shop-triptrus

Belajar Mencintai Alam Di Bumi Perkemahan

Short URL : http://triptr.us/yv

TRIPTRUS - Tidak perlu jauh-jauh ke luar kota apabila ingin menghabiskan akhir pekan tanpa banyak biaya. Salah satu alternatif liburan keluarga yang seru dan mengasyikkan adalah camping atau berkemah. Di Indonesia, ada banyak sekali area yang dijadikan bumi perkemahan. Berikut ini TripTrus akan menampilkan beberapa bumi perkemahan dari seluruh Indonesia.

1. Bumi Perkemahan Seulawah Scout Camp
Jika melewati jalan darat ke Kota Banda Aceh, hampir tidak mungkin tidak melihat gerbang besar Bumi Perkemahan Scout Camp di Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh. Area yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 November 2010 ini mempunyai luas 120 hektar (ha) dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan berkemah dan pramuka. Tapi sayangnya, hampir tiga tahun setelah diresmikan, kini Seulawah Scout Camp terbengkalai akibat kurangnya pendanaan untuk operasional area itu.

2. Bumi Perkemahan Sibolangit
Area perkemahan di Kabupaten Deli Serdang ini adalah tempat dilaksanakannya Jambore Nasional Pramuka ke-2 pada tahun 1977 oleh Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Lokasinya yang berada di kaki Gunung Sibayak ini membuat pemandangan alam yang melatari bumi perkemahan ini jadi salah satu tempat wisata favorit masyarakat Sumatera Utara. Salah satu daya tarik di bumi perkemahan yang jaraknya sekitar 75 km dari Kota Medan ini adalah Air Terjun Dua Warna yang terletak sekitar 3 jam jalan kaki area perkemahan. Dua warna air yang mengalir disebabkan oleh satu aliran yang mengandung belerang (sulfur) dari Gunung Sibayak dan sumber air di hutan yang berwarna biru muda.

3. Bumi Perkemahan Danau Teluk Gelam
Buat yang tinggal di Sumatera Selatan, bumi perkemahan di Ogan Komering Ilir (OKI) ini pasti sudah tidak asing. Area yang menjadi lokasi Jambore Nasional Pramuka pada tahun 2011 ini letaknya tidak jauh dari obyek wisata Danau Teluk Gelam dan memiliki luas 65 ha ditambah area danau seluas kurang lebih 400 ha. Bumi perkemahan ini diresmikan pada tahun 2011 sebelum berlangsungnya Jambore Nasional oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Untuk mencapai Buper Danau Teluk Gelam diperlukan waktu kurang lebih 3 jam untuk durasi perjalanan normal.

4. Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur
Kawasan seluas 210 ha yang terletak di pinggir tol Jagorawi KM 13 ini sudah pasti dikenal oleh hampir seluruh penduduk Jabodetabek. Area yang diresmikan pada tahun 1973 ini beberapa kali dijadikan sebagai lokasi Jambore Nasional Pramuka. Jika ingin berkemah tapi tidak memiliki tenda, di Buperta Cibubur juga tersedia penyewaan berbagai ukuran kemah dan peralatan camping lainnya. Selain itu, di Buperta Cibubur juga terdapat kawasan rekreasi wisata air di Danau Situ Baru dan Sarana Outbound.

5. Bumi Perkemahan Sukamantri
Sekitar 10 km dari pusat Kota Bogor, terdapat aeral hutan seluas 5 hektar yang dijadikan bumi perkemahan. Awalnya, kawasan ini adalah milik Perum Perhutani, yang sejak tahun 1980-an dibuka untuk jadi kawasan wisata berkemah. Kawasan dengan ketinggian rata-rata 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini memiliki kontur bukit yang bergelombang dan kawasan hutan yang asri. Sukamantri juga dikenal oleh para penggemar olahraga bersepeda sebagai salah satu jalur favorit untuk memacu sepeda gunung mereka, mengingat jalurnya yang tidak terlalu sulit untuk dilalui tetapi cukup menantang. Area perkemahan yang terletak di Kecamatan Ciapus ini mampu menampung sampai sekitar 30 tenda dan saat malam hari menampilkan pemandangan indah kelap-kelip lampu di Kota Bogor.

