Manokwari adalah ibukota Propinsi Papua Barat yang terletak di bagian kepala burung pulau Papua. Kota ini memiliki banyak sekali wisata menarik, terutama yang berhubungan dengan laut, karena memang Manokwari berhadapan langsung dengan samudera Pasifik. Wisata pantai, kepulauan, bahkan kuliner menjadi unggulan di Manokwari. Tidak hanya itu, berbagai tradisi dan kesenian pun merekah indah membawa kecantikan Papua ke tahap selanjutnya. Banyak sekali tradisi yang masih belum tergali sepenuhnya di Manokwari. Salah satunya adalah tradisi yang dimiliki masyarakat di sekitar pantai Bakaro, sekitar 5 kilometer ke arah barat kota Manokwari. Tradisi unik tersebut adalah prosesi pemanggilan ikan dari lautan lepas menuju bibir pantai. Langka dan sangat menarik, mengingat ikan yang dipanggil adalah ikan yang berasal dari lautan lepas dan bukan ikan peliharaan. Dikatakan tradisi karena keunikan ini sudah diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya oleh masyarakat Desa Bakaro hingga saat ini. Awalnya, pemanggilan ikan ini hanyalah sebuah kebiasaan warga desa yang begitu mencintai alamnya. Mereka beranggapan bahwa ikan-ikan di lautan yang begitu indah adalah anugerah dari Yang Mahakuasa dan harus dipelihara oleh manusia. Sebagai bagian dari tugas yang diberikan Tuhan untuk manusia, warga Bakaro percaya bahwa pemberian makanan adalah salah satu cara untuk mewujudkan tugas tersebut. Oleh karena itu, sebelum diberi makan, ikan-ikan di laut lepas perlu dipanggil layaknya ikan peliharaan di kolam atau penangkaran. Prosesi yang dilakukan untuk memanggil ikan ini diawali dengan tiupan peluit yang menjadi semacam kode bagi ikan-ikan di laut lepas untuk mendekat. Memang agak sulit mempercayai ikan akan mendengar kode ini, namun pada kenyataannya ketika peluit mulai ditiup ikan-ikan pun berdatangan. Setelah itu, seorang pawang ikan yang sudah mewarisi kemampuan berkomunikasi dengan ikan-ikan akan menepuk permukaan air sebagai penanda tempat ia akan memberikan makanan ikan-ikan tersebut. Makanan yang digunakan adalah sarang rayap yang sangat banyak terdapat di hutan sekitar Desa Bakaro. Menurut warga setempat, ikan-ikan di wilayah perairan Bakaro sangat menyukai makan ini dan mereka secara alami sudah tahu bahwa warga Bakaro senang memberi makanan. Sarang sayap ini dihancurkan dan dipecah-pecah, lalu disebar begitu saja ke wilayah perairan yang menjadi tempat pemanggilan ikan. Ikan yang umumnya ikan-ikan kecil pun akan berdatangan dan menghiasi beningnya air laut di Pantai Bakaro. Kini, pemanggilan ikan bukan lagi sekedar menjadi tradisi bagi warga Desa Bakaro. Kini, tradisi ini sudah menjadi salah satu atraksi pariwisata yang begitu menarik untuk disaksikan. Bahkan, atraksi ini mampu memberikan penghasilan tambahan bagi warga Bakaro, terutama keluarga yang masih mewariskan kemampuan untuk memanggil ikan ini ke tradisi selanjutnya. Biasanya, pemanggilan ikan dilakukan dua kali sehari yaitu saat pagi hari dan menjelang sore pada saat air mulai pasang kembali. Hal ini sudah dilakukan sejak lama, bahkan ikan-ikan di sekitar pantai pun seolah tahu kapan saja waktu pemanggilan ikan ini. Pantai yang berkarang-karang begitu indah memanjakan mata yang memandangnya. Bakaro memberikan pesonanya bahkan pada saat air pasang dan surut. Keramahan warganya tidak pelu dipertanyakan, selain ramah mereka juga terampil dalam menjaga tradisi mereka. Atraksi pemanggilan ikan yang sangat unik dan langka sudah menjadi sebuah bukti, bagaimana warga Bakaro begitu mencintai alam dan berusaha merawatnya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sumber:http://www.indonesiakaya.com
...moreTripTrus.Com - Penyedia paket travel kini menawarkan paket wisata murah. Misalnya Shine Project, yang pekan lalu mengajak wisatawan berlibur sehari ke tiga pulau di Kepulauan Seribu, Minggu, 15 April 2018.
Wisatawan cukup mengumpulkan uang Rp 85 ribu, dan pihak Shine Project mengantar ke pulau-pulau itu. Titik kumpul di dermaga Tempat Pelelangan Ikan Muara Kamal, Jakarta Utara. Kapal-kapal motor disediakan untuk mengantar pengunjung. Perjalanan dimulai sekitar pukul 08.00.
