shop-triptrus

Festival Bau Nyale 2020


When
: 09 - 15 Feb 2020
Location
: Pantai Tanjung Aan, Pujut, Lombok Tengah, NTB
Short URL
: http://triptr.us/mib9

TripTrus.Com-  Jika Sobat Pesona ada rencana berpelesir ke Lombok pada Februari ini, cobalah mampir ke gelaran acara Festival Pesona Bau Nyale 2020 yang digelar pada 9-15 Februari 2020. Ada 7 konten unik dan menarik yang digelar sepanjang event. Festival Pesona Bau Nyale 2020 dipusatkan di Pantai Tanjung Aan, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Apa itu Bau Nyale? Bau Nyale sendiri merupakan ritual tahunan menangkap Cacing Laut, yang menurut mitos adalah jelmaan Putri Mandalika. Konon, cacing laut (nyale) yang ditangkap saat Festival Pesona Bau Nyale merupakan jelmaan Putri Mandalika. Menurut legenda yang beredar di Pulau Lombok, Putri Mandalika memiliki paras cantik rupawan. Sehingga pangeran di kerajaan-kerjaan Lombok berlomba mendapatkannya, salah satunya dengan saling berperang.

[Baca juga : "Festival Pulau Penyengat 2020"]

Namun, sang putri tidak ingin terjadi pertumpahan darah akibat memperebutkan dirinya. Maka, Putri Mandalika pun menerima semua lamaran dari para pangeran dari seluruh kerajaan. Hal ini justru membuat semua bingung, tak lama setelah memberitahu hal tersebut, Putri Mandalika menyeburkan diri ke laut dan hilang menjadi buih di lautan. Tak lama, muncul banyak binatang berupa cacing laut kecil berukuran panjang (nyale). Warga pun menganggap bahwa hewan kecil itulah penjelmaan dari rambut panjang sang putri yang mengorbankan diri demi persatuan rakyat.

Untuk puncak Festival Pesona Bau Nyale 2020 akan digelar pada 14-15 Februari. Penetapan tata waktunya diatur melalui Sangkep Warige, Sabtu (11/1). Namun sebelum turun berpesta menangkap Cacing Laut, para wisatawan bisa menikmati kemeriahan panggung musik yang akan diramaikan oleh musisi dan band terkenal, mulai dari Slank, Iwan Fals, hingga Noah.

Menguatkan kemeriahan pestanya, Peresean pun digelar memanjang 9-13 Februari 2020. Peresean jadi warna budaya otentik. Upacara tarian kuno masyarakat Suku Sasak ini menghadirkan pertarungan 2 lelaki. Dengan senjata berupa tongkat rotan dan perisai kulit kerbau. Peresean menjadi representasi pertarungan para pangeran di Lombok yang memperebutkan Putri Mandalika.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Denkerdeck Management (@arifdenkerdeck) onFeb 25, 2019 at 5:06pm PST

Panggung kreativitas lainnya di Festival Pesona Bau Nyale 2020 adalah Mandalika Photo Contest. Dihelat 9-15 Februari 2020, lomba pun mengharuskan pesertanya memproduksi konten foto terbaik di sepanjang event. Foto terbaik akan menjadi pemenang dan diumumkan dalam Malam Puncak Festival Pesona Bau Nyale 2020, 14-15 Februari. Konten tersebut juga diisi beragam ritual dan kesenian daerah.

Dialog Kreatif juga digelar di acara ini pada Rabu (12/2). Tema besarnya adalah ‘Creative Tourism and Culture Dialogue’, dengan venue di Kawasan Mandalika. Dialog ini terbuka bagi umum, termasuk para milenial. Program Dialog Kreatif nantinya juga menyajikan Pameran Industri Kreatif dan Tenun Fashion.

Di gelaran besar  Pemilihan Putri Mandalika. Pemilihan Putri Mandalika jadi daya tarik sendiri bagi kaum milenial. Sebab, program ini diikuti oleh ratusan putri-putri se-Pulau Lombok. Nantinya figur yang terpilih akan mewakili Nusa Tenggara Barat dalam kegiatan bertaraf Internasional. Usai Rabu (12/2), putri terpilih pun dinobatkan melalui prosesi khusus dalam Malam Puncak Festival Pesona Bau Nyale 2020.

Rangkaian festival semakin menarik dengan Mandalika Fashion Carnival, yang akan digelar pada Kamis (13/2). Program ini jadi momentum terbaik bagi desainer untuk unjuk skill. Selain karya kreatif otentik melalui busana, mereka juga menampilkan koreografi terbaik plus kekompakan. Rencananya Mandalika Fashion Carnival diikuti oleh sekolah-sekolah se-Lombok Tengah.