6. Bumi Perkemahan Letjen (Purn) DR. (HC) Mashudi
Kabupaten Sumedang, Jawa Barat tidak cuma ngetop dengan jajanan tahu saja. Di Kecamatan Sukasari, terdapat sebuah kawasan perkemahan yang baru diresmikan pada 12 Juni 2013. Bumi perkemahan yang juga dikenal dengan nama Kiarapayung ini mengambil nama dari salah satu tokoh Pramuka di Jawa Barat, Letjen (Purn) Dr. (HC) Mashudi, Kepala Kwartir Nasional Pramuka pada tahun 1978 sampai 1993. Area seluas 66 ha itu berada tidak jauh dari kawasan Jatinangor dan memiliki area perkemahan yang mampu menampung ratusan kemah dan dilengkapi dengan fasilitas umum yang cukup memadai serta berbagai fasilitas pendukung kegiatan petualangan seperti jalur bersepeda dan kegiatan outbound.

7. Bumi Perkemahan Mandalawangi
Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, terdapat sebuah kawasan perkemahan bernama Mandalawangi di daerah Cibodas, Jawa Barat. Bumi perkemahan yang bersebelahan dengan Kebun Raya Cibodas ini memiliki fasilitas yang lengkap untuk berkemah bersama teman atau keluarga. Selain area perkemahan, di Mandalawangi juga terdapat danau, air terjun buatan, kolam renang alam dan berbagai fasilitas untuk kegiatan para pekemah. Dan tentunya, pemandangan indah Gunung Gede dan Gunung Pangrango akan membuat pengalaman berkemah jadi lebih mengesankan. Kalau ingin kegiatan yang lebih menantang, dari Mandalawangi cuma perlu trekking sekitar 1-2 jam untuk mencapai Air Terjun Cibereum. Area seluas 39,5 ha ini sebenarnya adalah hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani dan dikembangkan menjadi bumi perkemahan. Dengan ketinggian 1100 mdpl bisa dibayangkan sejuknya berkemah di Mandalawangi.

8. Bumi Perkemahan Cikole
Tidak jauh dari Gunung Tangkuban Perahu, Bandung, ada satu bumi perkemahan yang cukup populer sebagai tempat wisata alam untuk keluarga. Dengan jarak yang hanya 30 kilometer dari Kota Bandung, bumi perkemahan yang dikelola oleh Perum Perhutani ini memiliki luas 10 ha dan memiliki beberapa kompleks perkemahan yang masing-masing mampu menampung 50 kemah. Awalnya, daerah ini merupakan hutan produksi pinus, maka tidak heran jika pohon pinus tersebar di seluruh area bumi perkemahan Cikole. Selain pinus, di sini juga dapat ditemui pohon aghatis dan kaliandra. Selain menyediakan penyewaan perlengkapan berkemah, di Cikole juga terdapat fasilitas outbound, jogging track, dan banyak fasilitas lainnya. Area perkemahan pun tidak jauh dari tempat parkir kendaraan sehingga tidak perlu berjalan jauh setelah sampai di bumi perkemahan yang berada di ketinggian 1300 mdpl ini.

9. Bumi Perkemahan Blahkiuh
Suasana indah Pulau Dewata tidak hanya pantai saja, di Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, sekitar 19 km dari Kota Denpasar ada sebuah area perkemahan unik. Bumi Perkemahan Blahkiuh dahulu merupakan tempat peristirahatan bagi keluarga kerajaan Mengwi. Maka itu tidak heran jika di tengah area ini ada sebuah kolam dan pancuran pemandian kuno. Suasana yang tenang, udara yang segar serta sejuk, ditambah lokasinya yang dekat dengan obyek wisata Taman Ayun dan Sangeh, membuat Blahkiuh jadi tujuan alternatif di Bali. Di sini juga terdapat sumber air alam yang airnya mengalir ke pancuran pemandian kuno dengan ukiran khas Bali.