Tiga pulau yang dikunjungi adalah Pulau Kelor, Onrust, dan Cipir. Ketiga pulau ini termasuk dalam Taman Arkeologi Onrust dan dikelola oleh Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta.
Pulau pertama yang didatangi adalah Pulau Kelor, perjalanan dilalui dengan waktu sekitar 45 menit. Pulau Kelor termasuk pulau yang kecil, ukurannya hanya 0,28 kilometer persegi. Pandangan bisa menyapu pulau dari ujung ke ujung.
Forget the maps.. Follow your instincts.. #photos #photoshoot #photooftheday #photoshare_everything #l4l #l4f #f4f #mantublr #followme #photo #picoftheday #populer #ff #fff #lfl #jakarta #bogor #sukabumi #bandung #jayapura #jayapurapapua #papua #shootoftheday #shoot #shootandshare #asia #jenjajkt #pulaucipir #pulauonrust #explorejakarta
A post shared by Uupik Shivdhaasani (@shivdhaasani) onApr 18, 2018 at 3:50pm PDT
Air di pantai ini cukup bening dan bersih. Pasirnya juga putih dan halus. Pengunjung anak-anak dan dewasa bisa bermain air atau berenang. Jika tak ikut dalam rombongan agen wisata, pengunjung harus membayar tiket Rp 5 ribu per orang.
Bangunan yang sangat menonjol di Pulau Kelor adalah Benteng Martello yang terbuat dari tumpukan batu bata. Benteng ini berbentuk lingkaran di pojok pulau. Tingginya 9 meter dari permukaan laut. Menurut informasi yang tertera pada papan pengumuman, benteng ini dibangun Belanda pada 1850 sebagai bagian dari sistem pertahanan laut kota Batavia.
Diameter luar benteng 14 meter dengan tebal dinding 2,5 meter. Benteng ini tampak masih kokoh dengan jendela-jendela di sekelilingnya. Tempat ini pun menjadi latar foto para pengunjung. Selain gedung yang membentuk lingkaran, ada juga puing-puing benteng di luarnya, sampai di tepi pantai.
Di sekitar benteng ada pohon-pohon sebagai tempat berteduh. Di Pulau Kelor, wisatawan bisa memilih duduk di tembok pinggir pantai, bermain air, duduk di gazebo, atau piknik dengan tikar di bawah pohon. Pulau ini tak berpenghuni namun ada 10 petugas yang menjaganya. Pengunjung juga bisa memesan tenda seharga Rp 100 ribu per malam yang muat hingga 7 orang.
Pukul 11.00, wisatawan beranjak dari Pulau Kelor dan naik kapal menuju Pulau Onrust yang waktunya hanya sekitar 5 menit. Pulau Onrust berbeda, tak miliki pantai berpasir melainkan dikelilingi tembok. Konon, luas pulau ini awalnya 12 hektare namun mengalami abrasi dan kini luasnya tinggal 7,5 hektare.
Tapi kelebihannya, pulau ini sangat sejuk karena banyak pohon rindang. Jarak setiap pohon hanya sekitar 7-10 meter. Sehingga pas menjadi tempat berekreasi di siang hari.
Warung makan di Pulau Kelor juga lebih ramai. Di sini, wisatawan dapat makan siang dengan menu nasi seperti di daratan. Di sini bangunan sejarahnya lebih beragam. Ada gedung VOC, barak karantina haji, komplek makam Belanda, komplek makam pribumi, dan penjara.
Sewaktu masyarakat menunaikan haji menggunakan kapal, mereka akan dibawa dulu ke Onrust untuk diperiksa kesehatannya. Begitu pula ketika mereka pulang, untuk memastikan kesehatan para jamaah dan tidak membawa sakit yang menular. Namun barak-barak penginapan haji ini hanya menyisakan ubin dan sedikit tiang.
[Baca juga : Dari 4 Tipe Traveller Indonesia Ini, Kamu Tipe Yang Mana?]
Dari Onrust, kita dapat melihat pulau lainnya seperti Kelor, Cipir, dan Pulau Bidadari. Perjalanan berikutnya ke Pulau Cipir yang jaraknya sangat dekat. Di sini ada pantai yang pasirnya bercampur dengan karang-karang kecil.
Ada dua dermaga sehingga kapal leluasa bersandar. Wisatawan pun bebas berfoto ria di jembatan dermaga, pantai, atau di tembok. Di pulau ini juga ada peninggalan Belanda, misalnya meriam yang menghadap ke laut.
Pilihan permainannya pun beragam, seperti banana boat seharga Rp 40 ribu dan donat boat Rp 45 ribu. Namun pengunjung harus antre menggunakan kamar kecil karena hanya ada 1 titik kamar kecil yang berisi 4 toilet.
Pada malam hari, Shine Project mengajak wisatawan menerbangkan lampion yang dibakar dengan korek. Sebagian lampion berhasil mengudara dan ada juga yang tercebur ke laut.
