shop-triptrus

Bangka Culture Wave 2020


When
: 24 Mar - 04 Apr 2020
Location
: Sungailiat, Bangka Belitung
Short URL
: http://triptr.us/mi29

TripTrus.Com - Festival Bangka Culture Wave ini mengusung performance yang interaktif dan edukatif, mengundang masyarakat umum untuk dapat berinteraksi dan belajar langsung dengan kesenian yang dipertunjukkan.

[Baca juga : "Seba Baduy 2020"]

Event Bangka Culture Wave ini dikenal dengan event antar etnic dan culture, mengajar masyarakat untuk lebih mengenal culture literacy.

Di event tersebut kita juga mengenalkan kuliner khas Bangka dengan menggelar bazzar makanan tradisional dan pasar murah.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Genwi Tiongkok (@genwitiongkok) onMay 8, 2019 at 4:57am PDT

Bangka Culture Wave adalah Festival Multievent yang berlangsung selama sepekan di pantai tongaci sungailiat Bangka. Sebagaimana dicerminkan dari namanya, Bangka Culture Wave menampilkan gelombang budaya multi etnis, yang menghampiri dan membentuk keunikan pulau bangka selama berabad-abad, mulai dari Melayu, Cina, Belanda, Jawa, Arab dan berbagai Ragam Suku Bangsa di Indonesia. (Sumber: Artikel travelclub.co.id Foto voinews.id)

   

Other Event

Apr/29 | Seba Baduy 2020

TripTrus.Com - Sebuah tradisi masa lalu di Banten, akan kembali dihadirkan dalam Seba Baduy 2020, 29 April - 6 Mei 2020. Tradisi ini adalah aktivitas saat masyarakat Baduy melakukan long march pusat pemerintahan Banten. Mereka datang membawa beragam hasil bumi yang mereka dapat selama setahun. Kegiatan ini sudah berlangsung ratusan tahun. Suku Baduy terbagi dua, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Warga Baduy Luar atau Baduy Pendamping bisa ditandai dari pakaian hitam dengan ikat kepala biru. Sedangkan warga Baduy Dalam atau Urang Jero memakai busana dan ikat kepala putih. Urang Jero bisa dijumpai di Kampung Cibio, Cikawartana, dan Cikeusik. Dalam Seba Baduy, Urang Kanekes-sebutan masyarakat Baduy- membawa beragam komoditas hasil bumi. Seperti padi, gula aren, pisang, sayuran, dan palawija. Selama ini, Urang Kanekes memang mengembangkan bercocok tanam secara tradisional. [Baca juga : "Bali Spirit Festival 2020"] “Seba Baduy memang menarik. Ini adalah budaya yang sangat tua dan tetap lestari hingga saat ini. Seba sendiri berarti seserahan. Produk yang diserahkan beragam hasil bumi. Seba Baduy pun menjadi ungkapan rasa syukur. Ritual ini juga jadi media komunikasi dengan pemerintah,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati dalam siaran persnya. Rangkaian panjang harus dilakukan masyarakat Baduy dalam tradisi ini. Sebelum Seba digulirkan, Urang Kanekes menjalankan ritual Kawalu selama 3 bulan penuh. Yaitu rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi Urang Kanekes. Selama proses Kawalu, seluruh kawasan Baduy akan tertutup bagi masyarakat umum. Ritual Kawalu sendiri terbagi dalam 3 sesi. Nuansa religi pun semakin kental dalam ritual Kawalu ke-3. Saat itu, Urang Kanekes melakukan puasa. Ritual berbukanya pun unik, yaitu memakan daun sirih dan gambir. Kewajiban puasa berlaku bagi warga Baduy dengan usia di atas 15 tahun. Berakhirnya ritual Kawalu ditandai dengan Ngalaksa. Ritual Ngalaksa ini merupakan aktivitas saling berkunjung Urang Kanekes. Mereka pun bersilaturahmi dengan kerabat dan tetangga sembari membawa hasil bumi.       View this post on Instagram A post shared by 𝓑π“ͺ𝓽𝓷π“ͺ𝓀𝓽π“ͺπ“Άπ“²πŸŒΉ (@ratamdup30) onMay 5, 2019 at 10:00pm PDT Berikutnya, dilakukan dialog budaya antara Urang Jero dan Baduy Pendamping dengan para panggede atau pemerintah. Inti dialognya, menjaga kelestarian alam. “Tradisi Seba Baduy even besar. Selalu menarik perhatian publik. Wajar bila Seba Baduy selalu banjir wisatawan. Mereka tertarik karena masyarakat Baduy tetap memegang tradisi, meski modernisasi dunia berkembang pesat,” terang Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelengggara Kegiatan (Event) Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Rizki Handayani. Hidup sesuai tradisi, Urang Kanekes memang masih memegang teguh ajaran leluhurnya. Sebab, Baduy memiliki Hukum Adat Leluhur. Inti peraturannya, ‘Gunung Tak Diperkenankan Dilebur, Lembah Tak Diperkenankan Dirusak’. Berikutnya, ‘Larangan Tak Boleh Diubah’ dan ‘Panjang Tak Boleh Dipotong’ lalu ‘Pendek Tak Boleh Disambung’. Penutupnya, ‘Yang Bukan Ditolak Yang Jangan Harus Dilarang’. Dan, ‘Yang Benar Haruslah Dibenarkan’. “Dengan menganut hukum adat, keseimbangan hidup manusia dan alam akan terus terpelihara di sana. Akan ada banyak manfaat positif yang mengalir. Serupa event Seba Baduy yang maksimal menggerakan perekonomian masyarakat. Kesejahteraan ini pun akan terus dinikmati oleh masyarakat di sana sampai kapanpun,” tutup Rizki. (Sumber: Artikel galamedianews.com Foto derapfakta.com)...
more.

Comment

ButikTrip.com
remen-vintagephotography
×

...