10. Wana Wisata Baturraden
Hawa sejuk dari Gunung Slamet, gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa, langsung terasa dalam perjalanan menuju kawasan wisata yang berada di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ini. Dari ketinggian 670 mdpl, pengunjung dapat melihat pemandangan Kota Purwokerto, Pulau Nusa Kambangan, dan pantai di Cilacap yang terlihat di kejauhan. Wana Wisata ini juga menyediakan area perkemahan yang berjarak 2 kilometer
dari kawasan wisata Baturaden. Bagi keluarga yang berwisata ke Baturaden juga dapat mengunjungi Taman Britanin yang mengoleksi banyak tanaman langka. Di tahun 2001, Wana Wisata Baturaden menjadi tempat pelaksanaan Jambore Nasional Pramuka ke-7. Di Baturaden juga terdapat
beberapa air terjun seperti Pancuran Pitu dan Pancuran Telu yang airnya mengandung belerang dan kabarnya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Di bulan November nanti, tepatnya tanggal 8-10 November, para petualang dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Baturaden untuk mengikuti Festival Petualang Nusantara #3. Untuk bergabung dengan event ini, kamu juga bisa mendaftarkan diri di TripTrus.

   

Other Article

Wisata Religi di Lasem, Ini Tiga Kelenteng Tua yang Bisa Dikunjungi

TripTrus.Com - Lasem, sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah penuh dengan jejak peninggalan budaya China. Hingga kini, peninggalan seperti rumah berciri khas China Hindia bisa dengan mudah diliihat di Desa Karangturi. Arsitektur ala selatan Tiongkok bisa ditemukan pada bangunan yang masih kokoh berdiri. Tak hanya itu, tempat-tempat ibadah seperti kelenteng juga meramaikan kota mungil berjuluk "China Kecil" itu. Sumber: Foto klikhotel.com Ada tiga kelenteng tua yang bisa dikunjungi di Lasem. Ada Kelenteng Cu Ang Kiong, Kelenteng Poo An Bio, dan Kelenteng Gie Yong Bio. Masing-masing terletak di desa berbeda. KompasTravel beberapa waktu lalu sempat mengunjungi tiga kelenteng di Lasem itu. Berikut ulasan singkat tentang ketiganya. 1. Klenteng Cu Ang Kiong Kelenteng Cu Ang Kiong berada di Desa Dasun, Lasem. Dari Jalan Raya Lasem, Kelenteng Cu Ang Kiong terletak sekitar 100 meter.  Dari halaman kelenteng terlihat ukiran-ukiran aksara China, dua buah naga di bagian gerbang, atap bangunan ekor walet. Sebuah tiang besi mirip tiang dek kapal yang masih berdiri menjulang di halaman kelenteng. Tiang dengan bendera kecil segitiga itu menjadi penanda dewa yang berhubungan dengan laut, yaitu Dewi Ma Zu (sering disebut Mak Co), atau dalam bahasa Hokkian dikenal sebagai Thian Siang Sing Bo yang berarti Sang Dewi Samudra atau Dewi Laut asal Fujian. Di dalam kelenteng, terdapat altar utama penyembahan Dewi Mak Co. Di dekat Mak Co, ada juga patung dari Fude Zhengshen (Dewa Bumi dan Kekayaan) dan Jialan Ye. Di dalam kelenteng juga terdapat batu-batu prasasti dan papan bertulis dalam bentuk melintang dan membujur. Di samping kiri dan kanan bagian dalam bangunan kelenteng terdapat beberapa mural. 2. Kelenteng Gie Yong Bio  Kelenteng lainnya di Lasem adalah Gie Yong Bio. Kelenteng ini terletak di Jalan Babagan No 7, Desa Babagan, Kecamatan Lasem. Kelenteng ini terletak di sebelah kanan jalan. Jika dibandingkan dengan Kelenteng Cu Ang Kiong, Kelenteng Gie Yong Bio berukuran lebih kecil. Di Kelenteng Gie Yong Bio terdapat altar yang berisi patung Fude Zhengshen dan Confusius. Klenteng ini juga memiliki arsitektur berlanggam Fujian, China Selatan. Atap bangunan kelenteng Gie Yong Bio berbentuk ekor walet. Dari luar, kelenteng Gie Yong Bio punya gerbang pintu masuk yang berukirkan aksara China. Kelenteng Gie Yong Bio juga memiliki mural seperti di Kelenteng Cu Ang Kiong. Mural-mural tua itu masih bisa terlihat dengan cukup jelas. 3. Kelenteng Poo An Bio Kelenteng Poo An Bio terletak di Jalan Karangturi VII/13, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem. Kelenteng Poo An Bio ini disebut-sebut tertua di Lasem meski tak ada bukti-bukti tertulis terkait pembangunannya. Kelenteng ini disebut sebagai persembahan kepada Kwee Sing On (Guo Shen Wang). Kwee Sing Ong adalah dewa yang kelenteng aslinya berada di Desa Baijiao, Kabupaten Zhangzhou, Provinsi Fujian, China Selatan. Di bagian luar kelenteng, ada gerbang yang bertuliskan aksara China. Sementara di bagian dalam kelenteng, ada juga altar tempat patung penyembahan dan mural-mural seperti di dua kelenteng lainnya. (Sumber: Artikel-Foto travel.kompas.com)...
more.