Nurul Azizah, salah satu wisatawan yang mengikuti destinasi ala Shine Project, mengatakan perjalanan ke tiga pulau ini sangat seru. Apalagi mahasiswa sejarah Universitas Gadjah Mada ini baru pertama kali ke Pulau Seribu.
"Jalan-jalan ini adalah pengalaman berharga karena saya dapat melihat secara langsung peninggalan sejarah Indonesia, bukan sebatas teks," ujarnya.
Azizah paling tertarik dengan peninggalan bekas karantina haji. "Semester lalu saya belajar tentang sejarah Islam di Indonesia. Pas lihat gedungnya, saya bisa membayangkan lebih real soal perjalanan haji itu," ucap dia.
Selain paket wisata, pengunjung tiga pulau juga dapat berangkat dengan kapal-kapal yang bersandar di Muara Kamal. Beberapa kapal juga membuat rute perjalanan ke tiga pulau ini, dengan biaya Rp 75 ribu per orang. Penumpang kapal minimal 5 orang. Namun, pengunjung membayar tiket Rp 5 ribu setiap pulaunya.
Ada juga pilihan antar-jemput ke satu pulau. "Ongkosnya Rp 150 ribu per orang, bisa ditelepon waktu jemputnya," ujar Iwan Kamal, salah satu pemilik kapal. (Sumber: Artikel travel.tempo.co, Foto Agni Minardi)
...moreTripTrus.Com - Berkunjung ke Serang ibukota Provinsi Banten tak lengkap rasanya jika tak menginjakkan kaki ke Banten Lama. Di kawasan situs sejarah di Kecamatan Kasemen ini terdapat destinasi wisata sejarah dan ziarah yang menarik untuk disusuri di akhir pekan.
Bahkan untuk mendukung gagasan Gubernur Banten Wahidin Halim yang akan menjadikan Banten Lama sebagai ikon Provinsi Banten, Dinas Pariwisata akan melakukan pengembangan destinasi dan atraksi penunjang di sekitar Kawasan Keraton Kesultanan Banten. Saat ini yang tengah dilakukan adalah penataan kembali.
"Revitalisasi melalui pembangunan fisik masih berlangsung, belum selesai. Setelah kegiatan hari ulang tahun Banten dan Hari Santri banyak pengunjung yang ingin melihat proses perubahan yang sedang dilaksanakan," kata Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nur Cahyati, Sabtu, 10 November 2018. Rampung revitalisasi, ia yakin kunjungan wisatawan pun akan berlipat. Ayo, intip ada objek wisata apa saja di Banten Lama.
1. Keraton Sorosowan
View this post on Instagram
A post shared by Septian Riezsky Adhietya (@septianadhietya) onMar 6, 2019 at 9:17am PST
Pada masa jayanya Banten disebut pula Kota Intan. Bukti itu ditunjukan di Keraton Sorosowan yang dibangun mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng berbentuk intan) pada empat sudut bangunannya.
Di atas lahan 3 hektar, keraton ini dibangun sekitar 1522-1526 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten. Saat ini, bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Namun, masih ada sisa reruntuhan dinding dan pondasi kokoh.
2. Istana Kaibon
View this post on Instagram
Keraton kaibon didirikan tahun 1815, keraton ini adalah yang kedua di banten setelah keraton surosowan. Penjelasan lengkapnya, cari aja sendiri di gugel Terima Kasih mata kuliah studi kebantenan. karena tugasmu, aku jadi tau tempat-tempat bersejarah kayak gini 😂 #explorebanten #bantenlama #kesultananbanten
A post shared by akbar gama refarjan (@akbar_gama) onMar 9, 2019 at 6:14am PST
Keraton Kaibon dibangun untuk Ratu Aisyah. Sang ratu merupakan ibunda Sultan Syaifudin. Kaibon artinya keibuan. Kala itu Sang Sultan ke-21 itu masih belia, umurnya baru 5 tahun sehingga belum bisa memegang tampuk pemerintahan.
Arsitektur Keraton Kaibon ini unik karena dikelilingi saluran air. Keraton Kaibon ini dihancurkan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1832, bersamaan dengan keraton Surosowan. Kini, yang masih tersisa hanya lah gerbang dan pintu-pintu besar yang dikenal dengan nama Pintu Paduraksa yang modelnya khas Bugis.
3. Benteng Speelwijk
View this post on Instagram
my first "golden-hour" sunset... #exploreserang #banten #indonesia #prayforbanten #bantenbangkit #bentengspeelwijk #pesonaindonesia #wonderfulindonesia
A post shared by 🌏 Blogger,Host,Speaker (@rivopahlevi) onDec 28, 2018 at 3:57am PST
Benteng Speelwijk terletak di sisi utara Kesultanan Surosowan. Arsitek yang membangun adalah kepercayaan Sultan Ageng Tirtayasa, seorang keturunan Tionghoa yang kelak bergelar Pangeran Cakradana. Bangunan inilah yang menjadi salah satu alasan Kesultanan Banten memiliki pertahanan yang sulit ditembus dari laut oleh para penjajah dari Eropa yang hendak memasuki nusantara.
