia merupakan film yang ditunggu-tunggu. Film lanjutan dari film sebelumnya "Ada Apa Dengan Cinta" ini sangat menarik untuk dinikmati. Selain alur cerita tentang kisah cinta antara Rangga dan Cinta, film ini juga mengambil spot shooting di Yogyakarta yang notabene merupakan Kota Wisata.
Dengan setting Kota Yogyakarta tanpa sadar juga mengajak kita sebagai penonton untuk bisa mengexplorasi spot-spot unik di kota ini. 10 spot yang menjadi setting film ini pastinya akan lebih ngehits lagi di kalangan traveler. Banyak yang bilang spot-spot tersebut sangat instagram-able.
Di bawah ini, 10 spot film Ada Apa Dengan Cinta 2 di Yogyakarta, yang mungkin bisa jadi referensi sebagai destinasi wisata kalian.
Sumber Foto: aadc2.com
1. Restoran Bu Ageng. Jl. Tirtodipuran 13, Yogyakarta.Warung Bu Ageng sudah layaknya jadi tujuan wisata kuliner Yogyakarta. Dikenal dengan masakan omah, Warung Bu Ageng ini ternyata milik dari Ibunya Butet Kertaradjasa, seniman sekaligus budayawan Indonesia. Warung yang dibuka sejak tahun 2011 ini menawarkan menu yang akrab di lidah orang jawa. Dengan harga yang cukup terjangkau, Warung Bu Ageng cukup jadi referensi wisata kuliner Yogyakarta2. Kota Gede
Sumber Foto: aadc2.com
Kota Gede diambil dari nama kawasan lama Kota Gede, terletak di perbatasan dengan Kabupaten Bantul di sebelah selatan. Semula Kota Gede merupakan Ibu Kota Kesultanan Mataram. Kota Gede terkenal dengan sentra kerajinan perak yang terletak di Jalan Kemasan. Destinasi wisata lain Kota Gede terdapat Komplek Makam Raja Mataram, Reruntuhan Benteng, Rumah Tradisional Jawa, Masjid Agung Kota Gede dan Pasar Tradisional Kota Gede.
3. Istana Ratu Boko
Sumber Foto: aadc2.com
Istana Ratu Boko merupakan situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3km di sebelah selatan dari kompleks Candi Prambanan. Dengan luas sekitar 25ha dan terletak di di sebuah bukit pada ketinggian 196mdpl. Pemerintah pusat sekarang memasukkan kompleks Situs Ratu Boko ke dalam otorita khusus, bersama-sama dengan pengelolaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
4. Bukit Punthuk SetumbuEksotisme sunrise berlatar belakang Gunung Merapi Merbabu dan Candi Borobudur, tidak heran jika Bukit Punthuk Setumbu menjadi spot terbaik untuk menikmati sunrise. Bukit setinggi kurang lebih 400mdpl yang terletak di gugusan Pegunungan Menoreh.5. Rumah Doa Bukit Rhema, Dusun Gombong-Desa Kembanglimus.
Tidak jauh dari Bukit Punthuk Setumbu terdapat bangunan tua dengan bentuk unik menyerupai burung dara. Masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan sebutan Gereja Ayam/Gereja Manuk-manukan atau Gereja Merpati. Menurut cerita bangunan ini diperuntukan untuk berdoa dan sebagai pusat rehabilitasi narkoba. Dengan kondisi saat ini, bangunan ini menyimpan kemegahan sekaligus aura mistis.