Mengungkap Daya Tarik Wisata di Lasem yang Caem

TripTrus.Com - Talk show tentang wisata di kawasan Pecinan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, ternyata menarik perhatian pengunjung Astindo Fair 2017. Tentu saja, itu di luar potongan harga yang menjadi daya tarik utama travel fair tersebut. Apa yang istimewa dari wisata Lasem ini? Reporter dan fotografer Kompas.com, Wahyu Adityo Prodjo dan Garry, menceritakannya dengan gamblang caemnya (keindahan) Lasem pada talk show ini. "Kalau di Jakarta ada kawasan Pecinan Glodok, kalau di Rembang ada kawasan Pecinan Lasem. Lasem ini lebih luas dari segi wilayah dan budaya Tionghoa-nya daripada Pecinan Glodok," kata Wahyu memberi kata pembuka pada talk show yang diadakan di main stage JCC, Jumat (24/3/17). Sumber: Foto latitudes.nu Menurut Wahyu, banyak atraksi dan destinasi yang bisa dikunjungi di sana. Misalnya, wisata sejarah, wisata kuliner, hingga wisata religi misalnya klenteng Konfusianisme atau Konghucu dan Masjid Jami Lasem. "Arsitektur bangunan di sana masih banyak yang bergaya Tiongkok Selatan dan Tiongkok - Hindia. Kelenteng di Lasem juga berbeda dengan arsitektur bangunan klenteng di Glodok dan Cirebon, di Lasem tembok-temboknya lebih ramai dengan mural yang mengandung cerita masa lalu," ujar Wahyu. Bangunan klasik bergaya Tiongkok Selatan ini sangat unik dan bahkan instagramable untuk dijadikan latar foto. "Kalau yang suka fotografi, Lasem memberikan ruang bagi Anda untuk berkreasi dengan berbagai latar bangunan sejarah ataupun warga lokal di sana. Di Lasem, bangunan pos kamling pun terlihat 'wah' dengan arsitektur khas Tionghoa-nya," ujar Garry, seraya menujukkan hasil jepretannya di layar. "Patut diingat, kalau mau mengambil gambar biasakan izin terlebih dahulu kepada penjaga atau pemilik bangunan/kuil, karena ada salah satu bagian yang tidak boleh diambil gambarnya," saran dia. Lalu bagaimana mengenai transportasi, akomodasi dan kuliner di sana? "Lasem bisa dijangkau dari Semarang menggunakan bus. Jadi yang ingin ke Lasem, bisa melalui Semarang. Semarang bisa dilalui oleh pesawat terbang, bus dan kereta api dari kota-kota lainnya di Indonesia," ujar Wahyu. Lasem juga kaya dengan wisata kulinernya. Ada lontong tuyuhan sebagai makanan yang wajib dicoba. Dipadu dengan ayam kampung yang diolah rempah yang kaya, lontong tuyuhan bisa dinikmati dengan harga hanya Rp 10.000. "Coba juga durian khas Lasem yang rasanya manis-pahit. Harganya juga murah," kata dia Wahyu. Untuk akomodasi di Lasem, ungkap Wahyu, harga per harinya relatif terjangkau. Ada penginapan dengan biaya Rp 390.000, ada juga penginapan ala backpacker dengan biaya hanya Rp 50.000 per malamnya. Menurut dia, waktu terbaik untuk mengunjungi Lasem sebenarnya ketika perayaan Cap Go Meh. Namun, karena perayaan Cap Go Meh diadakan pada awal tahun, biasanya wisatawan yang berkunjung akan sedikit direpoti oleh hujan. "Dengan bujet Rp 500.000 sebenarnya sudah bisa kita berpetualang di Lasem selama 3 hari 2 malam. Harga tersebut sudah termasuk akomodasi, transportasi, wisata kuliner, bahkan untuk beli oleh-oleh," kata Wahyu lagi. "Untuk oleh-oleh, Anda bisa membeli batik tulis khas Lasem yang mempunyai corak dan pola yang unik," ujarnya. (Sumber: Artikel-Foto travel.kompas.com)...
more.