Berdasarkan situs Kemendikbud, arsitek Belanda Hendrik Lucaszoon Cardeel juga berperan dalam pembangunan Speelwijk. Lucaszoon membangun Speelwijk pada 1682, lalu dipugar pada 1685 dan 1731. Ia melakukan perubahan atas bangunan yang dirancang arstitek Tionghoa tersebut.
Pada area kawasan Benteng Speelwijk itu terdapat Kerkhoff atau pemakaman orang-orang Belanda. Salah satu makam yang paling besar dan menarik di antara makam-makam tersebut merupakan makam Komandan Hugo Pieter Faure (1717-1763).
[Baca juga : "Jembatan Gantung Situ Gunung Primadona Baru Wisata Sukabumi"]
4. Masjid Agung
View this post on Instagram
Melompat dengan penuh harapan semoga kelak bertemu di masa depan dengan keberhasilan menggapai cita-cita bersama para sahabat tercinta.. ❤️ . . Selamat sore menjelang malam Warga Serang, selamat menantikan adzan Maghrib. . . Foto: @anisaput29 . . #infoserang #visitserang #masjidagungbanten #tourism #indonesia #Beautifulview #beautifuldestinations
A post shared by Info Serang (@infoserang) onMar 10, 2019 at 4:00am PDT
Masjid Agung Banten merupakan satu dari masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah tinggi. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tidak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tetapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Masjid ini dikenali dari bentuk menaranya yang sangat mirip dengan bentuk sebuah bangunan mercusuar. Tempat ibadah ini dibangun pertama kali pada 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1562-1557), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati.
5. Vihara Avalokitesvara
View this post on Instagram
The Kingdom Of Banten -Vihara Avalokitesvara- Lumayan rame yg ibadah 😆 #vihara #viharaavalokitesvara #viharabanten #banten #kingofbanten
A post shared by Nadal YJ (@25nadalyj) onFeb 4, 2017 at 4:27am PST
Kelenteng tua ini konon dibangun sejak abad ke-16. Pembangunan vihara ini juga tidak bisa dilepaskan dari Sunan Gunung Jati, salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Indonesia.
Yang menarik gerbang Vihara Avalokitesvara pada atap berhiaskan dua naga memperebutkan mustika sang penerang (matahari). Gerbang ini seolah menyambut pengunjung di pintu masuk sebelum pengunjung masuk lebih ke dalam vihara yang memiliki nama lain kelentang Tri Darma.
6. Meriam Ki Amuk
View this post on Instagram
MERIAM KIAMUK Menurut cerita, Meriam Ki Amuk dipercaya mempunyai kekuatan gaib. Karena kekuatan suara dentumannya bisa membuat ciut hati pasukan musuh yang mendengarnya. Selain itu ketika meledak dapat membuat musuh kocar-kacir. Hal ini dibuktikan ketika melawan armada laut Portugis maupun Belanda yang akan mendarat di Pantai Banten pada abad ke-15 dan abad ke-18 Selain Kiamuk ada juga meriam si Jagur. Konon kedua meriam kembar ini Ki Amuk dan Si Jagur adalah jelmaan dari prajurit Demak yang dikutuk sehingga berubah wujud menjadi meriam. Dikisahkan, pada saat itu wilayah Pelabuhan Banten dikenal sebagai pelabuhan niaga rempah-rempah yang cukup terkenal sampai ke daratan Eropa sehingga banyak menjadi incaran bangsa asing Meriam ki amuk merupakan salah satu benda bersejarah yg berada di kawasan museum situs kepurbakalaan banten lama. Tulisan : https://daerah.sindonews.com/read/1009862/29/legenda-meriam-ki-amuk-jelmaan-prajurit-demak-yang-dikutuk-1433683186 Foto by @napriyani_ ----------- ----------- #meriamkiamuk #bantenlama #jelajah_serang #jelajahareawisata #kotaserang #kesultananbanten #bantenbagus #meriamantibelanda
A post shared by Jelajah Serang (@jelajah_serang) onAug 16, 2018 at 5:18am PDT
Meriam Ki Amuk terletak di depan Masjid Agung Banten. Meriam milik Kesultanan Banten ini konon digunakan untuk menjaga Pelabuhan Karangantu di Teluk Banten dari serangan musuh. Suaranya yang menggelegar ketika meledak disebut membuat musuh kocar-kacir. Itu dibuktikan ketika melawan armada laut Portugis maupun Belanda yang akan mendarat di Pantai Banten pada abad ke-15 dan abad ke-18. Selain Ki Amuk, ada kembaran meriam ini yakni Si Jagur. Keduanya dikisahkan adalah jelmaan dari prajurit Demak yang dikutuk sehingga berubah wujud menjadi meriam. (Sumber: Artikel travel.tempo.co Foto wacana.co)
...moreTripTrus.Com - Ibarat gula tanpa garam, liburan tak sekalian jelajah kuliner terasa kurang. Apalagi jika kulinernya nikmat dan susah ditemukan di tempat lain. Seperti di Cianjur yang memiliki kuliner unik dan tak mudah ditemukan di tempat lain. Beberapa di antaranya juga menjadi oleh-oleh yang diincar banyak wisatawan. Lalu, apa saja kuliner khas Cianjur yang unik dengan rasa menggigit ini? Yuk, simak daftarnya.