6. Sellie Coffee. Jl. Gerilya 822, Prawirotaman II.Pertumbuhan tempat nongkrong di Yogyakarta semakin pesat, banyak cofee shop bermunculan di kota ini. Salah satu diantaranya yaitu Sellie Coffee, Coffee Shop ini tampak menarik dengan interior berkonsep jadul. Untuk harganya sendiri, Sellie Coffee tidak terlalu mahal. Jadi kalau sedang liburan di Yogyakarta, bisa mampir dan menikmati seduhan kopi di sini. 7. Klinik Kopi. Jl. Kaliurang Km 7, Sinduharjo-Sleman.Ketika kalian mengunjungi Klinik Kopi, kalian tidak hanya bisa menikmati kopi dengan cara seduh yang berbeda. Lebih dari itu, klinik kopi merupakan tempat asik untuk berbicara tentang kopi. Tidak ada menu pasti di sana, jika hendak memesan silakan berbica langsung dengan Baristanya. Walau berlokasi di tengah ramainya daerah Gejayan, Yogyakarta, atmosfir klinik ini seperti berada di tengah hutan jati.8. Sate Klathak Pak Bari. Jl. Kedaton, Pleret-BantulAda yang bilang jika berkunjung ke suatu kota atau daerah tidak lengkap rasanya tidak mencicipi kuliner khasnya. Sate Klathak adalah sate kambing yang dibakar di atas bara api yang dihasilkan dari batu bara. Tidak hanya gudeg yang menjadi khas Yogyakarta, sate klathakpun bisa jadi kuliner alternatif jika berkunjung ke Kota Istimewa ini.9. Pantai ParangkusumoKonon menurut cerita, Pantai Parangkusumo adalah pantai yang dikeramatkan oleh masyarakatnya. Masyarakat Yogyakarta hingga kini masih meyakini ada hubungan spesial antara Keraton Yogyakarta dengan penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul. Meskipun hanya cerita turun menurun, masyarakat masih melakukan semedi di Pantai Parangkusumo.10. GreenHost Hotel. Jl. Prawirotaman II No 629, Brontokusuman.Berlokasi di Jl. Gerilya atau dikenal juga sebagai Jl. Prawirotaman II, penginapan ini menawarkan konsep ramah lingkungan. Hotel ini sangat memanfaatkan lorong-lorong untuk menanam sayuran. Dengan konsep tersebut dapat dipastikan menginap di GreenHost Hotel bisa membuat liburan semakin menyenangkan. (Sumber: Artikel Amieykha Foto aadc2.com)
...moreTripTrus.Com - Suka berpergian dengan kereta api? Atau justru baru mau coba untuk pertama kalinya? Nah, kalau iya, kamu juga wajib mengenal sejarah kereta api, minimal soal asalnya, deh.
Indonesia memiliki sejarah panjang dengan kereta api, tepatnya sejak zaman penjajahan Belanda. Semua kisah dan seluk-beluknya bisa kamu temui di museum-museum kereta api yang ada di Indonesia. Nggak cuma soal sejarah tertulis, di museum kereta api, kamu juga bisa menikmati berbagai macam koleksi, mulai dari gerbong hingga lokomotif jadul yang nilai sejarahnya besar banget.
Nah, buat kamu yang long weekend ini punya rencana memperdalam ilmu kereta api, kami punya daftar lima museum kereta api yang ada di Indonesia. Siapa tahu bisa jadi referensi kamu travelling ya!
1. Museum Kereta Api Sawahlunto
See you Sawahlunto ππ . . . #instalike #traveling #traveller #adventure #exploresawahlunto #museumkeretaapisawahlunto #mesjidagungnurulislamsawahlunto #gudangransumsawahlunto #loebangmbahsoero #puncakcemara #visitsumbar #wonderfulindonesia
A post shared by Defriansyah (@defriansyah26) onJul 30, 2017 at 11:17pm PDT
Terletak di Sawahlunto, Sumatera Barat, Museum Kereta Api Sawahlunto awalnya berfungsi sebagai stasiun. Namun, karena nggak banyak yang dapat dioperasikan secara komersil, pada 2005 lalu, stasiun ini diubah menjadi museum. Dari koleksi, Museum Kereta Api Sawahlunto memiliki 106 buah koleksi rangkaian dan perlengkapan kereta api yang terdiri dari lima unit gerbong, satu unit lokomotif uap, dua buah jam, 34 buah alat-alat sinyal atau komunikasi, puluhan foto dokumentasi, sembilan unit miniatur lokomotif, tiga buah brankas , lima unit dongkrak rel, tiga set label pabrik, tiga buah timbangan, sebuah lonceng penjaga, dan sepasang baterai lokomotif.
