TripTrus.Com - Kalau selama ini lo mikir museum itu cuma tempat pajangan benda tua yang bikin ngantuk, fix lo harus buang jauh-jauh anggapan itu. Di Rangkasbitung, ada satu spot yang justru bikin banyak anak muda penasaran karena nyimpen cerita cinta yang nggak kalah sedih dari film-film romantis zaman sekarang.
Namanya Museum Multatuli. Tapi tunggu dulu, daya tarik tempat ini bukan cuma soal bangunan bersejarah atau koleksi lawas. Ada satu kisah yang bikin banyak pengunjung langsung penasaran sejak pertama kali masuk: cerita Saidjah dan Adinda. Buat yang belum tahu, Saidjah dan Adinda adalah dua tokoh legendaris yang kisah cintanya dikenal luas lewat novel Max Havelaar karya Multatuli. Bukan cerita cinta ala happy ending yang penuh bunga-bunga. Justru sebaliknya, hubungan mereka dipenuhi penderitaan, perpisahan, sampai tragedi yang bikin hati nyesek
View this post on Instagram
Menariknya, kisah yang dulu cuma hidup dalam lembaran buku sekarang bisa lo rasain atmosfernya secara langsung di Museum Multatuli. Begitu masuk area museum, lo bakal nemuin berbagai representasi tentang perjalanan hidup masyarakat Lebak pada masa kolonial. Di sinilah cerita Saidjah dan Adinda seolah dihidupkan kembali sebagai simbol penderitaan rakyat kecil yang terjebak dalam sistem penjajahan.
Banyak pengunjung datang awalnya cuma buat foto-foto. Tapi begitu mulai baca cerita dan melihat instalasi yang ada, suasananya langsung berubah. Lo jadi sadar kalau kisah cinta mereka bukan sekadar drama romantis, melainkan gambaran kerasnya kehidupan masyarakat pribumi saat itu.
Yang bikin museum ini beda dari kebanyakan museum lain adalah konsepnya. Museum Multatuli nggak cuma ngomongin sejarah kolonialisme, tapi juga mengajak pengunjung memahami bagaimana ketidakadilan pernah terjadi dan bagaimana perlawanan terhadap kolonialisme tumbuh dari berbagai lapisan masyarakat. Tema besar yang diangkat memang anti-kolonialisme, jadi pengalaman yang lo dapet bukan cuma jalan-jalan, tapi juga refleksi sosial.
[Baca juga : "Senja Paling Gila Di Labuan Bajo: 5 Spot Sunset Yang Bikin Lo Nggak Mau Pulang"]
Di area luar museum, ada monumen interaktif yang menampilkan figur Multatuli, Saidjah, dan Adinda. Spot ini jadi salah satu lokasi favorit pengunjung buat berfoto sekaligus mengenal lebih dekat tokoh-tokoh yang selama ini mungkin cuma mereka dengar dari pelajaran sejarah atau literatur klasik.
Nggak heran kalau Museum Multatuli dan Perpustakaan Saidjah-Adinda sekarang makin sering masuk daftar destinasi wisata edukatif yang wajib dikunjungi saat mampir ke Kabupaten Lebak. Lokasinya strategis, aksesnya gampang, dan yang paling penting, pengalaman yang lo dapet nggak sekadar buat konten media sosial, tapi juga nambah perspektif tentang sejarah yang jarang dibahas dengan cara menarik.
Di tengah tren wisata yang serba estetik dan instagramable, ternyata masih ada tempat yang bisa bikin lo pulang bukan cuma bawa foto, tapi juga cerita. Dan jujur aja, setelah tahu bagaimana akhir perjalanan Saidjah dan Adinda, kemungkinan besar lo bakal lebih menghargai arti perjuangan, cinta, dan kebebasan. Jadi kalau suatu hari lo lagi nyari destinasi yang beda dari sekadar cafe hopping atau staycation, mungkin ini saatnya mampir ke Museum Multatuli. Karena kadang, cerita paling berkesan justru datang dari masa lalu yang hampir terlupakan. (Sumber Foto @mfauzanozn)