Jun/13
TripTrus.Com - Kalau ngomongin festival budaya paling ikonik di Pulau Dewata, Pesta Kesenian Bali (PKB) jelas masuk daftar teratas. Event tahunan yang udah jadi kebanggaan masyarakat Bali ini bukan cuma sekadar ajang pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi berbagai tradisi, adat, dan warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi. Melalui semangat Nangun Sat Kerthi Loka Bali, PKB hadir sebagai bentuk nyata upaya melestarikan sekaligus mengembangkan kekayaan seni budaya Bali agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
View this post on Instagram
A post shared by Dartha Sii Muggle (@dartha_muggle)
Tahun ini, Pesta Kesenian Bali XLVIII 2026 kembali digelar di Kota Denpasar dan siap menyuguhkan pengalaman budaya yang lebih meriah, kreatif, dan penuh warna. Mengusung tema “Atma Kerthi – Jiwa Sidha Parisudha”, festival ini mengajak masyarakat untuk memuliakan jiwa menuju kesempurnaan melalui seni, budaya, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur Bali. Bukan cuma buat pecinta budaya, acara ini juga cocok banget buat lo yang ingin melihat sisi autentik Bali yang mungkin belum pernah lo temui sebelumnya.
Selama penyelenggaraannya, PKB menjadi panggung bagi beragam ekspresi seni, mulai dari seni klasik, tradisi Bali Aga, hingga karya-karya kontemporer dari para maestro dan seniman muda berbakat. Format acaranya pun super lengkap, mulai dari pawai budaya, parade seni, pergelaran, lomba, pameran, lokakarya, sampai diskusi budaya yang seru dan inspiratif. Nggak heran kalau banyak orang menyebut PKB sebagai “monumen hidup” kebudayaan Bali karena terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.
[Baca juga : "Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI Dan Grebeg Suro 2026"]
Menariknya lagi, festival ini bukan hanya menjadi ruang apresiasi bagi para seniman lokal, tetapi juga jendela budaya bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Di sini, lo bisa melihat langsung berbagai kesenian yang berasal dari desa-desa di seluruh Bali, lengkap dengan karakter dan keunikan masing-masing daerah. Pengalaman ini bikin pengunjung bisa merasakan esensi budaya Bali yang asli, jauh lebih dekat daripada sekadar melihatnya di media sosial atau brosur wisata.
Rangkaian kemeriahan PKB 2026 juga menghadirkan berbagai pertunjukan spektakuler yang sayang banget untuk dilewatkan. Pada 5–7 Juni 2026, masyarakat dapat menikmati beragam pementasan seni tradisional di Panggung Terbuka Garuda Wisnu Singasana dan Areal Taman Bung Karno, mulai pukul 17.00 WITA hingga selesai. Berbagai penampilan seperti Joged, Angklung Kebyar, hingga Gong Kebyar mebarung siap menghidupkan suasana dengan energi dan dinamika khas Bali yang bikin penonton terpukau.
Nggak cuma suguhan seni pertunjukan, area festival juga diramaikan oleh berbagai stand kuliner dan kerajinan khas Bali. Jadi setelah puas menikmati pertunjukan, lo bisa lanjut berburu makanan tradisional, produk UMKM kreatif, hingga karya kerajinan lokal yang unik dan estetik. Cocok banget buat lo yang suka eksplor budaya sambil berburu konten Instagram atau TikTok yang anti-mainstream.