1. Tauco Cap Meong
Tauco cap meong #tauco #taucocapmeong #cianjur #food #traditional
A post shared by Cynthia.Vienna (@viennathepooh) onSep 30, 2016 at 7:57pm PDT
Liburan ke Cianjur, terasa kurang jika belum mampir ke Toko Tauco Cap Meong. Tempat ini memang tidak menyediakan menu makanan siap saji. Namun, ada sebotol tauco atau bumbu dari kedelai yang siap dibawa pulang. Kemasannya juga beragam, dari botol kecil hingga ukuran besar. Meski banyak sekali bumbu cepat saji yang lebih kekinian, tauco ini tetap bertahan. Bahkan difavoritkan karena rasanya tak berubah. Hal ini tidak lain karena proses memasaknya yang tak pernah berubah sejak pertama dibuat di tahun 1880-an.
2. Geco
Asiknya makan GECO, makanan khas Cianjur yg diminati berbagai kalangan. Yu makan GECO, mumpung masih weekend. Seperti apa rasanya... Simak videonya di channel youtube cianjur on "GECO MAKANAN KHAS CIANJUR BELINYA NGANTRI" #geco #gecocianjur #tauco #taucocianjur #cianjuron #cianjuronesia #cianjurnyakitakita #makanankhascianjur #makanankhasnusantara #makanantradisional #makananjadul #oleh-olehcianjur #makanandicianjur #kulinercianjur #makananorangcianjur #katuanganurangcianjur
A post shared by infocipunjur (@infocipunjur) onMar 17, 2018 at 8:30pm PDT
Jika tak sabar untuk menikmati tauco khas Cianjur di rumah, cobalah menyantap geco. Makanan ini terdiri dari tauco, tauge segar yang direbus setengah matang, ketupat, kentang potong, telur rebus potong, serta mie aci yang terbuat dari kanji. Tak hanya itu, ada tambahan cuka lahang (fermentasi pohon enau), kecap manis serta sambal agar rasanya semakin spesial. Penjual geco kini tak sebanyak zaman dulu. Bahkan, bisa dihitung yang masih bertahan. Jika bisa menemukan penjualnya, kamu pasti beruntung sekali.
[Baca juga : Candra Naya, Cagar Budaya Yang Terhimpit Gedung Pencakar Langit]
3. Moci Cianjur
#mochi #moci #mochicianjur #mocicianjur #kuliner #kulinercianjur #kulinerlegendaris #kulinerlegendariscianjur #oleholehcianjur #vanilla #manisanmuliasari #tokomanisanmuliasari
A post shared by Limited Edition 'kuliner' (@kulinerlimitededition) onJun 17, 2018 at 8:26pm PDT
Siapa yang tak doyan dengan mochi. Jajanan asal Jepang ini memiliki tekstur kenyal serta lembut yang bikin lidah tak berhenti bergoyang. Di Cianjur sendiri, ternyata juga ada mochi. Tak jauh beda dengan lainnya, camilan ini berisikan kacang tanah manis yang ditumbuk. Selain itu, ada varian lain yang tak kalah menggoda. Kamu pun juga bisa menikmati es mochi, paduan jajanan kenyal dengan es. Rasanya tak perlu diragukan lagi.
4. Roti Manis Tan Keng Cu
#tankengcu #rotitankengcu #roti #bread #kuliner #kulinercianjur #kulinerlegendaris #kulinerlegendariscianjur
A post shared by Limited Edition 'kuliner' (@kulinerlimitededition) onDec 24, 2017 at 1:35am PST
Selain toko Tauco Cap Meong, ternyata Cianjur juga memiliki toko roti legendaris. Namanya Roti Manis Tan Keng Cu. Berdiri sejak tahun 1926, toko ini menyediakan aneka roti empuk dengan cita rasa gurih. Tidak hanya soal rasanya yang enak, roti inni juga terkenal murah. Tak heran, hampir seabad masih tetap dicintai oleh warga Cianjur.
Nah, itulah kuliner khas Cianjur yang tak hanya bisa dimakan di tempat tapi juga dijadikan oleh-oleh. Jadi, kapan nih liburan ke Cianjur? (Sumber: Artikel travelingyuk.com, Foto flickr.com)
...moreTripTrus.Com - Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak yang signifikan pada industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Sejak Februari 2020, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan drastis. Puncaknya terjadi pada bulan April 2020, di mana jumlah wisatawan hanya mencapai 158 ribu.