2. Museum Kereta TMII Jakarta
Kalau Sawahlunto terlalu jauh buat kamu, di Jakarta juga ada museum kereta api, lho! Letaknya ada d Taman Mini Indonesia. Di sini, kamu bisa menemukan koleksi kereta api yang cukup beragam, terutama koleksi di era 70-80an dengan kondisi yang terawat. Di sini, kamu bisa melihat 24 koleksi lokomotif uap hingga diesel yang dipajang. Terdapat juga Kereta Api Luar Biasa (KLB) yang sempat menjadi kereta api operasional Presiden Soekarno dan wakilnya, Mohammad Hatta Museum saat kemerdekaan. Stasiun ini diresmikan pada tahun 1991 lalu dan masih menjadi salah satu daya tarik wisata yang berkunjung ke TMII.
3. Museum Kereta Api Bondowoso
#MuseumKeretaApiBondowoso #AyoKeMuseum #SelfieStasiun
A post shared by @ luqmanarif87 onJan 1, 2017 at 5:43am PST
Stasiun ini menjadi salah satu elemen penting di zaman perjuangan. Pasalnya, di Museum Kereta Api Stasiun Bondowoso, kamu bisa bersua dengan “Gerbong Maut”! Buat yang belum tahu, Gerbong Maut adalah tiga gerbong yang ditumpangi sekitar 100 pejuang Indonesia yang menjadi tawanan Belanda. Mereka disekap dalam perjalanan 16 jam dari Bondowoso ke Surabaya dengan menahan lapar dan udara tipis hingga akhirnya semua pejuang tersebut meninggal dunia. Tertarik buat mengulik? SIlahkan datang ke kota Bondowoso di Jawa Timur.
4. Museum Kereta Api Graha Parahyangan Bandung
History of railway station #railfans #indonesia #grahaparahyangan #museum #bandung
A post shared by Yusuf Maulana (@cupexpert) onDec 19, 2014 at 6:08pm PST
Kalau kamu lagi ke Bandung, bisa mampir ke Jalan Dayang Sumbi No 10, deh. Di sana, tereletak Museum Kereta Api Bandung dengan nama Graha Parahyangan. Berbeda dengan ketiga museum kereta di atas, di Graha Parahyangan, kamu bisa melihat beberapa barang bersejarah seperti mesin pembuat karcis, mesin cetak tanggal karcis, alat komunikasi telegraf, telepon kayu, serta alat hitung odhever. Mesin pembuat karcis itu sendiri telah digunakan PT KA sebagai mesin untuk mencetak tiket kereta selama 100 tahun lebih! Di sana, juga terdapat banyak foto koleksi kereta api Indonesia dari zaman Belanda.
5. Museum Kereta Api Ambarawa
Ternyata gede dan luas stasiunnya #ambarawarailwaymuseum #museumkeretaapiambarawa #keretaapi #train #trainmuseum #ambarawahitz #keretaapikuno #ancientrailway #lokomotif #lokomotifuapambarawa #piknikmurah #piknikmurmer #wisatakeretaambarawa
A post shared by SEN2 (@senjunsen) onJan 21, 2018 at 5:08pm PST
Bisa dibilang, museum yang satu ini menjadi bagian terpenting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Letaknya di kota Ambarawa yang sejuk membuat museum ini banyak dikunjungi para pelancong yang kebetulan singgah dari perjalanan Yogyakarta-Semarang atau Semarang-Solo. Soal koleksi, Museum Kereta Api Ambarawa memiliki 22 buah lokomotif uap beserta rangkaian gerbong tua yang terbuat dari kayu. Belum puas? Kamu juga bisa menikmati wisata kereta dari Stasiun Ambarawa-Bendono, Ambarawa Railway Mountain Tour dengan kereta uap dan hamparan pemandangan alam yang mengagumkan. (Sumber: Artikel pegipegi.com, Foto Amieykha)
...moreTripTrus.Com - Ditengah hingar-bingar DKI Jakarta, masih banyak berdiri bangunan-bangunan bersejarah, salah satunya adalah Masjid. Berikut ini beberapa Masjid tua dan bersejarah yang masih kokoh berdiri di tengah angkuhnya ibu kota :
1. Masjid Jami' Al-Anwar, Angke
View this post on Instagram
Masjid yg didirikan oleh seorang muslimah tionghoa yg bergaya hindu Bali, Eropa dan tionghoa pada tahun 1700-an. . Sudah menjadi cagar alam nasional sejak thn 1993 . #wisataedukasi #wisatakemasjid #wisatasekolah #masjid #masjidjamiangke @wisatasekolah
A post shared by shinta aryani dewi (@_shintaad) onJun 1, 2018 at 11:00pm PDT
Sejarah pendirian masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa di zaman Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741), beberapa kali terjadi ketegangan antara VOC dengan rakyat dan orang Tionghoa. Ketegangan memuncak pada tahun 1740 ketika orang-orang Tionghoa bersenjata menyusup dan menyerang Batavia. Karena kejadian ini, sang jenderal sangat marah dan memerintahkan pembunuhan massal terhadap orang-orang Tionghoa. Peristiwa ini diketahui Pemerintah Belanda, sang jenderal dimintai pertanggungjawaban dan dianggap sebagai gubernur jenderal tercela. Akibatnya, ia kemudian dipenjarakan Pemerintah Belanda pada tahun 1741. Dan tak lama kemudian sang jenderal pun akhirnya mati di penjara.