Digelar di Denpasar, Bali, pada 13 Juni hingga 11 Juli 2026, PKB menjadi momentum penting untuk merayakan harmoni antara tradisi dan inovasi. Festival ini membuktikan bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman, melainkan identitas yang terus hidup, berkembang, dan mampu beradaptasi dengan generasi masa kini. Jadi, kalau lo lagi cari pengalaman yang nggak cuma seru tetapi juga penuh makna, PKB 2026 adalah destinasi yang wajib masuk bucket list lo tahun ini. (Sumber Foto @dickyyanuarrm)
...moreJun/09
TripTrus.Com - Kalau lo lagi cari pengalaman wisata budaya yang bukan sekadar buat foto-foto estetik, Tenganan Pegringsingan Culture Festival 2026 wajib masuk daftar agenda lo. Festival yang digelar pada 9–11 Juni 2026 di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali ini menghadirkan pengalaman autentik untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Bali Aga, salah satu komunitas tertua di Bali yang masih mempertahankan tradisi leluhur sejak masa pra-Majapahit.
View this post on Instagram
A post shared by Kain Antik Gringsing Tenganan (@antique_fabrics_gringsing)
Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung diajak menyelami berbagai warisan budaya yang menjadi identitas Desa Tenganan Pegringsingan. Salah satu atraksi yang paling ditunggu tentu saja Perang Pandan (Mekare-kare), tradisi unik yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus persembahan kepada Dewa Indra. Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan bagian penting dari nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Bukan cuma menyaksikan tradisi ikonik, lo juga bisa ikut berbagai kegiatan interaktif yang bikin pengalaman festival terasa lebih dekat dan personal. Melalui Workshop Kain Geringsing, pengunjung berkesempatan mengenal teknik menenun serta proses pewarnaan tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Kain Geringsing sendiri dikenal sebagai salah satu kain tenun paling langka dan memiliki nilai filosofis yang tinggi dalam budaya Bali.
[Baca juga : "Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI Dan Grebeg Suro 2026"]
Bagi lo yang suka eksplorasi sejarah dan cerita lokal, tersedia pula program Storytelling & Heritage Tour. Dalam sesi ini, pengunjung dapat mendengarkan kisah tentang sejarah Desa Tenganan Pegringsingan, memahami makna filosofis di balik Perang Pandan, hingga mengenal proses pembuatan kain Geringsing secara lebih mendalam. Aktivitas ini menjadi cara yang seru untuk belajar budaya tanpa terasa membosankan.
Festival ini juga menjadi wadah untuk memperkenalkan potensi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif Kabupaten Karangasem kepada masyarakat yang lebih luas. Di tengah perkembangan zaman yang serba digital, keberadaan acara seperti Tenganan Pegringsingan Culture Festival menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap bisa relevan, menarik, dan dekat dengan generasi muda. Jadi, kalau lo pengin ngerasain langsung vibes budaya Bali yang autentik, sekaligus menambah wawasan dengan cara yang asyik, festival ini bisa jadi destinasi yang pas buat lo datangi tahun 2026. (Sumber Foto @agusguntur)
...moreJun/06
TripTrus.Com - Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI dan Grebeg Suro 2026 siap kembali menjadi magnet wisata budaya yang bikin Ponorogo makin ramai diserbu wisatawan. Digelar mulai 6 Juni hingga 15 Juni 2026, perayaan akbar ini bukan cuma menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi bukti bahwa tradisi lokal bisa tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Dengan mengusung semangat "Kuno dan Kini", festival ini sukses menggabungkan nilai budaya warisan leluhur dengan sentuhan modern yang dekat dengan generasi muda.
Tahun ini, suasana Grebeg Suro dipastikan lebih meriah dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama berbagai komunitas dan elemen masyarakat telah menyiapkan puluhan agenda menarik yang berlangsung hampir satu bulan penuh. Nggak cuma pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga ada kegiatan keagamaan, olahraga, ekonomi kreatif, hingga berbagai event yang siap menghidupkan suasana Bumi Reog.
View this post on Instagram
A post shared by Gema Azwar Hakiki (@gemaazwr)
Buat lo yang suka eksplor budaya Indonesia, Festival Nasional Reog Ponorogo menjadi momen yang wajib masuk wishlist. Di sini, pengunjung bisa menyaksikan secara langsung atraksi dadak merak yang ikonik, pawai budaya penuh warna, ritual sakral yang sarat makna, hingga kompetisi seni bergengsi yang memperebutkan Piala Presiden. Kehadiran peserta dari berbagai daerah juga membuat persaingan tahun ini semakin seru dan menarik untuk disaksikan.