View this post on Instagram
A post shared by Yan's Project (@yanpw_id)
Namun, sekarang pariwisata di Indonesia mulai bangkit kembali dan wisatawan mulai memadati lokasi wisata kembali. Menurut laporan dari situs penjualan tiket daring, generasi muda lebih memilih destinasi wisata yang berdekatan dengan rumah mereka. Hal ini membuat destinasi wisata di Indonesia menjadi pilihan favorit saat ini.
Senior Public Relations Manager Sandra Darmosumarto mengungkapkan bahwa destinasi wisata domestik masih menjadi primadona di kalangan generasi muda untuk berlibur. "Karena pandemi, orang-orang cenderung ingin berlibur di tempat yang dekat dengan rumah. Lebih banyak orang yang melakukan staycation dan tren Work From Bali masih terjadi sampai sekarang. Bali tetap menjadi tujuan wisata favorit generasi milenial setelah pandemi ini. Selain itu, kota-kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, dan Belitung juga mengalami peningkatan kunjungan wisata," kata Sandra.
[Baca juga : "Rekomendasi Desa Wisata Di Indonesia Yang Cocok Untuk Generasi Z Dan Milenial!"]
Pemerintah telah menyiapkan lima destinasi pariwisata super prioritas, dua di antaranya menjadi pilihan teratas bagi wisatawan. Sedangkan, dua destinasi wisata DPSP yang paling banyak dikunjungi oleh generasi muda adalah Mandalika dan Labuan Bajo. Berkat penggunaan media sosial yang masif dalam mengungkap lokasi wisata baru, beberapa destinasi wisata baru seperti desa wisata di kawasan Mandalika mengalami peningkatan kunjungan saat MotoGP Mandalika berlangsung.
Generasi muda tidak hanya berlibur di tempat-tempat wisata tersebut, tapi juga memanfaatkan waktu untuk melakukan hobinya, seperti bersepeda dan meditasi. Akhirnya, desa-desa wisata juga semakin dikenal oleh masyarakat luas dan menjadi alternatif pilihan untuk memberikan pengalaman liburan yang mengesankan. (Sumber Foto @nanaputrii._)
...moreTripTrus.Com - Bangsa Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama kali menjejakkan kaki di pulau Jawa pada abad ke-16 dalam rangka pencarian pulau rempah-rempah yang legendaris. Walau mereka tidak mendominasi pulau Jawa, peninggalan mereka masih nyata terlihat yaitu 2 gereja portugis dan musik keroncong.
Keroncong adalah musik Indonesia yang dipengaruhi oleh musik asli Portugis yang bernama Fado, diperkenalkan oleh para pelaut dan budak dari kapal-kapal dagang di abad 16. Perjalanan musik ini dimulai dari Goa di India ke Malaka sampai Tugu.
Keroncong mendampingi Moresco, tarian yang mengandung pengaruh Spanyol yaitu seperti Polka namun dibawakan dalam gerakan yang lebih perlahan.
Pada proses akulturasi keroncong yang aslinya dimainkan dengan akat musik gesek, dalam perjalanannya ditambahkan dengan sentuhan flute dan gamelan. Di tahun 1960, Keroncong sekali lagi dipopulerkan oleh Jenderal Polisi Hugeng bersama band nya The Hawaiian Seniors yang terkenal pada masa itu, dengan menambah elemen tertentu dari the Moluccas dan Hawaii.
Bangsa Inggris yang sempat berkuasa dalam masa yang cukup singkat yaitu selama masa Gubernur Jendral Sir Stamford Raffles (1811-1815) juga meninggalkan gereja Anglican yang sampai sekarang masih berdiri di area Menteng. (Sumber: Artikel-Foto jakarta-tourism.go.id)
...moreSillanan adalah nama sebuah perkampungan tradisional masyarakat Toraja. Secara administratif, perkampungan ini masuk ke wilayah Desa Sillanan, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Perkampungan yang struktur tanahnya berbatu-batu ini dihuni oleh penduduk yang bekerja sebagai petani kopi, dan terletak sekitar 35 kilometer ke arah selatan Rantepao. Di tempat ini terdapat bangunan-bangunan megalit berupa menhir maupun kubur batuyang berkaitan dengan tradisi dan upacara-upacara adat masyarakat Toraja yang hingga kini masih diselenggarakan. Dari upacara-upacara adat itu, wisatawan akan mendapatkan gambaran mengenai fungsi dan peranan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut terhadap kehidupan masyarakat setempat. Beberapa rumah tongkonan dan lumbung padi yang berusia sangat tua pun masih bisa ditemukan di sini, sementara beberapa diantaranya sudah direnovasi akibat termakan usia. Tongkonan merupakan rumah adat masyarakat Toraja. Kata “tongkonan” berasal dari bahasa Toraja yaitu “tongkon” yang berarti duduk. Disebut tongkon karena memang bangunan ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan adat. Tongkonan bukanlah rumah pribadi perseorangan tetapi diwariskan secara turun temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja. Di rumah adat inilah, keluarga Toraja biasanya