Sewaktu terjadi pembunuhan massal itu, sebagian orang Tionghoa yang sempat bersembunyi dilindungi oleh orang-orang Islam dari Banten, dan hidup bersama hingga tahun 1751. Mereka inilah yang kemudian mendirikan Masjid Angke pada tahun 1761 sebagai tempat beribadah dan markas para pejuang menentang penjajah Belanda. Masjid konon juga sering dipakai sebagai tempat perundingan para pejuang dari Banten dan Cirebon.
Berdasarkan sumber Oud Batavia karya Dr F Dehan, masjid didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya’ban 1174 H yang bertepatan dengan tanggal 2 April 1761 M oleh seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim dari Tartar bernama Ny. Tan Nio yang bersuamikan orang Banten, dan masih ada hubungannya dengan Ong Tin Nio, istri Syarif Hidayatullah. Arsitek pembangunan masjid ini adalah Syaikh Liong Tan, dengan dukungan dana dari Ny. Tan Nio. Makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Jami Angke, yang berada di bagian belakang Masjid Jami Angke.
Menurut sejarawan Heuken dalam bukunya Historical Sights of Jakarta, kampung di sekitar Masjid Angke dulu disebut Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu. Kampung tersebut didirikan tahun 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia, sebagian dijual oleh raja mereka sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan kelompok lain lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi. Selama puluhan tahun orang-orang Bali menjadi kelompok terbesar kedua dari antara penduduk Batavia (A Heuken SJ, 1997:166).
Selain orang-orang Bali, kampung sekitar masjid dulunya juga banyak dihuni masyarakat Banten dan etnis Tionghoa. Mereka pernah tinggal bersama di sini sejak peristiwa pembunuhan massal masyarakat keturunan Tionghoa oleh Belanda. Bahkan jika kita berkunjung ke tempat tersebut saat ini, akan kita lihat masih banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di perkampungan tersebut.
2. Masjid Jami Tambora, Tambora
View this post on Instagram
With mosques, it's often difficult to guess if they're old or new. Some people get overzealous with upgrading or renovating them. Little expansion here, adding ceramic panels there, and the mosques look totally unrecognisable from the original. I'd thought that Masjid Jami Tambora (pictured above) and Tangerang's Masjid Jami Kalipasir were built pretty recently, perhaps in the last 30 or 40 years. It wasn't until I saw signs in front of the mosques that I came to understand that both were actually built in the 18th century.
A post shared by Heru Santoso (@sirhumphreyappleby) onFeb 3, 2019 at 6:23am PST
Masjid Jami Tambora dibangun pada tahun 1181 H (1761 M) oleh Kiai Haji Moestoyib, Ki Daeng, dan kawan-kawan. Mereka berasal dari Makasar dan lama tinggal di Sumbawa tepatnya di kaki Gunung Tambora. Pada tahun 1176 H (1756 M) KH. Moestodijb dan Ki Daeng dikirim ke Batavia oleh Kompeni karena menentang dan dihukum kerja paksa selama lima tahun.