Salah satu agenda yang paling ditunggu masyarakat adalah Festival Reog Remaja (FRR) XXII. Ajang ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus melestarikan kesenian Reog Ponorogo. Kehadiran para pelajar dan komunitas seni membuktikan bahwa budaya tradisional masih punya tempat spesial di hati anak muda zaman sekarang. Jadi, bukan cuma soal menjaga tradisi, tapi juga bagaimana budaya bisa tampil lebih fresh dan relate dengan generasi masa kini.
[Baca juga : "Ubud Food Festival 2026"]
Menariknya lagi, Grebeg Suro 2026 hadir di momentum yang sangat spesial. Reog Ponorogo kini telah mendapatkan pengakuan internasional sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Selain itu, Ponorogo juga semakin dikenal di tingkat global setelah masuk dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Pencapaian ini menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus membuka peluang besar bagi sektor pariwisata daerah untuk berkembang lebih pesat.
Dampak positif dari perayaan ini nggak hanya dirasakan oleh pelaku seni dan budaya. Ribuan wisatawan yang datang setiap tahun turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Mulai dari sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga pelaku UMKM merasakan manfaat langsung dari tingginya kunjungan selama Grebeg Suro berlangsung. Nggak heran kalau banyak pelaku usaha mulai menyiapkan berbagai produk kreatif dan unik untuk menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.
Sebelum rangkaian utama dimulai, beberapa kegiatan pendahuluan juga telah digelar sebagai pemanasan. Simaan Al-Qur'an Rabu Pahing dan Festival Pencak Silat Jawara Bumi Warok menjadi pembuka yang memperlihatkan kuatnya perpaduan nilai budaya dan spiritual yang menjadi ciri khas masyarakat Ponorogo. Tradisi yang sudah mengakar ini tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari identitas daerah.
Biar makin praktis, panitia juga menerapkan sistem pembelian tiket secara online dan offline. Langkah ini memudahkan pengunjung dalam mendapatkan akses ke berbagai agenda festival tanpa harus ribet antre panjang. Inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk adaptasi penyelenggara terhadap kebutuhan wisatawan modern yang serba cepat dan digital.
Grebeg Suro 2026 bukan sekadar festival tahunan biasa. Event ini merupakan ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, dan semangat generasi muda yang terus menjaga warisan budaya agar tetap hidup. Kalau biasanya lo cuma lihat Reog dari layar ponsel atau media sosial, sekarang saatnya datang langsung ke Ponorogo dan merasakan sendiri atmosfer budaya yang megah, autentik, dan penuh energi positif. Gue yakin, pengalaman ini bakal jadi salah satu momen yang susah dilupakan. (Sumber Foto @aldi_pradana)
...moreMei/28
TripTrus.Com - Ubud bakal kembali jadi surga buat para pecinta kuliner lewat gelaran Ubud Food Festival 2026 yang berlangsung mulai 28 sampai 31 Mei 2026 di kawasan Gianyar, Bali. Festival tahunan ini bukan cuma sekadar acara makan-makan cantik buat isi feed Instagram lo, tapi juga jadi ajang kumpulnya chef ternama, petani lokal, kreator makanan, sampai food enthusiast dari berbagai negara. Selama empat hari penuh, Ubud bakal dipenuhi aroma rempah, suara dapur yang sibuk, dan suasana hangat khas Bali yang bikin siapa pun betah nongkrong dari siang sampai malam.