Gombong, Kota Pusaka Yang Terlupakan!

TripTrus.Com - Gombong merupakan sebuah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Kebumen. Dalam tata ruang dan kota, Gombong masuk dalam kawasan perkotaan karena sebagian besar penghidupan masyarakatnya dari sumber-sumber sekunder (usaha dan jasa). Dalam sejarahnya, memang Gombong dikenal sebagai pusat perdagangan. Berdasarkan catatan keluarga Liem Siauw Lam, sejak tahun 1830an di wilayah Gombong sudah terbentuk komunitas Tionghoa. Selain itu juga ada komunitas saudagar dari para Bangsawan Kalang. Kedua elemen kelompok ini membentuk karakter Gombong yang kental dengan suasana perniagaan. Dalam segi budaya, Gombong merupakan tempat berbagai unsur budaya bersatupadu. Pertama unsur budaya Banyumasan yang berpadu dengan budaya Yogyakarta, kedua unsur Tionghoa dan ketiga unsur-unsur asli dari Gombong. Semua hal tersebut menjadikan Gombong sebuah daerah yang unik, khas dan memiliki berbagai potensi menarik untuk dijelajahi. Berikut ini beberapa destinasi yang wajib kamu kunjungi ketika di Gombong: 1. Benteng Van Der Wijck (Sumber: telusurindonesia.com) Benteng yang terletak di Desa Sidayu, Kecamatan Gombong merupakan benteng peninggalan kolonial Belanda pada abad 19 yang berbentuk hexagonal. Jika diperhatikan dari bentuk bangunannya, benteng ini lebih difungsikan sebagai pos logistik daripada sebuah benteng pertahanan. Dalam perjalanan waktu, benteng ini sempat menjadi sekolah anak-anak Euroasia, interniran tawanan perang dan markas beberapa kesatuan militer. Masih banyak fakta sejarah tentang Benteng Van Der Wijck yang belum terungkap, termasuk tahun pendiriannya yang masih menimbulkan polemik, namun terlepas dari itu benteng ini merupakan aset pusaka budaya penting yang dimiliki oleh Gombong dan wajib dijaga kelestariannya. 2. Waduk Sempor (Sumber: tripadvisor.com) Berlokasi hanya 7km dari sebelah utara Kecamatan Gombong, waduk ini merupakan bendungan serbaguna yang mendukung aktifitas sungai Cincingguling atau yang lebih dikenal sungai Sempor, yang mengalir dari utara di kaki Gunung Serayu Selatan. Air dari Waduk Sempor banyak digunakan untuk irigasi pertanian penduduk dan juga pembangkit listrik tenaga air. Dengan potensi pemandangan yang bagus dan suasana yang tenang, maka Waduk Sempor dijadikan destinasi wisata baik bagi masyarakat lokal ataupun luar daerah. Pada tahun 1967, pernah terjadi tragedi memilukan, di mana Waduk Sempor jebol dan memakan korban hingga 127 jiwa dan nama-nama para korban lantas diabadikan dalam monumen Sempor. 