Setelah hukuman selesai mereka tidak kembali ke Sumbawa, tetapi menetap di Kampung Angke Duri (sekarang Tambora) dan berkenalan dengan ulama setempat. Kemudian mereka menemukan ide untuk membangun sebuah masjid sebagai tanda syukur. Lokasinya sengaja dibuat di tepi Kali Krukut karena saat itu air kali masih jernih sehingga bisa dipakai untuk berwudlu.
Sumber lain menyebutkan, konon Masjid Tambora ini dibangun oleh H. Moestoyib, bersama seorang kontraktor Tionghoa Muslim yang berasal dari Makasar pada tahun 1761, kedua Muballigh itu ditahan oleh penguasa Belanda selama kurang lebih 5 Tahun dengan tuduhan makar, tetapi tuduhan itu tidak terbukti dan mereka pun dibebaskan, lalu penguasa Belanda memberikan sebidang tanah di luar tembok Batavia yang kemudian dibangun Masjid Tambora.
Sejak masjid selesai dibangun, peribadatan dimasjid ini dipimpin oleh K.H. Moestoyib sampai wafat. Haji Mustoyib dikuburkan di halaman depan masjid ini demikian pula dengan Ki Daeng. Guna kelanjutan kegiatan masjid setelah mereka wafat maka pada tahun 1256 H (1836 M) pimpinan masjid dialihkan kepada Imam Saiddin sampai wafat. Setelah itu masjid telah mengalami beberapa kali pergantian pimpinan. Terakhir pada tahun 1370 H (1950 M) pimpinan dipegang oleh Mad Supi dan kawan-kawannya dari gang Tambora. Masjid ini diperluas dan dipugar menyeluruh pada tahun 1980.
3. Masjid Jami Almubarak, Krukut
View this post on Instagram
Diantara kebaikan Di bulan Ramadhan adalah menuntut Ilmu
A post shared by arfan latif (@arfan_latif) onJun 2, 2017 at 7:04pm PDT
Masjid Jami Almubarak atau Masjid Krukut adalah salah satu masjid tua di Jakarta, dibangun sesudah tahun 1785 di atas sebidang tanah luasnya 1.000 m2 yang disebut Cobong Baru. Dibangun oleh kaum peranakan Tionghoa di Batavia, setelah memperoleh izin dari Gubemur Jenderal Alting. Izin tersebut diberikan kepada kapitan Cina peranakan (Muslim) yang bernama Tamien Dosol Seeng. Pada abad ke-19 dan abad ke20 masjid ini mengalami perubahan besar. Sebuah mimbar kayu pantas dianggap karya besar seni ukir Tionghoa. Sayang sekali, bentuk ukiran mimbar itu tak tajam lagi akibat dilapisi cat perak tebal pada tahun 1975 dan kini mimbar tersebut raib tak jelas keberada’annya.
Perombakan dan pembangunan total masjid ini dilakukan tahun 1994 14 Januari 1994, diperluas oleh tanah wakaf yang diberikan Syech Abdul Khaliq A Bakhsh dan dilaksanakan oleh Abdul Malik Muhammad Aliun sebagai wakaf untuk umat Islam. Di kawasan Krukut kini sudah hampir tak ada lagi muslim Tionghoa yang bermukim disana dan justru lebih banyak di dominasi muslim keturunan arab.
[Baca juga : "5 Fakta Sejarah Tentang Pulau Penyengat"]
4. Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Kebon Jeruk
View this post on Instagram
Masjid Jami Kebon Jeruk Jakarta Kota Markaz Dakwah dan Tabligh Indonesia Malam Markaz setiap malam jum'at di seluruh dunia #masjidkebonjeruk #malammarkaz #markazdakwahtablighindonesia #dsas #khurujindonesia
A post shared by Jefry Berahim (@jefryberahim) onDec 21, 2018 at 2:07am PST
Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Muslim Tionghoa bernama, Chau Tsien Hwu atau Tschoa atau Kapten Tamien Dosol Seeng di tahun 1786. Beliau adalah salah seorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karena ditindas oleh pemerintah setempat.