View this post on Instagram
A post shared by janetdeneefe (@janetdeneefe)
Tahun ini, tema yang diangkat cukup meaningful, yaitu “Farmers: Guardians of Land and Sea.” Jadi spotlight-nya nggak melulu soal chef terkenal atau plating estetik, tapi juga tentang para petani, nelayan, dan pelaku pangan lokal yang selama ini jadi fondasi utama dunia kuliner Indonesia. Di tengah tren sustainability dan gaya hidup mindful yang makin ramai dibahas Gen Z dan milenial, festival ini terasa relate banget. Lo nggak cuma datang buat nyobain makanan enak, tapi juga diajak ngerti perjalanan panjang sebuah hidangan dari laut dan tanah sampai akhirnya tersaji di meja makan.
Area utama festival bakal berpusat di Taman Kuliner Ubud yang terkenal super ramai dan vibrant. Di sini, pengunjung bisa eksplor berbagai tenant makanan artisan, jajanan khas Nusantara, kopi lokal, dessert kekinian, sampai menu tradisional dari berbagai daerah Indonesia. Vibes-nya tuh kayak pasar kuliner premium yang dipadukan dengan nuansa budaya Bali. Cocok buat lo yang hobi kulineran sambil cari pengalaman baru yang lebih autentik dan nggak mainstream.
Selain food market, ada juga sederet acara eksklusif yang wajib masuk wishlist. Mulai dari intimate dinner, chef collaboration, masterclass, cooking demo, sampai sesi Food Talks yang ngobrolin soal budaya makan, fermentasi, bahan pangan lokal, dan masa depan kuliner Indonesia. Banyak event yang konsepnya intimate dan limited seat, jadi biasanya cepet sold out. Makanya kalau lo emang niat datang, better siapin itinerary dari sekarang.
[Baca juga : "Klaten International Cycling Festival 2026"]
Deretan chef yang hadir tahun ini juga nggak main-main. Nama-nama internasional seperti Kate Reid dari Melbourne bakal hadir membawa energi pastry modern khas Lune Croissanterie. Ada juga Ben Devlin yang dikenal dengan konsep coastal cooking berbasis hasil bumi dan laut. Sementara dari Asia Tenggara, chef-chef keren dari Thailand, Malaysia, Filipina, Sri Lanka, sampai Indonesia bakal kolaborasi menciptakan pengalaman makan yang penuh cerita, asap dapur, dan ledakan rasa rempah.
Yang bikin festival ini beda dari event kuliner biasa adalah atmosfernya. Lo bisa duduk santai di bawah langit Ubud sambil menikmati hidangan multi-course, terus beberapa meter dari sana ada demo masak tradisional atau live music yang bikin ambience makin syahdu. Bahkan ada sesi santai seperti makan dumpling sambil main mahjong bareng yang vibes-nya lebih chill dan intimate. Jadi bukan cuma soal makanan mahal atau fancy dinner, tapi soal menikmati momen dan koneksi antarmanusia lewat makanan.
Buat banyak traveler, Ubud Food Festival 2026 jadi alasan tambahan buat balik lagi ke Bali di akhir Mei nanti. Festival ini seperti reminder kalau cerita Bali nggak cuma tentang beach club, sunset, atau villa estetik semata. Ada budaya, rasa, tradisi, dan orang-orang lokal yang menjaga semuanya tetap hidup sampai sekarang. Dan lewat makanan, semua cerita itu terasa lebih dekat, hangat, dan personal.
Kalau lo berencana liburan ke Bali akhir Mei 2026, siap-siap kosongin agenda karena event ini bakal jadi salah satu culinary experience paling seru tahun depan. Untuk informasi lengkap dan pembelian tiket, lo bisa cek langsung di website resmi Ubud Food Festival. (Sumber Foto @aldi_pradana)
...moreMei/23
TripTrus.Com - Surabaya lagi-lagi bikin lo dan gue susah move on dari kemeriahannya lewat event tahunan yang super ikonik, yaitu Surabaya Vaganza. Festival yang udah eksis sejak 2004 ini bukan sekadar parade biasa, tapi ajang pamer kreativitas warga kota yang dikemas dalam bentuk mobil hias penuh bunga, kostum tematik, sampai parade budaya yang vibes-nya dapet banget. Bayangin aja, rutenya panjang lebih dari 2 km, mulai dari Tugu Pahlawan sampai Balai Pemuda, dan sepanjang jalan lo bakal disuguhi visual yang estetik, rame, dan pastinya Instagrammable abis.