3. Legenda Rokok Klembek Menyan (Sumber: iqbalkautsar.com) Gombong sebagai sebuah kota perdagangan pada masanya, memiliki beberapa komoditi unggulan. Salah satunya tembakau yang diolah menjadi rokok siong di berbagai industri pabrik kecil ataupun rumahan. Yang menjadi ciri khas dari rokok siong Gombong adalah campuran klembak dan kemenyan. Hal tersebut membuat rokok siong Gombong memiliki aroma khas yang sangat kuat, bahkan kerapkali dihubung-hubungkan dengan aura mistis. Masa kejayaan rokok klembak menyan berlangsung dari tahun 40 hingga 60an, dan secara perlahan tergusur oleh rokok kretek yang datang dari luar daerah. Pada era kejayaan rokok klembek menyan bermunculan berbagai merk rokok klembek menyan yang terkenal, diantaranya: Togog, Sinden, Bangjo dan Sintren. Pada saat ini kejayaan rokok klembek menyan telah berlalu, yang tersisa hanya rokok bermerk Sintren. Masih diproduksi di pabrik berperalatan kuno dan dikerjakan oleh pekerja yang berusia lansia. 4. Gedung Cung Hwa Tsung Hwi (Sumber: @kebumenmuda) Sejak awal abad 19 pendatang Tionghoa diperkirakan sudah ada di Gombong. Ketika pendatang Tionghoa mulai banyak, mereka membentuk perkumpulan yang bernama Cung Hwa Tsung Hwi. Atsa dasar itu dibangunlah gedung perkumpulan yang berlokasi di kawasan pecinan Gombong yaitu di Jalan Sempor Lama. Sempat dijadikan sebuah sekolah Tionghoa pada tahun 40 hingga 60an. Meskipun fisik gedung ini banyak mengalami perubahan, masih banyak kisah menarik yang terkandung di dalamnya. Gedung ini merupakan saksi sejarah dinamika Tionghoa di tanah Gombong. Presiden Soekarno sempat mengeluarkan PP 10 tahun 1950 tentang pengaturan domisili etnis Tionghoa di Indonesia, gedung ini sempat dijadikan tempat penampungan. Saat ini gedung ini berfungsi sebagai sekertariat Yayasan AGH yang memberikan pelayanan kematian bagi masyarakat Tionghoa di Gombong. Di gedung tersebut juga kita bisa belajar aspek budaya Tionghoa dalam kematian dan proses pemakaman. Bahkan kita masih bisa melihat “peti kembang cengkeh” yang berharga mahal. 5. Roemah Martha Tilaar (Sumber: tribunnews.com) Inisiatif membangun Roemah Martha Tilaar ini dimulai berawal dari keinginan Ibu Martha Tilaar untuk memberikan kontribusi bagi Kota kelahirannya Gombong. Beralamat di Jalan Sempor Lama no. 28, Roemah Martha Tilaar menempatkan museum sebagai konteks dan aktivitas sebagai konten dan berinformasi tentang perjalanan hidup Ibu Martha Tilaar saat di Gombong. Roemah Martha Tilaar Gombong diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1920-an. Merupakan rumah keluarga Liem yang dikenal sebagai keluarga Tionghoa kaya pada waktu itu. Liem Siaw Lan kepala keluarga Liem merupakan seorang pengusaha dan mempunyai bisnis yang beragam, salah satunya adalah mengelola peternakan yang mensupply daging dan susu ke tangsi Belanda Van Der Wijk. Pada masa revolusi Indonesia rumah keluarga Liem digunakan sebagai dapur umum dan tempat perawatan tentara Indonesia yang terluka akibat pertempuran dengan tentara NICA. (Sumber: Artikel-Foto Amieykha)...
more.

Comment

ButikTrip.com
×

...