Rangkaian kemeriahan festival lalu semakin dikuatkan dengan Kampoeng Kuliner dan Mountain Bike. Kampoeng Kuliner akan menyajikan beragam makanan khas Lombok. Kulinernya bisa langsung dinikmati di venue festival, dari Ayam Taliwang, Nasi Balap Puyung, Bebalung, Sate Bulayak, Sate Rembiga, Plencing Kangkung, Beberuk Terong, hingga Sate Tanjung. (Sumber: Artikel pesona.travel Foto destinasidigital.com)

   

Other Event

Apr/29 | Seba Baduy 2020

TripTrus.Com - Sebuah tradisi masa lalu di Banten, akan kembali dihadirkan dalam Seba Baduy 2020, 29 April - 6 Mei 2020. Tradisi ini adalah aktivitas saat masyarakat Baduy melakukan long march pusat pemerintahan Banten. Mereka datang membawa beragam hasil bumi yang mereka dapat selama setahun. Kegiatan ini sudah berlangsung ratusan tahun. Suku Baduy terbagi dua, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Warga Baduy Luar atau Baduy Pendamping bisa ditandai dari pakaian hitam dengan ikat kepala biru. Sedangkan warga Baduy Dalam atau Urang Jero memakai busana dan ikat kepala putih. Urang Jero bisa dijumpai di Kampung Cibio, Cikawartana, dan Cikeusik. Dalam Seba Baduy, Urang Kanekes-sebutan masyarakat Baduy- membawa beragam komoditas hasil bumi. Seperti padi, gula aren, pisang, sayuran, dan palawija. Selama ini, Urang Kanekes memang mengembangkan bercocok tanam secara tradisional. [Baca juga : "Bali Spirit Festival 2020"] “Seba Baduy memang menarik. Ini adalah budaya yang sangat tua dan tetap lestari hingga saat ini. Seba sendiri berarti seserahan. Produk yang diserahkan beragam hasil bumi. Seba Baduy pun menjadi ungkapan rasa syukur. Ritual ini juga jadi media komunikasi dengan pemerintah,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati dalam siaran persnya. Rangkaian panjang harus dilakukan masyarakat Baduy dalam tradisi ini. Sebelum Seba digulirkan, Urang Kanekes menjalankan ritual Kawalu selama 3 bulan penuh. Yaitu rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi Urang Kanekes. Selama proses Kawalu, seluruh kawasan Baduy akan tertutup bagi masyarakat umum. Ritual Kawalu sendiri terbagi dalam 3 sesi. Nuansa religi pun semakin kental dalam ritual Kawalu ke-3. Saat itu, Urang Kanekes melakukan puasa. Ritual berbukanya pun unik, yaitu memakan daun sirih dan gambir. Kewajiban puasa berlaku bagi warga Baduy dengan usia di atas 15 tahun. Berakhirnya ritual Kawalu ditandai dengan Ngalaksa. Ritual Ngalaksa ini merupakan aktivitas saling berkunjung Urang Kanekes. Mereka pun bersilaturahmi dengan kerabat dan tetangga sembari membawa hasil bumi.       View this post on Instagram A post shared by 𝓑π“ͺ𝓽𝓷π“ͺ𝓀𝓽π“ͺπ“Άπ“²πŸŒΉ (@ratamdup30) onMay 5, 2019 at 10:00pm PDT Berikutnya, dilakukan dialog budaya antara Urang Jero dan Baduy Pendamping dengan para panggede atau pemerintah. Inti dialognya, menjaga kelestarian alam. “Tradisi Seba Baduy even besar. Selalu menarik perhatian publik. Wajar bila Seba Baduy selalu banjir wisatawan. Mereka tertarik karena masyarakat Baduy tetap memegang tradisi, meski modernisasi dunia berkembang pesat,” terang Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelengggara Kegiatan (Event) Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Rizki Handayani. Hidup sesuai tradisi, Urang Kanekes memang masih memegang teguh ajaran leluhurnya. Sebab, Baduy memiliki Hukum Adat Leluhur. Inti peraturannya, ‘Gunung Tak Diperkenankan Dilebur, Lembah Tak Diperkenankan Dirusak’. Berikutnya, ‘Larangan Tak Boleh Diubah’ dan ‘Panjang Tak Boleh Dipotong’ lalu ‘Pendek Tak Boleh Disambung’. Penutupnya, ‘Yang Bukan Ditolak Yang Jangan Harus Dilarang’. Dan, ‘Yang Benar Haruslah Dibenarkan’. “Dengan menganut hukum adat, keseimbangan hidup manusia dan alam akan terus terpelihara di sana. Akan ada banyak manfaat positif yang mengalir. Serupa event Seba Baduy yang maksimal menggerakan perekonomian masyarakat. Kesejahteraan ini pun akan terus dinikmati oleh masyarakat di sana sampai kapanpun,” tutup Rizki. (Sumber: Artikel galamedianews.com Foto derapfakta.com)...
more.

Comment

ButikTrip.com
remen-vintagephotography
×

...