View this post on Instagram
A post shared by Love Suroboyo (@lovesuroboyo)
Nah, di tahun 2026 ini, konsepnya makin naik level, nggak cuma soal mobil hias doang. Ada sentuhan modern kayak light show, lampion warna-warni, parade kostum fantasi yang nyentrik, sampai festival kuliner dan UMKM yang bikin perut sama dompet lo ikut bahagia. Gue sih ngerasa event ini tuh kayak paket lengkap—hiburan dapet, budaya dapet, konten juga dapet. Apalagi ditambah pertunjukan musik yang bikin suasana makin hidup, jadi bukan cuma nonton, tapi juga ikut ngerasain euforianya.
[Baca juga : "Semarang Night Carnival 2026"]
Yang bikin makin keren, peserta parade ini nggak main-main. Mulai dari instansi pemerintah, BUMN, BUMD, universitas, sampai perusahaan swasta ikut turun tangan buat nampilin karya terbaik mereka. Ditambah lagi komunitas budaya dari berbagai daerah di Indonesia yang tinggal di Surabaya, jadi nuansanya tuh kaya banget dan beragam. Setiap tahun temanya beda, jadi selalu ada hal baru yang bisa lo eksplor.
Intinya, Surabaya Vaganza bukan cuma festival biasa, tapi juga bentuk nyata gimana sebuah kota ngerayain identitas dan budayanya dengan cara yang seru dan kekinian. Event ini sukses bikin Surabaya makin dilirik, nggak cuma sama wisatawan lokal, tapi juga mancanegara. Jadi, kalau lo lagi nyari alasan buat ke Surabaya tanggal 16 Mei 2026, ini dia jawabannya—dateng, nikmatin, dan siap-siap takjub bareng gue. (Sumber Foto @ideakreasi)
...moreMei/22
TripTrus.Com - Festival Budaya Napak Sire jadi salah satu event budaya yang bukan cuma estetik buat lo upload di feed, tapi juga punya makna dalem yang relate banget sama identitas lokal, khususnya di Kepulauan Bangka Belitung. Digelar sekitar April sampai Juni 2026 di kawasan Tanjung Pendam, festival ini ngebawa vibe tradisi Melayu yang dikemas kekinian, jadi lo nggak bakal ngerasa “kuno banget”, malah seru dan interaktif. Di sini, gue bisa lihat langsung gimana budaya menyirih—yang dulu mungkin kita anggap biasa aja—ternyata punya filosofi kuat tentang penghormatan, persahabatan, dan cara orang zaman dulu membangun relasi sosial.
[Baca juga : "Festival Tidore 2026"]
Nggak cuma sekadar pameran doang, festival ini juga diisi pertunjukan seni, workshop budaya, sampai pengalaman interaktif yang bikin lo makin paham arti “Sekapur Sirih” sebagai simbol penerimaan dan kehangatan.
View this post on Instagram
A post shared by Dewa Made Putra (@dewacuit_)
Tujuan utamanya jelas, biar generasi muda kayak gue dan lo nggak kehilangan jati diri budaya sendiri, sekaligus bikin Bangka Belitung makin dikenal, nggak cuma di Indonesia tapi juga sampai mancanegara. Jadi ya, ini tuh bukan cuma festival biasa—lebih ke ajang buat reconnect sama akar budaya, tapi dengan cara yang santai, fun, dan tetap relevan sama gaya hidup milenial dan Gen Z sekarang. (Sumber Foto indonesia.travel)
...moreMei/22
TripTrus.Com - Klaten lagi nunjukin kelasnya, bro! Lewat gelaran Klaten International Cycling Festival 2026, Kabupaten Klaten sukses jadi spotlight pecinta gowes dari berbagai negara. Event yang digelar pada 22–24 Mei 2026 ini bukan cuma soal adu cepat di atas road bike, tapi juga jadi ajang sport tourism yang vibes-nya dapet banget. Ribuan peserta dari dalam dan luar negeri diajak menikmati rute ikonik yang melintasi kawasan bersejarah Candi Prambanan sampai perbukitan kece khas Jawa Tengah yang view-nya bikin mata fresh sepanjang perjalanan.