berkumpul untuk berdiskusi ataupun bertukar pendapat. Tidak semua Tongkonan dapat dikunjungi, kecuali Tongkonan yang memang secara khusus dijadikan obyek wisata. Sementara Tongkonan milik keluarga Tana Toraja hanya boleh dikunjungi oleh anggota keluarga saja. Wisatawan bisa menanyakan tetua adat atau penduduk mengenai Tongkonan mana yang boleh dikunjungi. Tongkonan terbuat dari kayu dan memiliki atap yang terbuat dari daun nipa atau kelapa. Bangunan adat ini selalu dibangun menghadap ke utara, arah yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Jika dilihat dari bagian samping, bentuk atap Tongkonan akan mirip seperti tanduk kerbau. Di kehidupan masyarakat Toraja, kerbau memang dijadikan simbol status sosial. Ketika keluarga Toraja menyelenggarakan upacara adat pemakaman, mereka akan menyembelih kerbau yang jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga penyelenggara adat. Setelah disembelih, tanduk-tanduk kerbau dipasang pada Tongkonan milik mereka. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau pada Tongkonan, berarti semakin tinggi pula status sosial pemiliknya di kalangan masyarakat Toraja. Rumah adat Toraja ini berbentuk rumah panggung, dan kolong rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Di depannya terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung terbuat dari batang pohon palem (‘bangah‘) yang licin, sehingga tikus tidak dapat memanjat masuk ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara. Orang Toraja menganggap tongkonan sebagai simbol ‘ibu‘, sedangkan alang sebagai ‘bapak‘. Tongkonan tidak hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, tetapi juga sebagai tempat mengadakan kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah dan selatan. Bagian utara atau ‘tengalok’ berfungsi sebagai ruang tamu, ruang tidur anak-anak, dan juga tempat meletakkan sesaji. Bagian tengah yang disebut ‘sali‘ berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, tempat menyemayamkan orang mati, dan juga sebagai dapur. Dan bagian selatan disebut ‘sumbung‘, merupakan ruangan untuk kepala keluarga. Rumah adat Toraja memiliki beberapa ornamen ukiran khas Toraja yang terbuat dari tanah liat, biasanya menggunakan empat warna dasar yakni hitam, merah, kuning, serta putih. Bagi suku Toraja, keempat warna itu memiliki makna tersendiri. Warna hitam melambangkan kematian, kuning menjadi simbol anugerah dan kekuasaan Illahi, putih lambang warna daging dan tulang yang berarti suci, sementara merah menjadi simbol warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Sama halnya dengan jumlah tanduk kerbau, jumlah ornamen di dalam Tongkonan juga melambangkan tingkat kemewahan. Desa Sillanan juga menawarkan pemandangan alam yang indah dan agrowisata kopi dan sayur mayur. Sillanan dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum Makale – Mebali. Lalu perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan Mebali -Sillanan, naik ojek atau berjalan kaki. Di sekitar perkampungan ini, terdapat juga pemondokan untuk wisatawan. Sementara enam kilometer dari Sillanan,ada hotel bintang tiga.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...moreTripTrus.Com - Menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan, bukan berarti menghentikan segala aktivitas yang biasa dilakukan seperti traveling. Traveler, tetap bisa berlibur dengan nyaman di bulan puasa ini, dengan menerapkan beberapa tips agar kondisi kesehatan tetap fit juga ibadahTraveler tetap lancar selama berlibur.
Pertahankan kearifan lokal..
A post shared by kholidzaim (@kholidzaim) onMay 26, 2018 at 8:06am PDT
Agar liburan dan ibadah Traveler di Bulan Ramadhan ini berjalan dengan lancar, ada berebarapa tips berlibur saat puasa yang bisa diikuti, antrala lain:
Dimulai dari pada saat sahur, konsumsilah makanan yang memiliki nutrisi dan gizi yang tinggi. Jangan lupa juga untuk mengkonsumsi vitamin, tujuannya untuk menjaga stamina Traveler selama menjalankan ibadah puasa di perjalanan. Jadi, Traveler tetap sehat bugar mengunjungi tempat-tempat wisata yang telah dijadwalkan untuk dikunjungi selama liburan.
Bawa pelengkapan ibadah, tentunya hal ini sangat penting. Agar Traveler bisa tetap lancar beribadah di destinasi tujuan, selalu siapkan dan bawa peralatan ibadah di dalam tas Traveler. Traveler bisa membawa Al-Qur’an berukuran saku dan peralatan shalat (mukenah atau sarung).
Bawa air mineral, fungsinya sebagai penghilang dahaga dan untuk membatalkan puasaTraveler, jika terpaksa berbuka puasa dalam perjalanan menuju destinasi atau tempat wisata.