Sesampai di Batavia, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak serta tidak terpelihara lagi. Kemudian di tempat tersebut, ia dan teman-temannya, sesama pendatang dari Tiongkok mendirikan mesjid dan diberi nama Masjid Kebon Jeruk. Alasan diberinya nama Masjid Kebon Jeruk, menurut petugas Istiqbal (humas-red) Masjid Kebon Jeruk, Abdul Salam, karena memang pada waktu itu di daerah ini ditumbuhi banyak pohon jeruk.
Jauh sebelumnya, tahun 1448 Masehi, di lokasi ini telah berdiri sebuah mesjid surau atau langgar. Bangunannya bundar, beratap daun nipah, bertiang empat, masing-masing penuh dengan ukiran. Siapa saja pendirinya tidak diketahui. Chan tsin Hwa beserta istrinya Fatima hwu tiba di Batavia pada tahun 1718, dan menetap di daerah Kebon Jeruk sekarang ini. Mereka ini adalah rombongan muhajirin (pengungsi) yang memeluk agama Islam, yang terpaksa meninggalkan negrinya karena terdesak oleh penguasa Dinasti Chien yang menganut agama leluhur mereka, Budha.
Selain nilai historisnya, masjid ini menjadi terkenal karena Masjid Kebon Jeruk sebagai pusat kegiatan tabligh dan dakwah Islam di Indonesia. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini menjadi markas kegiatan Jemaah Tabligh untuk wilayah Indonesia dengan kegiatan jamaahnya adalah melakukan penyebaran Islam dengan mengunjungi berbagai tempat di seluruh nusantara dan berbagai negara.
5. Masjid Az-Zawiyah, Pekojan
View this post on Instagram
Masjid Az Zawiyah adalah salah satu masjid tua yang berada di kawasan Pekojan, Jakarta Barat. Masjid yang terletak di jalan Pekojan Kecil dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas dari Tarim, Yaman Selatan. Biasanya di 10 malam terakhir Ramadhan ada tradisi buka bersama di beberapa masjid tua di Jakarta salah satunya adalah masjid Azzawiyah di setiap tanggal ganjil. Dengan adanya buka bersama ini, terlihat semakin eratnya umat muslim di Indonesia, terbukti tidak dari Jakarta saja yang menghadiri acara buka bersama ini, ada yang dari Jonggol, Bogor, Depok dan sekitarnya. Semoga dengan adanya tradisi seperti ini umat muslim di Indonesia semakin mesra hubungannya dengan sang Maha Pencipta. __ Foto : @sugoroaprian __ #iwashere #bukber #masjidazzawiyah #pekojan #jakarta #detikdetikterakhirramadhan #indonesia
A post shared by Irfan Ramdhani (@ramdhani_irfann) onJun 22, 2017 at 3:28am PDT
Masjid Az-Zawiyah merupakan salah satu masjid tua Jakarta yang berada di kawasan Pekojan. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas pada tahun 1812M, Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Dan juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan kitab “Fathul Mu’in” atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional.
Habib Ahmad bin Hamzah Alatas juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor. Ketika dibangun, masjid ini tidak saja merupakan sebuah bangunan untuk ibadah semata namun juga merupakan tempat penyelenggaraan pendidikan islam. Kini bangunan masjid ini dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.
Masjid Azzawiyah berada tidak jauh dari jalan Pekojan Kecil, awalnya hanya berupa mushola kecil, Mushola ini kemudian diwakafkan hingga sekarang dan kemudian menjadi sebuah masjid. Kawasan Pekojan juga dikenal sebagai Kampung arab meskipun pada awalnya dihuni oleh Muslim dari India. Saat ini di Pekojan terdapat 4 Masjid Jami’ dan 26 mushola beberapa diantaranya sudah eksis sejak era kolonial.
Masjid kecil ini begitu ramai dikunjungi oleh muslim keturunan arab terutama di hari Lebaran hingga hari ketiga. Tepat di depan Mushola ini berdiri rumah tua bergaya Moor, rumah tersebut sekarang ditempati keluarga Saleh Aljufri. Keluarga Saleh Al-Jufri ini adalah salah satu keturunan Arab yang masih tinggal di kawasan Pekojan. (Sumber: Artikel situsbudaya.id Foto bujangmasjid.blogspot.com)
...more