View this post on Instagram
A post shared by Mlampah Solo (@mlampahsolo)
Sebelum race dimulai, para delegasi dari 16 negara udah lebih dulu diajak eksplor sisi budaya dan wisata Klaten lewat rangkaian city tour yang super memorable. Bareng Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, mereka jalan santai di area Car Free Day Jalan Pemuda sambil ngerasain atmosfer pagi khas warga lokal yang santai tapi tetap hidup. Dari situ, perjalanan lanjut ke Omah Wayang, tempat para tamu internasional dibuat kagum sama aksi dalang cilik dan alunan gamelan tradisional yang autentik banget.
Nggak berhenti di situ, para delegasi juga diajak lihat langsung proses pembuatan wayang kulit di Desa Sidowarno. Bahkan beberapa tamu asing ikut nyobain mentatah wayang sendiri. Serunya lagi, mereka lanjut mampir ke Desa Melikan, Wedi, buat menyaksikan teknik pembuatan gerabah putaran miring yang disebut-sebut jadi satu-satunya di dunia. Jujur aja, ini bukan sekadar wisata biasa, tapi pengalaman budaya yang bikin lo sadar kalau warisan lokal Indonesia tuh keren parah.
[Baca juga : "Red Bull Cliff Diving World Series 2026"]
Nuansa tradisional makin terasa waktu rombongan mampir ke sentra batik dan tenun lurik khas Klaten. Di Desa Jarum, Bayat, para delegasi belajar mencanting batik langsung dari pengrajin lokal. Sementara di Lurik Prasojo, mereka dibuat terpukau sama proses pembuatan kain lurik menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Detail demi detail benang yang disusun manual bikin banyak peserta kagum karena semuanya dikerjakan penuh ketelatenan dan seni.
Penutup city tour juga nggak kalah gokil. Para tamu internasional diajak healing ke Umbul Ponggok yang terkenal dengan air jernih dari sumber alami. Banyak delegasi ngaku betah dan pengen balik lagi ke Klaten karena keramahan warga, kuliner lokal, seni tradisional, sampai destinasi wisatanya berhasil ninggalin kesan yang dalem banget.
Vice President IVCA, Filip Pauwels, bilang kalau pengalaman di Klaten terasa fresh dan penuh kehangatan. Sementara salah satu delegasi asal Jerman, Buttner, juga ngakui kalau sehari keliling Klaten tuh rasanya nggak cukup. Menurut dia, kota ini punya banyak hal menarik yang bikin siapa aja penasaran buat eksplor lebih jauh lagi.
Lewat Klaten International Cycling Festival 2026, Klaten berhasil ngebuktiin kalau olahraga bisa jadi jembatan buat ngenalin budaya lokal ke dunia internasional. Jadi bukan cuma soal finish di garis akhir, tapi juga tentang gimana sebuah daerah bisa bikin orang jatuh cinta lewat keramahan, tradisi, dan pengalaman yang susah dilupain. (Sumber Foto indonesia.travel)
...moreMei/20
TripTrus.Com - Bali lagi-lagi bikin dunia nengok. Tahun 2026 nanti, Pulau Dewata resmi jadi pembuka ajang ekstrem paling gokil di dunia, yaitu Red Bull Cliff Diving World Series 2026. Event bergengsi ini bakal digelar pada 20–23 Mei 2026 dan jadi momen perdana Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah kompetisi cliff diving kelas dunia. Gak main-main, dua spot ikonik Bali langsung dipilih jadi arena utama, yakni Air Terjun Kroya dan Pantai Kelingking dengan tebing legendaris T-Rex yang vibes-nya emang udah mendunia.