Pilih kegiatan wisata yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan, misalnya dengan mengunjungi tempat-tempat wisata yang memiliki nilai religi. Traveler juga bisa mengikuti kegiatan Ramadhan yang ada di tempat tujuan wisata. Jadi, Traveler bisa berlibur sambil menambah pengetahuan mengenai Agama Islam.
Jangan pilih kegiatan wisata yang terlalu melelahkan fisik. Karena Traveler dalam keadaan berpuasa, maka pastikan kegiatan yang dilakukan tidak menghabiskan energi dan melelahkan fisik. Hal ini akan membuat Traveler dehidrasi karena kurangnya asupan cairan pada saat berpuasa, dapat berakibat kurang fit nya kondisi tubuh sehingga Travelertidak maksimal dalam menjalankan ibadah puasa atau bahkan bisa membatalkannya.
Jangan lupa bersedekah dan menolong sesama, tujuannya untuk menambah pahala di Bulan suci ini. Selalu bersedekah dan menolong sesama yang membutuhkan yang dijumpai selama perjalanan menuju destinasi.
Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis terlebih dahulu, untuk menggantikan energi yang telah terbuang selama seharian di perjalanan. Beribadah dan beristirahatlah sejenak sebelum Traveler kembali melakukan perjalanan ke tempat wisata selanjutnya.
[Baca juga : 6 Cara Menikmati Libur Lebaran Dengan Efektif]
Terapkan tips berlibur saat puasa di atas, maka liburan dan ibadah Traveler akan senantiasa lancar. Selalu rencanakan perjalanan Traveler dari beberapa saat sebelum hari keberangkatan. (Sumber: Artikel nusatrip.com, Foto vakansinesia.com)
...moreBenteng Fort Rotterdam, atau yang akrab juga disebut dengan Benteng Ujung Pandang, merupakan peninggalan bersejarah dari Kesultanan Gowa yang pernah berjaya pada abad ke-17. Kesultanan ini sebenarnya memiliki 17 buah benteng yang mengitari Makassar, yang menjadi ibukota kesultanan. Tetapi benteng yang paling megah di antara benteng-benteng lainnya adalah Benteng Fort Rotterdam. Hingga saat ini, keaslian benteng masih terpelihara.Lokasi benteng mudah dijangkau karena terletak di dalam kota Makassar, tepatnya berada di depan pelabuhan laut kota Makassar. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Pantai Losari. Dengan gaya arsitektur era 1600-an, benteng ini terlihat mencolok dari bangunan Di sekitarnya sehingga mudah dikenali. Temboknya memiliki ketebalan hampir dua meter, berwarna hitam, dan terlihat kokoh menjulang setinggi hampir lima meter. Pintu utama benteng berukuran kecil. Jika dilihat dari ketinggian, bentuk benteng menyerupai penyu yang sedang menuju pantai.Benteng ini dibangun pada tahun 1545, oleh Raja Gowa X, yaitu Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalanga Ulaweng. Seperti halnya arsitektur benteng yang bergaya Portugis, benteng ini berbentuk segi empat, dan berbahan dasar campuran batu dan tanah liat yang dibakar hingga kering. Pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV, tembok benteng kemudian diganti menjadi batu padas berwarna hitam.Pada masa penjajahan Belanda, sebagian benteng ini pernah porak-poranda akibat pecahnya perang antara armada perang VOC yang dipimpin oleh Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman dengan Kesultanan Gowa sejak tahun 1666. Penyerangan itu sendiri bertujuan untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah dan sekaligus memperluas daerah kekuasaan Belanda. Setelah menggempur Kesultanan Gowa selama setahun lebih, pasukan perang pimpinan Speelman berhasil menang dan memaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.Bagian benteng yang hancur kembali dibangun oleh Gubernur Jenderal Speelman tapi disesuaikan dengan gaya arsitektur Belanda. Benteng yang tadinya berbentuk persegi empat dan memiliki empat bastion, ditambah lagi dengan satu bastion di sebelah barat. Bastion adalah bangunan kokoh yang ditempatkan lebih tinggi di setiap sudut benteng dan di atasnya ditempatkan kanon atau meriam. Nama benteng kemudian diubah menjadi Fort Roterdam, sesuai dengan tempat kelahiran Speelman. Dan saat itu, Benteng Fort Rotterdam difungsikan sebagai pusat perdagangan dan gudang hasil bumi serta rempah-rempah, sekaligus menjadi pusat pemerintahan Belanda di wilayah Timur Nusantara.Tidak perlu membayangkan suasana seram dan angker saat akan mengunjungi benteng tua ini karena tempat bersejarah ini bukanlah tempat yang kosong melompong. Benteng ini digunakan pemerintah setempat sebagai Pusat Kebudayaan Makassar dan difungsikan sebagai perkantoran sehingga membuat lingkungan benteng menjadi bersih, rapi, dan terawat. Selain dapat melihat-lihat benteng secara gratis, pengunjung juga bisa mendatangi Museum La Galigo dan juga melihat ruangan sempit tempat Pangeran Diponegoro ditahan setelah ditangkap Belanda di Jawa.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more