View this post on Instagram
A post shared by SPOTV Indonesia (@spotv.indonesia)
Olahraga cliff diving sendiri dikenal sebagai salah satu extreme sport tertua sekaligus paling brutal soal presisi dan kontrol tubuh. Di kompetisi ini, atlet cowok bakal loncat dari ketinggian 27 meter, sementara atlet cewek dari 21 meter. Bayangin aja, tubuh mereka melesat bebas sampai kecepatan sekitar 85 km/jam sebelum nyemplung ke air dengan teknik super presisi. Salah dikit? Risiko cedera serius udah pasti ngintip. Makanya, olahraga ini bukan cuma soal nekat, tapi juga kombinasi skill, fokus, seni gerakan, sampai mental baja.
Sebanyak 24 atlet elite dunia bakal turun di Bali buat ngerebut poin juara dunia. Nama-nama besar seperti Rhiannan Iffland, Gary Hunt, dan Constantin Popovici dipastikan ikut meramaikan persaingan. Mereka bakal menampilkan gerakan akrobatik ekstrem dengan tingkat kesulitan tinggi yang nantinya dinilai langsung oleh panel juri profesional berdasarkan teknik, form, hingga kualitas entry ke air.
[Baca juga : "Mandar Culture Festival 2026"]
Menariknya lagi, Red Bull Cliff Diving World Series bukan sekadar lomba loncat tebing biasa. Kompetisi ini punya sejarah panjang sejak pertama kali digelar tahun 2009 dan terinspirasi dari tradisi Raja Kahekili di Hawaii pada abad ke-18. Dari situ, event ini berkembang jadi salah satu kalender sport tourism paling prestisius dengan lokasi-lokasi eksotis di berbagai penjuru dunia.
Dipilihnya Bali sebagai seri pembuka jelas jadi sinyal kalau Indonesia makin diperhitungkan di peta sport tourism internasional. Alam Bali yang liar, eksotis, dan estetik dianggap cocok banget buat ngasih pengalaman visual yang epic, baik buat atlet maupun penonton global. Gak heran kalau pemerintah daerah sampai ngeliat event ini sebagai momentum besar buat ngenalin wisata olahraga berbasis alam ke level yang lebih tinggi.
Selain bikin pariwisata Bali makin naik kelas, event ini juga diprediksi ngasih efek ekonomi yang gede buat masyarakat lokal. Mulai dari hotel, transportasi, UMKM, sampai industri kreatif diperkirakan bakal ikut kecipratan cuan dari ramainya wisatawan dan sorotan media internasional. Jadi bukan cuma soal olahraga ekstrem doang, tapi juga tentang gimana Bali terus berkembang jadi destinasi premium yang gak pernah kehilangan cara buat bikin dunia bilang, “Gila sih, ini keren banget.” (Sumber Foto @ruimoreno13)
...moreMei/18
TripTrus.Com - Mandar Culture Festival (MCF) 2026 bakal jadi salah satu event budaya paling pecah di Sulawesi Barat. Mengusung tema “Menjaga Warisan, Merajut Masa Depan”, festival ini bukan cuma soal pertunjukan seni biasa, tapi juga jadi ruang buat ngenalin identitas budaya Mandar ke level yang lebih luas, bahkan internasional. Event keren ini dijadwalkan berlangsung pada 26–30 Mei 2026 di kawasan Sport Center Polewali dan siap menghadirkan vibes tradisional yang dikawinin sama sentuhan modern biar makin relate sama anak muda zaman sekarang.
View this post on Instagram
A post shared by Sastra Trotoar (@sastratrotoar02)
Festival ini digarap serius oleh Yayasan Badara bersama berbagai komunitas dan lintas profesi. Jadi bukan sekadar acara seremonial yang lewat gitu aja, bro. Founder Yayasan Badara sekaligus Project Director MCF 2026, Nurfadilah, bilang kalau konsep festival tahun ini sekitar 80 persen mengangkat budaya asli Mandar, sementara sisanya dikasih sentuhan kontemporer supaya lebih fresh dan kekinian. Menurutnya, budaya Mandar punya potensi besar buat dikenal dunia lewat pendekatan yang lebih kreatif dan dekat dengan generasi sekarang.
Sebelum acara utama dimulai, bakal ada pra-event pada 18–25 Mei 2026 sebagai pemanasan menuju festival utama. Nah, rangkaian acaranya juga nggak main-main. Selama empat hari empat malam, pengunjung bakal disuguhin berbagai pertunjukan seni tari, musik tradisional, teater budaya, tradisi maritim khas Mandar, sampai pemilihan Putra Putri Sutera Mandar. Pokoknya vibes budaya lokalnya dapet banget, tapi tetap dikemas modern biar nggak monoton.
Yang bikin makin menarik, kuliner khas Mandar juga ikut jadi spotlight di festival ini. Ada Bau Peapi, Jepa, dan aneka makanan tradisional lainnya yang bakal dikenalin ke publik sebagai bagian dari promosi budaya. Bahkan Jepa sekarang lagi diusulkan ke UNESCO bersama puluhan makanan tradisional lain yang sedang diproses hak patennya di Kemenkumham. Jadi bukan cuma soal makan enak, tapi juga menjaga identitas budaya lewat rasa dan tradisi kuliner.
[Baca juga : "Surabaya Vaganza Festival Of Lights 2026"]
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Polewali Mandar, A. A Rajab, menyampaikan kalau MCF jadi momentum penting buat kemajuan budaya daerah. Menurut dia, festival seperti ini adalah bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur Mandar yang terus dijaga lewat tradisi seperti Passayang-Sayang dan Sayyang Pattuduq. Festival ini juga dianggap sebagai langkah nyata untuk memastikan budaya lokal tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Kepala Dispoparekraf Sulbar, Bau Akram Dai, menegaskan bahwa persiapan acara harus matang dan detail supaya pelaksanaannya maksimal. Menurutnya, Mandar Culture Festival punya peluang besar jadi wajah promosi pariwisata Sulbar di tingkat nasional karena event ini sudah masuk dalam Karisma Event Nusantara 2026 dari Kementerian Pariwisata RI. Buat pemerintah daerah, festival ini bukan cuma soal hiburan, tapi juga harus mampu ngasih dampak ekonomi nyata buat masyarakat, terutama pelaku UMKM, ekonomi kreatif, dan sektor pariwisata.
MCF 2026 sendiri ditargetkan melibatkan sekitar 300 UMKM lokal. Jadi selain ngenalin budaya, event ini juga diharapkan bisa ningkatin pendapatan masyarakat dan membuka peluang usaha baru. Dari kuliner, kerajinan tangan, fashion sutera Mandar, sampai produk kreatif lokal bakal punya panggung buat tampil dan dikenal lebih luas. Bisa dibilang, festival ini jadi bukti kalau budaya bukan cuma warisan masa lalu, tapi juga modal penting buat masa depan ekonomi daerah.
Lewat Mandar Culture Festival 2026, Polewali Mandar pengin nunjukin kalau menjaga budaya itu nggak harus kaku dan jadul. Justru dengan kolaborasi, kreativitas, dan sentuhan modern, budaya lokal bisa tetap hidup, keren, dan dicintai generasi muda. Jadi kalau lo pengen ngerasain pengalaman budaya yang autentik tapi tetap fun dan relate sama vibe anak sekarang, MCF 2026 wajib banget masuk wishlist lo tahun depan. (Sumber Foto @sanggar_mabello)
...more